Selasa, 30 Desember 2025

Ingin Jadi Pribadi Kokoh dan Tahan Banting? Mari Sayangi Alam Sekitar

Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat maupun suatu bangsa. Semasa hidup mereka, para leluhur sejagat raya harus menghadapi berbagai tantangan dalam bentuk bencana alam yang memaksa mereka untuk mencari cara agar dapat bertahan hidup. Dari sinilah beliau-beliau ini menyadari bahwa alam harus ‘ditaklukkan’ dengan kasih sayang, dengan merawat dan melestarikan, agar ia pun memberikan kasih sayangnya kepada mereka.

Akan tetapi, kesadaran ini hanya dapat terbit setelah individu atau suatu kelompok masyarakat bisa mengatasi keterkejutan dan luapan emosi sesaat yang muncul sebagai reaksi mereka sebagai para korban (atau penonton). Tentu saja, berkomentar tentang bencana lebih mudah daripada benar-benar mengalaminya. Oleh karena itu, publik berhak memperoleh akses edukasi tentang kesiapsiagaan dan langkah-langkah antisipasi bencana, karena (sebagaimana sudah saya tulis berulang kali) mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Sebuah bencana besar di penghujung 2025 (26/11) telah menewaskan ribuan orang di belahan barat Sumatra, Indonesia. Sampai dengan hari ini sekitar satu bulan setelah bencana itu, ratusan orang dinyatakan hilang dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang yang diduga kuat merupakan dampak langsung eksploitasi hutan secara berlebihan di kawasan barat Sumatra.

Tingkat kerusakan yang dialami beberapa titik di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, sangat parah dan nyaris tak ada bedanya dengan dampak tsunami Aceh 2004 lalu. Pemerintah lokal angkat tangan, menyerah untuk bertanggung jawab terhadap keselamatan warga mereka. Pemerintah pusat ingin mempertahankan reputasi sebagai bangsa tahan banting. Sementara itu, para korban pun putus asa karena mereka sudah barang tentu ingin kehidupan mereka kembali seperti dulu.

Mencari dan menemukan

Kepercayaan asli selalu mengiringi lahirnya peradaban di berbagai lokasi di seluruh dunia, termasuk Ukraina. Akibat dinamika politik, Kepercayaan Asli Ukraina sempat dilupakan oleh para penerus orang-orang yang meletakkan pondasinya. Satu peristiwa besar, yaitu pembubaran Uni Soviet, menjadi titik awal kelahiran kembali Kepercayaan Asli Ukraina, atau yang disebut juga Ridnovira.

Perubahan identitas kewarganegaraan dari warga negara Uni Soviet menjadi warga negara Ukraina membawa makna mendalam bagi masyarakat Ukraina. Tak jauh berbeda dengan kelompok masyarakat atau komunitas lain yang pernah atau sedang mengalami situasi serupa saat ini, perubahan mendadak semacam ini seringkali diikuti dengan luapan emosi yang disebut eforia. Namun, Ridnovira merupakan aliran kepercayaan yang bukan sekadar memuliakan alam sekitar melalui ritual dan aktivitas penyakralan menurut tata caranya.

Bagi para penganut Ridnovira, aliran kepercayaan asli tidak melulu soal identitas karena pencarian identitas seharusnya sudah berhenti tatkala mereka menyatakan bersedia menjadi bagian dari suatu entitas, baik dalam lingkup spiritual maupun non spiritual. Memuliakan alam berarti menyatakan diri dengan sadar bahwa mereka adalah bagiannya, tetapi ini hanya dapat terwujud karena para penganut Ridnovira sudah merasa yakin tentang jati diri (self) mereka.

‘Happy Ending’

Tak seorang manusia pun di dunia ini yang tidak menginginkan kestabilan dalam hidup, dan tak seorang pun yang menginginkan bencana. Para penganut kepercayaan asli di berbagai pelosok dunia, termasuk Ridnovira, menyadari bahwa itu hanya bisa tercapai bila kestabilan juga terjadi di luar circle mereka, karena inilah esensi seluruh aliran kepercayaan yang eksis hingga detik ini. Bahwa segala unsur di dunia ini saling terkait dan saling memengaruhi setiap saat, bukan berdiri sendiri sesuai kehendak bebas masing-masing kapan pun mereka menginginkannya.

Gesekan memang akan dan selalu terjadi karena isi kepala masing-masing kelompok dalam masyarakat, baik di level regional maupun global, tidaklah sama. Namun, memaksa mereka agar satu kata dengan berbagai cara dapat berujung ketidakstabilan, semakin menjauh dari ‘happy ending’ yang menjadi impian semua orang. (dswas)

Sabtu, 27 Desember 2025

Kemandirian Jangan Sampai “Menyakitkan”

Mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, merupakan jargon yang sering digaungkan guna memotivasi masyarakat luas agar melangkah dengan penuh rasa percaya diri membangun hidup mereka sebagai suatu bangsa. Seruan ini belakangan kembali terdengar seiring dengan memanasnya suhu politik internasional. Mandiri yang ideal tentu saja benar-benar memulai segalanya, merangkak dari bawah dengan kemampuan sendiri menuju puncak, sebagaimana dilakukan para leluhur sejagat raya.

Kemerdekaan suatu bangsa terjajah seringkali diiringi kisah-kisah bermotivasi emosi sesaat yang berdampak panjang, bahkan memengaruhi kehidupan banyak generasi berikutnya. Sebagai republik yang baru merdeka pada 1945, Indonesia mengalami berbagai guncangan politik yang berakibat memburuknya hubungan dengan Belanda, ‘mantan’ penjajahnya. Puncaknya adalah keputusan untuk merebut kembali kedaulatan ekonomi dengan cara mengambil alih sekitar 700 perusahaan milik Belanda yang beroperasi di Indonesia, sejumlah aset milik warga negara China, dan warga negara asing lainnya dalam kurun waktu 1958 – 1966.  

Keputusan ekstrim yang bertujuan mencari modal bagi pembangunan republik baru tidak serta merta mendatangkan hasil sesuai yang diinginkan. Para tenaga kerja dan pengusaha Belanda lekas-lekas meninggalkan Indonesia setelah Presiden Sukarno menandatangani peraturan yang melegalkan nasionalisasi multi sektor terbesar dalam sejarah, tanpa adanya transfer ilmu dan keahlian yang dibutuhkan si pemilik baru. Kepercayaan investor global pun menurun, sehingga Indonesia harus mencetak uang baru secara massif guna membiayai berbagai proyek pembangunan infrastruktur dan militer.  

Presiden Suharto sebagai suksesor Sukarno dihadapkan pada segunung utang di awal kepemimpinannya, yaitu utang kompensasi yang wajib dibayarkan pemerintah Indonesia sebagai ganti rugi atas aksi nasionalisasi sepihak di era sebelumnya. Pasca 1965, Indonesia berada di ambang kebangkrutan, sehingga mau tak mau Suharto menerima saran para ekonom Universitas Berkeley, California, untuk melakukan perombakan ekonomi, di antaranya dengan melonggarkan pengetatan jual beli mata uang asing. Apakah dampaknya? 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Mengapa ambisi bisa menghancurkan?  

Sebagaimana berbagai aliran kepercayaan asli di berbagai pelosok Bumi, salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia, Kapribaden, menganggap alam sekitar merupakan bagian dari manusia. Gerak hewan dan tumbuhan, air, udara, tanah menerbitkan suatu kesadaran bahwa semua zat bergerak sesuai kodrat masing-masing dari mereka. Akan tetapi, manusia terdiri dari dua keberadaan yang tak kasat mata, yaitu raga dan rasa, di mana gerak yang dilakukan manusia merupakan keinginan raga seringkali tidak sejalan dengan rasa (hati nurani).

Sesuai dengan namanya yang terbentuk dari kata ‘pribadi’, Kapribaden menekankan pembentukan pribadi manusia yang senantiasa selaras antara raga dan rasa dalam perjalanannya mencari penghidupan. Ambisi yang seolah-olah benar dan mulia dapat menyesatkan langkah manusia yang bersangkutan, hingga mengorbankan kebahagiaan hidupnya, keluarganya, bahkan banyak generasi di bawahnya. Walaupun ia sukses, misalnya, tekanan akan terus datang menerpa dirinya hingga kesehatan mentalnya pun terganggu akibat stress.

Oleh karena itu, para penganut Kapribaden sekilas terlihat seperti sekelompok orang yang tak punya cita-cita karena senantiasa hidup sederhana hingga akhir hidup mereka. Sebagai bagian dari suatu kelompok besar masyarakat, mereka tidak sekadar melangkah berdasarkan peraturan dan norma yang berlaku secara umum. Rasa orang-orang lain di sekitar mereka juga menjadi pedoman untuk melangkah, tanpa memandang identitas mereka. Bagaimana para penganut Kapribaden dapat mendeteksinya merupakan topik yang akan dibahas lain waktu.

Agar tidak terjatuh di lubang yang sama  

Para pendahulu kita dapat membuat kesalahan, dan fatal. Merupakan sebuah kesia-siaan bila kita membenci mereka karena kesalahan yang mereka lakukan, karena rasa kesal kita tak akan mampu mengubah apa yang sudah terjadi. Sebaliknya, para penganut Kapribaden menganggap mereka sebagai para kakek dan nenek yang selalu bersedia melakukan apa pun demi kebahagiaan para cucu mereka.

Dua pemimpin Indonesia di atas melakukan apa yang menurut mereka benar guna memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin sebuah bangsa. Rakyat Indonesia tidak perlu khawatir; seluruh utang Indonesia yang terkait dengan pembayaran kompensasi kepada para pemilik perusahaan Belanda yang dinasionalisasi dinyatakan lunas pada 2002. Indonesia sudah menutup buku catatan kelam terkait nasionalisasi perusahaan asing di wilayahnya, kecuali satu hal.

Peraturan tahun 1958 sebagai akar masalah ekonomi akibat nasionalisasi perusahaan asing masih disebut dalam pedoman pendirian sejumlah perusahaan milik negara. Peraturan tersebut seharusnya tidak lagi disebut dan dinyatakan gugur karena Indonesia sudah melunasi kewajiban pembayaran kompensasi kepada para pengusaha Belanda yang dirugikan keputusan nasionalisasi perusahaan asing. (dswas)

Rabu, 24 Desember 2025

Mematikan “Api” Yang Tak Kunjung Padam

Nasionalisasi aset dan atau perusahaan asing yang beroperasi di suatu negara adalah bagian dari tindak-tanduk politik yang sudah berumur puluhan tahun. Sejarah mencatat praktik ini pertama kali dilakukan oleh Uni Soviet di awal kesuksesan Revolusi Bolshevik di bawah kepemimpinan Josef Stalin pada 1917-1918. Suksesi bentuk negara dan pucuk pimpinan melatarbelakangi perubahan Kekaisaran Rusia yang mengandalkan investasi Eropa Barat dan Amerika Serikat menjadi komunisme.

Kekeliruan di masa lalu ini rupanya disadari oleh para suksesor Stalin, termasuk Vladimir Lenin yang menawarkan konsesi pada sejumlah negara yang dirugikan akibat keputusan Stalin untuk kembali berinvestasi di negaranya, khususnya di sektor minyak dan gas. Skema ini diteruskan hingga beberapa dekade kemudian, sampai akhirnya Uni Soviet menyatakan bersedia memberikan kompensasi atas kerugian tersebut pada 1986 dan 2017.

Walaupun nominal kompensasi itu dianggap kalangan Barat tak sebanding dengan kerugian para investor yang kehilangan investasi di era Stalin, tetapi Uni Soviet (dan Rusia sebagai penerusnya) tidak lantas lepas tangan dan menolak bertanggung jawab. Di samping adanya misi untuk mengintegrasikan Rusia dengan pergaulan global, sebagaimana kebijakan Dmitiri Medvedev dan Vladimir Putin (masing-masing mantan dan presiden Rusia saat ini).

Menarik untuk mencermati bagaimana reaksi negara-negara yang pernah dirugikan era Bolshevik (Prancis, Britania Raya, Belgia, Swedia, Jerman, dan Amerika Serikat). Nama-nama ini sudah menerima kompensasi dari Uni Soviet (1986) dan Rusia (2017), mereka juga bersedia kembali berinvestasi di Rusia setelahnya. Ketika Rusia menyatakan perang melawan Ukraina pada 24 Februari 2022, reaksi pertama mereka bukanlah tentang melindungi investasi mereka di Rusia saat bayang-bayang Bolshevik berpotensi mengancam profit mereka.  

“Api” yang diwariskan

Api merupakan elemen suci bagi banyak aliran kepercayaan dari berbagai pelosok dunia, termasuk Kepercayaan Asli Georgia. Api merupakan lambang kemurnian, walaupun tidak mengada sebagai titik nol yang mendahului segalanya, seperti udara. Api dalam bentuk fisik merupakan mediator untuk mengubah benda padat menjadi abu, dikembalikan ke asalnya agar berguna kembali untuk kesuburan tanah. Manfaat ini baru terasa apabila api dapat dikendalikan, layaknya emosi manusia. 


Ilustrasi: koleksi pribadi

Penemuan inilah yang membentuk dasar-dasar Kepercayaan Asli Georgia berikut berbagai peraturannya. Sebagaimana sejumlah kepercayaan asli lainnya, kehendak untuk hidup selaras dengan alam sekitar mengilhami beragam panduan untuk menjauhkan masyarakat dari perbuatan tercela. Menurut perspektif Kepercayaan Asli Georgia, tindakan seseorang tidak hanya menyangkut dirinya sendiri dan “dunianya”.  Benar atau salah, perbuatan seseorang akan memengaruhi peringkat spiritual para generasi di bawahnya, menciptakan lingkaran sebab dan akibat yang harus mereka hadapi dari generasi ke generasi.

Ini bukanlah hukuman. Seorang penghayat Kepercayaan Asli Georgia dapat memutus lingkaran sebab dan akibat ini dengan melakukan perbuatan tertentu sebagai ‘kompensasi’ atas kekeliruan yang dilakukan generasi sebelumnya. Tujuannya tentu agar “api” kesumat dari berbagai pihak yang terdampak bisa dikendalikan, dipadamkan, dan tak lagi diwariskan. Agar siklus hidup manusia akhirnya bisa move on, mengingat tantangan selalu datang silih berganti dan tak mau peduli apakah kita siap atau tidak untuk menghadapinya.

Memberi maaf lebih sulit daripada meminta maaf   

Nasionalisasi aset dan atau perusahaan asing oleh negara seolah-olah mendatangkan keuntungan finansial bagi negara yang melakukannya. Yang sering kita abaikan adalah kerugian finansial di pihak yang mengalaminya cenderung mendorong mereka untuk menutup kerugian tersebut dengan berbagai cara, karena perusahaan bukanlah lembaga amal.

“Api” ini dapat mengambil wujudnya dalam bentuk berbagai sanksi, tarif, larangan, blokade, embargo, kenaikan pajak, dan sederet istilah lain berkonotasi serupa yang intinya bertujuan mendapatkan pembayaran dari subjek peraturan tersebut. Di sisi lain, pelaku nasionalisasi sebagai “terdakwa” dalam situasi tersebut memiliki hak untuk mengubah nasibnya, karena setiap orang berhak menikmati kesejahteraan sebagaimana diakui bersama oleh para pendahulu kita.

Menurut perspektif Kepercayaan Asli Georgia, dampak yang diwariskan secara generasional sebagai buntut suatu kekeliruan bukan hanya memengaruhi para pelaku, tetapi juga para korban. Sampai kapan para pelaku dan para penerusnya terus menjadi pelaku dan sampai kapan para korban beserta para penerusnya terus menjadi korban, keputusan ini ada di tangan masing-masing dari mereka. (dswas) 

Senin, 22 Desember 2025

Dilarang Menolak Pemberian

Memberi lebih baik daripada menerima. Namun, apakah ini berarti kita musti menolak pemberian? Khususnya sebuah pemberian yang kita dapat sebagai hasil dari apa yang sudah kita lakukan di masa lampau.

Sebagai negara yang diberkahi dengan pemberian alam berupa salah satu cadangan minyak terbesar dunia, Venezuela menjadi negara minyak terkaya di dunia pada periode 1970-an hingga akhir 1990-an. Sebuah sumber menyebut Venezuela pernah mencatat penghasilan kotor sebesar 10 triliun dolar dalam waktu dua tahun (1973-1975) berkat penjualan minyak.

Sebagaimana terjadi di berbagai penjuru dunia, penghasilan besar seringkali tidak diikuti dengan manajemen uang yang bijak. Mudah untuk menuding korupsi sebagai biang kemerosotan ekonomi Venezuela saat ini, ataupun sanksi yang diberlakukan atas minyak Venezuela oleh Amerika Serikat sejak 2019. Namun, ada baiknya merunut timeline riwayat negara Amerika Latin ini untuk mendapat gambaran tentang akar segala masalah yang menimpanya.

Minyak pertama kalinya ditemukan di Venezuela pada 1922, berkat kerja keras para ahli geologi dari Royal Dutch Shell. Seiring dengan investasi berbagai perusahaan minyak dari Eropa dan Amerika Serikat sejak 1930-an, Venezuela menempati peringkat ketiga penghasil minyak terbesar dunia setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Melalui Undang-undang Hidrokarbon 1943, otoritas Venezuela mewajibkan perusahaan-perusahaan minyak asing yang beroperasi di wilayah mereka untuk mendistribusikan setengah dari keuntungan penjualan minyak untuk kas negara. Peraturan inilah yang memicu kenaikan pendapatan Venezuela sebagai negara minyak. Pajak tersebut juga dimanfaatkan sebagai modal pendirian perusahaan minyak milik negara.

Resesi global di era 80-an merupakan awal dari senjakala negara minyak termakmur di Amerika Selatan, bermula dari penurunan drastis harga minyak yang berdampak serius pada penghasilan negara. Keputusan Hugo Chavez untuk menasionalisasi sejumlah perusahaan minyak asing yang beroperasi di Venezuela tidak berimbas perbaikan ekonomi, melainkan mendorong negara ini semakin dalam ke jurang.

Lebih dari sekadar identitas

Sentimen identitas adalah salah satu faktor yang memicu penguatan nasionalisme di suatu komunitas, yang selanjutnya dapat berujung dengan nasionalisasi aset-aset perusahaan asing di wilayah tersebut. Identitas tidak dapat ditolak, karena inilah “pemberian” pertama orang tua dan negara kepada anak-anak di hari pertama mereka dilahirkan. Identitas yang jelas memudahkan pengurusan administrasi, tetapi kehidupan nyata kadang berjalan tidak sejelas identitas sebagian besar manusia di muka Bumi ini.  

Walaupun didasari kesadaran tentang eksistensi identitas, berbagai kepercayaan asli (native faith) di beberapa tempat di dunia lebih menekankan tentang keterkaitan antara si penganut dan alam sekitar, interaksi mereka, serta apa yang perlu dilakukan sebagai wujud pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri. Maausk (secara literal bermakna kepercayaan bumi), merupakan salah satu kepercayaan asli masyarakat Estonia yang didirikan dan dijalankan dengan berpedoman pada ketetapan ini. 

Ilustrasi: koleksi pribadi 

Tempat suci mereka adalah alam; hutan, sungai, bukit, pegunungan, bebatuan, yang telah menerima status sebagai tempat sakral dan dilindungi pemerintah sejak era Soviet. Meletakkan sesaji sebagai ungkapan rasa terima kasih atas segala keberlimpahan alam dibarengi dengan aturan bahwa seorang penganut tidak diperkenankan berada dalam kondisi psikologis yang negatif (sedih atau marah) saat mengunjungi tempat suci. Aturan ini pada gilirannya mendidik para penganut Maausk untuk dapat mengontrol diri sendiri di tengah pasang surut kehidupan.

Pada saat-saat tertentu, para penganut Maausk membawa sesajen dalam bentuk makanan yang dimasak sendiri di rumah. Masakan ini dibawa ke tempat sakral, dihaturkan kepada para leluhur sebagai bentuk rasa hormat dan kasih sayang bagi mereka yang sudah membuka tempat di mana kita berada saat ini berikut pondasi nilai dan norma. Setelah itu, masakan dimakan bersama para penganut layaknya piknik keluarga.

Nasib sebagai “pemberian”

Beragam ketidakberuntungan yang datang dalam kehidupan suatu bangsa bukanlah peristiwa sekonyong-konyong, ada proses panjang di baliknya. Apa pun retorika yang sedang mengemuka tentang nasionalisasi perusahaan asing, kemawasan diri kita diperlukan guna mengakui bahwa tindakan tersebut melanggar hukum internasional, apa pun alasan yang mendorong terjadinya peristiwa itu. Karena kita hidup di sebuah dunia yang berjalan berkat peraturan, maka selalu ada konsekuensi akibat pelanggaran peraturan.

Sejarah mencatat sederet negara melakukan nasionalisasi aset-aset satu perusahaan asing atau lebih yang beroperasi di negara mereka, mereka yang di belakang hari menyesali “pemberian” hidup berupa hukuman maupun penyesalan. Peraturan bukan satu-satunya petunjuk tentang mengapa kita sebaiknya tidak melanggar kesepakatan yang sudah kita buat dengan pihak lain. Kerugian materi akibat tindakan unilateral kita akan mendorong pihak yang kita rugikan untuk mencari kompensasi dengan berbagai cara, termasuk cara yang merugikan kita dalam jangka panjang hingga entah kapan.

Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kepercayaan asli merupakan salah satu cara yang dapat kita pelajari guna meningkatkan kesadaran atas alur pikiran dan kondisi psikologis diri sendiri. Inilah pijakan yang kita butuhkan sebelum melangkah ke tahap selanjutnya dalam rangka menghindarkan diri dari penyesalan akibat keputusan dan tindakan kita. (dswas)

Rabu, 17 Desember 2025

Menakar Ungkapan Terima Kasih Yang Aman

Olahraga tak bisa dipisahkan dari politik … dan kesenangan. Di balik gemerlap pesta olahraga dunia, seperti Olimpiade dan Piala Dunia FIFA, kisah-kisah kelam yang sama sekali tak ada hubungannya dengan olahraga menjadi penentu berlangsungnya turnamen. Saya tak membicarakan tentang sanksi olahraga akibat perang, melainkan proses panjang, berliku, dan ‘abu-abu’ terpilihnya suatu negara sebagai tuan rumah event olahraga internasional.

Tom Welch (seorang pengacara) dan David Johnson (ekonom) merupakan dua tokoh pejabat publik di pucuk pimpinan Salt Lake Bid Committee (Panitia Olimpiade Salt Lake), sebuah organisasi yang dibentuk untuk menangani pengajuan diri kota tersebut sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Komite ini sudah ‘berjuang’ mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade sejak 1986, tetapi berulang kali ditolak karena status sebagai kota besar di negara maju (Amerika Serikat) ternyata bukan jaminan memenangi hak sebagai tuan rumah turnamen besar.

Setelah Salt Lake kembali gagal menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di tahun 1998, Welch gusar karena hak penyelenggara jatuh ke kota Nagano, Jepang (di mana Jepang adalah negara taklukkan Amerika Serikat di Perang Dunia II). Dibanding Piala Dunia FIFA, menjadi tuan rumah Olimpiade tidak selalu berarti peluang penghasilan dari kunjungan para suporter. Meski demikian, ada prestise dan kebanggaan yang akan dikenang masyarakat hingga bertahun-tahun setelahnya sebagai sebuah kota yang pernah mempersatukan berbagai negara sedunia dalam satu event olahraga.

Melalui koneksinya, Welch dan jaringannya berhasil mendapat bocoran bahwa Komite Olimpiade Nagano telah menghabiskan puluhan juta dolar untuk “acara selamat datang” bagi 62 anggota IOC (Komite Olimpiade Internasional) dari berbagai negara. Komite itu diduga telah menghabiskan sekitar 14 juta dolar untuk mengadakan acara makan malam sushi berkualitas terbaik, mandi air panas, dan para geisha.

Berdasarkan informasi ini, Komite Olimpiade Salt Lake menambah anggaran “pra-Olimpiade” mereka menjadi 16 juta dolar. Dana sebesar itu mereka gunakan untuk memberikan “hadiah’ bagi 20 orang anggota IOC dalam bentuk uang tunai, bingkisan, tiket pesawat dan akomodasi, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka.

Salt Lake memang berhasil memenangi hak sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Akan tetapi, skandal keuangan ini terungkap beberapa bulan kemudian melalui investigasi yang dilakukan IOC dan Departemen Kehakiman AS. Hasilnya, Welch dan rekan-rekannya dibebaskan dari segala tuduhan, sementara 20 anggota IOC yang terlibat diberhentikan dari jabatan mereka. Tidak ada sanksi hukum yang dijatuhkan karena pemberian hadiah (dan menerimanya) dianggap tidak melanggar peraturan apa pun.

Pelestarian berawal dari memuliakan

Mengungkapkan rasa terima kasih bisa dilakukan dengan banyak cara, dan yang terpenting adalah melalui perbuatan. Mencermati contoh di atas, adalah naif apabila kita tidak merasakan keharusan untuk membalas segala hal yang menyenangkan dengan tindakan setara. Mudah sekali untuk membalas sebuah perbuatan baik apabila si pelaku perbuatan tersebut adalah manusia. Melanggar hukum atau tidak, itu tergantung peraturan di negara masing-masing. 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Persembahan (atau disebut juga sesaji) adalah tindakan yang dilakukan para penghayat Kepercayaan Asli Lithuania (Romuva) sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada alam seisinya atas hal-hal yang mereka ambil dari alam. Ini mencakup udara, air, kayu, hewan, tumbuhan, bahkan sumber daya alam seperti minyak dan gas. Dalam perspektif Romuva, rasa terima kasih perlu dirupakan sebagai cara menanamkan rasa rendah hati, komitmen, dan kesadaran untuk senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Berawal dari rasa muak yang ditunjukkan peradaban modern belakangan ini, Romuva tumbuh menjadi organisasi berskala regional yang diakui pemerintah Lithuania. Berkat sudut pandang para penghayatnya yang terbuka, mereka menemukan banyak kemiripan dalam Hindu, terutama dalam hal pemuliaan terhadap leluhur dan alam sekitar. Keduanya juga sama-sama memaknai api sebagai sarana untuk menyempurnakan sesaji yang mereka haturkan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada alam sekitar.

Melemparkan makanan (biji-bijian atau mentega) ke dalam api artinya kita “membuang” sesuatu yang sudah kita dapatkan dengan susah payah (bekerja, bertani, memasak, dll.) untuk dikembalikan pada alam. Dalam perspektif modern, ini adalah perbuatan sia-sia karena kita membuang-buang sesuatu yang seharusnya bisa kita nikmati bersama keluarga, apalagi di tengah situasi ekonomi sulit di mana kita harus berhemat agar bisa bertahan hidup.

Di zaman lampau, masyarakat tidak memiliki pikiran semacam ini karena gaya hidup mereka masih sangat sederhana, demikian pula kebutuhan mereka. Mereka tidak khawatir mengorbankan milik mereka demi sesuatu yang “bukan apa-apa”, karena apa yang mereka korbankan sebagai sesaji hari ini akan kembali tumbuh untuk mereka panen sebagai pemenuhan kebutuhan hidup di masa depan. Namun, pola pikir semacam ini dianggap tidak relevan seiring dengan biaya kebutuhan hidup yang kian hari kian mencekik.

Beratnya pengorbanan

Ketika Komite Olimpiade Salt Lake menandatangani persetujuan untuk merogoh 16 juta dolar dari anggaran pemerintah kota demi menyenangkan hati para anggota IOC, ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan sehingga mereka rela “bertaruh” sekian puluh juta dolar demi terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. Artinya, “pengorbanan” ini dilakukan hanya dengan setengah hati karena komite tersebut tidak menggunakan uang pribadi masing-masing anggota demi tercapainya suatu status sebagai tuan rumah Olimpiade.

Dalam konteks Romuva, mengungkapkan rasa terima kasih pada alam sekitar bukanlah sesuatu yang sia-sia karena para penghayatnya bisa menyadarkan diri sendiri tentang manfaat tindakan itu sendiri. Sesaji biasanya terdiri dari bahan-bahan yang mudah terdegradasi (bunga, dedaunan, kemenyan, buah-buahan, biji-bijian, dll.) setelah terbakar dalam api. Sisa-sisa pembakaran akan dibuang ke tanah dan bertransformasi menjadi humus seiring waktu, sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya walaupun kita terus mengambil darinya. Hasil pengorbanan memerlukan proses dan tidak instan.

Namun, kita merasa berat melakukannya karena “waktu adalah uang” dan menghitung hari pohon tumbuh besar adalah aktivitas yang membuang waktu, dan uang, tentunya …  (dswas)

Sabtu, 13 Desember 2025

Ilmu Kuno, Salah Satu Cara Selamat Dari Bencana Alam

Siapakah yang patut disalahkan ketika terjadi bencana banjir yang menghanyutkan korban jiwa maupun harta benda: apakah hujan deras, cuaca ekstrem, perubahan iklim, deteksi dini bencana yang tidak berfungsi, atau kelalaian manusia?  Peradaban manusia tengah mengalami suatu masa genting yang menguji seberapa mampu mereka menghadapi dinamika hidup yang digerakkan oleh kekuatan alam.

Kita memiliki ambisi untuk selalu lebih sempurna daripada generasi sebelum kita dalam berbagai hal dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga mencapai level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Tujuan kita memelihara kehidupan dan mengangkatnya ke level tertinggi demi kesejahteraan bersama umat manusia adalah yang menggerakkan langkah dan pencapaian kita di hari ini.


Ilustrasi: koleksi pribadi


Peradaban manusia telah mengantarkan mereka berpetualang di luar angkasa, tetapi ada satu hal yang belum bisa mereka taklukkan sepenuhnya. Yaitu, cuaca. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam yang disebabkan cuaca buruk kian meningkat sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Ketika para aktivis lingkungan hidup melemparkan tuduhan pada perusahaan minyak dan gas sebagai penyebab utama perubahan iklim, mereka lupa mengedukasi masyarakat tentang cara bertahan hidup dan menyelamatkan diri di tengah berbagai peristiwa alam yang diduga kuat terjadi akibat perubahan iklim, antara lain, banjir, tanah longsor, badai, dan kekeringan.

Akibatnya, korban terus berjatuhan sebagai dampak peristiwa bencana alam di atas yang sebenarnya bukan hal baru dan sudah pernah terjadi ratusan atau ribuan tahun lalu sejak dunia ini ada. Generasi lampau manusia mampu menyadari bahwa fenomena alam tidak dapat mereka ubah atau pengaruhi, sehingga mereka mengembangkan pengetahuan kuno untuk bertahan hidup di tengah situasi jagat raya yang terus berubah. Salah satunya adalah pengetahuan kuno tentang membaca tanda-tanda cuaca.

Berawal dari kepercayaan kuno

Pengetahuan kuno sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat terbentuk dari perpaduan antara kondisi sekitar dan kesadaran spiritual dalam bentuk kepercayaan asli (native faith). Pemuliaan terhadap alam dan fenomena yang menyertainya menumbuhkan keingintahuan peradaban muda manusia untuk lebih mengenal karakternya, sebagai suatu langkah awal untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian dunia seisinya.

Jutaan masyarakat kuno penghayat kepercayaan asli di seluruh dunia mengembangkan pengetahuan alam mereka berangkat dari rasa hormat mereka terhadap unsur-unsur alam, termasuk masyarakat kuno Slavia Timur. Mereka bukan hanya mengembangkan ilmu tentang pemeliharaan alam sekitarnya melalui penyakralan unsur-unsur alam menurut Kepercayaan Asli Slavia, tetapi juga pengetahuan yang berkaitan dengan menafsirkan tanda-tanda alam sebelum terjadinya peristiwa besar yang bisa mengancam keselamatan mereka.

Di Polandia, di mana minat masyarakat terhadap kepercayaan asli sedang menguat belakangan ini, dibentuk pendekatan modern untuk memahami perilaku unsur-unsur alam (bulan, matahari, langit/ udara, air, tanah, hewan, tumbuhan, dll.) sebelum terjadinya peristiwa tertentu. Pendekatan modern ini berakar dari pengetahuan kuno dari para leluhur yang tekun mengamati alam dan mengingat, lalu meneruskannya secara lisan ke generasi di bawahnya.

Di era modern, kita bisa mengandalkan aplikasi cuaca atau badan meteorologi setempat sebagai penyedia informasi cuaca tepercaya. Di masa lalu, prediksi cuaca berikut intensitasnya merupakan hasil penafsiran lebih dari satu pertanda. Sebagai contoh, perilaku tumbuhan atau hewan tertentu bisa menjadi pertanda hujan akan segera turun. Bila malam sebelumnya terjadi bulan purnama disertai halo di sekelilingnya, ini pertanda bahwa ada peristiwa besar yang datang bersama hujan (banjir, badai) dalam waktu dekat.

Saling membutuhkan, saling menghancurkan

Kepercayaan asli tidak menjanjikan pahala karena berpedoman pada kewawasan diri tentang sebab dan akibat. Memuliakan (yang bersinonim dengan ‘memuja’) alam dalam bentuk sesaji merupakan bentuk pengakuan si pelaku terhadap keberadaan alam, sehingga ia pun akan menahan diri dari melakukan tindakan pengabaian terhadap eksistensi alam itu sendiri. Mengabaikan alam dalam bentuk eksploitasi berlebihan akan berujung pengabaian alam terhadap eksistensi kita. Sesederhana itu.

Hukum ini masih tidak berubah hingga saat ini, walaupun baik alam maupun peradaban manusia sudah mengalami perubahan besar. Karena berbagai faktor, keduanya tetap saling membutuhkan dan saling menghancurkan di saat yang sama. Namun, seharusnya kita tidak perlu cemas apabila sudah mengetahui dan menyadari sedikit dan banyak campur tangan kita sebagai penyebabnya. (dswas)

Rabu, 10 Desember 2025

Berharap Tuah Pohon Tua Yang Muda Selamanya

Piala Dunia 2026 merupakan momen selamat tinggal bagi sederet bintang lapangan, antara lain Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luka Modric, Antoine Griezmann, Manuel Neuer, Robert Lewandowski, Kevin de Bruyne, Virgil van Dijk, Mohamed Salah, dan Neymar Jr (jika ia dipanggil masuk timnas). Beberapa dari mereka sudah mengumumkan secara resmi akhir tugas internasional sebagai pemain timnas, sedangkan sebagian lainnya merupakan spekulasi media mengingat faktor usia yang sudah menginjak paruh 30-an tahun.

Menariknya, para bintang baru yang sedang berebut tahta Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah para penggemar dua GOAT tersebut. Erling Haaland dan Alejandro Garnacho, misalnya, adalah fans Ronaldo sejak mereka kecil sampai saat ini. Para penggemar Liga Inggris pasti dapat membaca tindak-tanduk Haaland yang sangat terinpirasi gaya Ronaldo: percaya diri di lapangan dan sedikit arogan. Garnacho bahkan menirukan gaya selebrasi CR7, termasuk kebiasaan mencibir suporter tim lawan.

Lionel Messi cukup beruntung diidolakan dua bintang muda Jerman dan Spanyol yang sedang jadi sorotan media, Jamal Musiala dan Lamine Yamal. Musiala menunjukkan karakter Messi di masa mudanya, rendah hati sembari tak henti memamerkan kelincahan dan kepiawaian di lapangan. Sementara itu, Yamal yang saat ini membela mantan klub Messi sedang menghadapi media dan para pengguna media sosial akibat perilakunya yang dianggap sama sekali bertolak belakang dari Messi, si low-profile.

Ilustrasi: koleksi pribadi

Sakral karena karakter

Dalam Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith), pohon pinus dianggap sakral karena karakternya menjadi pedoman tentang ketegaran hati di segala kondisi. Pohon pinus termasuk jenis pohon evergreen, yaitu pohon yang tetap berdaun hijau di segala musim, baik musim semi, musim panas, musim gugur, bahkan musim dingin. Pohon pinus dewasa akan lebih kuat di tengah cuaca ekstrem dibanding pinus muda, sehingga para penghayat kepercayaan ini pun menganggap pohon pinus sebagai perlambang bagi harapan ketika hidup tidak sedang baik-baik saja.

Namun, bukan hanya sisi filosofi saja yang membuat sekelompok komunitas penghayat Kepercayaan Asli Slavia di Baikal, Rusia, menyakralkan sebuah hutan pinus di wilayah itu. Hutan pinus berperan penting dalam keberlanjutan ekologi berkat kemampuannya menyerap karbon, apalagi pohon pinus tua dikenal dapat menyerap lebih banyak karbon dan melepaskan lebih banyak oksigen. Salju yang bertengger di ujung daun pohon pinus akan mencair perlahan di musim semi, sehingga air yang terbentuk tidak sampai mengalir deras menjadi banjir. Selain akar-akarnya yang mampu mengikat air, buah pinus jenis tertentu hanya dapat beregenerasi saat suhu udara memanas akibat kebakaran hutan.  

Para peneliti Rusia menemukan bahwa salah satu pohon pinus di Pulau Olkhon, Baikal, sudah berumur 400 tahun. Pohon pinus setinggi 20 meter dengan dengan batangnya masih segar, dan 90% cabang-cabangnya masih beregeneras,i berdiri di tengah hutan yang dianggap sakral oleh para leluhur wilayah itu. Ketika hutan sakral itu beralih fungsi menjadi pemukiman dan pabrik pengolahan ikan, pohon pinus tua ini dipertahankan dan dinobatkan sebagai monumen oleh LSM, akademisi, dan Departemen Kehutanan Rusia.

Muda selamanya

Berkaca dari kisah pohon pinus sakral di Pulau Olkhon di atas, sesuatu yang kita sayangi, hargai, dan pelihara dengan baik akan hidup lebih tahan lama guna membayar kembali apa yang sudah kita lakukan untuknya. Pohon sakral ini terus bertahan menunjukkan apa yang ia bisa di usia yang tak lagi muda, memberikan manfaat bagi kelestarian alam sekitar dan kehidupan manusia di sekitarnya, hingga ia dianugerahi status sebagai monumen.  

Entah apa yang sedang berkecamuk di hati Ronaldo dan Messi belakangan ini menjelang turnamen internasional terakhir mereka sebagai pemain tim kebanggaan negara masing-masing. Keduanya mungkin masih akan bermain beberapa tahun di level klub, walaupun tak segemerlap era rivalitas El Clasico. Akan tetapi, ada eks pesepakbola top yang justru menuai sukses di bidang baru mereka di luar dunia sepak bola.

Michael Owen, pemain muda MU di era 90-an, meraih sukses di bidang peternakan kuda pacuan. George Weah, yang lebih berprestasi bersama klub AC Milan dibanding timnas di masa mudanya (juga di era 90-an), terpilih menjadi Presiden Liberia setelah ia terjun ke dunia politik di masa pensiunnya. Sementara itu, Hidetoshi Nakata, salah satu generasi pertama pemain Asia di klub elit Eropa, pensiun dini di usia 29 tahun dan meraih sukses di panggung catwalk.

Karena banyak faktor, jumlah eks pesepakbola top bernasib sama seperti mereka tidak banyak. Apa tepatnya yang menggerakkan mereka untuk terus bergerak bagaikan pohon pinus tua yang terus menumbuhkan cabang-cabang baru, itulah yang perlu kita selidiki lebih lanjut. (dswas)

Minggu, 07 Desember 2025

Mengapa Air Kehidupan Berubah Jadi Air Kematian?

Aqua vitae, air kehidupan, diyakini dapat menyembuhkan demam, sakit kepala, mematikan kuman-kuman dalam daging atau sayur-sayuran, mencegah masuk angin, melancarkan pencernaan, mencegah penyakit ginjal dan liver, membuat tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, air kehidupan juga dipercaya dapat meningkatkan daya ingat seseorang sekaligus menumbuhkan keberanian.

Di Abad Pertengahan atau jaman Renaissance, air penyelamat hidup ini diciptakan dari proses penyulingan beberapa jenis bahan seperti beras, gandum, dan, tentu saja, anggur. Anggur? Ya. Di abad 12, minuman beralkohol alias minuman keras bukanlah minuman bagi mereka yang ingin melupakan segala masalah dengan mabuk-mabukan, melainkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit. Sesuai namanya: air yang membangkitkan kembali gairah hidup dalam tubuh manusia.

Menurut sejarahnya, teknologi awal penciptaan minuman keras berasal dari teknik penyulingan yang ditemukan para kimiawan Yunani dan Persia. Teknologi ini dikembangkan untuk tujuan mengubah logam mentah menjadi logam mulia dan air kehidupan yang membuat manusia hidup abadi. Ketika Arab menaklukkan Alexandria dan Persia, teknologi ini mereka pelajari lalu dikembangkan lebih jauh oleh para ilmuwan Arab untuk memproduksi minuman keras.

Di abad 12 teknologi ini pun kemudian menyebar ke Eropa, tepatnya di Eropa Selatan, di mana dua universitas masing-masing di Salermo (Italia) dan Montpeiller (Prancis) menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan penyulingan minuman beralkohol. Namun, minuman keras yang diproduksi di dua kampus ini ditujukan untuk keperluan medis dan bukan minuman untuk dikonsumsi. Sebagaimana tujuan awal penciptaan alkohol, yaitu sebagai pembasmi kuman (disinfektan).

 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Kerusakan lingkungan tanda masalah spiritual

Era baru di beberapa negara Eropa Timur yang dimulai awal 90-an membuka jalan bagi kebangiktan sejumlah agama/kepercayaan asli di wilayah itu. Meski dikenal memiliki sosok pemimpin yang dikenal keras hati dan sering didemo warganya, yaitu Perdana Menteri Viktor Orban, tetapi iklim Hungaria cukup kondusif bagi beberapa aliran kepercayaan asli Hungaria beserta para penghayatnya. Mereka tidak dilarang menyebarkan ajaran kepercayaan mereka, tidak juga harus berkompromi dengan masyarakat yang tidak toleran.  

Sebagaimana sebagian besar aliran kepercayaan asli di berbagai penjuru dunia, para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria yakin bahwa alam bukanlah benda mati yang bisa dieksploitasi sekehendak hati. Air, misalnya, merupakan unsur penting dalam sejumlah upacara adat, terutama yang berkaitan dengan penyembuhan. Apabila air tercemar, maka mereka tak bisa lagi memanfaatkan air untuk membantu menstimulasi sel-sel dalam tubuh agar dapat tumbuh dan tubuh sehat kembali.

Menurut perspektif Kepercayaan Asli Hungaria, menjaga keseimbangan energi antara dunia manusia dan alam diwujudkan bukan hanya dengan memberikan sesaji, tetapi juga dalam bentuk memelihara kelestariannya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika sebuah komunitas memiliki kesadaran spiritual yang bukan hanya sebatas tata cara beribadah, tetapi lebih kepada kesadaran tentang keterkaitan mereka dengan apa yang ada di sekelilingnya, termasuk air, udara, bumi, pepohonan, dan api.

Melakukan tindakan yang memicu ketidakseimbangan antara dunia manusia dan alam sekitar dianggap sebagai tindakan merugikan diri sendiri, apa pun tujuan yang melatarbelakanginya. Mereka yang melakukannya dianggap tersesat secara spritiual karena tidak menyadari posisinya di tengah alam sekitar. Sehingga tidak berlebihan bila para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria menganggap kerusakan lingkungan menandakan ada yang tidak beres dalam spiritualitas individu maupun kelompok yang bersangkutan.

Keselamatan bisa diusahakan

Salah satu kekeliruan terbesar yang sering dilakukan masyarakat religius adalah pandangan memasrahkan keselamatan diri mereka pada nasib, yang didasari asumsi bahwa mereka akan selamat karena sudah berperilaku baik sesuai peraturan dalam agama dan kepercayaan masing-masing. Sikap pasrah pada level tertentu bisa berbahaya, karena dunia dan seisinya tidak berperilaku berdasarkan keinginan para makhluk yang tinggal di dalamnya.

Keselamatan bukanlah hal yang muncul sekonyong-konyong, melainkan suatu hasil dari rentetan tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya dengan tujuan mempertahankan keberlanjutan hidup. Memang memelihara kehidupan itu rumit dan berbelit, karena menikmati hidup sepuas-puasnya selalu lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Sebagai contoh, minum alkohol sampai K.O selalu lebih mudah daripada memikirkan takaran yang tepat agar alkohol bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Saya tidak bermaksud menceramahi. Namun, sebagai seseorang yang pernah mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor dan satu perkelahian di bawah pengaruh alkohol di usia 20-an, saya berharap yang terbaik bagi siapa pun yang sedang menghadapi situasi problematik tersebut. (dswas)



Selasa, 02 Desember 2025

Menghindari “Jeratan” Kekayaan Alam

Berapa sih uang yang bisa kita dapat dari menjual kayu gelondongan? Dari satu meter kubik kayu gelondongan berkualitas baik, kita bisa membawa pulang uang sekitar Rp 5 sampai 7 juta (untuk jenis kayu jati dan mahoni). Untuk kayu merbau dan kayu keras tropis lainnya bisa lebih tinggi lagi, yaitu sekitar Rp 15 juta per meter kubik. Bila dikonversi ke dolar, nilainya bisa mencapai USD 300-900 per meter kubik, tergantung jenis dan kualitas kayu.

Dengan kata lain, hanya dari 100 meter kubik kayu gelondongan seseorang bisa mengantongi uang senilai USD 30.000 atau sekitar Rp 500 juta lebih, tanpa berjualan apa pun atau bekerja sampai larut malam. Cukup datang mengunjungi sebuah hutan lalu membabat habis seluruh pohonnya, lalu kita dan keluarga kita bisa kaya mendadak.

Kayu dari hutan hujan tropis kuno sepertu hutan Amazon, Lembah Kongo, Sumatra dan Kalimantan (yang tinggal cerita) sangat diminati dan bernilai tinggi karena kualitas kayunya lebih baik daripada kayu hutan tanam industri. Serat kayu tua lebih rapat, batangnya lebih besar, lebih tahan lama, dan pola inti kayunya pun lebih indah dibandingkan kayu hutan tanaman industri.

Untuk memperoleh kayu gelondongan dari hutan tanaman industri, seseorang harus meluangkan waktu untuk membuka lahan, menanami lahan tersebut, melakukan pemeliharaan. Kayu hutan hujan tropis lebih praktis karena kita hanya perlu mengambilnya dari hutan dan tak perlu membayar apa pun, alias gratis. Tinggal ambil dan bawa pulang.

Maka sangat bisa dipahami apabila seseorang memilih berbisnis di bidang perkayuan daripada bidang lainnya, karena nilai ekonominya benar-benar menggiurkan dan tak butuh terlalu banyak “pengorbanan”.

Namun, karena bisnis ini sangat tergantung pada jumlah kayu yang tersedia di hutan hujan tropis (bukan hutan tanaman industri), maka para pebisnis di bidang ini perlu berhati-hati ketika luas hutan hujan tropis semakin sedikit. Mereka bisa terancam tak lagi mendapat penghasilan mudah dan cepat apabila seluruh hutan hujan tropis di muka Bumi ini telah lenyap.


Ilustrasi: koleksi pribadi 


‘Produk’ masa lalu yang berkualitas  

Masyarakat Kepercayaan Asli Tajik menganggap suci pepohonan jenis tertentu, mengaitkannya dengan fungsi sakral pepohonan sebagai tempat tinggal para leluhur dan pelindung bagi kelompok yang tinggal di sekitarnya. Aliran kepercayaan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Tajikistan di wilayah tertentu juga melarang penebangan pohon tua secara sembarangan, sehingga saat ini kita masih dapat menjumpai pohon murbai dan cemara yang sudah berumur ratusan dan ribuan tahun di negara eks Soviet tersebut.

Salah satu ritual yang masih dijalankan masyarakat Tajikistan adalah mengikatkan secarik kain pada pohon yang disucikan sebagai bentuk simbolis mencari penghiburan dari kesulitan yang tengah dihadapi, entah itu penyakit, kesedihan, atau ketidakberuntungan lain dalam hidup. Orang-orang yang tidak memahami kebiasaan orang Tajikistan akan menganggap mereka sesat, walaupun kita tahu bahwa perspektif kita bukanlah satu-satunya penyebab dunia ini dapat bertahan.

Ternyata para leluhur Tajikistan sudah sangat memahami fungsi dan manfaat berbagai jenis pohon yang dianggap sakral jauh sebelum peradaban manusia mengenal ilmu botani. Pohon murbai dan cemara, misalnya, memiliki sistem akar yang kuat sehingga membantu mencegah terjadinya tanah longsor dan banjir lumpur di desa-desa yang terletak di pegunungan. Pepohonan jenis ini juga membantu mencegah erosi di area tepian sungai. Akar yang kuat sangat penting bagi pemeliharaan sumber-sumber air untuk keperluan sehari-hari, sehingga pohon murbai ditanam di sekitar aliran air. Pohon murbai juga dikenal membantu menyaring udara dari debu, cocok ditanam di daerah yang kering dan berangin kencang.  

Spiritualitas yang membawa kesejahteraan  

Kekayaan alam yang tersimpan di sekitar kita sungguh luar biasa, karena bisa membuat kita tergoda untuk menguasainya demi sejumlah uang. USD 30 ribu yang bisa kita dapat dari menjual 100 meter kubik kayu hutan hujan tropis dari Sumatra, misalnya. Akan tetapi, krisis finansial global menunjukkan kian tipisnya perbedaan antara uang USD 1 dan USD 100, karena kedua nominal itu sama-sama bisa habis dalam waktu singkat.

Tajikistan bukanlah negara yang sangat maju seperti negara-negara Eropa Barat, sehingga deforestasi juga menjadi masalah serius di negara seluas 141 km persegi tersebut. Pemerintah Tajikistan berupaya melibatkan masyarakat setempat yang masih mempraktikkan Kepercayaan Asli Tajik dalam sejumlah proyek restorasi hutan. Peran mereka dianggap penting karena kepercayaan yang mereka jalankan dianggap mampu menjadi penuntun dan penggugah kesadaran mereka untuk menjaga kelestarian hutan.

Di tengah himpitan arus modernisasi dan generasi muda yang menolak mempelajari kebijaksanaan leluhur, masyarakat Kepercayaan Asli Tajik terus berusaha menjaga dan melestarikan hutan mereka. Mereka adalah sedikit dari sekian jumlah orang di luar sana yang masih memahami bahwa sejumlah uang yang didapat dari menebang pohon di hutan tak sebanding nilainya dengan kerusakan akibat musnahnya pepohonan. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...