Minggu, 26 April 2026

Obat Kesepian Paling Mujarab

“Ada gula, ada semut.” Sudah menjadi suratan takdir bahwa makhluk hidup akan mendekati suatu entitas yang dirasa menguntungkan bagi kehidupannya. Sebelum mendirikan pemukiman, normalnya, manusia akan terlebih dulu mencari satu zat penting: air. Air yang ‘manis’ dimanfaatkan sedemikian rupa demi agar manusia tidak merasa kekurangan. Ia ibarat idola sepanjang masa bagi siapa saja, tua dan muda, besar dan kecil, di segala dekade dan tren yang senantiasa silih berganti. Dan manusia tetaplah ‘semut’ yang akan pergi begitu saja ketika gula sudah habis, atau rasanya berubah menjadi pahit.

Negara yang dianugerahi keberlimpahan sumber daya alam juga ibarat gula incaran para semut-semut korporasi multinasional atau sesama negara berdaulat. Potensinya menjadi daya tarik bagi siapa saja untuk mengenalnya, walaupun perkenalan tidak selalu berujung hubungan pertemanan atau bahkan pernikahan. Karena ‘gula’ dalam konteks ini dijalankan sekelompok manusia, ia punya keleluasaan untuk menentukan sikap agar hanya ‘ semut-semut’ baik hati yang akan mengelilinginya. Menutup diri atau isolasi mandiri nyaris mustahil diterapkan, karena ‘semut-semut’ telah dikodratkan untuk selalu bisa menemukan ‘gula’ hingga ke liang tersempit dan gelap sekalipun.

Entitas yang berperan sebagai sang ‘gula’ di setiap kisah kadang tak dapat menghindar dari rasa kesepian. Ia tahu mengapa banyak orang tiba-tiba berebut mengirim permintaan pertemanan, ia juga tahu hubungan pertemanan yang dijalinnya tidak akan abadi. Air sebening kaca pujaan umat manusia akan menjadi bahan olok-olok ketika warnanya berubah coklat akibat aktivitas manusia. Si negara super kaya nan dermawan akan ditinggalkan para semut segera setelah ia tidak lagi bagi-bagi angpao. Segala pujian dan kata-kata manis akan berubah menjadi caci maki dan ejekan ketika roda nasib berubah arah bagi ‘gula’ yang telah kehilangan rasa manisnya. 


Ilustrasi: Goa Tetes, Lumajang


‘Gula’ yang selalu manis

Bagi masyarakat Turkmenistan, ‘gula’ yang dimaksud adalah para orang tua, tetua, sesepuh. Dalam budaya yang telah mengakar bersama kepercayaan tradisional Turkmen, “emas dan perak tak pernah menua, tapi ayah dan ibu tak ternilai harganya.” Ada serangkaian aturan tak tertulis yang musti dipatuhi dan terus dipertahankan hingga saat ini dalam hal tindak-tanduk masyarakat terhadap para sesepuh. Mereka harus bersikap sopan, tidak boleh membantah, apalagi berbicara dengan suara keras kepada para orang tua dan sesepuh.

Para orang tua dan sesepuh punya kedudukan tinggi dalam hirarki tak tertulis masyarakat Turkmen, terutama di pedesaan, walaupun tidak sembarang orang berusia lanjut dapat ditunjuk (atau menawarkan diri secara sukarela) untuk mengisi posisi itu. Mereka adalah tempat di mana masyarakat Turkmen meminta nasihat dan saran dalam berbagai hal dan situasi, sehingga tokoh yang dipercaya untuk posisi ini adalah orang-orang kaya pengalaman hidup dan tahu bagaimana menempatkan diri. Maka tidak heran bila sesepuh komunitas lebih didengar daripada tokoh-tokoh lain, misalnya para mullah.

Privilese semacam ini mungkin tak bisa kita temui di negara selain Turkmenistan, yang bisa dibilang sangat ‘aman’ dari sorotan media sosial dan para influencer wisata hingga saat ini.  Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemerintah Turkmenistan yang sangat selektif dalam memberikan visa untuk warga negara asing. Meskipun cukup gencar di internet dalam hal mempromosikan pariwisata Turkmenistan yang kaya dengan situs sejarah dan panorama yang membius jiwa, ada kesan uang bukanlah segalanya bagi mereka. Ini, tentu saja, tak terlepas dari saran dan nasihat para sesepuh Turkmen yang dirumuskan melalui proses panjang dalam mengamati suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. 

Tak pernah kesepian

Saya akan maklum jika Anda memandang Turkmenistan sebelah mata, karena negara ini memang tidaklah selevel banyak negara maju dan bernama besar. Namun, para lansia Turkmenistan tidak mengalami kesepian akut karena kehadiran mereka selalu dibutuhkan orang lain. Ketika fisik sudah tak lagi perkasa untuk bekerja mencari nafkah, para lansia tidak terpinggirkan dari pergaulan masyarakat. Apalagi dianggap beban hidup orang-orang yang lebih muda.

Mereka mendapat kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka untuk memegang sebuah peranan penting dalam masyarakat, menjadi para kakek dan nenek yang selalu dirindukan para cucu. Kebijaksanaan yang berakar dari pemuliaan terhadap para leluhur ini berhasil menciptakan keseimbangan, yang pada gilirannya juga berhasil memeratakan kebahagiaan di kalangan anggota komunitas Turkmenistan.

Berkat para generasi muda yang memercayai mereka sebagai penasihat, para sesepuh menemukan tujuan ketika waktu memakan segalanya. Sebuah tujuan yang membuat sisa hidup mereka kembali bermakna. (dswas).

Minggu, 19 April 2026

Rahasia ‘Menaklukkan’ Alam

Tragedi jatuhnya beberapa pendaki di Gunung Rinjani, yang juga menewaskan pendaki asal Brasil beberapa waktu lalu, merupakan tamparan keras bagi lokasi tersebut. Masyarakat yang tinggal di sekitarnya sebagai pelaku wisata kecil-kecilan, baik sebagai pemandu, porter, penyedia toilet, penjual makanan, toko kelontong, warung mie instan, dll. Mereka merasakan dampak cukup besar setelah Gunung Rinjani mendapat label negatif sebagai lokasi wisata tidak aman dan mematikan.

Terlepas dari apa yang terungkap kemudian (bahwa kemudian berita kematian sang pendaki sengaja di-blow up demi memuluskan rencana membangun eskalator di Gunung Rinjani), peristiwa menyedihkan ini membuka mata khalayak bahwa selalu ada risiko mengancam di balik sebuah keindahan. Bahwa mencari hiburan demi menyenangkan hati diri sendiri seyogyanya dilaksanakan secara penuh pertimbangan, persiapan, kerendahan, dan ketulusan hati, agar kita sebagai sekelompok orang yang mendatangi sebuah tempat fantastis bukan sekadar menghabiskan uang untuk bepergian ke sana. 


Ilustrasi: Gunung Kelud, Blitar.

Akibat inflasi global, nyaris seluruh masyarakat di Bumi ini menurunkan standar hidup mereka; berhemat dengan memangkas pos anggaran yang dirasa tidak terlalu penting demi agar bisa menghemat uang untuk banyak keperluan hidup lainnya. Anggaran hiburan seringkali menjadi korban pertama, karena dianggap tidak terlalu penting di masa sulit. Padahal, justru di era kegelapan seperti sekarang manusia membutuhkan hiburan untuk membantu mereka menemukan dan menekuni apa pun yang merupakan kehendak diri mereka sendiri. Atau yang disebut juga passion.

Di jam kerja kita menyerahkan kehendak kita pada peraturan, target, tujuan, dan serangkaian hal yang tak terlepas dari profesi masing-masing. Sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia untuk mendapatkan hiburan dan merasakan kegembiraan, ketenangan, serta kebahagiaan. Namun, ketakutan kita terhadap kemelaratan dan kesulitan finansial membuat kita mengidentikkan hiburan sebagai salah satu cara mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa kita horang kaya.

‘Win-win solution’

Para penganut aliran kepercayaan Zoroastrianism di Uzbekistan merayakan pergantian dari musim dingin ke musim semi dengan menggelar ritual Navruz (= hari baru dalam Bahasa Persia). Ritual ini tercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO dan diakui PBB sebagai hari libur internasional, karena juga dirayakan di berbagai negara lain (Kazakhstan, Azerbaijan, Afghanistan, Iran, Pakistan, India Utara). Hari raya yang merupakan manifestasi keramahtamahan dan kemanusiaan menyedot perhatian wisatawan internasional, dan selalu menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat yang merayakannya.

Di balik sajian kuliner khas, nyanyian, dan tarian, tersembunyi sebuah tujuan untuk menyenangkan hati ‘para penjaga alam’ agar senantiasa bermurah dan berbaik hati. Agar mereka yang sudah bekerja keras mengolah ladang dan kebun mendapatkan hasil yang setimpal. Ini bukanlah semacam sogokan pada alam agar bersedia mengikuti keinginan manusia, walaupun dalam pelaksanaannya dilantunkan resital yang antara lain berisi tentang permohonan agar hujan tidak turun di musim semi (karena bisa merusak tanaman di ladang).

Masyarakat adat Uzbek memadukan antara kebutuhan akan hiburan dan pemuliaan terhadap alam dan leluhur melalui resital seperti ini. Recital yang bukan hanya menimbulkan rasa senang di hati mereka yang mendengarnya, tetapi juga mereka yang melantunkannya. Selama perayaan Navruz, masyarakat Uzbek tidak bekerja. Setelah perayaan berakhir, seluruh komunitas akan kembali ke pekerjaan masing-masing dengan membawa rasa senang dan tentram karena yakin alam akan bersedia ‘bekerja sama’ dengan mereka hingga musim panen tiba.

Bukan sekadar mencari kesenangan

Sebagai seseorang yang sudah cukup kenyang dalam berburu pemuas nafsu duniawi, saya bisa mengatakan bahwa kesenangan itu tiada batasnya. Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin kita berusaha keras melakukan segala hal demi melegakan dahaga akan kesenangan, semakin tak terpadamkan hasrat kita.

Melalui ritual Navruz, masyarakat adat Uzbek mengajarkan kepada kita bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan akan rekreasi dengan keberadaan alam sekitar. Pergantian musim dipandang sebagai pertanda bahwa alam itu hidup, karena cuaca dan musim tidaklah stagnan. Masyarakat modern menganggapnya suatu fenomena biasa yang bisa dijelaskan ilmu pengetahuan, sehingga terbitlah kepongahan mereka saat menghadapi alam sekitar.

Dalam perayaan Navruz, kuliner Sumalak yang dimasak bersama oleh ibu-ibu komunitas setempat sambil melantunkan nyanyian merupakan cara orang Uzbek menumbuhkan optimisme menyambut musim baru. Sementara ritual Sust xotin (= Poor Woman) bertujuan memelihara rasa kasih sayang terhadap leluhur yang direpresentasikan boneka terbuat dari dahan pohon. Dalam ritual ini, boneka itu dimandikan dengan air secara bergiliran oleh para peserta ritual (semuanya perempuan juga) sembari melantunkan nyanyian tentang harapan mereka.

Alih-alih merasa cemas terhadap ketidakpastian di sepanjang fase baru dalam hidup mereka, ibu-ibu masyarakat adat Uzbek berusaha menipiskan kegelisahan mereka dengan berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Mereka ‘mengorbankan’ bahan makanan yang seharusnya mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan keluarga masing-masing sebagai sesaji untuk leluhur, yang kemudian disantap bersama komunitas sebagai perwujudan kebahagiaan karena berhasil melewati bekunya musim dingin. (dswas). 

Minggu, 12 April 2026

Mimpi Buruk: Ketika Takhayul dan Mitos Menjadi Kenyataan

Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. Itulah yang pernah dikatakan seorang tokoh sejarah bangsa kami. Setelah menelusuri riwayat hidupnya, ternyata sang tokoh pernah belajar di suatu negara Eropa pada saat negara kami bahkan belum lahir.

Namun, saya tak hendak membicarakan identitas beliau dalam tulisan ini. Atau apa motif beliau. Atau teori konspirasi. Dalam konteks yang saya beberkan di bawah ini, mitos-mitos memancing rasa penasaran khalayak sehingga sering menjadi sumber inspirasi ribuan film seram. Lebih dari itu, mitos mencerminkan kekhawatiran masyarakat pemilik mitos terhadap sesuatu hal yang ingin mereka cegah agar tak menjadi kenyataan.

Ketika masyarakat modern mengenal lele raksasa Sungai Mekong (pangasiandon gigas) sebagai ikan air tawar terbesar dunia yang ramai diekspos sejak berhasil ditangkap di Thailand pada 2005, masyarakat penganut Aliran Kepercayaan yang tinggal di sekitar sungai tersebut (Thailand, Laos, Kamboja) menyucikannya dan menganggapnya sebagai hewan keramat. Ketika seorang sutradara Thailand memenangi penghargaan Palm d’Or berkat sebuah film indie “Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives” (2010) yang terinspirasi eksistensi lele raksasa tersebut, para manusia gua Thailand sudah terlebih dulu mengabadikannya dalam lukisan di sebuah dinding gua 3000 tahun lalu.

Sungai Mekong mempersatukan berbagai komunitas yang tinggal di sekitarnya berkat kepedulian dan rasa terima kasih mereka pada air dan alam seisinya. Mereka menganggap lele raksasa adalah perwujudan roh penjaga sungai yang wajib dihormati dan dilarang untuk ditangkap. Selain sebagai bentuk terima kasih pada mata air, sesajen juga dipersembahkan pada para lele raksasa Mekong sebagai wujud terima kasih atas kesediaan mereka menjaga sungai. Tak lupa diciptakanlah mitos-mitos agar anak cucu mereka tidak berani menangkap sang ikan suci, termasuk kisah tentang malapetaka atas siapa pun yang melanggar pantangan ini.

Karena wilayah tersebut subur dan kaya sumber daya alam, para pendatang dari benua lain tertarik untuk mengeksploitasinya. Sebagai kompensasi, para pendatang ini menawarkan ilmu pengetahuan dan budaya yang menawarkan kebebasan dari belenggu aturan-aturan tak masuk akal. Masyarakat Dataran Sungai Mekong pun berinteraksi dengan ‘kebaruan’ yang ditawarkan para pendatang, lalu sontak tersadar bahwa selama ini para leluhur mereka ternyata mengajarkan kesesatan. 


Ilustrasi: Pura Tirta Empul, Bali.


Ketika roh penjaga sungai berhasil dibasmi

Apa yang awalnya adalah keinginan untuk dikenal dan diakui berubah menjadi bencana, setelah berita tentang tertangkapnya sang ikan suci tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat setempat pun berlomba-lomba menangkapnya setelah mendapat pencerahan bahwa ikan suci ini tidaklah sesakti yang digembar-gemborkan para leluhur mereka. Lambat laun, lele raksasa Mekong kian menyusut jumlahnya.

Bersamaan dengan penurunan populasi lele raksasa, masyarakat setempat menyaksikan penurunan populasi berbagai jenis ikan lain, walaupun Sungai Mekong sebenarnya punya kualitas air yang jauh lebih baik dibandingkan banyak kota di Asia Tenggara (termasuk kota saya).

Setelah dilakukan penelitian, terungkaplah bahwa ‘sang hantu herbivora’ ternyata menggunakan kekuatannya untuk membersihkan sungai dengan cara memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk di dasar sungai. Dasar Sungai Mekong telah menjadi ‘hutan ganggang’ yang memakan oksigen bagi makhluk hidup lain di sungai, karena lele raksasa yang mengonsumsinya semakin tersingkir dari peradaban modern Sungai Mekong. Penjaga sungai dilenyapkan oleh manusia yang keliru mempersepsikan ‘kesaktian’-nya.

‘Mimpi buruk’ atau kebetulan?

Dahulu kala, di saat habitat Sungai Mekong masih belum terjamah nafsu manusia, lele raksasa akan bermigrasi dari Danau Tonle Sap di Kamboja menuju Sungai Mekong di awal musim hujan. Mereka berenang sejauh 5 km per hari, melewati Phnom Penh dan telaga-telaga dalam menuju perbatasan Thailand dan Laos untuk bertelur. Setelah menetas, larva lele raksasa akan dihanyutkan arus ‘pasang’ Sungai Mekong kembali ke hutan rawa-rawa Kamboja untuk tumbuh besar dan mengulang siklus di atas.

Bersamaan dengan terhentinya siklus tersebut, dunia menyaksikan bagaimana Kamboja mendapat stigma negatif sebagai negara pusat scam terbesar. Tempat di mana ribuan anak muda dari berbagai negara tetangga berangkat mencari nafkah dan beberapa tak pernah kembali. Di saat yang sama, Kamboja dan Thailand bertikai akibat suatu masalah yang diciptakan para pendatang. Laos yang terjebak di tengah-tengah, terpaksa memilih untuk berpihak dan berseberangan dengan Kamboja. Sementara Thailand dihadapkan pada deretan masalah yang timbul akibat overtourism. (dswas) 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 05 April 2026

Tetap Sehat dan Semangat Meski Kehilangan Pekerjaan

Stagflasi (suatu masa di mana masyarakat global menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah langkanya lapangan pekerjaan) merupakan dampak langsung kebijakan menerbitkan uang baru secara besar-besaran oleh seluruh bank sentral di dunia. Langkah yang dimaksudkan sebagai solusi untuk menghadapi dampak pandemi COVID19 ternyata berbuntut panjang, entah sampai kapan.

Sekitar satu tahun lalu, sejumlah orang berhasil bertahan hidup dengan menurunkan standar hidup mereka dan memotong segala jenis pengeluaran yang dirasa tidak penting. Ini tidak mudah bagi sebagian orang, karena mereka harus cukup kokoh untuk merasakan semacam “kepedihan” akibat harus melepas gaya hidup sebelumnya. Bukan saja karena gengsi, melainkan bayang-bayang kenangan hidup yang lebih nikmat dan membahagiakan waktu masih punya banyak uang. Belum lagi rasa sesal saat teringat perilaku belanja di masa lalu yang terlalu royal, atau kenangan akan uang yang terbuang sia-sia dan tidak jelas larinya ke mana.

Namun, itulah sebuah kelaziman dalam hidup kita, karena kesulitan akan menyertai kemudahan. Manusia modern tidak bahagia karena terjebak dalam ilusi tentang gelap dan terang, yang menurut sudut pandang mereka adalah dua hal yang mengada karena kehendak “setan” dan “malaikat”. Bahwa suatu hari kejahatan akan musnah oleh kebajikan, bahwa dosa akan dihapus oleh pahala, dan seterusnya. Padahal demi mempertahankan kesenangan, beberapa orang rela melakukan segalanya, termasuk melakukan hal-hal yang sebelumnya terlarang dan hina bagi nilai-nilai atau standar mereka sendiri. Itulah, antara lain, mengapa kita sulit bahagia. 


Ilustrasi: Candi Rambut Monte, Blitar


Kebal syok

Mereka yang hidup ribuan tahun lalu di muka Bumi tidak membutuhkan ajian kebal peluru, karena memang peluru belum diciptakan di era mereka. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan menjaga keharmonisan, keseimbangan antara berbagai unsur, sebagai cara melatih diri mereka sendiri untuk senantiasa seimbang di tengah situasi apa pun.

Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Turkik (Turkic Indigenous Faith) yang disebut Tengrisme mengajarkan bahwa dualisme, kegelapan dan cahaya, dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan peran serta manusia. Para penganut Tengrisme yang saat ini tersebar di Mongolia dan Kazakhztan mewujudkan peran serta tersebut dengan larangan mencemari sumber air, serta mengikatkan kain di beberapa pohon yang dianggap penting dalam keberlanjutannya.

Agar kematian sebagai salah satu representasi kegelapan dapat diterima sebagai kewajaran dalam hidup, para penganut Tengrisme mengadakan jamuan makan di hari ke-7 dan ke-49 setelah seseorang dalam komunitas mereka meninggal dunia. Menyediakan makanan untuk orang lain (apalagi dalam jumlah besar) dianggap memberatkan keluarga almarhum, itulah pandangan sebagian orang yang belum mempelajari tradisi ini.

Sederhananya, keluarga yang ditinggalkan harus bangkit dari kesedihan agar bisa melanjutkan hidup. Untuk itu, mereka harus merelakan kepergian orang terkasih yang dilambangkan dalam bentuk menyediakan makanan untuk jamuan makan di atas. Namun, karena biasanya masyarakat Tengrisme hidup secara komunal maka mereka akan bergotong royong guna membantu keluarga yang sedang berduka menyediakan makanan guna keperluan rangkaian upacara kematian.

Anti manja

Di beberapa negara, mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja biasanya akan mendapat tunjangan pengangguran dari pemerintah masing-masing. Mereka yang tidak mendapat tunjangan semacam ini tidak perlu merasa iri, bukankah “rejeki orang sudah ada yang mengatur”?  Sama halnya kita tidak perlu merasa iri mendengar kisah-kisah tentang warga negara di luar sana yang hidup sepenuhnya dengan biaya pemerintah tanpa perlu bekerja.

Walau sepintas fasilitas semacam ini dijustifikasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah suatu negara terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan warga negara mereka, tetapi sejauh mana hal itu memengaruhi mental suatu bangsa sering tidak dibicarakan. Apalagi membicarakan bagaimana efeknya terhadap cara bangsa tersebut berinteraksi dengan dunia luar.

Olahraga kita butuhkan guna menjaga kesehatan fisik. Macam-macam pengorbanan yang dilakukan para leluhur manusia berbagai bangsa, dalam bentuk sesajen dan aturan-aturan, bertujuan untuk melatih mental agar tidak rapuh, mudah patah semangat, syok, kagetan, histeris, pingsan, kehilangan kesadaran, depresi, stress, dll. dalam melanjutkan hidup di tengah cuaca yang mudah berubah. Punya ketahanan mental itu sama pentingnya dengan punya rudal balisitk, drone serang, atau drone kamikaze lho. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...