Minggu, 03 Mei 2026

Memulihkan Cedera Perusak Masa Depan

Cedera ACL (anterior cruciate ligament) merupakan cedera yang paling ditakuti para pemain sepak bola sedunia. Meski ‘hanya’ menyerang kaki, tetapi dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih tanpa sekali pun ‘merumput’ guna mempertahankan reputasi agar dilirik untuk masuk timnas dan ikut ‘perang’ dalam kompetisi besar (Piala Dunia, Liga Champions, dll.). Tak sedikit pemain yang sinarnya meredup gara-gara cedera ini, bahkan berhenti sama sekali dari dunia yang membesarkan nama mereka.

Tak hanya atlet yang bisa cedera, orang biasa (termasuk mereka yang jarang olahraga) pasti pernah mengalaminya. Entah karena kecelakaan kecil di masa kanak-kanak, kecelakaan sepeda motor, atau salah posisi tidur, otot dan saraf yang berkelindan dalam tubuh kita tidak selalu berada di jalur yang benar atas kehendak mereka sendiri. Dengan penanganan medis modern maupun tradisional, mereka akan kembali ke jalurnya, plus disertai kehati-hatian dalam bergerak guna mencegah terjadinya ‘insiden’ serupa.

Percaya atau tidak, sebuah keseleo yang tampaknya sepele bisa berkontribusi pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah, atau bahkan menyebabkan kematian. Logikanya, keseleo terjadi akibat urat yang mendadak dipaksa melenceng; tidak berada di tempat atau bekerja secara semestinya. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa pada tubuh kita bila keseleo dibiarkan 1-2 hari. Namun, pembiaran selama bertahun-tahun dapat berujung pada masalah kesehatan serius yang bisa mengganggu aktivitas dan bahkan wellbeing kejiwaan kita.


Ilustrasi: Sumber Gentong, Tirtomoyo, Pakis, Malang.


Memulihkan cedera alam

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Azerbaijan, alam dan manusia tidak terpisahkan. Manusia mengambil segalanya dari alam, mulai dari udara, air, pohon, bahkan tanah, demi mempertahankan hidup. Oleh karena itu, kepercayaan tradisional Azerbaijan mengajarkan agar manusia memanusiakan alam, khususnya pepohonan.

Di zaman dahulu, manusia bergantung pada pepohonan sebagai bahan baku pendirian rumah, pakaian, bahkan bahan makanan dan obat-obatan. Para leluhur Azerbaijan menyadari bahwa pepohonan itu hidup, sehingga mereka dianggap punya derajat yang sama dengan manusia. Mereka yakin pepohonan menangis ketika mereka memotong dahannya, demikian pula tetumbuhan yang dicabut dari tanah hingga akar-akarnya. Jauh sebelum manusia mampu mengoreksi ‘kekeliruan’ alam, ada suatu masa di mana mereka menganggap pepohonan adalah para nyonya baik hati yang selalu memenuhi apa yang dibutuhkan manusia dari mereka.

Berdasarkan pandangan ini, para penganut Kepercayaan Asli Azerbaijan memberikan penghormatan kepada alam dan seisinya setiap kali mereka hendak memanfaatkan atau mengambil sesuatu dari alam, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai permohonan izin untuk memotong dahan pohon, atau menebang sebatang atau beberapa pepohonan, telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.

Akibat berbagai faktor, kebiasaan ini pun ditinggalkan. Aneh bin ajaib, pepohonan lambat laun mulai menghilang dari Azerbaijan. Sejumlah kalangan menuding aktivitas masyarakat yang menjadi biang habisnya pepohonan dari rimba Azerbaijan yang dulu mereka banggakan. Akan tetapi, konsumsi kayu oleh masyarakat untuk pemanas ruangan atau bahan baku rumah tidaklah semasif konsumsi kayu untuk keperluan industri.

Apa pun alasan dan siapa pun pelakunya, masyarakat modern Azerbaijan harus bersiap menghadapi konsekuensi dari ‘tangisan’ para pepohonan yang akan datang sewaktu-waktu menghampiri mereka dalam bentuk banjir, tanah longsor, atau kekeringan. Namun, belum terlambat untuk bertindak sebelum mereka benar-benar menangis bersama alam yang cedera.

Sebuah ‘berkah’

Di masa ketika sekumpulan orang berharap keajaiban datang memperbaiki nasib mereka, ‘berkah’ terbaik adalah berhasil menemukan cedera lama di tubuh kita dan segera mencari tindakan medis untuk memulihkannya. Saya menganggapnya berkah karena tidak semua cedera lama bisa ditemukan. Tidak semua orang bisa membatalkan atau mengenyahkan berbagai penyakit serius yang menjangkiti tubuh sebagai dampak ikutan pembiaran cedera, baik secara sengaja atau tidak.

Demikian pula halnya dengan kewawasan diri untuk kembali memanusiakan alam dan pepohonan. Saya juga menyebutnya sebuah ‘berkah’, karena tidak semua orang berhasil menemukan cedera dalam diri masing-masing yang membuat mereka berpaling dari petunjuk hidup harmonis dan bahagia bersama alam. (dswas).

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...