Sabtu, 31 Oktober 2026

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keuangan Inggris) Iain Macleod mengemukakan pendapatnya tentang stagflasi di depan majelis sidang 17 November 1965. Sektor finansial Inggris saat itu juga menolak pemikiran Macleod, karena mereka tak percaya inflasi dan stagnasi ekonomi bisa terjadi di waktu yang sama.  

“Saat ini kita tengah mengalami dua hal terburuk dari masing-masing sektor – bukan hanya inflasi di satu sisi atau stagnasi di sisi lain. Keduanya terjadi bersamaan,” ujarnya saat itu.

Pemerintah dan Menkeu Inggris kala itu, James Callaghan, membantah pandangan Macleod karena ilmu ekonomi era 1960-1970-an yakin pengangguran dan stagnasi tidak mungkin bisa terhadi bersamaan. Macleod dianggap sedang berilusi. Para ekonom Inggris di masa itu yakin ekonomi mampu menyeimbangkan dirinya sendiri apabila pemerintah mampu mengelola harga dan pendapatan.

Masalahnya, para ekonom Inggris di era 1960-1970-an lupa memperhitungkan satu faktor krusial, yaitu hawa nafsu manusia. Secara teori, semua manusia dan seluruh pemerintahan dapat melewati masa inflasi dengan aman hingga akhirnya tercapailah kestabilan ekonomi. Dengan satu syarat: mereka bersedia menyambut ‘kenormalan baru’ dengan tulus dan ikhlas.

Menurunkan standar hidup yang sudah terlanjur tinggi dengan mengurangi pengeluaran, itulah kenormalan baru yang saya maksud. Rakyat biasa mungkin tidak akan menemui kesulitan berarti untuk memulainya. Namun, bagaimana dengan para pejabat dan anggota Kerajaan Inggris? Mampukah mereka menurunkan standar hidup dari makan tiga kali sehari menjadi dua kali sehari, misalnya?


Ilustrasi: Candi Srigading, Lawang, Malang. 


‘Pergi dan jangan kembali’

Masyarakat penganut kepercayaan tradisional di seluruh belahan dunia menjalankan tata cara yang sekilas aneh di mata kita, orang-orang modern. Asal tahu saja, ada satu prinsip yang mereka pegang teguh, bahkan hingga saat ini: seseorang yang sudah meninggal tidak akan mungkin bangkit lagi.

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia memakamkan jenazah di puncak gunung atau di tengah hutan lebat. Beberapa suku Siberia yang hidup nomaden bahkan berpindah tempat ketika ada anggota mereka yang meninggal. Jenazah mereka tinggalkan jauh-jauh menyiratkan kesediaan mereka untuk melepaskan kepergian si orang yang sudah meninggal, dan mereka tak ingin mendiang mencari mereka.

Masyarakat yang kita anggap terbelakang ini tampaknya sudah mengerti bahwa jenazah yang mengalami proses dekomposisi akan menghasilkan cairan dan bakteri berbahaya untuk kesehatan. Tanah dan air tanah bisa tercemar jika jenazah atau area pemakaman tidak ditempatkan dalam jarak aman.

Maka cukup beralasan bila sejumlah sumber menyebut masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap pemakaman sebagai wilayah terlarang. Tidak boleh ada aktivitas di area tersebut, sehingga tidak ada tempat sakral atau tempat ibadah yang mereka dirikan di pemakaman. Apalagi rumah untuk tempat tinggal. Dan penyebabnya ternyata bukan karena mereka takut sama hantu kuburan. 


Bangkit dari ‘koma’

Bagi cukup banyak orang, stagflasi itu keadaan koma, dalam arti yang sesungguhnya. Bayangkan saja, peluang mendapat penghasilan semakin menyempit ketika biaya hidup melejit ke angkasa dan entah kapan akan mendarat lagi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk keluar dari situ, stuck. Hanya rasa lapar dan haus yang bisa memaksa kita untuk terus bernafas dan bergerak.

Katakanlah stagflasi itu seseorang yang sudah meninggal, maka yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan. Membohongi diri sendiri bahwa si mendiang akan kembali suatu saat nanti sama artinya dengan berpura-pura situasi ekonomi kita sedang baik-baik saja. (dswas).

Sabtu, 24 Oktober 2026

Cara Menghadapi ‘Hari Kiamat’

Riuh rendah dari sektor ekonomi dan finansial tak kunjung usai, sementara alam menunjukkan taringnya dengan beragam fenomena kebencanaan. Mulai dari wabah, gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, hingga kebakaran. Klop sudah.

Saking lengkapnya tantangan hidup yang harus dihadapi manusia sepanjang 2026, segelintir orang pun bertanya-tanya, “Apakah kiamat memang sudah dekat?”. “Apakah ini kiamat?” tanya segelintir lainnya.

Bila ya, saya memprediksi tak sedikit orang yang akan menyambutnya dengan suka cita. Ya, Anda tidak salah membaca. Siapa saja yang termasuk golongan ini, kita tidak akan pernah tahu. Jangan-jangan orang terdekat kita sendiri; sanak saudara, teman kerja, tetangga, atau mungkin orang asing yang duduk di sebelah kita dalam komuter.

Jutaan manusia di Bumi geleng-geleng kepala menonton sepak terjang para tokoh terkemuka, ketika mereka dibombardir deretan kabar buruk terkait situasi alam di berbagai penjuru dunia. Seorang kenalan saya menjelaskan, situasi saat ini sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Andaikata ada niat untuk itu pun, para inisiatornya mungkin akan bingung mulai dari mana. Antara membenahi mindset manusia atau memperbaiki alam sekitar, mana yang harus didahulukan. Dua-duanya sudah mengalami kerusakan parah, sehingga menghancurkannya hingga rata dengan tanah adalah solusi satu-satunya. Benarkah demikian?


Ilustrasi: Situs Sumur Windu Kendedes, Polowijen, Malang. 


Kiamat terus berputar

Sebagaimana para penganut aliran kepercayaan pada umumnya, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia tidak mengakui adanya Hari Kiamat. Waktu terus berputar, demikian juga penghidupan. Keduanya tidak bergerak dalam garis lurus untuk mencapai titik akhir, melainkan siklus yang terus berputar.

Layaknya sesajen yang mereka suguhkan di tepi sungai atau hutan, dalam satu sampai dua hari masih tampak segar. Hari berikutnya, sesajen dalam bentuk makanan atau bunga akan mengalami pembusukan hingga akhirnya kembali ke tanah. Namun, sesajen itu sendiri bukanlah yang terakhir. 

Bencana dan sederet kesulitan hidup yang hadir sebagai hasil ketidakharmonisan diterima dengan tulus. Bukan karena mereka malas berusaha atau pasrah dan suicidal (ingin lekas mati).

Memang, ada sebuah periode gelap ketika kasus bunuh diri mengalami peningkatan di kalangan komunitas adat Siberia. Masa memilukan ini terjadi tak lama setelah mereka berinteraksi dengan paham-paham dari luar wilayah. Saya menganggapnya sebagai semacam gegar budaya.

Pengaruh luar tidak dapat dihindari walaupun telah berusaha keras mengisolasi diri. Maka jalan satu-satunya adalah membangun ‘sel-sel’ baru yang cukup kuat untuk menyeimbangkan diri dengan pengaruh luar. Bukan sesuatu yang mudah, memang. Apalagi kapasitas individu komunitas itu sendiri juga bervariasi.

Namun, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap inilah satu-satunya cara mereka menghadapi kiamat, yang dalam konteks ini bermakna peristiwa buruk maha dahsyat. Satu peristiwa buruk yang telah usai akan disusul peristiwa buruk lagi dan lagi. Akan selalu ada peristiwa buruk yang lebih buruk dari situasi sebelumnya. Mereka tidak menuntut jawaban untuk pertanyaan “mengapa kiamat terjadi?”, karena yang mereka butuhkan adalah tindakan nyata.  

 

Hidup itu ‘indah’  

Memang terdengar klise, tetapi benar ‘kan? Bersiap menyongsong Hari Akhir itu memang perlu, karena kita dianjurkan untuk selalu siap terhadap berbagai kemungkinan. Kita memilih bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena terlalu sering berharap dan kecewa. Akibatnya, kita cenderung takut menghadapi Hari Kiamat, Hari Akhir, Akhir Zaman, Hari Penghabisan, dsb.

Orang bijak berkata, masa depan akan terbentuk sesuai mindset kita. Apabila kita membiarkan diri kita dikuasai rasa takut akan hari depan, jangan heran memandang sekeliling di mana kita berada dewasa ini. (dswas)

Minggu, 18 Oktober 2026

Masalah Ekonomi Singkirkan Kesepian – Benarkah?

Kesepian seorang diri tanpa ada yang menyayangi dan peduli .. Saya jamin kamu tak akan merasakannya kalau bersedia tinggal di Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedesaan, di pulau atau kota mana pun.

Penyebabnya bukan karena orang Indonesia ramah-ramah dan baik hati, bukan. Bukan karena kami senang menolong orang lain atau tetangga yang sedang kesusahan. Bukan juga karena kami punya kebiasaan bergotong royong menyelesaikan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum. Karena kami menganggap semua orang punya derajat yang sama, baik kaya maupun miskin? Ah, bukan itu juga ‘kali.

Sebagaimana pemberitaan media, nama Indonesia mendadak “mendunia” akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah yang memengaruhi keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di area terdampak.

Tidak berarti area yang tidak terdampak kebakaran hutan tidak bebas masalah. Bila bukan banjir, masyarakat harus membiasakan diri dengan cuaca panas, siang dan malam, yang berujung kekeringan dan krisis air. Selain itu, mereka juga perlu membiasakan diri dengan stagflasi global yang berakibat kenaikan seluruh harga dan minimnya lapangan kerja.

Tumpukan masalah yang berpangkal dari masalah ekonomi memaksa mereka untuk lebih fokus, baik dalam bekerja ataupun membelanjakan pendapatan. Yang masih single fokus bertahan hidup, sementara yang sudah berkeluarga fokus mempertahankan hidup keluarganya.

Bagi sebagian besar warga di situasi demikian, waktu berjalan terlalu cepat. Pagi terlalu singkat berubah jadi malam, sementara uang yang dihasilkan belum cukup untuk keperluan mereka.  Bagi mereka, tiada waktu untuk merasa kesepian.  


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuno di Sumber Kalimangun, Randuagung, Malang. 


Warisan kesedihan

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, kesepian bukan saja timbul akibat kebutuhan akan kasih sayang yang kurang atau tidak terpenuhi. Bagi mereka, bermigrasi ke tempat dengan cuaca dan temperatur yang lebih bersahabat tidak serta-merta menjadi solusi untuk cita-cita hidup yang lebih baik dan lebih beradab.

Ada rasa kehilangan dalam benak para pendahulu ketika mereka terpaksa patuh pada larangan menjalankan aktivitas ritual kepercayaan asli di tempat yang baru. Mereka tidak kuasa untuk menolak peraturan baru bukan karena tidak berani melawan. Orang-orang dekat mereka (tetangga, kerabat, saudara/i) telah lebih dulu yakin bahwa kepercayaan asli adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, dengan sederet alasan.

Para tetua komunitas Asli Siberia menyembunyikan homesickness mereka rapat-rapat, sebagai bentuk dukungan untuk generasi di bawah mereka yang menginginkan masa depan lebih cerah. Akan tetapi, beban emosional ini memengaruhi tindak-tanduk mereka sehari-hari, termasuk cara mereka berinteraksi dengan anak dan cucu mereka.   

Dari sinilah rasa kesepian, melankoli yang tak dapat dijelaskan itu diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Lebih dari sekadar identitas yang hilang ketika suatu kelompok masyarakat memutuskan untuk “terlahir kembali” dengan meninggalkan kepercayaan lama mereka.

 

Bebas dari kesepian

Pengakuan pemerintah Rusia atas keberadaan suku-suku tradisional Siberia merupakan salah satu faktor yang menggugah mereka untuk membangun jati diri kembali; untuk mencari jalan pulang menuju kebijaksanaan leluhur yang telah lama ditinggalkan.

Dewasa ini, tak ada lagi rasa takut di benak mereka untuk menyuguhkan sesajen di tepi hutan atau di bawah pohon. Tak ada rasa khawatir soal pertanyaan tamu yang datang ke rumah tentang sesajen yang dipasang di ruang tamu atau meja makan. Mereka bebas dari buruk sangka masyarakat yang tidak menganut kepercayaan yang sama lantaran meninggalkan sesajen di tempat umum.

Mereka juga tak khawatir terhadap hukuman dalam bentuk apa pun di hari akhir nanti. Sesajen yang mereka haturkan bukanlah bentuk perlawanan atau ingkar terhadap Sang Pencipta jagat raya, mengapa harus takut?   (dswas). 

Minggu, 27 September 2026

Agar Tetap Aman dan Selamat Saat El Niño Melanda

Secara literal, El Niño bermakna ‘si bocah’. Orang mengira Fernando Torres menjadi satu-satunya pesepakbola yang dianggap paling layak menyandang julukan ini dalam sejarah sepak bola berkat kepiawaiannya di lapangan. Satu hal yang mengantarkannya menjadi satu-satunya jendral lapangan di usia 19 tahun bersama Atlético Madrid pada eranya.

Saat dipromosikan ke klub senior Atlético, Torres masih berumur 16 tahun. Rekan-rekan setimnya awalnya meragukan kemampuannya karena raut mukanya yang lugu seperti anak-anak. Mereka tak menganggap namanya penting, sehingga semua memanggilnya ‘si bocah’.

Dipandang sebelah mata tak membuat Torres muda gentar. Ia bahkan tak meninggalkan klub di mana ia mengenal sepak bola di usia 11 tahun, saat Atlético Madrid terdegradasi ke divisi dua pada Mei 2000.

Musibah besar itu didahului oleh krisis kepemimpinan di tubuh klub pemenang gelar ganda La Liga dan Copa del Rey 1996, yang berakibat hengkangnya para pemain top dan senior. Penurunan status berakibat hilangnya kepercayaan sponsor, sehingga klub tak mampu membeli dan membayar pemain berkelas.

Inilah mengapa Torres ditunjuk menyandang ban kapten dan berhak memimpin para pemain yang berusia lebih tua darinya. Keterbatasan finansial telah memposisikan dirinya sebagai kapten tim, karena klub hanya bisa mengandalkan para pemain lulusan akademi sepak bola mereka.

Nama Torres mencuat berkat kemampuannya yang dianggap di atas rata-rata rekan-rekan sekelasnya saat itu.  Ia menjadi satu-satunya lulusan akademi Atlético yang dinobatkan menjadi FIFA Player of the Year (2008) dan menempati peringkat tiga Ballon d’Or di tahun yang sama. 


Ilustrasi: Bulan purnama di Mulyoagung, Dau, Malang. 


‘Berkah’ ketidakseimbangan alam

Mencermati kisah Torres di atas, cukup manusiawi jika kita berandai-andai El Niño Samudra Pasifik yang diramalkan akan berlanjut hingga awal 2027 juga akan berakhir dengan happy ending pada saatnya nanti.

Sebagai fenomena cuaca, El Niño merupakan sebutan bagi peningkatan suhu air laut secara tiba-tiba yang memengaruhi siklus cuaca di berbagai wilayah di sekitarnya. Sedangkan peningkatan suhu air laut itu sendiri, menurut para ilmuwan, dapat disebabkan berbagai faktor. Terutama aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Kota yang saya tinggali sejak kecil bersama keluarga termasuk salah satu wilayah yang terdampak cukup keras fenomena El Niño. Tak jauh dari rumah kami, areal persawahan mengering dan sumur-sumur penduduk mulai kehilangan air. Siang hari terasa sangat panas, dan cukup banyak warga yang mulai jatuh sakit.

Sejumlah orang yang saya temui tidak terkejut dengan situasi ini. Eksploitasi alam di kota kami memang terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Konsekuensi menjadi tak terelakkan, cepat atau lambat. Dalam diam mereka telah punya bayangan tentang apa yang dapat menimpa kota mereka jika rem eksploitasi blong.

Kedatangan El Niño kami pandang sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan alam, untuk kembali memberikan pengakuan pada pepohonan, mata air, dan tempat-tempat tertentu yang pernah dianggap suci.

Pengakuan yang diwujudkan dalam bentuk menghaturkan sesajen sesuai tata cara di lokasi tersebut. Sebuah aktivitas yang menyimbolkan kerendahan hati dan permohonan maaf pada alam raya karena tindakan sewenang-wenang yang pernah kami lakukan terhadapnya.

Memang, jumlah warga yang berpikiran seperti ini tidak banyak. Akan tetapi, mendadak tersadar dari kekeliruan adalah sebuah ‘berkah’ yang akan menyelamatkan diri kita sendiri di kemudian hari.

Kita tidak dapat membatalkan dampak sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan, atau meminta Sang Pencipta untuk melenyapkan kesalahan itu hingga seolah tak pernah terjadi. (dswas).

Sabtu, 19 September 2026

Trik Jitu Hilangkan Rasa Benci Pada Leluhur

26 Desember 1991, sekitar 30 juta warga etnis Rusia mendadak menemukan diri mereka menjadi warga negara asing, sepersekian detik setelah bendera Uni Soviet diturunkan untuk selamanya. Sebuah kesepakatan politik telah mencabut privilese mereka sebagai warga “negara ibu kota”, bukan perang atau huru-hara.

30 juta orang Rusia tinggal di Kazakhstan, Ukraina, dan negara-negara Baltik saat penurunan bendera palu arit Soviet disiarkan di layar televisi. Mereka tinggal di negara-negara yang kini menyandang predikat sebagai eks Uni Soviet, suatu wilayah yang sebelumnya harus meminggirkan identitas lokal masing-masing untuk dipersatukan oleh satu identitas resmi.

Konflik di sejumlah wilayah Eropa Timur hari ini sebagian besar merupakan buah dari api-api kecil menahun di antara warga diaspora Rusia dengan warga lokal wilayah eks Uni Soviet. Warga lokal merasakan trauma mendalam akibat berbagai kebijakan negara yang pernah membiayai mereka dan sudah bubar. Di sisi lain, warga imigran Rusia menganggap situasi mereka merupakan akibat kebijakan orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka.

Warga Estonia, Latvia, Lithuania, Moldova, Armenia, Azerbaijan, dan tentu saja, Ukraina, sampai dengan saat ini masih berjuang guna menemukan kembali identitas mereka yang pernah hilang. Sementara warga diaspora Rusia yang tinggal di negara-negara itu juga sedang berjuang untuk beradaptasi dengan upaya pemerintah setempat menanggalkan bayang-bayang Soviet. Di antaranya, tidak lagi menggunakan Bahasa Rusia sebagai bahasa resmi.


Ilustrasi: Pohon randu di Situs Tejosari, Singosari, Malang. 


Akhir adalah awal  

Orang tua, kakek nenek, buyut, pendahulu, leluhur … Semua kata ini punya satu makna literal yang secara konteks hampir sama, yaitu mereka yang telah ada atau lahir sebelum kita, mereka yang secara kebetulan merupakan pihak yang menjadi penyebab Anda hari ini ada di sini membaca blog saya.

Berhubung mereka adalah manusia biasa seperti kita, terkadang kita dibuat bingung oleh berbagai tindakan dan atau keputusan yang mereka ambil. Hal ini terjadi karena kita dan mereka hidup di dua era yang berlainan, tantangan dan situasi yang melatarbelakangi keduanya juga tidak sama.

Komunitas Asli Siberia menganggap berakhirnya era Uni Soviet sebagai momen ‘kembali ke settingan pabrik’, momen untuk membangun ulang. Pengetahuan peninggalan nenek moyang kembali dipelajari oleh generasi kekinian Siberia, generasi yang mulai mengenal jagat modernitas setelah pemerintah Soviet membangun sekolah-sekolah di Siberia di masa kejayaannya.

Tanpa bansos pemerintah Uni Soviet yang biasa mereka dapat selama 1950an sampai 1980an, masyarakat asli Siberia sempat mengalami kesulitan ekonomi yang berujung depresi, bahkan peningkatan kasus bunuh diri.

Republik Federasi Rusia yang terbentuk mengikuti pembubaran Uni Soviet kemudian memberlakukan Undang-undang Republik sejak musim semi 1992, yang menjadi dasar pendirian beberapa republik independen. Republik Sakha (Yakutia) termasuk salah satunya. Republik baru inilah yang selanjutnya menaungi sejumlah suku masyarakat asli Siberia hingga saat ini.

Inilah momen yang menjadi titik restart bagi sebagian besar masyarakat asli Siberia untuk membangun kembali kebijaksanaan lokal dan nilai-nilai peninggalan leluhur yang telah lama mereka tinggalkan.

Sesuatu untuk dipegang

Dengan tetap menjalankan kebiasaan tradisional, seperti meletakkan sesajen di hutan, sungai, atau tepi laut, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia memelihara keterkaitan mereka dengan cikal bakal. Dengan sebuah titik yang menjadi awal keberadaan mereka.

Dinamika politik dan ekonomi memang menjadi ‘kejutan’ bagi mereka, bagi segala kelompok etnis di mana pun di dunia ini. Oleh karena itu, kita semua membutuhkan sesuatu untuk dipegang agar tidak terjatuh saat guncangan keras melanda. Seandainya jatuh tidak dapat dihindari, paling-paling kita hanya memar sedikit dan tidak terluka parah.  (dswas)

Sabtu, 12 September 2026

Buang Sampah Sembarangan = Mental Tidak Sehat, Mengapa?

Saya tidak akan meminta maaf bila judul di atas terdengar terlalu kasar bagi Anda, karena inilah kenyataan.

Entah karena minimnya tempat pembuangan sampah, atau tidak mampu membayar iuran kebersihan, sungai, mata air, dan tanah lapang dijadikan tempat sampah terbuka bagi segolongan orang. Kabar buruknya, jumlah golongan ini lumayan banyak.

Seandainya saja benda-benda yang kita gunakan setiap hari juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai, sampah mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Longsoran sampah yang mengakibatkan korban jiwa di sebuah tempat pembuangan sampah akhir di Indonesia beberapa waktu lalu terdengar surreal.  

Di sisi lain, sejumlah orang mencoba mengatasi masalah bertumpuknya sampah dengan cara dibakar. Sebuah keputusan yang ujung-ujungnya berpotensi mengundang bahaya kebakaran dan gangguan pernapasan.

Saya yakin sebagian besar dari kita sudah tahu dan mendapat bekal informasi tentang masalah sampah. Namun, desakan dari dalam hati untuk secepat mungkin menyingkirkan hal tidak menyenangkan bernama sampah rupanya terlalu kuat.

Sejumlah situasi yang disebutkan di atas menunjukkan kecenderungan kita mencari jalan termudah, walaupun cara itu tidak disarankan dan sering dikampanyekan sebagai tindakan merugikan. Lalu ke mana hilangnya semua pengetahuan itu ketika dihadapkan pada situasi memiliki sampah yang harus enyah agar kenyamanan kita tidak terganggu? 


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuna, Dau, Malang. 


Jiwa yang hilang

Dari sini saya rasa Anda sudah sedikit memahami mengapa saya menyebut perilaku buang sampah sembarangan, atau memusnahkan sampah dengan cara mudah tapi berbahaya, merupakan gejala ringan ada yang tidak beres dalam diri kita.

Bersikukuh melakukan tindakan yang bertentangan dengan pengetahuan kita menunjukkan adanya perang jangka panjang dalam diri kita. Pertentangan dari dalam yang tidak dapat kita selesaikan, tetapi mewujud dalam tingkah laku sehari-hari.

Dunia medis menyebut kondisi tersebut sebagai depresi, skizofrenia, stress, anxiety, bipolar, dsb. Suatu kondisi kesehatan yang juga tidak asing bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia.

Dalam sudut pandang mereka, suatu peristiwa memilukan dan traumatis telah merampas kebahagiaan si penderita untuk selamanya. Si penderita menyadari apa yang ia rasakan, tetapi goncangan terlalu kuat sehingga jiwanya tidak mau kembali.

Pemicu depresi itu sendiri biasanya bermula dari pelanggaran terhadap norma dan aturan tidak tertulis dalam masyarakat, atau eksploitasi alam berlebihan. Melihat sungai yang kotor atau hutan yang terbakar, misalnya, menimbulkan rasa gundah gulana yang pada gilirannya mengikis segala ketenangan dan kedamaian.

Mempersiapkan sesajen untuk dihaturkan kepada para leluhur dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi perasaan negatif ini. Si penderita akan melatih dirinya untuk kembali bersemangat melalui aktivitas menata suguhan dengan penuh kasih sayang, serta ketulusan.

 

Memutus ‘lingkaran setan’

Apabila sungai kotor menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri kita, lalu mengapa, atau apa yang mendasari keputusan kita untuk membuang sampah ke sungai pertama kalinya dalam hidup kita? Ketika rasa kita menjadi negatif akibat perbuatan seseorang yang diperlihatkan di muka umum, mengapa kita justru ikut melakukannya?

Ini sedikit contoh pertanyaan-pertanyaan yang wajib muncul dalam benak kita, sebelum kerusakan meluas berikut dampaknya.

Sebagai mantan penderita gangguan kesehatan mental, saya yakinkan Anda bahwa obat terbaik berasal dari tekad kita sendiri untuk bangkit. Jalan berliku dan salah jalan memang harus dan akan kita hadapi sebagai konsekuensi berbagai langkah keliru yang kita ambil di fase sebelumnya. (dswas). 

Sabtu, 05 September 2026

Cara Mempersiapkan Diri Untuk Kemarau Sampai 2027

“Don’t Know What You Got Till It’s Gone” oleh Cinderella pasti dikenal para remaja 80-90-an yang rambutnya sudah mulai memutih saat ini. Para kritikus musik rock Inggris di era itu menyebut lagu rock ballad ini sebagai bukan lagu rock, melainkan slogan sebuah merek soft drink terkenal.

Sementara kritikus Britania Raya lainnya menyindir sang vokalis sekaligus penciptanya, Tom Keifer, menyanyi dengan suara husky (serak-serak basah) karena kecapaian dan butuh istirahat.

Saya memprediksi lagu ini akan kembali menjadi favorit dalam waktu dekat, mengiringi tersadarnya kita tentang berbagai hal yang telah atau akan segera hilang. Hal-hal yang sebelumnya ada, lazim, dan bukan sesuatu yang istimewa, sampai mereka benar-benar lenyap dari kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, air, sinar matahari, dsb.

Beberapa waktu lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan fenomena El Niño yang berkarakter suhu panas dan kering disertai angin kencang masih akan berlangsung di sebagian besar Asia Tenggara hingga awal 2027. Sementara dalam kurun waktu sama, benua Amerika mengalami curah hujan tinggi yang berpotensi banjir bandang.

Hujan, atau panas, yang biasa kita persalahkan karena sering datang tanpa diundang saat kita tengah beraktivitas, mendadak hilang untuk waktu yang lama tergantung di mana Anda tinggal saat ini. Ilmu pengetahuan telah berhasil mengungkap berbagai faktor penyebabnya, tetapi belum berhasil merumuskan langkah jitu untuk mengakhiri anomali tersebut. 


Ilustrasi: Pohon randu raksasa di tengah asap bakaran sampah, Singosari Malang. 


Melatih kewaspadaan  

Ketika seorang pedagang mengalami kerugian, ia akan melakukan apa yang ia bisa guna menutup celah dalam pembukuannya. Akan tetapi, cuaca tidak berwujud sejelas uang atau benda lainnya. Tingkat keberhasilan manusia memanipulasi cuaca dengan aktivitas mereka hanya mencapai 10%. 90% lainnya bergantung pada dinamika alam.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah menyadarinya sejak lama. Mereka tinggal di tengah alam yang moody, kadang bersahabat dan kadang tidak. Namun, mereka tidak meninggalkan Siberia yang dingin menusuk tulang, karena para pendahulu mereka sudah mengajarkan bagaimana bertahan hidup.

Sesajen yang mereka buat sesuai kebiasaan aliran kepercayaan masing-masing bukan berfungsi sebagai “sogokan” agar suatu kekuatan gaib di luar sana mau membantu mereka. Bukan demi membujuk sinar matahari mendadak muncul dan memberikan kehangatan.  

Untuk menyiapkan sesajen, si penyedia mengorbankan waktu, tenaga, dan materi yang seharusnya bisa ia gunakan untuk hal lain. Belum lagi timbunan sampah yang dihasilkan sebagai sisa dari sesajen yang telah mengering atau membusuk.

Bukankah tidak rasional menyuguhkan secangkir kopi atau vodka pada seseorang yang secara fisik tidak terlihat?

Bagi masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia, kebiasaan menyuguhkan sesajen saat masuk dalam hutan untuk berburu atau sebelum memancing di perairan merupakan kerendahan hati yang dimanifestasikan atau diungkapkan.

Mereka yang berangkat ke alam bebas dengan rendah hati punya peluang lebih besar untuk pulang dengan selamat. Mengapa? Psikis orang yang rendah hati cenderung datar dan tenang, sehingga tidak timbul kepanikan atau histeria ketika harus berhadapan dengan hal-hal tak terduga.    

 

Lapang dada

“Bagaimana kalau kita kehabisan air minum?”, “Lari ke mana kita kalau banjir datang?” dan banyak pertanyaan sejenis mungkin timbul di benak kita seiring dengan pengumuman resmi WMO di atas. Saya anggap itu wajar, karena siapa pun tidak akan betah hidup dengan ketidakpastian.

Di sinilah kematangan psikologis akan tampil sebagai penyelamat Anda dan keluarga. Semacam sebuah “kepatuhan” pada sebuah kesimpulan bahwa tidak semua hal dalam dunia nyata berjalan mengikuti kehendak kita.  (dswas). 

Sabtu, 29 Agustus 2026

Cara Menghadapi Eksploitasi Alam Berlebihan

Sebagai seorang keras kepala yang pernah terlibat dalam begitu banyak kesalahan berujung penyesalan, saya mengakui sifat ini kadang tidak membawa berkah. Mereka yang keras kepala dalam mencari kebenararan atas tindakan mengancam apalagi menghilangkan nyawa banyak orang adalah bukan kelompok manusia yang “baik-baik saja”.

Air bah di Pegunungan Himalaya perbatasan Nepal-Tibet menambah deretan bencana yang terjadi sepanjang 2026. Ribuan warga lokal dan wisatawan masih dinyatakan hilang hingga saat ini.  Di antara mereka terdapat ribuan pekerja konstruksi PLTA yang berjumlah sekitar 27 unit dan terdampak bencana seluruhnya, meski skala kerusakannya mungkin bervariasi.

Dengan luas wilayah sekitar kurang dari 150 ribu kilometer persegi dan 30 juta jiwa penduduk, 27 PLTA dan pembangkit listrik tenaga lainnya mampu menyuplai energi listrik yang lebih dari cukup. Maka tidak heran apabila Nepal mampu mengekspor energi listrik yang mereka hasilkan ke negara-negara tetangga, seperti India, Bangladesh, dan Tibet.

Detil tentang 27 PLTA nahas ini pun masih simpang siur, tentang investor dan apa kebangsaan para pekerja yang masih terperangkap, hilang, atau tewas. Yang jelas, bencana di akhir Agustus 2026 ini mau tak mau menimbulkan kekhawatiran sejumlah kalangan yang masih peduli tentang keberlanjutan alam di sekitar proyek-proyek pembangkit listrik bertenaga air dan panas bumi di beberapa tempat.


Ilustrasi: Mata Air Pakis Suceng, Singosari, Malang. 


Membangun “benteng”

Dalam sudut pandang para penganut kepercayaan asli di berbagai belahan dunia, gesekan dengan alam dalam bentuk bencana besar bisa dicegah apabila manusia menerapkan perspektif gaya hidup mengambil dan memanfaatkan seperlunya.

Akan tetapi, kepercayaan mereka dianggap sebagai non agama dan seringkali mendapat stigma aliran sesat. Penyebabnya satu: karena nilai dan aturan dalam kepercayaan mereka menghalangi niat sejumlah orang yang ingin mengeksploitasi ruang hidup mereka. Baik itu hutan, sungai, laut, gunung … Nyaris tidak ada ruang hidup masyarakat penganut kepercayaan asli yang tidak terjamah eksploitasi.

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah biasa menghadapi alam yang tak bersahabat sejak turun temurun. Mereka sudah biasa menerima kenyataan bahwa tak semua manusia punya niat baik. Mereka juga sudah biasa menghadapi dampak yang timbul akibat niat tidak baik seseorang.

Kebiasaan dalam aliran kepercayaan mereka, yaitu meletakkan sesajen di tempat-tempat di mana mereka hendak melakukan sesuatu (di hutan sebelum berburu, atau di sungai dan laut sebelum memancing), sedikit banyak telah membantu mereka untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk yang terburuk.

Meletakkan sesajen merupakan perwujudan rasa hormat seseorang terhadap semua yang ada di sekelilingnya, pengakuan eksplisit yang dibuatnya secara sadar pada dirinya sendiri bahwa ia tahu ia tidak sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, attitude ini sangat membantu untuk mencegah diri kita dari mengalami kepanikan ekstrim, histeris, atau amarah berlebihan saat mengalami berbagai hal di luar dugaan.  Reaksi negatif saat menghadapi kondisi negatif kadang lebih berbahaya daripada peristiwa aktual pemicu kondisi tersebut.

Jalan keluar selalu terlihat  

Bencana alam yang terjadi akibat eksploitasi alam tanpa manajemen bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa sejenis selalu berulang setiap tahun dan bisa terjadi di mana pun. Semua ini berada di luar kendali kita, karena mungkin mereka yang melakukannya sedang sangat membutuhkan uang.

Berangkat dari pemahaman dan pengertian tentang hal ini, kita akan mampu membentengi diri sendiri dari mengalami emosi negatif saat merespons perbuatan orang-orang seperti mereka. Tanpa emosi negatif dan dengan benak yang senantiasa jernih, tak akan pernah lagi jalan buntu mampir dalam hidup kita. (dswas).

Sabtu, 22 Agustus 2026

Agar Jalan Tidak Pernah Buntu

Perhelatan tahunan akbar turnamen esports Dota 2, The International (TI), digelar di Shanghai, China, 20-23 Agustus tahun ini. Di luar dugaan, tim-tim esport China yang berjaya sekitar 10 – 14 tahun lalu tampil sangat buruk bahkan tidak lolos fase penyisihan grup turnamen yang diikuti tim dari berbagai negara.  

Sejumlah pengamat esport menilai, tim-tim China diperkuat para pemain yang sama persis seperti era 2012 – 2016 saat mereka jadi juara. Usia mereka sudah tidak muda lagi (sekitar 30-an tahun) sehingga semangat juang mereka menurun drastis.

Uniknya, tim-tim Eropa Timur yang didominasi para pemain dari Rusia dan Ukraina justru sedang on fire. Untuk pertama kali dalam sejarah TI, babak final tahun ini mempertemukan dua tim Eropa Timur, yaitu Team Vision dan Team Yandex yang sama-sama diperkuat pemain Rusia – Ukraina.

Team Yandex juga diperkuat sejumlah pemain dari beberapa negara Eropa Timur lain seperti Kazakhstan dan Makedonia Utara.

Kalangan penggiat esport, dan terutama para fans Dota 2, berdecak kagum atas prestasi tim-tim CIS/EEU  yang tidak diunggulkan alias masih dianggap underdog beberapa tahun lalu.

Natus Vincere (Na’Vi) asal Ukraina memang dinobatkan sebagai pemenang pertama TI pertama yang digelar 2011. Setelah 2013, prestasi tim-tim Eropa Timur di TI menurun drastis dan tergusur oleh dominasi tim-tim China.

Momen pandemi 2020-2021 ketika seluruh siswa sekolah harus belajar di rumah dimanfaatkan oleh para veteran esport Rusia dan Ukraina untuk merekrut dan melatih para darah muda yang saat ini dipuja-puji sebagai generasi baru jawara Dota 2.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 


Ambisi bukan satu-satunya penentu kesuksesan  

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada terlempar jauh dari posisi juara untuk kemudian menjadi pecundang. Tidak seperti narapidana yang tahu kapan ia akan menjadi orang bebas, pecundang tidak akan pernah tahu pasti sampai kapan mereka akan menyandang predikat tersebut, entah dalam jangka pendek atau sampai berpuluh-puluh tahun.

Rasa malu dan merasa terhina seringkali muncul bukan disebabkan komentar publik atau media, melainkan suara-suara dalam benak kita sendiri. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, situasi semacam ini terjadi akibat terbukanya sebuah “celah” dalam diri seseorang setelah ia melanggar peraturan adat, tidak menjalankan kebiasaan spiritual, atau telah melakukan kekeliruan terhadap pihak lain.

“Celah” itu membuatnya tidak mampu melihat jalan keluar ketika sedang tertimpa masalah. Bagaikan Bumi yang mengalami gerhana, mendadak semua menjadi gelap di tengah hari yang terang benderang.

Kekalahan dalam sebuah situasi yang seharusnya diterima dengan penuh kerelaan menjadi beban yang harus secepatnya disingkirkan, apapun caranya. Alih-alih berhasil kembali ke zona nyaman, tak sedikit dari mereka yang merasa jadi pecundang malah semakin terjerumus dalam kegelapan suasana hati mereka sendiri.

 

Berubah butuh keberanian

Generasi pertama Eropa Timur (Na’vi dkk.) dikenal karena gaya bermain mereka yang bermodalkan keberanian untuk merangsek jauh ke dalam zona lawan. Akan tetapi, gaya bermain ini menjadi kurang relevan setelah para rival mereka di TI berhasil menemukan titik lemah mereka.

Ya, tak ubahnya pemain sepak bola para pemain Eropa Timur (Rusia) generasi terdahulu (2017- 2019) cenderung emosi saat mereka tertekan.  

Team Spirit merupakan tim esport Eropa Timur pertama yang melibatkan psikolog olahraga untuk membantu menenangkan para pemain seusai sesi permainan intens. Mereka juga merekrut pelatih Airat Gaziev (Silent) yang punya kepribadian tenang dan bisa membuat anak-anak asuhnya patuh tanpa banyak drama.

Lagi-lagi pandemi 2020, di saat seluruh aktivitas di berbagai penjuru dunia terhenti, menjadi titik balik yang mengilhami orang-orang di balik Team Spirit untuk melakukan refleksi. Mereka melihat kembali ke masa sebelumnya, menemukan sebuah kekeliruan fatal, lalu mengakuinya. Setelah itulah mendadak gerhana berakhir, Bumi menjadi terang kembali.  

Hasilnya, tim ini berhasil muncul sebagai juara TI 2021 dan 2023.  (dswas)

Minggu, 09 Agustus 2026

Obat Untuk Mengatasi Putus Asa

Ribuan orang, tua dan muda, berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka menuju kota atau negara maju dengan satu tujuan: mencari penghidupan yang lebih baik.

Berbekal pengetahuan dan modal dari keluarga mereka, orang-orang ini melakukan pertaruhan terbesar dalam hidup mereka. Mengorbankan hak tanah kelahiran mereka untuk berkembang, demi kehidupan pribadi yang lebih membebaskan dari segala keterpurukan.

Zaman dahulu, ‘terpuruk’ artinya benar-benar tak mampu bergerak untuk melakukan apa-apa lantaran sakit atau kondisi fisik khusus. Namun, belakangan ini orang-orang yang secara fisik segar bugar ikut-ikutan merasa terpuruk karena banyak hal.

Dalam sudut pandang ilmu psikologi, mereka yang mengalami situasi seperti itu disebut sedang mengalami stres atau tertekan secara mental. Mereka diberi obat penenang untuk menghilangkan rasa terpuruk yang akan muncul kembali setelah efek obat itu hilang dalam hitungan jam.

Orang-orang dengan gangguan kesehatan yang sama dan tak mampu menebus obat penenang beralih ke ‘obat generik’ yang dilarang oleh undang-undang, alias narkoba. Dari sini kita bisa memahami mengapa rasa putus asa sangat beracun, toxic, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling kita. 


Ilustrasi: Pohon serut di Situs Yoni Hujung, Singosari, Malang.


Putus asa penyakit menular

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak semata-mata mengandalkan pemikiran positif internal sebagai satu-satunya obat bagi rasa putus asa. Tindakan dalam bentuk fisik juga dibutuhkan untuk menstimulasi tumbuhnya energi dalam benak seseorang. Sebuah energi yang nantinya dapat menggeser rasa terpuruk dan mencegah penularannya.

Menyerah sebelum berusaha, putus asa, dan menyesali situasi diri sendiri adalah tindakan terlarang bagi komunitas tradisional Siberia. Sikap-sikap ini tidak membantu dalam survival seseorang di tengah kondisi geografis Siberia yang ekstrim (suhu sekian minus derajat, bongkahan es di mana-mana).

Keharmonisan komunitas pun bisa terganggu karena ego seseorang membuatnya lebih fokus pada dirinya dan ‘dunianya’. Terlebih lagi, putus asa dianggap penghinaan terhadap Sang Pencipta yang telah memperlengkapi manusia dengan kebijaksanaan.  

Para tetua komunitas atau tetangga orang tersebut akan berusaha menariknya keluar dari isolasi diri dengan mengajaknya berkumpul. Mereka akan menyaksikan pertunjukan kecil kesenian tradisional yang menampilkan nyanyian kisah para leluhur semasa hidup mereka. Kisah-kisah mirip film masa kini yang terlalu melebih-lebihkan tapi sarat pesan-pesan moral untuk mengatasi rasa putus asa. 

Orang yang sedang putus asa dalam komunitas ini juga diwajibkan mengunjungi pohon-pohon sakral di tempat-tempat terpencil. Selain menyajikan sesajen, ia juga mengikatkan secarik kain di pohon itu sembari mengucapkan niat untuk bangkit kembali. Apakah tindakan ini bermaksud memanggil kegaiban agar datang dan menolong dirinya?

'Operasi rahasia'

Dalam sudut pandang medis, kurangnya aktivitas fisik (misalnya, olahraga) bukan hanya berakibat negatif bagi kesehatan fisik tetapi juga mental. Ketika manusia jaman modern ‘mencintai alam’ dengan menaklukkan puncak gunung tertinggi sejagat raya, manusia jaman kuno menemukan kejernihan batin dengan berjalan kaki di tengah alam bebas.

Dahulu kala, di saat pepohonan masih banyak jumlahnya, kekokohan akar dan batang yang terlihat oleh mata setiap saat mengingatkan manusia agar selalu tegar di tengah terpaan berbagai kondisi cuaca. Di masa sekarang, pepohonan harus dilindungi dari kehendak yang mengatasnamakan pembangunan dengan cara melilitkan kain di sekitarnya.

Tentu saja, masing-masing individu punya cara sendiri untuk membangkitkan semangat dan mengatasi keputusasaan. Alangkah lebih baik apabila kita dapat menghilangkan perasaan semacam ini secepat mungkin melalui operasi rahasia yang tak diketahui siapa pun.  (dswas)

Sabtu, 01 Agustus 2026

Stagnasi: Kewajaran Yang Butuh Pemecahan

Lelah, lesu, loyo tak berkesudahan? Pekerjaan yang tak maju-maju tetapi juga tak mundur-mundur? Hidup terasa hampa dari hari ke hari? Apabila Anda merasakan salah satu atau seluruh gejala ini, ada kemungkinan Anda sedang menghadapi apa yang disebut stagnasi; sebuah kemacetan, situasi berhenti dalam perjalanan hidup, yang tidak jelas apakah perhentian itu hanya sementara ataukah untuk selamanya.

Sebagaimana orang-orang lain, saya pun juga pernah merasakannya. Bukan numb atau freeze, melainkan stuck, mandek karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk keluar dari sebuah keadaan yang mencekik jiwa. Ketika sekian juta uang dibuang untuk membeli barang-barang, atau untuk jalan-jalan, tidak sanggup mengusir rasa terjebak dalam sebuah (menurut saya saat itu) perangkap yang tak terlihat. Ketika bekerja keras membanting tulang hanya bermakna sebatas punya uang untuk membayar utang, misalnya.

Dalam kasus saya, delusi semacam ini biasanya timbul sebagai rentetan dari rasa marah, iri, dan dengki pada sesama maupun sanak saudara beberapa hari atau beberapa pekan sebelumnya. Seolah-olah ‘neraka’ telah datang dalam hidup sebelum saya meninggalkan dunia fana. Pada fase-fase di mana kita merasa dunia hanya milik kita, sedangkan orang-orang lain hanya penyewa.


Ilustrasi: Pohon beringin raksasa di Punden Dusun Krajan, Dau, Batu.


Tak ada waktu untuk mukjizat

Stagnasi, meski menyedihkan, bukan “penyakit” baru bagi beragam aliran kepercayaan (alias agama asli) di muka Bumi ini. Pada prinsipnya, situasi sulit bisa terjadi kapan saja, saya sudah berulang kali menulis tentang ini. Jalan keluar selalu ada, tetapi karena berbagai hal tidak semua dari kita bisa melihatnya. Entah karena kondisi khusus, atau terjadi ketidakseimbangan yang merupakan dampak langsung beragam pilihan kita sendiri.

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, tidak ada kata terlambat untuk keluar dari stagnasi yang sedang menjerat kehidupan pribadi seseorang maupun kelompok masyarakat. Niat untuk bangkit dan memulai kembali seyogyanya dimanifestasikan, dan menyuguhkan sesajen adalah cara utama yang dilakukan para penganut aliran kepercayaan untuk tujuan ini. Kebiasaan ini, bagi mereka yang menjalankannya, juga berperan dalam pembentukan watak serta resiliensi individu dan kelompok.

Sisi yang tidak nyata dan sukar dibuktikan logika dari sesajen dalam berbagai aliran kepercayaan lebih dipercaya sebagian besar orang. Ini dapat dimengerti. Rata-rata dari kita cenderung menginginkan terjadinya keajaiban yang dapat menghilangkan segala masalah dalam hidup dalam waktu singkat dan tanpa banyak drama.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak punya waktu untuk membahas mukjizat, atau menebak-nebak sesajen jenis apa yang dapat menyenangkan hati kekuatan gaib agar turun dari langit dan bersedia membantu mereka. Sejak ratusan tahun silam, kelompok suku-suku serumpun ini selalu mencari cara agar dapat bertahan hidup di tengah suhu ekstrem. Sebuah situasi yang menuntut bergeraknya logika, bukan angan-angan. Bukan pula sekadar menuruti dorongan hati.

Perjalanan untuk “menyerah”

Sikap menerima apa adanya sangat dilaknat berbagai negara, dianggap sebagai “zona nyaman” yang menghalangi kemajuan. 4, 5, atau bahkan 10 tahun yang lalu, saya akan membenarkan dalil ini. Akan tetapi, secara tak disangka-sangka dunia saat ini kembali pada situasi stagnan akibat banyak golongan di luar sana gamang menurunkan standar hidup mereka. Mereka yang stagnan tetapi berkata, “kami baik-baik saja.”

Selagi mereka belum menyadarinya, situasi tersebut dipastikan akan berlangsung lama, entah kapan akan berakhir. Kabar baiknya, kita tidak harus berada dalam situasi demikian apabila berhasil menemukan cara yang sudah teruji zaman dan waktu. (dswas)

Minggu, 19 Juli 2026

Kekalahan dan Penghiburan

Tersedia hadiah uang tunai sekitar $9 juta dolar dari FIFA untuk masing-masing tim peserta Piala Dunia 2026 yang hanya finis di babak penyisihan grup. $11 juta dolar bagi tim yang sampai di babak 32 besar, $15 juta bila sampai babak 16 besar, $19 juta perempat final, juara keempat $27 juta, juara ketiga $29 juta, juara dua $33 juta, dan jawara $50 juta. 

Lalu mengapa kita menyaksikan pria-pria dewasa di lapangan bola meneteskan air mata saat terpaksa menerima kenyataan bahwa mereka kalah dan gagal maju ke babak berikutnya? Yang jelas bukan karena mereka menangisi hilangnya hadiah uang tunai. Bukan juga karena kecemasan akan kehilangan pekerjaan (sekitar 20 pemain Piala Dunia mendapat kontrak baru sebelum turnamen tersebut berakhir). Mereka berjuang demi meraih sesuatu yang lebih besar dan berharga daripada uang, tapi tidak mampu mendapatkannya.

Dari sudut pandang saya sebagai pehobi sepak bola, air mata akibat kegagalan itu bukan muncul dari rasa lelah setelah berlarian selama 90 menit nonstop selama beberapa hari tapi hasilnya zonk. Melainkan dari rasa kecewa yang mendalam karena harus mengulang dari nol selama empat tahun berikutnya untuk persiapan, bongkar pasang pemain dan pelatih, lolos kualifikasi, dan seterusnya. 


Ilustrasi: Suatu petang di pelataran Cor Jesu, Malang

 

“Badai pasti berlalu”

Masyarakat penganut kepercayaan asli cenderung menjalani hidup sehari-hari secara sederhana, sehingga mindset yang sama pun diterapkan saat mereka mengalami kekalahan, kerugian, kehilangan, atau berbagai kesialan lainnya. Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggapnya sebagai sebuah keadaan yang bersifat temporer, alias tidak menetap, sehingga manusia termotivasi untuk keluar dari ketidaknyamanan itu.

Sesajen yang mereka suguhkan saat memulihkan diri dari keterkejutan akibat kegagalan berfungsi sebagai sebuah cara untuk membawa kesadaran mereka kembali ke waktu nyata. Bukan sebagai cara menarik hati para lelembut atau kekuatan tak dikenal untuk mendatangkan mukjizat yang membalikkan keadaan dalam waktu singkat dan sesuai keinginan. Bukankah manusia itu sendiri bukan entitas pasif, karena mereka bebas mengeksploitasi alam untuk banyak tujuan?

Bagi suku-suku Siberia yang biasa hidup di tengah kerasnya alam selama berpuluh bahkan beratus tahun, menghadapi kegagalan atau hal yang tidak diinginkan merupakan bagian yang membentuk spiritualitas mereka. Kegagalan mendapat hewan buruan atau ikan tangkapan tidak lantas diterima sebagai sebuah ‘hukuman’ oleh alam, melainkan sebuah keadaan yang bisa terjadi kapanpun.

Emosi berlebihan sebagai tanggapan atas situasi tersebut bukanlah solusi untuk memperbaiki keadaan, apalagi menghaturkan sesajen dalam suasana hati yang tidak stabil. Lantaran kesesatan spiritual rentan terjadi dalam situasi demikian, mereka wajib menyelesaikan kecamuk dalam hati masing-masing terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas ibadah. Karena selain diri mereka sendiri, tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Penghiburan selalu ada

Dalam sepak bola, dan cabang olahraga lainnya, cara mengobati rasa sedih akibat kekalahan adalah bangkit dan mencoba kembali sampai berhasil. Meski tak sedikit para atlet dan pesepakbola yang mengalah pada keadaan, pensiun akibat faktor usia ketika prestasi yang diincar tak juga terengkuh dalam genggaman. Toh tak sedikit pula dari mereka yang berhasil move on dari kekecewaan dan meraih banyak hal baru yang tak terduga sebelumnya.

Platform media sosial berhasil menjadi lapangan pekerjaan baru bagi sederet nama yang melegenda dalam sepak bola 90an sampai awal 2000an. Uniknya, mereka yang dulu bermusuhan di lapangan bola malah jadi sahabat di masa tua, sama-sama laris manis berkat podcast yang membahas dan menertawakan kekonyolan diri mereka sendiri di masa muda. (dswas)

Minggu, 12 Juli 2026

Trik Jitu Memadamkan Konflik

Dari dua batu yang saling bergesekan bisa terpercik api-api kecil. Sama halnya sebuah pertentangan bisa membesar akibat dua kepala batu yang sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Tidak perlu terlalu jauh memandang, contoh situasi semacam ini sangat mudah ditemukan di sekitar kita. Walaupun kabar terkini dari medan perang mana pun bisa diakses setiap saat melalui layar ponsel kita 24/7.

Inflasi global yang belum terlihat ujungnya hingga kini membuat banyak orang di dunia merasa kalah, merasa menjadi pecundang akibat hilangnya kenyamanan hidup yang sudah sekian lama mereka nikmati. Pergeseran gaya hidup dari komunal ke individual membuat banyak orang merasa seorang diri di tengah kecemasan – yang sangat tidak nyaman dan menyiksa.

Tidak sedikit yang berusaha mencari penawar dengan berusaha memenangi ‘pertempuran’ di medan laga yang lebih kecil dan sedikit lebih ringan. Bukan didasari keyakinan bahwa mereka dilahirkan sebagai pejuang untuk menang di medan perang, melainkan sekadar ingin cepat-cepat memenangi sebuah situasi guna menutup ‘kerugian’ akibat kekalahan di situasi lain (yang kadang tidak saling berhubungan).

Inilah mengapa gesekan kecil (dan besar) dalam masyarakat bisa sangat sulit dipadamkan. Selalu ada saja ‘orang-orang kalah’ kembali mengipasi api konflik yang sudah mengecil agar kembali merajalela. Kita tidak dapat menyembuhkan orang-orang semacam ini, tetapi kita bisa meminimalisir timbulnya dampak ikutan yang muncul akibat kecenderungan mereka mencari kemenangan di tengah situasi dan kondisi apa pun.


Ilustrasi: Suatu senja di Singosari, Malang.

 

Menyingkirkan ambisi pribadi tidak mudah

Dewasa ini, menjadi bagian dari masyarakat komunal dipandang sama dengan kehilangan kebebasan untuk berperilaku. Banyak dorongan hawa nafsu yang harus kita tekan sebagai upaya memelihara keseimbangan antara alam sekitar dan masyarakat, antara suatu masyarakat dan masyarakat lainnya. Justru satu hal yang kita seharusnya bebaskan adalah kemampuan mengatur diri sendiri dan kelompok, meski tanpa kehadiran tokoh sentral yang memiliki otoritas lebih tinggi dibanding warga lainnya dalam masyarakat.

Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Tuva di Siberia Selatan, kebahagiaan bukanlah pengejaran cita-cita pribadi, melainkan lebih sebagai hasil dari segala upaya yang dilakukan untuk memelihara keharmonisan dan keseimbangan dalam masyarakat itu sendiri. Menyediakan sesajen sebagai cara ‘memanusiakan’ pepohonan, pegunungan, laut, dan binatang, adalah metode yang ditemukan para leluhur mereka agar generasi penerus berhati-hati dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Tokoh pemimpin dalam komunitas Tuva hanya akan turun tangan apabila terjadi masalah dalam masyarakat. Bila tidak dimintai bantuan, maka dia akan cenderung diam dan mengamati. Terlalu banyak ikut campur membuat masyarakat tidak punya inisiatif untuk membuat keputusan dan menata diri mereka sendiri agar selaras satu sama lain, baik sesama mau pun alam sekitar.  Ia tidak tampil di muka publik demi harta maupun ketenaran, karena tujuan tersembunyi semacam itu suatu saat akan terkuak ketika masyarakat yang dia pimpin gagal mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

 

Benar dan sempurna hanya mitos

Siapa pun yang mengatakannya, kita sebaiknya mulai kritis terhadap klaim apa pun yang mengatasnamakan kesempurnaan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, suka atau tidak. Keyakinan tentang kesempurnaan adalah benar hanya jika terbukti membawa manfaat bagi kehidupan dan kebahagiaan suatu masyarakat secara keseluruhan. Rasa rendah diri musnah, meski argumen kita kurang cukup kuat untuk mengklaim bahwa kita merasa bahagia.

Konflik dan api-api kecil yang berpotensi konflik akan reda dengan sendirinya, apabila kita tidak punya ambisi pribadi untuk menunjukkan dan membuktikan kepada siapa pun bahwa argumen kita paling benar. (dswas)

Minggu, 05 Juli 2026

Cara Mengatasi Niat Jahat

“The road to hell is paved with good intentions (suatu keadaan sulit dapat bermula dari niat yang baik).” Peribahasa ini juga dapat ditafsirkan secara bebas bahwa seseorang yang berniat jahat dapat menyelubungi maksud sejatinya dengan senyuman, kata-kata manis, pujian, bujuk rayu, keramahtamahan di depan layar, belati di belakang layar. Bukan maksud saya menakut-nakuti Anda, tetapi tidak ada salahnya selalu ingat dan waspada.

Di era krisis multidimensi global seperti saat ini, orang-orang berusaha mengobati kepedihan akibat kesulitan ekonomi dengan memanjakan diri dengan keindahan yang bisa langsung mereka nikmati dengan panca indera. Keindahan artifisial yang terjangkau, walaupun tidak selalu mencerminkan kenyataan. Contoh: kita akan lebih tertarik dengan seseorang yang mahir dalam berkata-kata manis, daripada seorang dingin dalam bersikap. Betul tidak?

Saya yakin kita semua pernah merasakan ‘nikmatnya’ tertipu oleh seseorang yang kita anggap bukan orang lain dalam hidup kita; seorang sahabat, rekan seperjuangan, atau teman curhat. Teman saya bilang, tidak ada yang mengalahkan ‘kenikmatan’ ditusuk dari belakang oleh seseorang yang kita percaya. Membalas perbuatan mereka, atau mendoakan mereka lekas masuk neraka, sama sekali tidak membantu meredakan kekecewaan yang kita rasakan. 


Illustrasi: Mulyoagung, Dau, Malang.


Menjaga kebersihan mental

Kolam renang Kendedes, Singosari, Malang, merupakan tempat di mana saya ‘membesarkan’ anak-anak, mulai dari mereka masih kecil sampai saat ini. Suatu hari, saya melihat ada yang unik di kolam renang yang dikelola oleh koperasi milik Angkatan Udara RI ini.

Ada spanduk yang isinya tentang himbauan menjaga kebersihan membentang di pagar area pelinggih (tempat meletakkan sesajen) di sisi barat kompleks kolam renang yang juga diketahui sedikit orang sebagai situs sejarah. Entah masih terpasang atau tidak saat ini, saya belum berkunjung lagi ke kolam renang di mana tiga sampai empat mata air senantiasa mengalir bahkan di musim kemarau.

Bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia, menjaga kebersihan mental sama pentingnya dengan menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan sekitar. Menghadapi kerasnya alam Siberia yang dingin menusuk tulang, bertahan hidup artinya bergantung sepenuhnya pada kerjasama komunitas. Apabila salah satu anggota komunitas punya perasaan negatif, seperti rasa iri, dengki, marah, serakah, dan sederet perasaan negatif lainnya, inilah awal rentetan kesialan bagi komunitas itu sendiri.

Karena urusan kebersihan mental merupakan tanggung jawab masing-masing, para penganut Kepercayaan Asli Siberia wajib aware terhadap situasi perasaan mereka sendiri. Bibit-bibit niat jahat adalah pertanda terjadi pelemahan dalam jiwa seseorang. Pada saat niat jahat mulai muncul dalam diri sendiri, mereka wajib menekan kemunculannya dengan ‘mengorbankan’ sedikit harta yang mereka miliki untuk menyediakan sesajen untuk kemudian dimasukkan ke dalam api.

Sesajen dimaksudkan sebagai pralambang perasaan negatif, yang selanjutnya mereka musnahkan di atas bara api sebelum niat jahat itu membesar. Anak-anak para penganut Kepercayaan Asli Siberia diajarkan untuk memupus niat tidak baik kecil secepat mungkin, karena niat jahat yang timbul terus menerus adalah pertanda jiwa seseorang sedang sakit. Penyakit itu bisa menjangkiti seluruh tubuh, begitu pula mental mereka.

Niat jahat itu ‘normal’

Manusia mana pun di muka Bumi ini pasti pernah memiliki niat jahat, termasuk saya sendiri. Walaupun lingkup niat jahat kita hanya kaleng-kaleng, misalnya berniat terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kerja, atau pura-pura lupa mengembalikan buku pinjaman yang sangat kita suka isinya.

Tidak semua orang cukup kuat menghadapi krisis global jaman now dengan kerja keras dan ketabahan hati. Tidak sedikit orang yang memilih jalan singkat guna mewujudkan keinginan dan ambisi pribadi masing-masing, karena mereka tidak percaya bahwa komunitas mampu membantu meredakan rasa sakit yang mereka rasakan.

Maka dari itu, sebaiknya kita jangan terlalu shock ketika menangkap basah niat buruk seorang teman. Telah terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang-orang semacam ini, sehingga hanya mereka sendiri yang mampu memperbaiki diri dengan cara mengubah kecenderungan negatif itu sebelum menjadi boomerang.

Satu saran saya: sakit hati akibat perilaku orang-orang seperti ini merupakan tindakan buang-buang waktu, sedangkan kita hanya punya waktu 24 jam dalam 1 hari. (dswas).

Minggu, 28 Juni 2026

Menghindari Kesia-siaan Terbesar Dalam Hidup

“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit (many a little makes a mickle)” adalah prinsip hidup orang-orang sukses macam Oprah Winfrey dan George Soros. Mereka hidup di masa ketika dunia sedang susah-susahnya dan tempat yang berbahaya untuk tumbuh dan berkembang. Kesuksesan mereka dan orang-orang seperti mereka bukan hanya menginspirasi banyak orang. Namun, juga menumbuhkan rasa iri dalam benak tidak sedikit orang, yang karena berbagai faktor tidak mempunyai privilese untuk bisa sesukses orang-orang kaya sejagat raya.   

Kita boleh saja menghakimi orang-orang semacam ini dengan berbagai sebutan, toh hidup mati seseorang urusan masing-masing. Tidak ada kaitan antara kehidupan orang lain dan kehidupan kita beserta keluarga, sehingga apa yang mereka rasakan terhadap perbuatan kita kepada mereka juga bukan tanggung jawab kita. Ya atau tidak, mana jawaban yang paling berasal dari lubuk hati terdalam?

Saya menilai sikap semacam ini sebagai sebuah kesia-siaan, pemborosan terbesar dalam hidup. Mengapa? Tidak selalu perasaan senang hati yang timbul dari pilihan untuk bersikap seperti ini. Sampah-sampah hati yang bernama rasa sedih, kesal, marah, benci, malu, dan sederet perasaan negatif lainnya lebih sering muncul sebagai hasilnya.

Di sisi lain, sampah adalah masalah terbesar yang harus diatasi manusia saat ini. Alih-alih mengirim bom nuklir, sebuah negara dapat menghancurkan peradaban negara lain dengan mengirim sampah. Bukan saja sampah dalam pengertian sesuatu yang kotor dan berbau, melainkan juga ‘sampah’ dalam bentuk hasil turunan suatu produk. Misalnya, plastik yang merupakan bentuk turunan ke sekian daripada minyak dan gas bumi. 


Ilustrasi: Punden Mojorejo, Dau, Malang. 


‘Kuras’ sampai habis

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket, yang tinggal di Siberia, Rusia, menggantungkan kehidupan mereka pada alam dalam segala hal; hutan sebagai penghasil bahan bangunan untuk mendirikan rumah, laut dan danau sebagai penghasil ikan untuk santapan keluarga. Mengambil dari alam bukanlah sesuatu yang dilarang, tetapi penuh perhitungan agar bisa menyambut masa depan dengan kebahagiaan dan bukan kecemasan.

Selain melakukan upacara permohonan izin sebelum berbuat sesuatu di alam, tebang pilih dan selektif dalam berburu, ada satu prinsip krusial yang tidak mereka tinggalkan. Yaitu, memanfaatkan segala sesuatu yang mereka ambil dari alam semaksimal mungkin hingga tak bersisa agar tidak menimbulkan timbunan sampah.

Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Ket, binatang dan tumbuhan yang mereka santap atau manfaatkan adalah anugerah dari alam. Menyia-nyiakan sisa-sisanya sama artinya dengan tidak menghargai jerih payah mereka sendiri, apalagi bila sampai membuang sisa-sisa jeroan binatang, atau ikan yang sudah membusuk ke sungai atau danau. Bahkan kulit dan tulang beruang atau rusa bisa mereka ubah jadi bahan tenda. pakaian, atau gagang pisau.

Jauh sebelum orang-orang di desa saya sibuk mengumpulkan sampah plastik untuk ditukar uang receh di bank sampah, masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket sudah menemukan cara untuk hidup minimal tanpa sampah. Karena bagi mereka ‘nyampah’ adalah perbuatan yang sangat dibenci para leluhur. Ironisnya, kita baru memahami alasan di balik prinsip kepercayaan ini setelah lautan sampah menjadi bukit dan menciptakan longsor yang menelan korban jiwa.

Sampah yang paling mudah didaur ulang

Jadi sudah paham ‘kan mengapa sampah hati adalah sampah yang paling mudah kita daur ulang? Kesulitan ekonomi membuat jutaan orang di dunia ini sangat rentan mengalami perasaan tertekan. Ada 90% kemungkinan kita akan bertemu salah satu dari mereka dalam kehidupan sehari, entah di jalan, di sekolah, tempat kerja, pasar, dll. Walaupun kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dirasakan orang lain, karena seluruh manusia itu lahir dan mati dalam keadaan sendiri dan tidak mengajak siapa pun. (dswas). 

Sabtu, 20 Juni 2026

‘Mental Bantuan’ Awal Kehancuran Segalanya

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membubarkan USAID (US Agency for International Development) segera setelah ia dilantik 2025 lalu, mayoritas dunia menyambutnya dengan desah nafas panjang. Betapa tidak,  lembaga itu sudah menyalurkan bantuan untuk 130+ negara di seluruh dunia sebagai dukungan pada berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pemeliharaan demokrasi, dll. sejak didirikan pada 1961.   

Keputusan Trump membubarkan lembaga ini sebenarnya sangat masuk akal, antara lain karena AS harus menanggung utang yang sangat besar akibat fokus pemerintahan berbagai era sebelumnya terhadap perkembangan di berbagai negara di dunia. Saat didirikan, beberapa negara penerima bantuan sedang mengalami kondisi sulit akibat berbagai hal, misalnya, bencana alam atau konflik politik, sehingga kehidupan rakyat mereka terbengkalai.

Namun, beberapa negara penerima bantuan USAID lainnya sebenarnya ‘baik-baik saja’ saat lembaga tersebut mulai mencairkan dana. Mereka tidak kaya raya, tetapi tidak mengalami bencana kelaparan atau perang besar. Sebut saja negara-negara Asia seperti Indonesia, India, China, Bangladesh, Filipina, dll., seperti yang terlihat di bagan ini. Mirisnya, taraf kehidupan di negara-negara penerima bantuan juga masih ‘gitu-gitu aja’ sejak saat bantuan pertama kali ditransfer oleh USAID hingga saat dihentikan.

Kalau Anda mengklik tautan yang saya berikan di atas, akan terlihat peta dunia berikut nama negara beserta jumlah bantuan yang mereka terima dari Amerika Serikat. Semakin gelap warna biru suatu negara, semakin besar bantuan yang diterima negara itu. Saya belum tahu bagaimana pihak Amerika Serikat mengontrol dan memeriksa sejauh mana efektivitas bantuan yang mereka salurkan bagi negara penerima. Apakah negara penerima sudah bisa memperbaiki kehidupan mereka: sudah lebih maju, sehat, terdidik, dan lebih demokratis setelah mereka menerima bantuan dari Amerika Serikat?

Bila tidak, mengapa tidak diterapkan shock therapy bagi negara-negara penerima bantuan agar mereka mau memperbaiki situasi mereka? Dan yang lebih penting mencemaskan lagi adalah, mengapa sebuah negara besar seperti Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk mengevaluasi sejauh mana uang yang mereka habiskan benar-benar bermanfaat bagi negara yang mereka pilih untuk dibantu? 


Ilustrasi: Pantai Ngliyep, Malang Selatan. 


Wajib memberi, wajib menerima  

Sebelum kita tiba di zaman modern di mana manusia mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, di masa lampau (dan di masa sekarang) para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap memohon bantuan adalah sesuatu yang lumrah. Ketika mereka akan berburu di hutan atau memancing di laut, kondisi alam yang kondusif jelas akan sangat membantu mereka agar memperoleh apa yang dicari, yaitu binatang buruan atau ikan untuk disajikan sebagai lauk makan malam keluarga mereka.

Alam mempunyai sifat yang sukar diprediksi. Maka Tengerisme sebagai salah satu percabangan Kepercayaan Asli Siberia menyusun pedoman yang mempersiapkan para penganutnya untuk selalu siap menghadapi segala fenomena alam. Hidup sederhana dan bersedia menjaga kelestarian alam sekitar adalah beberapa hal kecil yang wajib dijalankan, bukan agar mukjizat datang dan mengubah hidup mereka.

Dalam logika sederhana, hidup sederhana artinya lebih sedikit mengonsumsi dan lebih sedikit menghabiskan. Apabila diterapkan sungguh-sungguh, kelangkaan ikan atau binatang buruan bisa dicegah. Misi berburu dan memancing berhasil, keluarga di rumah bisa makan lezat setiap hari.

Tengerisme mengenal sesajen, sama seperti banyak kepercayaan asli lainnya di seluruh dunia. Namun, bagi mereka sesajen lebih bermakna sebagai pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Sesajen tak punya arti apa-apa bila tidak dibarengi tingkah laku sesuai pedoman yang telah disusun nenek moyang mereka.  

Tanpa pamrih hanya mitos

Bahkan sebuah badan amal pun punya sederet peraturan bagi penerima bantuan. Sungguh naif kalau kita percaya 100% pada sebuah entitas yang menyatakan mereka tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan tanpa mengharap atau keinginan mendapatkan sesuatu. Seandainya bantuan keuangan yang sangat murah hati tidak disertai batasan dan aturan tentang cara pemanfaatannya, jangan bersorak kegirangan.

Setelah sekian puluh tahun hidup susah, Anda mendadak kaya karena bantuan seseorang, lalu mendadak susah lagi karena bantuan itu mendadak hilang. Bersediakaj Anda kembali ke kehidupan lama, kehidupan sebelum menerima bantuan, dengan rela dan tanpa penyesalan, tanpa kegalauan?  (dswas).

Minggu, 14 Juni 2026

Kaitan Antara Kesabaran dan Kesejahteraan

Permainan sepak bola pada dasarnya adalah upaya 10 orang dalam satu tim (minus penjaga gawang) menggiring bola di tanah lapang sepanjang 105 meter untuk memasukkannya ke gawang lawan, yang dilakukan secara terus menerus meski mereka berulang kali gagal. Kabar baiknya, mereka punya waktu selama 90 menit untuk mencoba, yang bisa diperpanjang selama 30 menit. 

Artinya, seorang pesepakbola sudah semestinya merupakan sosok penyabar, karena pemenang bisa saja tidak dapat ditentukan bahkan setelah 120 menit habis untuk berlarian mengejar bola. Kesabaran juga dibutuhkan para suporter yang harus rela menyisihkan uang demi memberikan dukungan semangat  buat tim kesayangan mereka, di mana pun mereka ‘pentas’.

Sementara suporter yang tidak bisa hadir di stadion harus rela bangun di tengah malam, mengorbankan jam tidur mereka demi menyaksikan laga para bintang kesayangan mereka. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir mengapa ada pemain maupun penonton yang terlibat adu fisik gara-gara sepak bola.

Mungkin lantaran pemberitaan media tentang gemerlap kehidupan para selebritis sepak bola dan kekayaan mereka berhasil menyembunyikan fakta bahwa betapa besarnya kesabaran yang perlu dimiliki untuk bisa mengantar tim mereka jadi juara. Ironisnya, pemberitaan semacam inilah yang justru laris karena kita menganggapnya lebih enak ‘dimakan’.

Hal ini tidak lain karena manusia membutuhkan tempat pelarian dari getirnya kenyataan hidup, suatu hal yang sah-sah saja sebab tidak melanggar hukum dan undang-undang. Yang kita langgar adalah hak kita sendiri untuk hidup tenang dan terbebas dari penderitaan batin, alias stress. 


Ilustrasi: Bunga wijayakusuma (fishbone cactus) mekar beberapa detik saja di malam hari,
sebelum menguncup kembali dan layu di pagi hari. 


Adaptasi implementasi kesabaran

Sabar tidaklah semudah mengobral kata tentang sabar itu sendiri. Bagaimana kalau kita belajar tentang sabar kepada masyarakat suku tradisional Siberia? Di tengah suhu sekian puluh minus derajat Celcius yang membekukan segalanya, di sebuah tempat di Bumi di mana salju dan es membentang sejauh mata memandang, di sanalah mereka tinggal berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, suhu ekstrem tak membekukan kehalusan perasaan, juga akal budi mereka. Ini dibuktikan dengan adanya Kepercayaan Asli Siberia yang salah satu ajarannya adalah tentang sabar mengamati arah gerak alam sekitar, sebelum memutuskan ke arah mana tangan dan kaki bergerak demi tujuan mencapai kesejahteraan hidup di tengah situasi yang menantang akal sehat.

Berbeda dari masyarakat perkotaan, masyarakat asli Siberia tidak setiap saat pergi berburu beruang atau menangkap ikan di sungai. Kesabaran mereka menanti saat yang tepat untuk segala aktivitas eksploitasi alam merupakan bentuk penerapan ilmu manajemen sumber daya alam dalam kehidupan nyata. Faktanya, segala kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern umumnya berpangkal dari ketidaksabaran.

Kesabaran yang diajarkan Kepercayaan Asli Siberia bukanlah soal penantian yang pasif, bukan pasrah mengikuti arah angin bertiup. Melainkan lebih tentang kerelaan untuk senantiasa menyamankan diri dengan perubahan situasi, sembari tidak kehilangan fokus dalam memelihara keharmonisan dengan sesama maupun alam sekitar.  

Sebagai komunitas nomaden, masyarakat asli Siberia bisa saja bermigrasi ke wilayah lain yang lebih hangat, lebih hijau, dengan temperatur yang lebih bersahabat. Namun, bersenjatakan pengetahuan mendalam tentang alam sekitar, para leluhur mereka memilih bertahan di tengah suhu ekstrem Kutub Utara dari generasi ke generasi, dan berhasil survive hingga saat ini.

Dampak jalan pintas

Adalah wajar jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih dalam hidup. Bukankah tanpa ambisi seseorang, tidak mungkin ada internet di antara kita? Namun, internet diciptakan melalui proses panjang selama bertahun-tahun. Sementara manusia modern lebih mengutamakan cara-cara mudah dan cepat untuk bisa memegang uang dalam genggamannya.

Herannya, semakin mudah kita mendapat uang hari ini, semakin berbelit dampak ikutan yang musti kita hadapi di belakang hari.  Semakin mudah dan cepat kita menjual lahan pertanian milik keluarga, mengapa semakin cepat ludes pula uang yang kita dapat? (contoh)

Jalan pintas memang bisa membawa kesejahteraan, walaupun hanya sebentar. 

Minggu, 07 Juni 2026

Memelihara Rejeki Agar Tak Pernah Habis

Karena tiada yang abadi di dunia ini, segalanya pasti akan habis, berakhir, atau mati. Kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini bukan sekadar retorika, melainkan realita. Sebuah dinasti bisa jatuh bangkrut, negara makmur bisa tenggelam akibat utang, sumber daya alam melimpah bisa licin tandas, dan sumber air juga bisa berhenti mengalir. Kita cenderung menanggapi titik akhir dengan kepanikan, padahal kematian adalah suatu hal alamiah yang bisa menimpa siapa saja.

Bagi mereka yang sudah ditempa pengalaman maupun ilmu institusi pendidikan formal, manajemen adalah kunci untuk mencegah ‘kiamat’ agar tak menjadi kenyataan. Sebagian besar orang cenderung menganggap meskipun berhemat adalah cara memperpanjang persediaan sumber yang kita miliki, baik yang berwujud sumber daya alam maupun sumber keuangan. Tidak sulit dilakukan meski harus ‘berkorban’.

Hingga saat ini, kita belum bisa benar-benar mengimplementasikan langkah-langkah yang bisa memperbanyak debit air suatu mata air, misalnya, atau menemukan sebuah metode untuk menambah cadangan minyak bumi dan gas. Dalam perspektif sebagian besar manusia, alam sekitar hanyalah benda mati untuk dieksploitasi sampai kering kerontang. Belum terbit gagasan dalam benak para cendekiawan sejagat untuk mengganti apa yang sudah mereka ambil, apalagi memelihara suatu sumber daya alam agar terus mengalirkan rejeki untuk manusia.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 



Disiplin menghargai alam   

Kebiasaan meminta izin pada alam sekitar sebelum mengambil atau mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya tidak mudah dilakukan ketika orang-orang di sekitar kita tidak menjalankannya. Apalagi bagi para penganut Kepercayaan Tradisional Dvoieverie, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan Ukraina dan Rusia serta menjadi bagian dari angkatan perang masing-masing kubu.

Demi tugas negara, mereka tinggal di rimba belantara hingga berbulan-bulan. Mereka berteman kesunyian dan mau tidak mau mendapat perlindungan dari pepohonan, makanan, minuman, bahkan obat-obatan dari segala yang ada di hutan. Di tengah tekanan itu mereka menyadari kemurahan hati alam sekitar, meski mereka ‘tidak datang dengan damai’ sebagaimana sekelompok pemburu yang berburu kelinci di hutan.

Tanpa aba-aba, perintah, instruksi, maupun komando, para penganut Dvoieverie di kalangan militer Ukraina dan Rusia mempunyai kebiasaan meninggalkan sesajen di tepi hutan atau mata air, sebelum mereka masuk ke dalam hutan, mengambil air, memancing, berburu, atau mengambil apa pun di sana. Selain sebagai simbolisasi permohonan izin dan ucapan terima kasih pada alam sekitar, sesajen juga merupakan bentuk pengorbanan yang hanya dapat terwujud berkat adanya kedisiplinan diri.  

Karena kedua pihak sama-sama membutuhkan rimba sebagai tempat bersembunyi, mereka tidak mengizinkan siapa pun, kecuali kubu tentara swasta, untuk memasuki area hutan di sekitar perbatasan Ukraina dan Rusia. Konflik berkepanjangan menjadi satu-satunya hal yang membuat kawasan ini terhindar dari tangan para korporasi global haus darah.

Berhemat bukan satu-satunya cara

Ya, berhemat bukan satu-satunya jalan yang musti kita tempuh untuk menjaga kontinuitas segala keberlimpahan alam. Alih-alih cara bertahan hidup, berhemat justru akan menjadi sumber kesedihan dan keterpurukan kita ketika kita menjalankannya dengan penuh keterpaksaan. Apalagi bila kita belum dapat menyingkirkan keinginan untuk ‘menikmati hidup yang senikmat dahulu kala’, karena, yah, masa lalu tidak akan pernah kembali.

Sebelum mampu memelihara alam dan menikmati hasil upaya tersebut, kerendahan hati untuk ‘memanusiakan’ alam wajib muncul terlebih dulu. Bila tidak, itu bukan masalah besar. Yang jadi masalah besar adalah ketika suatu saat mata air berhenti mengalirkan air, cuaca panas akibat habisnya kawasan hijau, atau hal-hal sepele lainnya yang mendadak hilang dan tak bisa lagi kita nikmati. (dswas).

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...