Minggu, 31 Mei 2026

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan sepak bola bisa gagal meraih kemenangan ketika striker menolak memberikan bola kepada rekannya, lantaran terlalu ingin namanya tercatat sebagai pencetak gol. Sebagai akibatnya, peluang demi peluang terlewat sia-sia karena ambisi pribadi menolak berkompromi guna mencapai tujuan bersama.

Gotong royong juga tak kalah merdu bagi siapa pun yang mendengar frasa ini. Membantu sesama bukanlah perkara besar di saat semua ‘baik-baik saja’. Ketika pekerjaan dan gaji kita lancar, atau ketika tidak terjadi inflasi besar-besaran. Ketika kita tidak merasa berat mengeluarkan uang pribadi untuk sesuatu yang dibutuhkan orang banyak. Ketika kita tidak menghela nafas panjang karena ajakan berpartisipasi sebagai donatur suatu kegiatan komunitas.

Akan tetapi, kerelaan untuk berkorban demi komunitas tidak melulu termanifestasi dalam bentuk sumbangan materi; uang, hewan, bahan makanan, atau apa pun yang bisa dilihat dan diraba. Ada pengorbanan yang mewajibkan kita rela menekan ambisi dan kehendak pribadi, walaupun sudut pandang kita menganggap ambisi tersebut baik demi kesejahteraan bersama. Dalam era di mana citra pribadi menjadi senjata untuk meningkatkan nilai diri sendiri di hadapan publik, sebagaimana kisah dari lapangan bola di atas, pengorbanan semacam ini bisa terasa sangat berat. 


Ilustrasi: lapangan sepak bola di Malang.


Seimbang berkat beruang

Meskipun memiliki bentuk fisik yang tampak buas dan menakutkan, keberlanjutan suatu kawasan hutan bisa terancam apabila satwa endemiknya punah, di antaranya beruang. Melalui pola makannya, beruang telah berperan serta menyuburkan ekosistem hutan melalui sisa-sisa bangkai mangsanya. Dengan memangsa beberapa spesies satwa herbivora, beruang mencegah ledakan populasi mereka agar rumput dan tumbuhan yang menjadi sumber pangan meerka tidak lekas habis (sebagaimana yang dialami manusia dewasa ini).

Maka dapat dimengerti mengapa para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia menganggap beruang sebagai hewan sakral yang dilarang diburu sembarangan, apalagi dimakan dagingnya. Para leluhur Karelia memandang beruang sederajat dengan manusia, sehingga memakan daging beruang adalah kanibalisme. Pandangan yang wajar, bahkan hingga hari ini. Mengingat maraknya kebiasaan “memakan” sesama hanya akan berujung penyesalan entah kapan dan di mana.

Para penganut Kepercayaan Asli Karelia juga menjalankan beberapa kebiasaan lain yang bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem hutan bagi seluruh makhluk hidup, termasuk beruang. Sebagai contoh, sebelum membangun rumah, keluarga dari komunitas ini akan menanam sekelompok bakal pohon sesuai jumlah anggota keluarganya.

Logikanya, ekosistem hutan yang sehat akan menjamin kelangsungan hidup kawanan hewan-hewan herbivora, mangsa sang beruang. Apabila perut beruang kenyang berkat apa yang terdapat di hutan, maka kemungkinan serangan beruang terhadap pemukiman penduduk maupun kawanan hewan ternak mereka bisa diperkecil. Kesadaran ini menjadi norma dalam kehidupan sehari-hari para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia, karena para leluhur mereka mengajarkan untuk tidak merendahkan alam sekitar.

Pengorbanan dan masokisme

Berkorban demi komunitas itu tidak segampang teorinya, apalagi di masa krisis ekonomi global seperti sekarang. Memang, menyumbangkan materi maupun bersedia menyingkirkan ego berakibat kerugian materi dan perasaan bagi kita. Bukankah 4-2 selalu = 2? Bukankah uang kita akan berkurang? Bagaimana bila di lain waktu sejumlah orang di luar sana hanya memperalat kedermawanan kita demi kepentingan mereka sendiri?

Berkaca dari kebiasaan para penganut Kepercayaan Asli Karelia, segala sesuatu bisa dimenej agar bisa terus mendatangkan manfaat dalam jangka panjang. Kemampuan manajerial seperti ini tidak diajarkan di sekolah maupun kampus manapun, melainkan akan kita kuasai dengan sendirinya apabila ada niat memelihara keberlanjutan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Apabila sudah ada kesadaran dalam membedakan mana pemahaman yang cenderung masokis, dan mana yang benar-benar berlandaskan cinta sejati. (dswas).



Minggu, 24 Mei 2026

Trik Jitu Atasi Rejeki Seret

Ada satu hal yang paling ditakuti para pengusaha, yaitu ketika cara meraih untung menjadi lebih mahal. Saat perubahan ini terjadi, para produsen barang dan jasa berpikir seribu kali untuk menaikkan harga produk mereka, terutama untuk produk tersier. Mereka sangat paham bahwa ‘konsumen adalah raja’. Artinya, segencar apapun promo yang dilancarkan para produsen, keputusan membeli atau tidak tetap berada di tangan konsumen dan tak seorang pun yang bisa ikut campur menyangkut preferensi pribadi.

Namun, itu dulu. Dewasa ini, ada banyak jalan yang bisa ditempuh para produsen guna menaklukkan para konsumen agar mereka tunduk pada keinginan para produsen, alias mau membelanjakan uang mereka. Mulai dari menurunkan harga semurah mungkin (dengan seringkali mengorbankan kualitas), hingga promosi yang secara blak-blakan melanggar ranah privasi para pelanggan (menelepon, mengirim pesan singkat, dll.). Trik ini memang berhasil membawa hasil dalam bentuk peningkatan penjualan, walaupun dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, kekesalan akan muncul di para produsen lama yang sudah lebih dulu menjual produk mereka dengan harga lebih tinggi. Mereka bukan hanya kehilangan pelanggan, tetapi bahkan juga menghadapi ancaman (atau sudah) gulung tikar akibat menolak menurunkan standar demi agar produk mereka dibeli orang. Di kubu seberang, para produsen yang berani pasang harga murah pun tidak serta-merta jadi pemenang, walaupun mereka unggul dalam hal statistik penjualan. Kok bisa?

Penyebabnya, lagi-lagi, kenaikan ongkos produksi. Ibaratnya, semakin mereka berusaha ‘melarikan diri’ dari ‘sang monster’ ini, semakin ia mendekat dan melambaikan cakat-cakarnya. Ini tidak aneh, karena manusia di mana pun merupakan bagian dari komunitas, baik komunitas tingkat RT maupun tingkat PBB. Adalah merupakan suatu kesesatan pikir apabila kita mengira bisa aman dan kaya raya sebagaimana rencana dan keinginan kita, ketika mereka yang ada di sekitar kita tidak merasakannya. 


Illustrasi: Pentungansari, Malang.


Permohonan maaf kepada alam

Dalam sudut pandang peradaban modern, alam sekitar itu hidup, tetapi seperti AI, mereka tidak memiliki perasaan dan juga tidak bisa berpikir. Manusialah yang berkuasa atas mereka, karena hanya manusia yang mampu menilai makna eksistensi mereka berdasarkan mata uang masing-masing.

Cuaca dapat dimanipulasi, tiruan matahari bisa dibuat, daging hewan dan sayur-sayuran bisa dibuat di laboratorium. Bila tujuan jangka panjang kemajuan teknologi ini memang positif, sudah barang tentu taraf hidup kita akan lebih baik. Alam sekitar kita seharusnya tidak rusak, karena teknologi kita sudah sangat maju dalam membuat bahan makanan yang tidak memerlukan eksploitasi alam, dan tidak perlu ditumbuhkan di ladang atau peternakan yang memakan banyak biaya.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap pepohonan dan binatang buruan tidak sekadar hidup, tetapi juga memiliki roh sebagaimana manusia yang bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan. Menurut ajaran kepercayaan ini, manusia sebaiknya mempertahankan kerendahan hati saat mengeksploitasi alam agar bisa menekan hawa nafsu serakah yang di kemudian hari merugikan diri sendiri.

Kerendahan hati dilambangkan dengan mempersembahkan sesajen kepada hutan sebelum memotong dahan sebatang pohon, atau sebelum memotong daging hewan buruan. Sesajen dipersembahkan sembari mengucapkan permohonan maaf atas tindakan mereka yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa binatang buruan dan pepohonan demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Di kemudian hari, anggota komunitas suku pedalaman Siberia cenderung akan berpikir panjang sebelum berburu atau memotong sebatang pohon di hutan, mengingat berbelitnya prosesi yang harus dipatuhi. Sehingga, mereka umumnya tidak berlebihan dalam mengkonsumsi apa pun dengan tujuan memberi waktu pada pepohonan untuk tumbuh dan hewan-hewan buruan cukup umur untuk dimangsa.

Memelihara sekitar agar lancar rejeki

Kita semua berharap agar aktivitas kerohanian yang kita jalankan dapat mendatangkan mukjizat dalam hidup kita, agar turunlah cahaya yang membawa jawaban bagi segala permasalahan. Terutama untuk satu masalah yang sedang menjadi tren belakangan ini, yaitu masalah keuangan. Akan tetapi, tidak disarankan menjalankan ajaran leluhur demi mencapai tujuan ini, karena inti ajaran leluhur adalah serangkaian petunjuk untuk memelihara keharmonisan antara manusia dan sekitarnya.

Kita boleh saja menertawakan ajaran Kepercayaan Asli Siberia, walaupun sudah banyak dari kita yang mengalami bencana banjir dan punahnya spesies hewan tertentu akibat perburuan berlebihan. Namun, kita baru bisa melakukannya apabila apa yang menjadi pondasi hidup kita lebih mampu mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia, dan juga alam sekitar. Ketika perilaku kita sudah tak lagi jadi ancaman bagi sumber kehidupan kita sendiri. (dswas).

Minggu, 17 Mei 2026

Gagal Move On Bukan Akhir Dunia – Ini Sebabnya

Penderita demensia cenderung tidak ingat akan banyak hal – nama tempat, nama orang, jalan pulang ke rumah, nama hari, bahkan nama mereka sendiri. Namun, ada satu hal yang masih segar dalam ingatan mereka: lagu-lagu populer dalam suatu fase kehidupan mereka, terutama saat mereka berusia 10 sampai 24 tahun.

Entah itu lagu folk dari era 50-an, blues 60-an, rock & roll 70-an, atau slow rock 80-an, mendengarkan lagu-lagu jadul memberikan efek menenangkan. Detak jantung tidak lagi kencang, hormon dopamine mendadak muncul meredakan kecemasan, bersamaan dengan rasa bahagia mengenang masa muda yang penuh canda dan tawa.

Dalam sejumlah kasus, para pasien demensia yang sudah tak mampu bergerak atau berbicara akan tersenyum, bersenandung, menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama lagu yang tersohor di jamannya. Para anggota keluarga mereka pun lega melihat kehidupan telah ‘kembali’ kepada para ayah, ibu, kakek, atau nenek mereka yang pikun, meski untuk sementara.

Faktanya, mendengarkan lagu-lagu lama memang membawa efek menenangkan bagi siapa saja, meski mereka bukan penderita demensia. Penyebabnya tentu bukan karena para musisi jaman kekinian tidak lagi mampu mencipta lagu yang enak didengar akibat pengaruh Kecerdasan Buatan (AI). Melainkan lebih disebabkan oleh faktor psikologis, tentang kerinduan pada sebuah periode di mana segalanya lebih tidak mengecewakan.  

Namun, toh pada kenyataannya kehidupan kita tidak bisa diputar ulang setiap saat seperti lagu kesayangan kita. Ada hal-hal yang harus tetap tinggal di masa lalu, salah satu penyebabnya karena tidak berkontribusi pada keberlanjutan kesejahteraan alam sekitar. Bukankah kesejahteraan manusia sangat tergantung pada kesejahteraan alam seisinya, bukan hanya sumber daya alam tetapi juga segala makhluk yang eksis di dalamnya?


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang



Alam itu menyembuhkan

Mayoritas dunia mengenal Abkhazia sebagai wilayah dengan bentang alam yang unik, pegunungan bersalju di satu sisi dan tepi Laut Hitam di sisi lain. Kondisi geografis menjadi salah satu faktor di balik berdirinya Kepercayaan Asli Abkhaz ribuan tahun lalu, yang kabarnya mengalami kebangunan kembali di zaman now. Kebijaksanaan lokal leluhur masyarakat Abkhaz ‘menemukan’ bahwa alam sekitar mereka ternyata menyimpan lebih dari sekadar keindahan.

Ketika seorang penganut kepercayaan asli ini sakit, ia disarankan untuk berjalan masuk mengitari hutan tanpa menoleh ke belakang. Tata cara simbolis ini dilakukan dengan maksud meninggalkan penyakit atau hal apapun yang membuat tubuhnya merasa tidak baik-baik saja. Berjalan kaki selalu baik untuk kesehatan, apalagi di bawah rindangnya pepohonan yang melepaskan udara bersih. Dalam sejumlah budaya, menoleh ke belakang merupakan metafora dari mengingat masa lalu yang tidak seluruhnya tentang kenangan manis.

Menyadari berkah tersembunyi ini, Abkhazia menerapkan sejumlah peraturan yang cukup ketat guna melindungi area hutan mereka.  Walaupun turis diizinkan berkunjung dan pariwisata berkembang baik di wilayah ini, beberapa titik sengaja tidak dilengkapi akses jalan. Bahkan dikenakan tarif masuk yang cukup mahal di spot krusial, misalnya di Danau Ritsa yang dianggap sakral oleh para penganut Kepercayaan Asli Abkhaz. Bukan lantaran ada makhluk halus di danau itu yang bisa membantu mereka cepat kaya (pesugihan). Melainkan karena fungsi air memang ‘sakral’ bagi kehidupan manusia sebagaimana yang telah sering saya bahas di banyak artikel di blog ini.

Jangan tersesat di permukaan

Cara-cara lama identik dengan anti modernitas dan kental feodalisme yang menolak kemajuan. Itulah yang sering saya dengar saat masih kuliah. Akan tetapi, kualitas kehidupan manusia belakangan ini tidak semakin baik, walaupun peradaban masa kini sudah jauh lebih modern dibandingkan 10-20 tahun lalu. Ironisnya, eksploitasi alam secara besar-besaran ternyata tidak serta-merta mampu membebaskan manusia dari rasa cemas tentang keuangan dan masa depan.  

Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan melalui kepercayaan tradisional masing-masing seharusnya mendapat dukungan dan ditanggapi dengan pikiran terbuka. Kita tersesat di permukaan apabila kita memilih menghakimi mereka dengan menyematkan label-label negatif, ketika cakrawala pemikiran modern kita telah gagal menyelamatkan alam sekitar dari degradasi dan kehancuran. (dswas).

Sabtu, 09 Mei 2026

Agar Hasil Tidak Mengkhianati Upaya

“Siapa menabur angin akan menuai badai (what goes around comes around)” terdengar mencekam, walaupun acapkali kita gunakan untuk mengungkapkan kekesalan atas perilaku seseorang atau suatu entitas. Padahal kalau kita berhasil mengenyahkan ‘kera-kera emosi yang berloncatan ke sana kemari’, akan terungkaplah suatu makna mendalam. Sebuah ‘mantra’ yang bisa mengundang kebahagiaan untuk datang ke dalam kemuraman hidup kita.

Menengok ke belakang, pencipta ungkapan itu tampaknya sangat memahami bahwa manusia cenderung lebih cepat bereaksi dan lebih mengingat hal-hal bernuansa negatif daripada yang positif. Jauh sebelum penelitian ilmiah menemukan bahwa trauma dapat diturunkan dari satu ke generasi ke generasi di bawahnya secara naluriah, meski tantangan dan kesulitan hidup lebih cenderung melunak dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, para leluhur berbagai bangsa dan suku menciptakan kisah-kisah seram tentang dampak pelanggaran pantangan dan peraturan adat yang bermaksud agar para penerus mereka mengingat dan merenungkan makna di baliknya. Namun, perjalanan waktu mentakdirkan suatu kaum mengalami berbagai kejadian menyakitkan yang menghipnotis mereka untuk mempermasalahkan legalitas tindak-tanduk orang-orang yang hadir sebelum mereka.   


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang.


Sejahtera karena liyan juga sejahtera

Kepercayaan asli Armenia (Hetanisme) percaya bahwa pohon apricot (prunus armeniaca) adalah pohon kehidupan bukan tanpa alasan. Tidak seperti pepohonan sakral di daerah tropis, akar pohon tidak bersifat menyimpan air. Justru sebaliknya, akarnya akan membusuk bila tanah tempat bertumbuhnya mengandung terlalu banyak air. Walau demikian, pohon apricot dapat bertahan hidup di tengah cuaca panas dan buahnya tetap terasa manis walaupun hanya butuh sedikit air.

Kemampuannya menyerap karbondioksida dalam jumlah besar menjadikannya ‘pahlawan’ di tengah isu perubahan iklim. Pohon apricot juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pedesaan Armenia sebagai komoditas ekspor utama, dengan tujuan utama Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Meski asal usulnya menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, ditemukan bukti bahwa masyarakat Armenia kuno telah mengenalnya sejak 6000 tahun silam.  

Ada satu ‘kelemahan’ pohon kehidupan Armenia ini, yaitu ia tidak dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa kehadiran hutan atau sekelompok tanaman lain di sekelilingnya dalam jarak tertentu. Eksplorasi hutan secara berlebihan merupakan kabar buruk bagi perkebunan apricot, karena tiadanya akar-akar pepohonan lain berarti hilangnya para liyan yang membantu menjaga kadar air tetap ideal di dalam tanah bagi pertumbuhan sempurna kelompok pepohonan apricot.

Para leluhur Armenia menyamarkan makna sejati pohon kehidupan dalam berbagai mitos dan legenda, yang sering kali mengalami mispersepsi terdistorsi oleh apa yang kita ketahui tentang ‘dunia lain’. Ajaran leluhur Armenia dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa sang pohon kehidupan merupakan bagian dari alam raya, bukan sebaliknya. Manusia, idealnya, bertindak-tanduk berangkat dari pemahaman ini, yaitu menata kondisi yang dibutuhkan suatu potensi agar tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.

Move on dan lebih baik?

Ya. Move on dan membaik, itulah situasi ideal yang seharusnya bisa kita lihat saat ini. Apabila ajaran leluhur memang sudah tidak relevan, maka situasi kita saat ini seharusnya lebih baik karena kita sudah menjalankan ajaran yang lebih baru dan tentunya lebih relevan. Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang benar-benar ingin mengubah keadaan menjadi benar-benar lebih baik, bukan sekadar iklan.

Sebuah langkah layak disebut move on apabila mampu menjauhkan manusia dari logika mistika, bahwa tidak ada yang namanya mukjizat akan datang untuk menyelesaikan segala masalah hidup. Bahwa tindakan yang berdasarkan pengetahuan tentang alam sekitarlah penolong sejati mereka di segala zaman. (dswas).

Minggu, 03 Mei 2026

Memulihkan Cedera Perusak Masa Depan

Cedera ACL (anterior cruciate ligament) merupakan cedera yang paling ditakuti para pemain sepak bola sedunia. Meski ‘hanya’ menyerang kaki, tetapi dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih tanpa sekali pun ‘merumput’ guna mempertahankan reputasi agar dilirik untuk masuk timnas dan ikut ‘perang’ dalam kompetisi besar (Piala Dunia, Liga Champions, dll.). Tak sedikit pemain yang sinarnya meredup gara-gara cedera ini, bahkan berhenti sama sekali dari dunia yang membesarkan nama mereka.

Tak hanya atlet yang bisa cedera, orang biasa (termasuk mereka yang jarang olahraga) pasti pernah mengalaminya. Entah karena kecelakaan kecil di masa kanak-kanak, kecelakaan sepeda motor, atau salah posisi tidur, otot dan saraf yang berkelindan dalam tubuh kita tidak selalu berada di jalur yang benar atas kehendak mereka sendiri. Dengan penanganan medis modern maupun tradisional, mereka akan kembali ke jalurnya, plus disertai kehati-hatian dalam bergerak guna mencegah terjadinya ‘insiden’ serupa.

Percaya atau tidak, sebuah keseleo yang tampaknya sepele bisa berkontribusi pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah, atau bahkan menyebabkan kematian. Logikanya, keseleo terjadi akibat urat yang mendadak dipaksa melenceng; tidak berada di tempat atau bekerja secara semestinya. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa pada tubuh kita bila keseleo dibiarkan 1-2 hari. Namun, pembiaran selama bertahun-tahun dapat berujung pada masalah kesehatan serius yang bisa mengganggu aktivitas dan bahkan wellbeing kejiwaan kita.


Ilustrasi: Sumber Gentong, Tirtomoyo, Pakis, Malang.


Memulihkan cedera alam

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Azerbaijan, alam dan manusia tidak terpisahkan. Manusia mengambil segalanya dari alam, mulai dari udara, air, pohon, bahkan tanah, demi mempertahankan hidup. Oleh karena itu, kepercayaan tradisional Azerbaijan mengajarkan agar manusia memanusiakan alam, khususnya pepohonan.

Di zaman dahulu, manusia bergantung pada pepohonan sebagai bahan baku pendirian rumah, pakaian, bahkan bahan makanan dan obat-obatan. Para leluhur Azerbaijan menyadari bahwa pepohonan itu hidup, sehingga mereka dianggap punya derajat yang sama dengan manusia. Mereka yakin pepohonan menangis ketika mereka memotong dahannya, demikian pula tetumbuhan yang dicabut dari tanah hingga akar-akarnya. Jauh sebelum manusia mampu mengoreksi ‘kekeliruan’ alam, ada suatu masa di mana mereka menganggap pepohonan adalah para nyonya baik hati yang selalu memenuhi apa yang dibutuhkan manusia dari mereka.

Berdasarkan pandangan ini, para penganut Kepercayaan Asli Azerbaijan memberikan penghormatan kepada alam dan seisinya setiap kali mereka hendak memanfaatkan atau mengambil sesuatu dari alam, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai permohonan izin untuk memotong dahan pohon, atau menebang sebatang atau beberapa pepohonan, telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.

Akibat berbagai faktor, kebiasaan ini pun ditinggalkan. Aneh bin ajaib, pepohonan lambat laun mulai menghilang dari Azerbaijan. Sejumlah kalangan menuding aktivitas masyarakat yang menjadi biang habisnya pepohonan dari rimba Azerbaijan yang dulu mereka banggakan. Akan tetapi, konsumsi kayu oleh masyarakat untuk pemanas ruangan atau bahan baku rumah tidaklah semasif konsumsi kayu untuk keperluan industri.

Apa pun alasan dan siapa pun pelakunya, masyarakat modern Azerbaijan harus bersiap menghadapi konsekuensi dari ‘tangisan’ para pepohonan yang akan datang sewaktu-waktu menghampiri mereka dalam bentuk banjir, tanah longsor, atau kekeringan. Namun, belum terlambat untuk bertindak sebelum mereka benar-benar menangis bersama alam yang cedera.

Sebuah ‘berkah’

Di masa ketika sekumpulan orang berharap keajaiban datang memperbaiki nasib mereka, ‘berkah’ terbaik adalah berhasil menemukan cedera lama di tubuh kita dan segera mencari tindakan medis untuk memulihkannya. Saya menganggapnya berkah karena tidak semua cedera lama bisa ditemukan. Tidak semua orang bisa membatalkan atau mengenyahkan berbagai penyakit serius yang menjangkiti tubuh sebagai dampak ikutan pembiaran cedera, baik secara sengaja atau tidak.

Demikian pula halnya dengan kewawasan diri untuk kembali memanusiakan alam dan pepohonan. Saya juga menyebutnya sebuah ‘berkah’, karena tidak semua orang berhasil menemukan cedera dalam diri masing-masing yang membuat mereka berpaling dari petunjuk hidup harmonis dan bahagia bersama alam. (dswas).

Minggu, 26 April 2026

Obat Kesepian Paling Mujarab

“Ada gula, ada semut.” Sudah menjadi suratan takdir bahwa makhluk hidup akan mendekati suatu entitas yang dirasa menguntungkan bagi kehidupannya. Sebelum mendirikan pemukiman, normalnya, manusia akan terlebih dulu mencari satu zat penting: air. Air yang ‘manis’ dimanfaatkan sedemikian rupa demi agar manusia tidak merasa kekurangan. Ia ibarat idola sepanjang masa bagi siapa saja, tua dan muda, besar dan kecil, di segala dekade dan tren yang senantiasa silih berganti. Dan manusia tetaplah ‘semut’ yang akan pergi begitu saja ketika gula sudah habis, atau rasanya berubah menjadi pahit.

Negara yang dianugerahi keberlimpahan sumber daya alam juga ibarat gula incaran para semut-semut korporasi multinasional atau sesama negara berdaulat. Potensinya menjadi daya tarik bagi siapa saja untuk mengenalnya, walaupun perkenalan tidak selalu berujung hubungan pertemanan atau bahkan pernikahan. Karena ‘gula’ dalam konteks ini dijalankan sekelompok manusia, ia punya keleluasaan untuk menentukan sikap agar hanya ‘ semut-semut’ baik hati yang akan mengelilinginya. Menutup diri atau isolasi mandiri nyaris mustahil diterapkan, karena ‘semut-semut’ telah dikodratkan untuk selalu bisa menemukan ‘gula’ hingga ke liang tersempit dan gelap sekalipun.

Entitas yang berperan sebagai sang ‘gula’ di setiap kisah kadang tak dapat menghindar dari rasa kesepian. Ia tahu mengapa banyak orang tiba-tiba berebut mengirim permintaan pertemanan, ia juga tahu hubungan pertemanan yang dijalinnya tidak akan abadi. Air sebening kaca pujaan umat manusia akan menjadi bahan olok-olok ketika warnanya berubah coklat akibat aktivitas manusia. Si negara super kaya nan dermawan akan ditinggalkan para semut segera setelah ia tidak lagi bagi-bagi angpao. Segala pujian dan kata-kata manis akan berubah menjadi caci maki dan ejekan ketika roda nasib berubah arah bagi ‘gula’ yang telah kehilangan rasa manisnya. 


Ilustrasi: Goa Tetes, Lumajang


‘Gula’ yang selalu manis

Bagi masyarakat Turkmenistan, ‘gula’ yang dimaksud adalah para orang tua, tetua, sesepuh. Dalam budaya yang telah mengakar bersama kepercayaan tradisional Turkmen, “emas dan perak tak pernah menua, tapi ayah dan ibu tak ternilai harganya.” Ada serangkaian aturan tak tertulis yang musti dipatuhi dan terus dipertahankan hingga saat ini dalam hal tindak-tanduk masyarakat terhadap para sesepuh. Mereka harus bersikap sopan, tidak boleh membantah, apalagi berbicara dengan suara keras kepada para orang tua dan sesepuh.

Para orang tua dan sesepuh punya kedudukan tinggi dalam hirarki tak tertulis masyarakat Turkmen, terutama di pedesaan, walaupun tidak sembarang orang berusia lanjut dapat ditunjuk (atau menawarkan diri secara sukarela) untuk mengisi posisi itu. Mereka adalah tempat di mana masyarakat Turkmen meminta nasihat dan saran dalam berbagai hal dan situasi, sehingga tokoh yang dipercaya untuk posisi ini adalah orang-orang kaya pengalaman hidup dan tahu bagaimana menempatkan diri. Maka tidak heran bila sesepuh komunitas lebih didengar daripada tokoh-tokoh lain, misalnya para mullah.

Privilese semacam ini mungkin tak bisa kita temui di negara selain Turkmenistan, yang bisa dibilang sangat ‘aman’ dari sorotan media sosial dan para influencer wisata hingga saat ini.  Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemerintah Turkmenistan yang sangat selektif dalam memberikan visa untuk warga negara asing. Meskipun cukup gencar di internet dalam hal mempromosikan pariwisata Turkmenistan yang kaya dengan situs sejarah dan panorama yang membius jiwa, ada kesan uang bukanlah segalanya bagi mereka. Ini, tentu saja, tak terlepas dari saran dan nasihat para sesepuh Turkmen yang dirumuskan melalui proses panjang dalam mengamati suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. 

Tak pernah kesepian

Saya akan maklum jika Anda memandang Turkmenistan sebelah mata, karena negara ini memang tidaklah selevel banyak negara maju dan bernama besar. Namun, para lansia Turkmenistan tidak mengalami kesepian akut karena kehadiran mereka selalu dibutuhkan orang lain. Ketika fisik sudah tak lagi perkasa untuk bekerja mencari nafkah, para lansia tidak terpinggirkan dari pergaulan masyarakat. Apalagi dianggap beban hidup orang-orang yang lebih muda.

Mereka mendapat kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka untuk memegang sebuah peranan penting dalam masyarakat, menjadi para kakek dan nenek yang selalu dirindukan para cucu. Kebijaksanaan yang berakar dari pemuliaan terhadap para leluhur ini berhasil menciptakan keseimbangan, yang pada gilirannya juga berhasil memeratakan kebahagiaan di kalangan anggota komunitas Turkmenistan.

Berkat para generasi muda yang memercayai mereka sebagai penasihat, para sesepuh menemukan tujuan ketika waktu memakan segalanya. Sebuah tujuan yang membuat sisa hidup mereka kembali bermakna. (dswas).

Minggu, 19 April 2026

Rahasia ‘Menaklukkan’ Alam

Tragedi jatuhnya beberapa pendaki di Gunung Rinjani, yang juga menewaskan pendaki asal Brasil beberapa waktu lalu, merupakan tamparan keras bagi lokasi tersebut. Masyarakat yang tinggal di sekitarnya sebagai pelaku wisata kecil-kecilan, baik sebagai pemandu, porter, penyedia toilet, penjual makanan, toko kelontong, warung mie instan, dll. Mereka merasakan dampak cukup besar setelah Gunung Rinjani mendapat label negatif sebagai lokasi wisata tidak aman dan mematikan.

Terlepas dari apa yang terungkap kemudian (bahwa kemudian berita kematian sang pendaki sengaja di-blow up demi memuluskan rencana membangun eskalator di Gunung Rinjani), peristiwa menyedihkan ini membuka mata khalayak bahwa selalu ada risiko mengancam di balik sebuah keindahan. Bahwa mencari hiburan demi menyenangkan hati diri sendiri seyogyanya dilaksanakan secara penuh pertimbangan, persiapan, kerendahan, dan ketulusan hati, agar kita sebagai sekelompok orang yang mendatangi sebuah tempat fantastis bukan sekadar menghabiskan uang untuk bepergian ke sana. 


Ilustrasi: Gunung Kelud, Blitar.

Akibat inflasi global, nyaris seluruh masyarakat di Bumi ini menurunkan standar hidup mereka; berhemat dengan memangkas pos anggaran yang dirasa tidak terlalu penting demi agar bisa menghemat uang untuk banyak keperluan hidup lainnya. Anggaran hiburan seringkali menjadi korban pertama, karena dianggap tidak terlalu penting di masa sulit. Padahal, justru di era kegelapan seperti sekarang manusia membutuhkan hiburan untuk membantu mereka menemukan dan menekuni apa pun yang merupakan kehendak diri mereka sendiri. Atau yang disebut juga passion.

Di jam kerja kita menyerahkan kehendak kita pada peraturan, target, tujuan, dan serangkaian hal yang tak terlepas dari profesi masing-masing. Sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia untuk mendapatkan hiburan dan merasakan kegembiraan, ketenangan, serta kebahagiaan. Namun, ketakutan kita terhadap kemelaratan dan kesulitan finansial membuat kita mengidentikkan hiburan sebagai salah satu cara mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa kita horang kaya.

‘Win-win solution’

Para penganut aliran kepercayaan Zoroastrianism di Uzbekistan merayakan pergantian dari musim dingin ke musim semi dengan menggelar ritual Navruz (= hari baru dalam Bahasa Persia). Ritual ini tercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO dan diakui PBB sebagai hari libur internasional, karena juga dirayakan di berbagai negara lain (Kazakhstan, Azerbaijan, Afghanistan, Iran, Pakistan, India Utara). Hari raya yang merupakan manifestasi keramahtamahan dan kemanusiaan menyedot perhatian wisatawan internasional, dan selalu menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat yang merayakannya.

Di balik sajian kuliner khas, nyanyian, dan tarian, tersembunyi sebuah tujuan untuk menyenangkan hati ‘para penjaga alam’ agar senantiasa bermurah dan berbaik hati. Agar mereka yang sudah bekerja keras mengolah ladang dan kebun mendapatkan hasil yang setimpal. Ini bukanlah semacam sogokan pada alam agar bersedia mengikuti keinginan manusia, walaupun dalam pelaksanaannya dilantunkan resital yang antara lain berisi tentang permohonan agar hujan tidak turun di musim semi (karena bisa merusak tanaman di ladang).

Masyarakat adat Uzbek memadukan antara kebutuhan akan hiburan dan pemuliaan terhadap alam dan leluhur melalui resital seperti ini. Recital yang bukan hanya menimbulkan rasa senang di hati mereka yang mendengarnya, tetapi juga mereka yang melantunkannya. Selama perayaan Navruz, masyarakat Uzbek tidak bekerja. Setelah perayaan berakhir, seluruh komunitas akan kembali ke pekerjaan masing-masing dengan membawa rasa senang dan tentram karena yakin alam akan bersedia ‘bekerja sama’ dengan mereka hingga musim panen tiba.

Bukan sekadar mencari kesenangan

Sebagai seseorang yang sudah cukup kenyang dalam berburu pemuas nafsu duniawi, saya bisa mengatakan bahwa kesenangan itu tiada batasnya. Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin kita berusaha keras melakukan segala hal demi melegakan dahaga akan kesenangan, semakin tak terpadamkan hasrat kita.

Melalui ritual Navruz, masyarakat adat Uzbek mengajarkan kepada kita bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan akan rekreasi dengan keberadaan alam sekitar. Pergantian musim dipandang sebagai pertanda bahwa alam itu hidup, karena cuaca dan musim tidaklah stagnan. Masyarakat modern menganggapnya suatu fenomena biasa yang bisa dijelaskan ilmu pengetahuan, sehingga terbitlah kepongahan mereka saat menghadapi alam sekitar.

Dalam perayaan Navruz, kuliner Sumalak yang dimasak bersama oleh ibu-ibu komunitas setempat sambil melantunkan nyanyian merupakan cara orang Uzbek menumbuhkan optimisme menyambut musim baru. Sementara ritual Sust xotin (= Poor Woman) bertujuan memelihara rasa kasih sayang terhadap leluhur yang direpresentasikan boneka terbuat dari dahan pohon. Dalam ritual ini, boneka itu dimandikan dengan air secara bergiliran oleh para peserta ritual (semuanya perempuan juga) sembari melantunkan nyanyian tentang harapan mereka.

Alih-alih merasa cemas terhadap ketidakpastian di sepanjang fase baru dalam hidup mereka, ibu-ibu masyarakat adat Uzbek berusaha menipiskan kegelisahan mereka dengan berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Mereka ‘mengorbankan’ bahan makanan yang seharusnya mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan keluarga masing-masing sebagai sesaji untuk leluhur, yang kemudian disantap bersama komunitas sebagai perwujudan kebahagiaan karena berhasil melewati bekunya musim dingin. (dswas). 

Minggu, 12 April 2026

Mimpi Buruk: Ketika Takhayul dan Mitos Menjadi Kenyataan

Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. Itulah yang pernah dikatakan seorang tokoh sejarah bangsa kami. Setelah menelusuri riwayat hidupnya, ternyata sang tokoh pernah belajar di suatu negara Eropa pada saat negara kami bahkan belum lahir.

Namun, saya tak hendak membicarakan identitas beliau dalam tulisan ini. Atau apa motif beliau. Atau teori konspirasi. Dalam konteks yang saya beberkan di bawah ini, mitos-mitos memancing rasa penasaran khalayak sehingga sering menjadi sumber inspirasi ribuan film seram. Lebih dari itu, mitos mencerminkan kekhawatiran masyarakat pemilik mitos terhadap sesuatu hal yang ingin mereka cegah agar tak menjadi kenyataan.

Ketika masyarakat modern mengenal lele raksasa Sungai Mekong (pangasiandon gigas) sebagai ikan air tawar terbesar dunia yang ramai diekspos sejak berhasil ditangkap di Thailand pada 2005, masyarakat penganut Aliran Kepercayaan yang tinggal di sekitar sungai tersebut (Thailand, Laos, Kamboja) menyucikannya dan menganggapnya sebagai hewan keramat. Ketika seorang sutradara Thailand memenangi penghargaan Palm d’Or berkat sebuah film indie “Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives” (2010) yang terinspirasi eksistensi lele raksasa tersebut, para manusia gua Thailand sudah terlebih dulu mengabadikannya dalam lukisan di sebuah dinding gua 3000 tahun lalu.

Sungai Mekong mempersatukan berbagai komunitas yang tinggal di sekitarnya berkat kepedulian dan rasa terima kasih mereka pada air dan alam seisinya. Mereka menganggap lele raksasa adalah perwujudan roh penjaga sungai yang wajib dihormati dan dilarang untuk ditangkap. Selain sebagai bentuk terima kasih pada mata air, sesajen juga dipersembahkan pada para lele raksasa Mekong sebagai wujud terima kasih atas kesediaan mereka menjaga sungai. Tak lupa diciptakanlah mitos-mitos agar anak cucu mereka tidak berani menangkap sang ikan suci, termasuk kisah tentang malapetaka atas siapa pun yang melanggar pantangan ini.

Karena wilayah tersebut subur dan kaya sumber daya alam, para pendatang dari benua lain tertarik untuk mengeksploitasinya. Sebagai kompensasi, para pendatang ini menawarkan ilmu pengetahuan dan budaya yang menawarkan kebebasan dari belenggu aturan-aturan tak masuk akal. Masyarakat Dataran Sungai Mekong pun berinteraksi dengan ‘kebaruan’ yang ditawarkan para pendatang, lalu sontak tersadar bahwa selama ini para leluhur mereka ternyata mengajarkan kesesatan. 


Ilustrasi: Pura Tirta Empul, Bali.


Ketika roh penjaga sungai berhasil dibasmi

Apa yang awalnya adalah keinginan untuk dikenal dan diakui berubah menjadi bencana, setelah berita tentang tertangkapnya sang ikan suci tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat setempat pun berlomba-lomba menangkapnya setelah mendapat pencerahan bahwa ikan suci ini tidaklah sesakti yang digembar-gemborkan para leluhur mereka. Lambat laun, lele raksasa Mekong kian menyusut jumlahnya.

Bersamaan dengan penurunan populasi lele raksasa, masyarakat setempat menyaksikan penurunan populasi berbagai jenis ikan lain, walaupun Sungai Mekong sebenarnya punya kualitas air yang jauh lebih baik dibandingkan banyak kota di Asia Tenggara (termasuk kota saya).

Setelah dilakukan penelitian, terungkaplah bahwa ‘sang hantu herbivora’ ternyata menggunakan kekuatannya untuk membersihkan sungai dengan cara memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk di dasar sungai. Dasar Sungai Mekong telah menjadi ‘hutan ganggang’ yang memakan oksigen bagi makhluk hidup lain di sungai, karena lele raksasa yang mengonsumsinya semakin tersingkir dari peradaban modern Sungai Mekong. Penjaga sungai dilenyapkan oleh manusia yang keliru mempersepsikan ‘kesaktian’-nya.

‘Mimpi buruk’ atau kebetulan?

Dahulu kala, di saat habitat Sungai Mekong masih belum terjamah nafsu manusia, lele raksasa akan bermigrasi dari Danau Tonle Sap di Kamboja menuju Sungai Mekong di awal musim hujan. Mereka berenang sejauh 5 km per hari, melewati Phnom Penh dan telaga-telaga dalam menuju perbatasan Thailand dan Laos untuk bertelur. Setelah menetas, larva lele raksasa akan dihanyutkan arus ‘pasang’ Sungai Mekong kembali ke hutan rawa-rawa Kamboja untuk tumbuh besar dan mengulang siklus di atas.

Bersamaan dengan terhentinya siklus tersebut, dunia menyaksikan bagaimana Kamboja mendapat stigma negatif sebagai negara pusat scam terbesar. Tempat di mana ribuan anak muda dari berbagai negara tetangga berangkat mencari nafkah dan beberapa tak pernah kembali. Di saat yang sama, Kamboja dan Thailand bertikai akibat suatu masalah yang diciptakan para pendatang. Laos yang terjebak di tengah-tengah, terpaksa memilih untuk berpihak dan berseberangan dengan Kamboja. Sementara Thailand dihadapkan pada deretan masalah yang timbul akibat overtourism. (dswas) 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 05 April 2026

Tetap Sehat dan Semangat Meski Kehilangan Pekerjaan

Stagflasi (suatu masa di mana masyarakat global menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah langkanya lapangan pekerjaan) merupakan dampak langsung kebijakan menerbitkan uang baru secara besar-besaran oleh seluruh bank sentral di dunia. Langkah yang dimaksudkan sebagai solusi untuk menghadapi dampak pandemi COVID19 ternyata berbuntut panjang, entah sampai kapan.

Sekitar satu tahun lalu, sejumlah orang berhasil bertahan hidup dengan menurunkan standar hidup mereka dan memotong segala jenis pengeluaran yang dirasa tidak penting. Ini tidak mudah bagi sebagian orang, karena mereka harus cukup kokoh untuk merasakan semacam “kepedihan” akibat harus melepas gaya hidup sebelumnya. Bukan saja karena gengsi, melainkan bayang-bayang kenangan hidup yang lebih nikmat dan membahagiakan waktu masih punya banyak uang. Belum lagi rasa sesal saat teringat perilaku belanja di masa lalu yang terlalu royal, atau kenangan akan uang yang terbuang sia-sia dan tidak jelas larinya ke mana.

Namun, itulah sebuah kelaziman dalam hidup kita, karena kesulitan akan menyertai kemudahan. Manusia modern tidak bahagia karena terjebak dalam ilusi tentang gelap dan terang, yang menurut sudut pandang mereka adalah dua hal yang mengada karena kehendak “setan” dan “malaikat”. Bahwa suatu hari kejahatan akan musnah oleh kebajikan, bahwa dosa akan dihapus oleh pahala, dan seterusnya. Padahal demi mempertahankan kesenangan, beberapa orang rela melakukan segalanya, termasuk melakukan hal-hal yang sebelumnya terlarang dan hina bagi nilai-nilai atau standar mereka sendiri. Itulah, antara lain, mengapa kita sulit bahagia. 


Ilustrasi: Candi Rambut Monte, Blitar


Kebal syok

Mereka yang hidup ribuan tahun lalu di muka Bumi tidak membutuhkan ajian kebal peluru, karena memang peluru belum diciptakan di era mereka. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan menjaga keharmonisan, keseimbangan antara berbagai unsur, sebagai cara melatih diri mereka sendiri untuk senantiasa seimbang di tengah situasi apa pun.

Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Turkik (Turkic Indigenous Faith) yang disebut Tengrisme mengajarkan bahwa dualisme, kegelapan dan cahaya, dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan peran serta manusia. Para penganut Tengrisme yang saat ini tersebar di Mongolia dan Kazakhztan mewujudkan peran serta tersebut dengan larangan mencemari sumber air, serta mengikatkan kain di beberapa pohon yang dianggap penting dalam keberlanjutannya.

Agar kematian sebagai salah satu representasi kegelapan dapat diterima sebagai kewajaran dalam hidup, para penganut Tengrisme mengadakan jamuan makan di hari ke-7 dan ke-49 setelah seseorang dalam komunitas mereka meninggal dunia. Menyediakan makanan untuk orang lain (apalagi dalam jumlah besar) dianggap memberatkan keluarga almarhum, itulah pandangan sebagian orang yang belum mempelajari tradisi ini.

Sederhananya, keluarga yang ditinggalkan harus bangkit dari kesedihan agar bisa melanjutkan hidup. Untuk itu, mereka harus merelakan kepergian orang terkasih yang dilambangkan dalam bentuk menyediakan makanan untuk jamuan makan di atas. Namun, karena biasanya masyarakat Tengrisme hidup secara komunal maka mereka akan bergotong royong guna membantu keluarga yang sedang berduka menyediakan makanan guna keperluan rangkaian upacara kematian.

Anti manja

Di beberapa negara, mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja biasanya akan mendapat tunjangan pengangguran dari pemerintah masing-masing. Mereka yang tidak mendapat tunjangan semacam ini tidak perlu merasa iri, bukankah “rejeki orang sudah ada yang mengatur”?  Sama halnya kita tidak perlu merasa iri mendengar kisah-kisah tentang warga negara di luar sana yang hidup sepenuhnya dengan biaya pemerintah tanpa perlu bekerja.

Walau sepintas fasilitas semacam ini dijustifikasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah suatu negara terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan warga negara mereka, tetapi sejauh mana hal itu memengaruhi mental suatu bangsa sering tidak dibicarakan. Apalagi membicarakan bagaimana efeknya terhadap cara bangsa tersebut berinteraksi dengan dunia luar.

Olahraga kita butuhkan guna menjaga kesehatan fisik. Macam-macam pengorbanan yang dilakukan para leluhur manusia berbagai bangsa, dalam bentuk sesajen dan aturan-aturan, bertujuan untuk melatih mental agar tidak rapuh, mudah patah semangat, syok, kagetan, histeris, pingsan, kehilangan kesadaran, depresi, stress, dll. dalam melanjutkan hidup di tengah cuaca yang mudah berubah. Punya ketahanan mental itu sama pentingnya dengan punya rudal balisitk, drone serang, atau drone kamikaze lho. (dswas)

Minggu, 29 Maret 2026

Mencari Petunjuk Spiritual Tanpa Tersesat, Mungkinkah?

Dalam situasi terjepit akibat berbagai hal (dan terutama sekali faktor ekonomi), sebagian orang berusaha mencari solusi segala permasalahannya dengan melakukan revolusi spiritual. Yaitu dengan lebih menekuni tuntunan agama guna mencari ketenangan batin, untuk menjernihkan kebisingan suara hati agar terlihatlah jalan yang sebaiknya ia pilih menuju penyelesaian segala masalah mereka.

Ada yang bilang ini seperti orang yang ingin melupakan segala kesedihannya dengan cara mengonsumsi obat penenang atau anti depresi. “Tuduhan” yang sekilas terlalu kejam dan tidak adil. Namun, saya yakin sebagian dari kita pernah mengalami situasi seperti ini, atau bahkan sedang mengalaminya saat ini. Mereka yang memilih jalan di atas tak dapat disalahkan, karena toh setidaknya mereka berusaha mencari solusi. Berusaha menolong diri mereka sendiri dari keterpurukan, karena terpuruk dan tak berdaya itu lebih menyakitkan rasanya. Betul tidak?

Tujuan yang tadinya terdengar penuh cahaya dan sering dijadikan parameter kematangan mental seseorang bisa berubah menjadi kesesatan. Yaitu tatkala mereka menjadikannya sebagai satu-satunya cara agar tujuannya tercapai, tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan segala langkah dan gerakan yang diambilnya. Keputusan tersebut bukanlah sebuah keputusan mandiri yang diambil sebagai hasil sebuah pencarian spiritual melalui latihan dan wawas diri, melainkan sesuatu yang diinjeksikan ke dalam diri mereka sebagai ‘vaksin’.

Vaksin memang bertujuan melatih sel-sel tubuh untuk menjadi kebal dengan mengenali dan memerangi virus dan bakteri. Akan tetapi, vaksin yang efektif terbuat dari sel bakteri atau virus itu sendiri yang telah dilemahkan agar sel tubuh cukup kuat untuk mengenalinya sebagai komponen jahat untuk diperangi. Artinya, vaksin dengan sel bakteri atau virus yang tidak cukup lemah sama adalah sangat berbahaya bila diinjeksikan ke tubuh seseorang. Tujuannya pun sudah jelas, yaitu membuat tubuh sekelompok manusia menjadi sakit. Namun, bagaimana seandainya bukan sakit fisik, melainkan mental, yang jadi sasarannya?


Ilustrasi: Sebuah pemakaman umum di Malang.


Bukan hanya harta

Dewasa ini, kita ‘sakit’ menyaksikan previlese segelintir orang yang seolah tak merasakan kecemasan lantaran anak cucu mereka sulit mencari nafkah atau tak bisa menikmati gaji besar. Nama besar keluarga (tertentu) seakan jadi jaminan bahwa anak cucu mereka akan hidup enak hingga tujuh turunan. Itulah kenyataan di beberapa tempat di dunia masa kini. Asal tahu saja, ratusan hingga ribuan tahun lalu, suatu keluarga tak harus jadi kaya terlebih dulu supaya bisa memastikan dan berperan serta dalam kesejahteraan hidup generasi penerus mereka.  

Orang-orang Serbia yang masih memegang teguh Kepercayaan Asli Slavia (Rodnovery) memandang rumah sebagai “kuil” di mana sosok ayah dan ibu atau kakek dan nenek menjadi wakil para leluhur. Tanpa para leluhur, tidak akan ada kakek nenek, orang tua, apalagi kita. Menghormati orang tua dianggap sama sakralnya dengan memuliakan mata air dan para leluhur yang telah lama tiada. Ini diperkuat pula oleh nama aliran kepercayaan itu sendiri, Rodnovery, yang terbentuk dari kata Rod (garis keturunan, kelahiran, kekerabatan).  

Sebagai timbal balik, generasi senior orang Serbia memberikan dukungan pada generasi muda untuk tujuan mereka membangun komunitas yang lebih baik dan sejahtera. Dukungan dalam bentuk uang atau harta benda memang bernilai, tetapi kehadiran, pemahaman, dan penerimaan oleh generasi senior lebih tak ternilai harganya apabila bertujuan untuk menentramkan dan, pada gilirannya, menumbuhkan rasa aman dalam benak generasi yang lebih muda. Dukungan yang akan selalu hidup dalam ingatan para generasi muda sebagai petunjuk bagi para leluhur masa depan untuk bersikap dan bertindak dengan penuh kewaspadaan sebagai teladan bagi generasi berikutnya.

Sadar setelah tiada

Dalam banyak kasus, generasi baru dan muda akan menyadari dan memahami makna di balik nasihat kaum senior “bawel” bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, setelah para pendahulu ini meninggal dunia, setelah kedua generasi itu dipisahkan oleh jarak dan takdir. Kerinduan pada sosok pelindung seringkali menjadi penuntun untuk kembali mengingat wejangan dan saran yang seringkali dipandang tidak relevan dengan situasi generasi yang lebih muda pada saat itu.

Berbagai dinamika membuat sekelompok orang memilih petunjuk berdasarkan impresi emosional, bukan berdasarkan faktualitas petunjuk itu sendiri. Situasi seperti ini dapat terjadi karena ada penyesalan mendalam akibat rasa kehilangan sosok penuntun dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kesedihan menahun yang tidak dapat (atau belum dapat) diredam dengan penerimaan atas kepergian sosok tersebut dalam kehidupan mereka.

Penyesalan ini membuat mereka tersesat dalam memilih petunjuk dan tuntunan hidup. Keliru dalam memilih petunjuk yang benar-benar mendatangkan hasil berwujud kebahagiaan dari mampu menimbulkan rasa aman dalam batin mereka di tengah kesulitan hidup silih berganti. (dswas) 

Senin, 23 Maret 2026

Mencari Pemurnian Sebagai Solusi Masalah Hidup

Murni selalu bersih, tetapi bersih belum tentu murni. Inilah kendala yang dihadapi sebagian besar masyarakat saat mereka diberitahu bahwa 22 Maret telah ditetapkan PBB sebagai Hari Air Internasional. Air bersih dibutuhkan manusia demi kelangsungan hidupnya, baik di kota, pedesaan, padang salju, maupun padang pasir, sehingga berbagai cara dilakukan guna mendapatkannya. Antara lain dengan menggali tanah sedalam-dalamnya, atau mengubah air laut menjadi air tawar. Walaupun tidak berarti air dari hasil ‘jerih payah’ itu tidak layak dikonsumsi, tetapi mereka yang sudah sering mengonsumsi air dari tempat lain pasti bisa merasakan perbedaannya.

Masyarakat yang tinggal di pegunungan sungguh sangat beruntung berkat sungai dan mata air dari alam. Mereka tidak perlu membanting tulang mengubah bentuk zat lain menjadi air, melainkan cukup menjaga agar mata air tidak berhenti mengalirkan air yang senantiasa bersih sepanjang masa. Alam raya adalah sekolah para leluhur, di mana mereka membentuk sains zaman kuno yang berakar dari hasil pengamatan tentang segala gerak dan eksistensi di tengah alam bebas. Ilmu pengetahuan itu kemudian dibungkus dengan gaya bercerita agar senantiasa menarik dan diingat selalu oleh berbagai generasi di bawahnya.

Persinggungan dengan berbagai kisah dari luar komunitas mereka memunculkan tantangan baru untuk menemukan kembali ilmu pengetahuan buatan para leluhur, yang sudah pasti cocok untuk komunitas tersebut tanpa banyak drama. Karena drama yang kita butuhkan adalah drama dengan happy ending di akhir cerita; tuntunan yang segera berbuah hasil, bukan berbuah sekuel baru drama itu sendiri.


Illustrasi: Danau Beratan, Bali.


Sumber Konflik

Garis Durand (Durand Line) sebagai garis pemisah antara wilayah Afghanistan dan Pakistan saat ini tidaklah ditentukan oleh masyarakat yang tinggal di sana berabad-abad. Garis sepanjang 2000 km diciptakan oleh para manusia yang datang dari wilayah lain demi memastikan kelangsungan hidup mereka, yang masih jatuh bangun menemukan tempatnya di dunia hingga saat ini. Garis itu ditarik dari gugusan puncak tertinggi dunia, membelah empat sungai (Kunar, Kabul, Kurram, Gomal), dan berakhir di Danau Zerrah yang terletak di perbatasan antara dua negara tersebut dengan Iran.

Jauh sebelum Garis Durand diciptakan dan dibentangkan, Suku Kalash tersebar di wilayah yang dahulu dinamakan Kafiristan dan saat ini bernama Nuristan. Dengan bahasa, budaya, dan kepercayaan asli yang masih dijalankan sampai sekarang, suku ini punya cara unik untuk memposisikan kaum perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila gunung dianggap sebagai representasi dari kemurnian kaum lelaki, lembah merupakan dipandang sebagai simbol kaum perempuan yang tidak murni.

Mengapa tidak murni? Karena kaum perempuan mengalami menstruasi, sedangkan zaman dahulu pembalut wanita masih berada di awang-awang. Oleh karena itu, demi menjaga kebersihan lingkungan, kaum perempuan suku Kalash dilarang bepergian ke tempat tertentu, seperti puncak gunung atau tempat mata air yang dianggap sakral karena fungsinya sebagai sumber penghidupan. Dunia medis pun mengakui bahwa darah menstruasi bukanlah ‘darah murni’, melainkan mengandung zat tertentu yang tidak higienis. Maka masuk akal bila seorang perempuan yang sedang mengalami menstruasi dilarang mandi di sungai yang airnya dimanfaatkan secara kolektif untuk segala kebutuhan hidup masyarakat tersebut.

Sebagai gantinya, Kepercayaan Asli Kalash ‘menghadiahkan’ hak istimewa kepada kaum perempuan dengan cara mempermudah proses perpisahan antara istri dan suami yang sudah lelah mencari happy ending dalam drama rumah tangga di antara mereka berdua. Istri cukup menulis surat kepada suami lama untuk menyatakan perpisahan dan memperkenalkan suami barunya.  Selain itu, kaum perempuan diberi hak untuk menentukan cara pengolahan ladang sekaligus pengelolaan hasil finansial dari ladang tersebut. Mereka juga tidak dilarang untuk berbaur bersama kaum lelaki, termasuk menyanyi dan menari bersama di berbagai acara komunitas, tanpa harus menyelubungi penampilan mereka.

Kemudahan ini dianugerahkan kepada kaum perempuan Suku Kalash sebagai pengakuan oleh sistem Kepercayaan Asli Kalash terhadap fungsi dan peran mereka. Akibat keterbatasan biologis di atas, kaum perempuan lebih banyak tinggal di rumah. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Kalash, rumah merupakan ‘domain’, wilayah kekuasaan kaum perempuan yang memegang fungsi sebagai pelindung keluarga dalam hal spiritual. Mereka berhak atas kebahagiaan, yang pada gilirannya akan menyebarkannya ke seluruh komunitas.  

Memilah sumber yang paling layak dikonsumsi

Saya tidak hendak menjadi hakim atas apa yang menimpa dua (atau tiga) negara di atas. Mengonsumsi air dari sumber yang benar-benar murni adalah mahal harganya bagi kelompok masyarakat tertentu lantaran kondisi geografis yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, tidak butuh waktu lama untuk tahu apa dampak dari segala hal yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, tubuh kita merupakan ‘hakim’ yang paling adil karena ia akan memberi tahu kita tentang hasil eksperimen hidup yang kita lakukan dalam bentuk sakit maupun sehat.

Apabila desalinasi jadi satu-satunya cara untuk memenuhi rasa dahaga, apakah air yang kita tenggak sebagai hasil dari proses ini berhasil menghapus rasa dahaga? Inilah salah satu pertanyaan sebagai perimeter filter aktif guna mendapatkan manfaat dari sebuah pemurnian yang sedang kita jalankan. (dswas). 

Kamis, 19 Maret 2026

Masa Depan Cerah, Fakta Atau Mitos?

Apakah masa depan cerah sebuah kenyataan yang tertunda atau angan-angan yang tak pernah terwujud? Saya yakin inilah pertanyaan yang belakangan sering menghantui sebagian besar manusia di Bumi. Saya punya seorang teman yang jatuh sakit akibat tekanan batin dari kegelisahan terkait masa depan anak semata wayangnya. Teman lainnya mengaku depresi membaca berita terkini yang berseliweran di beranda perambannya. Sementara tetangga kami merasakan tekanan ekonomi terlalu kuat baginya, sehingga memilih mengurung diri di rumah dan menghindari berinteraksi dengan para tetangga lainnya.

Tulisan ini tidak hendak mencari siapa yang patut disalahkan atas situasi kronis tersebut, karena kita perlu memahami bahwa segala hal yang terjadi saat ini merupakan rentetan hasil dari segala hal yang terjadi di masa sebelumnya. Jerat kesulitan ekonomi yang menimpa suatu bangsa hari ini berkaitan erat dengan berbagai langkah, tindakan, sikap, inisiatif, keputusan, respons, dll. di waktu sebelumnya. Sebagaimana kesuksesan yang tidak terjadi dalam semalam, kegagalan juga bukan merupakan dampak dari faktor tertentu yang berdiri sendiri.

Saat roda bergerak ke bawah dan menempatkan status seseorang di lantai dasar, bahkan bawah tanah, salah satu reaksi yang paling umum adalah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan posisi itu dengan berbagai cara. Meninggalkan zona nyaman secara terpaksa dan di luar keinginan kita tentu saja mendatangkan perasaan tidak nyaman, kalau bukan kesedihan atau kerontokan psikologis. Ini adalah suatu hal wajar yang bisa dialami siapa pun, bukan suatu hal memalukan atau sebuah dosa besar. 


Ilustrasi: Kolam Segaran, Mojokerto


Kepercayaan asli menghormati alam

Sebelum dikenal dunia sebagai negara ‘seribu ranjau’ akibat banyaknya ranjau yang ditanam secara acak guna mengatasi masalah politik, Myanmar merupakan negara dengan akar budaya lokal yang kuat bahkan hingga saat ini. Walaupun badan internasional menetapkan Myanmar sebagai negara gagal akibat masalah ekonomi yang dialaminya, status ini tak mengubah fakta bahwa Myanmar merupakan lokasi Situs Warisan Dunia yang diakui UNESCO berkat 1000 pagoda dan berbagai situs sejarah era Hindu-Buddha yang terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Pengakuan dunia terhadap apa yang terlihat oleh mata telanjang di Myanmar juga tidak mengubah fakta lain bahwa Kepercayaan Asli Myanmar telah lebih dahulu hadir dalam bentuk pemuliaan terhadap kekuatan alam dan para leluhur. Mata air, sungai, dan lautan tidak dianggap sebagai entitas benda mati, melainkan sumber kehidupan yang disakralkan melalui sesaji dalam bentuk bunga, dupa, atau makanan. Kisah-kisah seram disebarkan dari generasi ke generasi agar orang-orang selalu dapat mengendalikan diri dalam menangani hutan dan segala isinya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Walaupun media dan sejumlah sumber internet cenderung memberitakan Myanmar dalam sudut pandang negatif, hingga detik ini pun negara yang dulu bernama Burma ini “hanya” kehilangan sekitar 12% dari luas hutan secara keseluruhan. Dunia memang cenderung menyoroti lahan kritis akibat pembalakan liar, tambang ilegal, ranjau, hilangnya beberapa spesies satwa di Myanmar. Sampai-sampai kita melupakan keberadaan nilai-nilai kepercayaan asli yang sudah berjasa mempertahankan kelestarian alam Myanmar hingga saat sebelum berbagai konflik datang menghujam.

Masa depan cerah bukan mitos

Dalam situasi ekonomi penuh tekanan, mayoritas orang akan cenderung memilih untuk berhemat agar bisa bertahan hidup. Cara yang sangat lumrah dan dapat dipahami, meskipun konsekuensinya adalah sebuah daftar panjang hal-hal yang harus dibuang dengan berat hati. Contoh: produsen makanan akan mengecilkan ukuran produk makanannya guna menghemat ongkos produksi, sementara perusahaan yang lebih besar akan memilih untuk mengecilkan jumlah pekerjanya.

Myanmar yang kita kenal saat ini sebagai pusat scam tingkat dunia, dahulu merupakan rumah bagi sekelompok masyarakat yang menjadikan kesadaran untuk menghemat sumber daya alam sebagai bagian dari tindak-tanduk spiritual kepercayaan asli mereka. Di saat hewan buruan masih banyak dan hutan masih rapat, para leluhur Myanmar memilih untuk mengambil secukupnya bukan karena terpaksa. Melainkan sebuah pilihan yang didasari kegembiraan menyambut masa yang akan datang, walaupun pada kenyataannya kita tahu apa yang sedang menimpa Myanmar hari ini.

Berdasarkan statistik terbaru, hanya sekitar 0,8% dari jumlah total rakyat Myanmar yang mengaku masih memegang teguh kepercayaan asli. Sebagai cara menerangi diri kita sendiri dengan optimisme, kita bisa menganggapnya sebagai sebuah pertanda baik. Sebuah pertanda sangat lemah yang mengisyaratkan bahwa masih ada segelintir orang di Myanmar yang bisa melihat kebenaran dalam ajaran para pendahulu mereka tentang membangun masa depan cerah.  

Selasa, 17 Maret 2026

Mencari Bahagia Yang Bukan Karena Emas

Tak terasa pandemi COVID 19 sudah meninggalkan kita sekitar empat tahun silam, walaupun sisa-sisa krisis kesehatan terbesar di era modern masih terasa hingga saat ini. Kerinduan akan work from home, misalnya, kembali meruyak setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengemukakan ide kembali ke ‘bekerja dari rumah’ sebagai salah satu cara menekan pengeluaran sehari-hari sebagai dampak kian mahalnya harga bahan bakar kendaraan bermotor.

Ketika beberapa dari kita bisa menghemat biaya transportasi, uang makan, dan biaya make-up berkat trik berhemat ini, sekelompok orang menjerit karena kehilangan pemasukan, di antaranya adalah bisnis pariwisata dan siapa pun yang mengais penghasilan di sektor ini. ‘Mimpi buruk’ ini kembali membayangi para pelaku usaha pariwisata di sejumlah wilayah beberapa waktu terakhir, bukan saja akibat krisis geopolitik melainkan melemahnya daya beli masyarakat.

Tentu saja, ekonomi sulit tak harus jadi penghalang bagi siapa pun untuk berbahagia menikmati hidup dengan berwisata. Di kampung kami, orang-orang berusaha “menyeimbangkan” antara keinginan berwisata dengan situasi isi dompet. Antara lain, berwisata secara berkelompok, berwisata sambil buat konten monetisasi, atau mencari spot-spot tersembunyi di sekitar rumah masing-masing yang bisa dijadikan tempat bersantai sambil menikmati suasana sekitar secara gratis. 


Ilustrasi: Sumber Nyolo, Malang. 


Bukan “bahagia” biasa

Meski menyandang julukan “Pantai Emas” di era pra kemerdekaan berkat besarnya kandungan emas yang dimilikinya hingga saat ini, emas bukanlah sumber kebahagiaan sejati bagi masyarakat Ghana yang masih setia pada tradisi mereka. Negara bekas jajahan Inggris ini dihuni sekitar 37 juta jiwa yang terdiri dari 100 kelompok suku dan terbagi dalam sembilan kelompok bahasa daerah dan budaya. Kepercayaan asli mereka dikelompokkan menjadi satu di bawah payung African Traditional Religion (Kepercayaan Asli Afrika), di mana konsep Ubuntu yang bermakna “I am because you are (saya dan kau sama)” merupakan salah satu local genius yang berakar darinya.

Kebahagiaan bagi para penganut Kepercayaan Asli Afrika bukanlah tujuan hidup, melainkan hasil pemeliharaan keharmonisan antara empat tingkatan pembentuk eksistensi manusia, yaitu intrapersonal (self), interpersonal (orang lain), transedental (leluhur), dan universal (alam). Menjaga keharmonisan dengan sesama makhluk tidaklah sulit sepanjang mereka terlihat. Bagaimana dengan para leluhur? Mengingat asal muasal antara lain diwujudkan dengan menuangkan air, madu, susu, atau anggur ke tanah sebagai ungkapan terima kasih pada para pendahulu. Ini juga merupakan cara para penganut Kepercayaan Asli Afrika untuk melatih inisiatif bersedia melepaskan sesuatu yang ingin mereka pegang kuat-kuat.  

Sebagai hasilnya, kebahagiaan dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Afrika merupakan ketentraman, tanpa kecemasan menghadapi situasi apa pun. Hal ini baru bisa dirasakan ketika seseorang berhasil menemukan pemahaman bahwa “bahagia” tidak selalu dan tidak harus berkaitan dengan perasaan nikmat, kesenangan sesaat yang timbul tenggelam sesuai kondisi cuaca.  Sebuah ketentraman yang membuat sekelompok masyarakat merasa cukup, walaupun tidak pernah berpetualang mengelilingi dunia.

Dari sini kita dapat memahami mengapa kekayaan alam Ghana dan Afrika sangat melimpah, walaupun mereka mengalami masa pendudukan di zaman kuno maupun modern selama berabad-abad. Yaitu karena para leluhur Ghana hanya menggunakan kekayaan alam seperlunya, dengan tujuan agar dapat dinikmati generasi berikutnya, yang merupakan representasi dari faktor interpersonal pembentuk eksistentsi manusia.

“Menjual” bahagia di era turbulensi

Para pelaku bisnis pariwisata tidak perlu panik apabila masyarakat tidak terlalu tertarik berwisata karena mereka sudah menemukan “kebahagiaan” dari berjalan-jalan di spot cantik dekat rumah. Justru ini dapat menjadi sebuah peluang untuk berinovasi mengembangkan konsep wisata jenis baru, misalnya, yang bukan hanya menempatkan wisatawan sebagai objek tetapi subjek aktivitas wisata. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar menghabiskan uang untuk bersenang-senang.

Kita sama-sama telah menyaksikan bahwa kesenangan itu tidak abadi, karena akan selalu ada kesedihan yang menyertainya. Apa yang sebaiknya dilakukan para pelaku bisnis pariwisata agar kesenangan wisatawan tidak berubah menjadi kesedihan saat mereka menyadari mahalnya biaya yang harus ia keluarkan (misalnya)?

Apa pun itu, memang tidak mudah menjual kebahagiaan di era penuh turbulensi yang bisa datang sewaktu-waktu seperti saat ini. Sudah saatnya para pelaku bisnis pariwisata menjalin kerja sama dengan empat faktor pembentuk eksistensi di atas, agar bisnis tetap berjalan di tengah hujan badai atau banjir bandang sekalipun.  (dswas) 

Jumat, 13 Maret 2026

Konservasi Sebagai Investasi Penuh Pengorbanan

“Hemat pangkal kaya”, itulah peribahasa yang diperkenalkan kepada kita agar selalu bergaya hidup sederhana, tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Agar di belakang hari uang yang kita miliki dapat kita manfaatkan untuk menaikkan derajat kita di tengah masyarakat. Ironisnya, ketika uang sudah banyak terkumpul terjadilah inflasi global, di mana nilai uang tersebut pun menurun. Alih-alih meningkatkan status, uang yang kita miliki terpaksa dibelanjakan untuk membiayai keperluan sehari-hari.

Argumen di atas biasanya dikemukakan oleh mereka yang menyebut diri mereka sebagai penasihat keuangan atau pakar keuangan. Mungkin Anda juga sudah pernah mendengarnya. Biasanya mereka akan menawarkan alternatif untuk memberdayakan uang Anda di bawah motto “biarkan uang bekerja untuk Anda.” Yang bermakna, seseorang tidak perlu bekerja keras untuk mengembangkan modalnya, melainkan cukup menginvestasikannya dengan cara membeli saham sebuah perusahaan. Atau meminjamkan uangnya pada sebuah bisnis untuk mendapat pembayaran berupa modal + sekian persen bunga. Atau bahkan meminjamkan uang dalam skema pinjaman online.

Berkat literasi keuangan, para pemilik modal kecil hingga menengah cenderung memahami bahwa hasil instan adalah mitos. Ada kesabaran untuk menunggu yang harus mereka terapkan guna meraup cuan, karena sesuatu yang too good to be true kadang hanyalah perangkap para predator keuangan. Akan tetapi, kesabaran ini pun bukanlah senjata yang ampuh untuk mengusir inflasi jauh-jauh.

Akibatnya, berapa pun hasil yang didapat dari skema investasi di atas mengalami penurunan nilai. Para investor harus berhemat luar biasa untuk menanamkan kembali modalnya, atau modal tersebut akan tergerus oleh pengeluaran pribadi mereka sendiri. Bertambahnya bobot tantangan yang harus dijawab para investor memaksa mereka menggali berbagai jalan alternatif agar dapat terus mengembangkan modal. 


Ilustrasi: Candi Waringin Branjang, Blitar


Kepercayaan asli sebagai modal investasi

Di luar segala berita tentang konflik bersenjata dan masalah kesejahteraan, Nigeria merupakan sebuah wilayah di dunia dengan 500 bahasa daerah yang masih dipertahankan penggunaannya di 36 negara bagiannya. Di antara mereka, terdapatlah kaum Maguzawa dalam kelompok suku Hausa yang tinggal di negara bagian Kano, Nigeria Utara, yang bersikukuh mempertahankan gaya hidup seimbang dengan alam di tengah tantangan yang semakin berat dari hari ke hari.

Menurut kepercayaan asli Maguzawa, beberapa jenis binatang buas, misalnya ular piton, merupakan perwujudan leluhur sehingga dilarang diburu dan dibunuh. Pemuliaan terhadap hutan sebagai sumber makanan diwujudkan dalam bentuk larangan mendirikan pemukiman atau membuka ladang di sekitar area yang dianggap sakral. Sebelum memancing di sungai, sesaji diberikan sebagai bentuk penyadaran diri untuk membatasi apa yang bisa mereka ambil dari sungai, termasuk pemanfaatannya untuk keperluan sehari-hari.

Walaupun sepintas sederhana, kebiasaan Maguzawa merupakan bentuk keyakinan terhadap masa depan yang didasari oleh tindakan mereka saat ini. Mereka tidak perlu memprediksi ke mana nasib akan bergerak dalam beberapa hari ke depan, karena hasil dari aktivitas memelihara sesuatu akan menumbuhkan sesuatu juga di waktu yang akan datang. Kepercayaan asli Maguzawa telah menuntun kaumnya kepada hidup harmonis dengan alam yang berkelanjutan berkat kesediaan untuk ‘mengorbankan’ kesenangan sesaat demi hasil nyata di masa depan. Di sinilah kepercayaan asli berfungsi sebagai modal yang nilainya tetap apa pun yang terjadi, meskipun inflasi naik dan turun setiap saat di luar sana.

Berkorban tapi menghasilkan

Mereka yang berprofesi sebagai investor bisa meraih sukses bukan hanya karena didukung modal besar dan kejelian menafsirkan gejolak yang terjadi pada saat itu. Seperti bidang lainnya, kesuksesan tercapai karena kerelaan untuk berkorban. Bukan pengorbanan buta, tentu saja, melainkan pengorbanan yang dilakukan setelah mengamati secara mendetail hasil dari berbagai eksperimen yang telah dijalankan.

Para pendiri aliran kepercayaan dari seluruh penjuru dunia juga menyusun pondasi mereka berdasarkan ‘eksperimen’, berdasarkan apa yang pernah terjadi dan solusi yang ampuh untuk mengatasi situasi tersebut. Bukan berdasarkan suara-suara gaib seperti dalam film horror. Mereka tidak perlu menunggu terlalu lama untuk tahu apa hasil dari menahan diri secara susah payah dari dorongan kencing di sungai, misalnya, karena sungai yang sama dimanfaatkan sebagai air minum.

Mereka juga tidak perlu menebak-nebak apa hasil dari tidak menebang pohon jenis tertentu, atau membabat habis hutan, sesuai aturan aliran kepercayaan mereka. Di musim kemarau atau hujan berikutnya, kekeringan atau banjir bandang adalah akibat dari pelanggaran peraturan yang telah mereka lakukan.  (dswas).

Rabu, 11 Maret 2026

Cara Mendatangkan Kemudahan Setelah Kesulitan

 “War is money,” kata para penggemar teori konspirasi. Bagi yang bukan, money is money. Uang bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan salah satu penentu bagaimana kehidupan kita akan berjalan setiap hari. Dalam kondisi ekstrim seperti saat ini, uang juga menjadi penentu kebahagiaan. Di mana sebagian kecil orang menyabda diri mereka sendiri bahwa mereka tidak berhak untuk bahagia bila tidak punya uang dalam jumlah tertentu.

Kita tidak dapat menyalahkan atau menghakimi mereka yang tengah mengalami posisi seperti tersebut di atas, karena tingkat kesulitan hidup yang tengah dialami seluruh umat manusia di muka Bumi ini tidak sama antara satu dan lainnya. Walaupun kata “kesulitan” hidup itu sendiri tengah trending di banyak tempat di berbagai belahan dunia belakangan ini, akibat berbagai fenomena pasca pandemi virus korona.

Tidak ada sesosok manusia pun yang akan duduk manis dan tenang-tenang saja menghadapi situasi demikian. Bagi para pemilik usaha, pemutusan hubungan kerja adalah opsi yang paling masuk akal. Sementara bagi rumah tangga, penghematan drastis menjadi cara bertahan hidup. Dan berhasil. Saya bisa bilang begitu karena hingga detik ini kita tak menyaksikan bunuh diri atau depresi menjadi tren bersamaan dengan kesulitan keuangan global. Bukan begitu? 

Akan tetapi, ‘dinamika positif’ ini datang dengan konsekuensi.  Jika punya anggaran cekak ibarat berkendara di jalan sempit, perlu kewaspadaan ekstra guna mempertahankan fokus dan terjaga agar perjalanan berlangsung seamless. Alih-alih meningkatkan keahlian mengemudi di jalan sempit, sebagian orang memikirkan cara menyingkirkan pengendara lain agar perjalanan mereka tidak terhalang dan lebih cepat sampai. Berita baiknya, itu bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan manusia untuk mendatangkan kemudahan di tengah kesulitannya. 


Ilustrasi: Telaga Rambut Monte, Blitar


Berlatih ‘mendatangkan’ kemudahan

Di saat kesulitan keuangan menjadi problematika mayoritas manusia, ada sekelompok lain yang menghadapi kesulitan dalam bentuk konflik antar sesama mereka sendiri. Rakyat Kongo adalah salah satu kelompok masyarakat yang mengalaminya, antara lain sebagai dampak ikutan menjadi sebuah bangsa dengan 200 kelompok etnis yang berbicara dalam 250 bahasa dan dialek yang berbeda.

Bakongo (sebutan bagi masyarakat Kongo) pernah disatukan oleh satu kepercayaan tradisional yang disebut Bukongo, di mana leluhur dan unsur-unsur alam dimuliakan agar senantiasa dapat mengayomi di berbagai situasi dan kondisi. Mereka tidak berharap muncul kekuatan gaib atau keajaiban yang akan menyelesaikan masalah saat menuangkan air atau minuman anggur ke tanah sebagai penghormatan kepada para leluhur.

‘Membuang’ air atau anggur memerlukan pengorbanan besar, mengingat Bakongo adalah masyarakat yang tinggal di tengah alam yang kadang tidak bersahabat. Dalam logika manusia modern, tindakan ini sia-sia, bahkan dipandang sebagai pemborosan. Padahal inilah cara Bakongo melatih diri mereka sendiri untuk menyadari bahwa dalam situasi sesulit apapun tugas-tugas sebagai suatu entitas masyarakat harus dilaksanakan guna menciptakan keseimbangan antara manusia dan manusia, serta manusia dan lingkungan sekitarnya.  

Hasilnya, Bakongo yang diwakili oleh para elit politik Republik Demokratik Kongo tidak ragu mengadopsi standar baru Forest Stewardship Council (FSC) sebagai langkah pemanfaatan wilayah hutan seluas 155 juta hektar (atau 18% dari luas hutan tropis dunia) secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Artinya, masyarakat sekitar dan pemerintah tidak dilarang mengeksploitasi luasnya hutan RD Kongo untuk kesejahteraan bersama, sembari mengingatkan diri mereka sendiri seberapa banyak yang bisa mereka ambil agar sumber nafkah tersebut tidak punah.

Perspektif bisa ‘mendatangkan’ kemudahan

Kemudahan setelah kesulitan tidak akan pernah terjadi secara sekonyong-konyong, walaupun kita melakukan semua yang kita anggap bisa mendatangkannya. Yang biasa terjadi adalah, kita tidak menyadari bahwa kemudahan itu sudah datang. Entah lantaran sudah tidak sanggup lagi menghadapi kesulitan, atau mungkin akibat dorongan beragam faktor lain yang bisa bervariasi antar individu.

Bakongo bisa saja memilih melupakan para leluhur mereka, dan menjual luasnya hutan mereka kepada para investor. Bukankah itu sebuah kemudahan yang akan mengeluarkan mereka dari jurang kemiskinan? Sebaliknya, RD Kongo memilih untuk melestarikan kekayaan alam mereka setelah bencana yang menelan ratusan korban jiwa datang silih berganti akibat eksploitasi berlebihan.

Langkah tersebut mampu menarik kepercayaan dari dua lembaga keuangan dunia, yaitu IMF dan World Bank, yang bersedia menaikkan rating kredit mereka pada Januari 2026 sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah lebih besar dari sebelumnya. Dana pinjaman tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai dana pembangunan infrastruktur dan perbaikan kesejahteraan masyarakat RD Kongo.

Bagaimana bila dikorupsi?

Mereka yang berhalusinasi bahwa korupsi merupakan sebuah kemudahan yang didatangkan untuk mereka adalah orang-orang yang sudah melupakan keseimbangan, dan sudah lama pula melupakan para leluhur mereka. (dswas)

Sabtu, 07 Maret 2026

Mencapai Hidup Bahagia di Samping Seteru

 “Bad news is good news” bagi sebagian kecil orang. Entah Anda sudah tahu atau tidak, inilah norma kontemporer yang telah berlaku beberapa dekade belakangan ini. Menolak atau menyesalinya mendatangkan kompleksitas dalam hidup kita sendiri, karena kita akan melakukan apapun guna mengenyahkan negativitas ini dari pandangan dan perasaan.

Justru kecenderungan yang muncul saat ini adalah kita tidak bisa hidup tanpa ‘bad news’, seakan ada sesuatu yang hilang dari hidup kita apabila segala sesuatu berjalan mulus dan lancar. Bahkan, jurnalistik, dunia di mana saya mencari makan saat ini, mungkin sudah punah sejak berpuluh tahun silam bila ‘bad news’ mendadak hilang karena situasi dunia semakin membaik dan sejahtera.

Menurut sebuah sumber, kecenderungan kita pada berita buruk tidaklah muncul sekonyong-konyong, melainkan evolusioner. Zaman dahulu kala, saat manusia hidup sebagai bangsa pemburu atau petani, nomaden atau menetap di tanah tak bertuan atau sebagai imigran, eskalasi bisa muncul setiap saat dari bangsa tetangga yang punya dendam lama. Atau sekadar ingin menambah jumlah pengikut tanpa berkenalan terlebih dahulu.

Situasi ini mendorong manusia masa lalu untuk menciptakan, mengembangkan, dan menguasai seni bertahan hidup dari serangan musuh dengan cara mengenali sinyal-sinyal ketegangan sebelum erupsi muncul dalam bentuk ‘serangan'. Kemampuan ini diwariskan secara naluriah dari generasi ke generasi melalui struktur bahasa, budaya, kepercayaan asli, bahkan hingga ke hal-hal kecil seperti resep makanan, misalnya (sebagai contoh, di Indonesia ada sebuah kudapan bernama ‘tahu berontak’*).

Warisan berupa ilmu kewaspadaaan tersebut tetap lestari menembus waktu, walaupun keadaan sekitar berubah lebih ‘ramah’ dibanding beberapa generasi sebelumnya. Kenyamanan yang bentuknya terus berkembang dari zaman ke zaman menghilangkan situasi sulit dalam perjalanan hidup anak manusia, sehingga warisan ilmu kewaspadaan pun semakin terdesak dan kehilangan salurannya. Berkat internet, ‘kerinduan’ itupun terjawab seiring dengan kemudahan memperoleh informasi bernama ‘bad news’ yang mewadahi kewaspadaan dan naluri tempur mereka tanpa kehilangan kenyamanan.  


Ilustrasi: Bunga Wijayakusuma di halaman


Harmoni yang saling menghidupi

Berita buruk tentang Afrika, dan terutama Sudan Selatan, mengaburkan banyak hal indah dan menakjubkan tentang benua terluas kedua di dunia setelah Asia. Tidak banyak yang tahu bahwa Sudan Selatan merupakan surga bagi keanekaragaman, baik dari segi biodiversitas, etnis, bahasa, dan budaya. Selain wilayah hutan tropis terbesar dunia, Sudah Selatan memiliki keanekaragaman spesies, terutama mamalia, yang hingga saat ini dapat terus bermigrasi dan seolah tak tersentuh konflik yang tak berkesudahan.

Suku Dinka yang mencakup 38% dari total jumlah penduduk Sudan Selatan punya cara unik untuk melindungi kelestarian alam mereka, yang masih terus dipertahankan hingga saat ini. Kepercayaan Asli Dinka mendorong suku Dinka untuk bersahabat dengan alam, di antaranya dengan menempatkan hewan-hewan liar selevel dengan manusia. Pemuliaan ini diwujudkan dalam bentuk menjadikan hewan tertentu sebagai lambang pelindung kelompok suku tertentu (totemisme). Sebagai contoh, suatu suku dengan totem singa dilarang memburu atau melukai singa. Aturan yang sama juga berlaku untuk kelompok suku dengan totem jenis hewan lainnya.

Sejak kecil, orang-orang Dinka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kemunculan singa (misalnya, kera mendadak berlompatan dari pohon) dengan pendekatan yang tidak menyamakan kehadiran singa dengan kedatangan roh jahat atau hantu gentayangan. Bila tanda-tanda kedatangan singa muncul saat mereka sedang menggembala ternak di tepi sungai, artinya si singa itu sedang haus dan butuh minum. Para penggembala Dinka akan menggiring ternak mereka menjauh guna memberi ruang pada si singa untuk mendekat ke sungai dan meminum airnya. Anak-anak penggembala Dinka sudah diajarkan tentang gerakan tubuh, atau suara, yang sebaiknya tidak dilakukan agar tidak memancing perhatian atau membuat si singa merasa tertekan. Sebuah ilmu yang juga dimiliki seluruh kelompok suku di Afrika dan diajarkan secara turun temurun.  

Gabungan antara kepekaan membaca tanda-tanda alam dan kepercayaan totemisme membuat Suku Dinka tidak pernah mengalami insiden diterkam singa, buaya, harimau, atau hewan-hewan buas lainnya. Mereka dan berbagai kelompok suku lainnya di Afrika tidak berburu untuk kesenangan atau hiburan, melainkan semata-mata guna memenuhi kebutuhan hidup. Suku Dinka menggembalakan ternak mereka secara nomaden, berpindah tempat setelah jangka waktu tertentu, dengan tujuan memberi waktu pada rumput dan tumbuhan lain di tempat itu untuk tumbuh kembali.

Hidup bahagia bersama ‘musuh’

Bagi mereka yang tak doyan membaca atau menyaksikannya, berita buruk merupakan monster mengerikan yang bisa memicu depresi. Kita tak mungkin bisa lari atau mengisolasi diri rapat-rapat agat tak terkontaminasi berita buruk sama sekali, karena akan selalu ada orang di sekitar kita yang membawa berita buruk itu ke hadapan Anda. Entah pasangan, kerabat, teman, atau anggota keluarga lainnya.

Lakon drama yang sedang tren saat ini dengan terang benderang mengajarkan kepada kita bahwa berita buruk tak bisa dicegah untuk timbul dan mengacaukan segala rencana. Reaksi kitalah yang pada akhirnya akan mengarahkan bagaimana emosi kita menghadapi derasnya arus berita buruk yang terus menguat. 

Ibarat anak penggembala Suku Dinka yang tiap hari bertemu singa saat menggembalakan hewan ternak di padang rumput, rasa takut dan cemas justru akan mendorongnya melakukan tindakan yang pada akhirnya membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Rasa takut dan cemas kita menghadapi berita buruk membuat kita menanggapinya dengan cara berlebihan, seolah-olah seluruh dunia Anda bertumpu pada berita buruk itu.

 

*) Tahu berontak adalah nama kudapan berupa tahu dengan isian tumis kecambah, wortel, dan daun bawang yang berjejalan di dalam kulit tahu, sehingga menimbulkan impresi bahwa sayuran ini sedang berontak.

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...