Cedera ACL (anterior cruciate ligament) merupakan cedera yang paling ditakuti para pemain sepak bola sedunia. Meski ‘hanya’ menyerang kaki, tetapi dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih tanpa sekali pun ‘merumput’ guna mempertahankan reputasi agar dilirik untuk masuk timnas dan ikut ‘perang’ dalam kompetisi besar (Piala Dunia, Liga Champions, dll.). Tak sedikit pemain yang sinarnya meredup gara-gara cedera ini, bahkan berhenti sama sekali dari dunia yang membesarkan nama mereka.
Tak hanya atlet yang bisa cedera, orang biasa (termasuk
mereka yang jarang olahraga) pasti pernah mengalaminya. Entah karena kecelakaan
kecil di masa kanak-kanak, kecelakaan sepeda motor, atau salah posisi tidur,
otot dan saraf yang berkelindan dalam tubuh kita tidak selalu berada di jalur
yang benar atas kehendak mereka sendiri. Dengan penanganan medis modern maupun
tradisional, mereka akan kembali ke jalurnya, plus disertai kehati-hatian dalam
bergerak guna mencegah terjadinya ‘insiden’ serupa.
Percaya atau tidak, sebuah keseleo yang tampaknya sepele
bisa berkontribusi pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah,
atau bahkan menyebabkan kematian. Logikanya, keseleo terjadi akibat urat yang
mendadak dipaksa melenceng; tidak berada di tempat atau bekerja secara
semestinya. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa pada tubuh kita bila keseleo
dibiarkan 1-2 hari. Namun, pembiaran selama bertahun-tahun dapat berujung pada
masalah kesehatan serius yang bisa mengganggu aktivitas dan bahkan wellbeing kejiwaan kita.
Memulihkan cedera alam
Dalam sudut pandang Kepercayaan
Asli Azerbaijan, alam dan manusia tidak terpisahkan. Manusia mengambil
segalanya dari alam, mulai dari udara, air, pohon, bahkan tanah, demi
mempertahankan hidup. Oleh karena itu, kepercayaan tradisional Azerbaijan
mengajarkan agar manusia memanusiakan alam, khususnya pepohonan.
Di zaman dahulu, manusia bergantung pada pepohonan sebagai
bahan baku pendirian rumah, pakaian, bahkan bahan makanan dan obat-obatan. Para
leluhur Azerbaijan menyadari bahwa pepohonan itu hidup, sehingga mereka
dianggap punya derajat yang sama dengan manusia. Mereka yakin pepohonan
menangis ketika mereka memotong dahannya, demikian pula tetumbuhan yang dicabut
dari tanah hingga akar-akarnya. Jauh sebelum manusia mampu mengoreksi ‘kekeliruan’
alam, ada suatu masa di mana mereka menganggap pepohonan adalah para nyonya
baik hati yang selalu memenuhi apa yang dibutuhkan manusia dari mereka.
Berdasarkan pandangan ini, para penganut Kepercayaan Asli
Azerbaijan memberikan penghormatan kepada alam dan seisinya setiap kali mereka
hendak memanfaatkan atau mengambil sesuatu dari alam, baik dalam jumlah besar
maupun kecil. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai permohonan izin untuk
memotong dahan pohon, atau menebang sebatang atau beberapa pepohonan, telah
menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.
Akibat berbagai faktor, kebiasaan ini pun ditinggalkan. Aneh
bin ajaib, pepohonan lambat laun mulai menghilang
dari Azerbaijan. Sejumlah kalangan menuding aktivitas masyarakat yang menjadi
biang habisnya pepohonan dari rimba Azerbaijan yang dulu mereka banggakan. Akan
tetapi, konsumsi kayu oleh masyarakat untuk pemanas ruangan atau bahan baku
rumah tidaklah semasif konsumsi kayu untuk keperluan industri.
Apa pun alasan dan siapa pun pelakunya, masyarakat modern
Azerbaijan harus bersiap menghadapi konsekuensi dari ‘tangisan’ para pepohonan
yang akan datang sewaktu-waktu menghampiri mereka dalam bentuk banjir, tanah
longsor, atau kekeringan. Namun, belum terlambat untuk bertindak sebelum mereka
benar-benar menangis bersama alam yang cedera.
Sebuah ‘berkah’
Di masa ketika sekumpulan orang berharap keajaiban datang
memperbaiki nasib mereka, ‘berkah’ terbaik adalah berhasil menemukan cedera
lama di tubuh kita dan segera mencari tindakan medis untuk memulihkannya. Saya
menganggapnya berkah karena tidak semua cedera lama bisa ditemukan. Tidak semua
orang bisa membatalkan atau mengenyahkan berbagai penyakit serius yang
menjangkiti tubuh sebagai dampak ikutan pembiaran cedera, baik secara sengaja
atau tidak.
Demikian pula halnya dengan kewawasan diri untuk kembali memanusiakan alam dan pepohonan. Saya juga menyebutnya sebuah ‘berkah’, karena tidak semua orang berhasil menemukan cedera dalam diri masing-masing yang membuat mereka berpaling dari petunjuk hidup harmonis dan bahagia bersama alam. (dswas).