“Bad news is good news” bagi sebagian kecil orang. Entah Anda sudah tahu atau tidak, inilah norma kontemporer yang telah berlaku beberapa dekade belakangan ini. Menolak atau menyesalinya mendatangkan kompleksitas dalam hidup kita sendiri, karena kita akan melakukan apapun guna mengenyahkan negativitas ini dari pandangan dan perasaan.
Justru kecenderungan yang muncul saat ini adalah kita tidak bisa hidup tanpa ‘bad news’, seakan ada sesuatu yang hilang dari hidup kita apabila segala sesuatu berjalan mulus dan lancar. Bahkan, jurnalistik, dunia di mana saya mencari makan saat ini, mungkin sudah punah sejak berpuluh tahun silam bila ‘bad news’ mendadak hilang karena situasi dunia semakin membaik dan sejahtera.
Menurut sebuah sumber, kecenderungan kita pada berita buruk tidaklah muncul sekonyong-konyong, melainkan evolusioner. Zaman dahulu kala, saat manusia hidup sebagai bangsa pemburu atau petani, nomaden atau menetap di tanah tak bertuan atau sebagai imigran, eskalasi bisa muncul setiap saat dari bangsa tetangga yang punya dendam lama. Atau sekadar ingin menambah jumlah pengikut tanpa berkenalan terlebih dahulu.
Situasi ini mendorong manusia masa lalu untuk menciptakan, mengembangkan, dan menguasai seni bertahan hidup dari serangan musuh dengan cara mengenali sinyal-sinyal ketegangan sebelum erupsi muncul dalam bentuk ‘serangan'. Kemampuan ini diwariskan secara naluriah dari generasi ke generasi melalui struktur bahasa, budaya, kepercayaan asli, bahkan hingga ke hal-hal kecil seperti resep makanan, misalnya (sebagai contoh, di Indonesia ada sebuah kudapan bernama ‘tahu berontak’*).
Warisan berupa ilmu kewaspadaaan tersebut tetap lestari menembus waktu, walaupun keadaan sekitar berubah lebih ‘ramah’ dibanding beberapa generasi sebelumnya. Kenyamanan yang bentuknya terus berkembang dari zaman ke zaman menghilangkan situasi sulit dalam perjalanan hidup anak manusia, sehingga warisan ilmu kewaspadaan pun semakin terdesak dan kehilangan salurannya. Berkat internet, ‘kerinduan’ itupun terjawab seiring dengan kemudahan memperoleh informasi bernama ‘bad news’ yang mewadahi kewaspadaan dan naluri tempur mereka tanpa kehilangan kenyamanan.
Harmoni yang saling menghidupi
Berita buruk tentang Afrika, dan terutama Sudan Selatan, mengaburkan banyak hal indah dan menakjubkan tentang benua terluas kedua di dunia setelah Asia. Tidak banyak yang tahu bahwa Sudan Selatan merupakan surga bagi keanekaragaman, baik dari segi biodiversitas, etnis, bahasa, dan budaya. Selain wilayah hutan tropis terbesar dunia, Sudah Selatan memiliki keanekaragaman spesies, terutama mamalia, yang hingga saat ini dapat terus bermigrasi dan seolah tak tersentuh konflik yang tak berkesudahan.
Suku Dinka yang mencakup 38% dari total jumlah penduduk Sudan Selatan punya cara unik untuk melindungi kelestarian alam mereka, yang masih terus dipertahankan hingga saat ini. Kepercayaan Asli Dinka mendorong suku Dinka untuk bersahabat dengan alam, di antaranya dengan menempatkan hewan-hewan liar selevel dengan manusia. Pemuliaan ini diwujudkan dalam bentuk menjadikan hewan tertentu sebagai lambang pelindung kelompok suku tertentu (totemisme). Sebagai contoh, suatu suku dengan totem singa dilarang memburu atau melukai singa. Aturan yang sama juga berlaku untuk kelompok suku dengan totem jenis hewan lainnya.
Sejak kecil, orang-orang Dinka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kemunculan singa (misalnya, kera mendadak berlompatan dari pohon) dengan pendekatan yang tidak menyamakan kehadiran singa dengan kedatangan roh jahat atau hantu gentayangan. Bila tanda-tanda kedatangan singa muncul saat mereka sedang menggembala ternak di tepi sungai, artinya si singa itu sedang haus dan butuh minum. Para penggembala Dinka akan menggiring ternak mereka menjauh guna memberi ruang pada si singa untuk mendekat ke sungai dan meminum airnya. Anak-anak penggembala Dinka sudah diajarkan tentang gerakan tubuh, atau suara, yang sebaiknya tidak dilakukan agar tidak memancing perhatian atau membuat si singa merasa tertekan. Sebuah ilmu yang juga dimiliki seluruh kelompok suku di Afrika dan diajarkan secara turun temurun.
Gabungan antara kepekaan membaca tanda-tanda alam dan kepercayaan totemisme membuat Suku Dinka tidak pernah mengalami insiden diterkam singa, buaya, harimau, atau hewan-hewan buas lainnya. Mereka dan berbagai kelompok suku lainnya di Afrika tidak berburu untuk kesenangan atau hiburan, melainkan semata-mata guna memenuhi kebutuhan hidup. Suku Dinka menggembalakan ternak mereka secara nomaden, berpindah tempat setelah jangka waktu tertentu, dengan tujuan memberi waktu pada rumput dan tumbuhan lain di tempat itu untuk tumbuh kembali.
Hidup bahagia bersama ‘musuh’
Bagi mereka yang tak doyan membaca atau menyaksikannya, berita buruk merupakan monster mengerikan yang bisa memicu depresi. Kita tak mungkin bisa lari atau mengisolasi diri rapat-rapat agat tak terkontaminasi berita buruk sama sekali, karena akan selalu ada orang di sekitar kita yang membawa berita buruk itu ke hadapan Anda. Entah pasangan, kerabat, teman, atau anggota keluarga lainnya.
Lakon drama yang sedang tren saat ini dengan terang benderang mengajarkan kepada kita bahwa berita buruk tak bisa dicegah untuk timbul dan mengacaukan segala rencana. Reaksi kitalah yang pada akhirnya akan mengarahkan bagaimana emosi kita menghadapi derasnya arus berita buruk yang terus menguat.
Ibarat anak penggembala Suku Dinka yang tiap hari bertemu singa saat menggembalakan hewan ternak di padang rumput, rasa takut dan cemas justru akan mendorongnya melakukan tindakan yang pada akhirnya membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Rasa takut dan cemas kita menghadapi berita buruk membuat kita menanggapinya dengan cara berlebihan, seolah-olah seluruh dunia Anda bertumpu pada berita buruk itu.
*) Tahu berontak adalah nama kudapan berupa tahu dengan isian tumis kecambah, wortel, dan daun bawang yang berjejalan di dalam kulit tahu, sehingga menimbulkan impresi bahwa sayuran ini sedang berontak.