Selasa, 23 Juli 2024

Hidup Dengan Rasa Malu Bukan Akhir Dunia – Bagaimana Caranya?

Seseorang merasa malu hidup di tengah masyarakat lantaran merasa memiliki kekurangan yang membuatnya berasumsi dirinya kurang layak sejajar dengan lainnya. Maka wajar bila orang akan merasa malu bila para tetangga di lingkungannya tahu kehidupan keluarga mereka di bawah standar, karena siapa pun kita pasti akan merasa diri kita baik bila memiliki sesuatu yang dapat kita banggakan. Di antaranya, kemakmuran dan hidup yang mapan.

Lantaran kita hidup di zaman di mana pencitraan lebih menentukan nilai seseorang dibandingkan kualitasnya yang sebenarnya, sebagian besar orang rela melakukan apa pun demi menyita perhatian khalayak, berapa pun biayanya. Kalau tidak ada biaya, kini ada jalan pintas: utang. Bukan utang ke tetangga, tentunya, melainkan ke bank, aplikasi pinjaman online, dan berbagai lembaga penyalur kredit lainnya. 

Sejumlah kalangan mengklaim bisnis pinjam meminjam uang sudah muncul berabad silam Sebelum Masehi, diawali ketika para petani kala itu meminjam uang pada rentenir di saat masa panen belum tiba demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Walaupun pemberlakuan bunga pinjaman dikecam keras oleh Aristoteles sebagai praktik tidak terhormat, dikutuk sebagai dosa oleh kalangan Kristen dan Islam Abad Pertengahan, lama kelamaan peradaban manusia menganggap bisnis pinjam meminjam uang adalah suatu hal biasa.

Menghentikan atau melampiaskan rasa malu?

Tidak berlebihan bila kita mengibaratkan rasa malu layaknya siksa api neraka bagi banyak orang, tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras, maupun profesi. Orang yang merasakannya menganggap seluruh dunia sedang menghinanya, sehingga harga dirinya pun jatuh. Menghina orang lain dan mengganggunya secara massal (bullying/ perundungan) bukan lagi ilusi, melainkan situasi nyata di kalangan remaja seluruh dunia.

Tren penembakan massal di Amerika Serikat yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, misalnya, didalangi para pelaku yang sebagian besar adalah korban perundungan di sekolah.

Rasa malu, terhina, rendah diri yang menyiksa batin mereka butuh jalan keluar, pelampiasan. Mereka mengira melampiaskan rasa terhina dengan menembak membabi buta ke segala arah adalah cara terbaik agar semua tahu apa yang sedang ia rasakan selama ini.

Lain halnya Jepang di mana para korban perundungan cenderung memilih mengakhiri hidupnya daripada menanggung malu berkepanjangan. Meski dikabarkan mengalami penurunan, para pelaku bunuh diri bukan hanya siswa sekolah menengah tetapi juga anak-anak usia sekolah dasar.

Di masa lalu, tepatnya di era kejayaan para samurai, mengakhiri hidup dipandang sebagai wujud penyesalan karena majikan mereka kalah dalam perang atau sebagai cara menghukum diri sendiri yang dikenal dengan istilah seppuku. Seppuku dianggap lebih terhormat daripada dieksekusi mati, baik oleh musuh atau karena mereka lalai dalam menjalankan tugas.

Walaupun pemerintah Jepang era modern telah melarang seppuku, mau tidak mau serpihan kultur masa lalu mengilhami para remaja belasan tahun yang mengira mereka tengah berada di situasi para samurai yang merasa terancam kehilangan harga diri.

Dua tindakan di atas yang masing-masing bertujuan menggelar (penembakan massal) dan menggulung (bunuh diri) rasa malu di atas sama-sama berakhir dengan kematian, juga penderitaan orang lain yang terhubung dengan para pelaku.

Karena rasa malu bersifat naluriah yang dialami setiap manusia, apakah sebaiknya kita lenyapkan saja kata “malu” dari kamus berbagai bahasa di dunia agar manusia tidak lagi ingat bagaimana cara mengekspresikan ketakutan terhadap kehilangan sesuatu yang tak kasat mata di dalam dirinya?

Lebih baik malu sesaat daripada hancur selamanya 

Rasa malu bukanlah sesuatu yang buruk. Sepanjang perjalanan hidup manusia, mereka akan menemui banyak situasi di mana rasa malulah yang menjadi pengarah, pengemudi bagi kendaraan tingkah laku mereka. Rasa malu juga yang dijadikan senjata bagi beberapa orang untuk menguasai kelompok lainnya. 

Contoh, kembali lagi ke masalah utang, lembaga penagih utang akan menghubungi (dan dalam beberapa kasus debt collector juga menagih) mereka yang terdaftar sebagai kontrak darurat debitur apabila debitur tersebut tidak membayar utangnya dan tidak dapat dihubungi. 

Andaikata tidak ada komunikasi transparan antara debitur dan para kontak daruratnya tentang utangnya karena si debitur malu ketahuan punya utang, bukan mustahil perpecahan antar anggota keluarga, kerabat, dan teman terjadi akibat invasi debt collector ke ranah pribadi para debitur (yang mana merupakan praktik lazim di kalangan aplikasi pinjaman online di Indonesia). 

Di jaman yang serba kompleks seperti sekarang, sumber rasa malu bukan hanya utang. Perubahan status, jatuh miskin, kekalahan dalam perang atau kompetisi olahraga, kehilangan pekerjaan .. pemicunya berbeda untuk tiap orang sesuai latar belakang dan preferensi mereka. Akan tetapi, apa yang mereka rasakan saat merasa malu ialah sama: resah, gelisah, sesak napas, anti sosial, benci diri sendiri, dll. 

Kalau kita pikir-pikir lagi, sebenarnya siapa yang harus disalahkan karena memberikan semua ketidaknyamanan ini pada diri kita? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. Lalu bagaimana mengatasi rasa malu semacam ini yang dialami suatu bangsa atau kelompok di saat yang bersamaan dan bertahan hingga bertahun-tahun? 

Semua pertanyaan ini bisa terjawab dengan melakukan serangkaian langkah mudah. Satu kekeliruan yang sering kali kita lakukan saat merasa terhina atau direndahkan adalah buru-buru mencari cara untuk keluar dari kepedihan ini. Padahal, sebuah pengakuan bahwa kita memang sedang merasa rendah dan terhina dibutuhkan. Oke, kita malu, kita paria. Titik, itu saja. 

Ingat, rasa malu ini bukanlah diri Anda. Jangan tergoda untuk cepat-cepat membunuhnya atau melampiaskannya, karena semua hal yang kita lakukan berdasarkan dua tujuan itu tidak akan pernah benar-benar melenyapkan rasa malu dalam diri kita. Malah hanya memberi si rasa malu makanan untuk tumbuh lebih besar dalam diri kita tanpa kita sadari. 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...