Murni selalu bersih, tetapi bersih belum tentu murni. Inilah kendala yang dihadapi sebagian besar masyarakat saat mereka diberitahu bahwa 22 Maret telah ditetapkan PBB sebagai Hari Air Internasional. Air bersih dibutuhkan manusia demi kelangsungan hidupnya, baik di kota, pedesaan, padang salju, maupun padang pasir, sehingga berbagai cara dilakukan guna mendapatkannya. Antara lain dengan menggali tanah sedalam-dalamnya, atau mengubah air laut menjadi air tawar. Walaupun tidak berarti air dari hasil ‘jerih payah’ itu tidak layak dikonsumsi, tetapi mereka yang sudah sering mengonsumsi air dari tempat lain pasti bisa merasakan perbedaannya.
Masyarakat yang tinggal di pegunungan sungguh sangat
beruntung berkat sungai dan mata air dari alam. Mereka tidak perlu membanting
tulang mengubah bentuk zat lain menjadi air, melainkan cukup menjaga agar mata
air tidak berhenti mengalirkan air yang senantiasa bersih sepanjang masa. Alam
raya adalah sekolah para leluhur, di mana mereka membentuk sains zaman kuno
yang berakar dari hasil pengamatan tentang segala gerak dan eksistensi di
tengah alam bebas. Ilmu pengetahuan itu kemudian dibungkus dengan gaya
bercerita agar senantiasa menarik dan diingat selalu oleh berbagai generasi di
bawahnya.
Persinggungan dengan berbagai kisah dari luar komunitas
mereka memunculkan tantangan baru untuk menemukan kembali ilmu pengetahuan
buatan para leluhur, yang sudah pasti cocok untuk komunitas tersebut tanpa
banyak drama. Karena drama yang kita butuhkan adalah drama dengan happy ending
di akhir cerita; tuntunan yang segera berbuah hasil, bukan berbuah sekuel baru
drama itu sendiri.
Sumber Konflik
Garis
Durand (Durand Line) sebagai garis pemisah antara wilayah Afghanistan dan
Pakistan saat ini tidaklah ditentukan oleh masyarakat yang tinggal di sana
berabad-abad. Garis sepanjang 2000 km diciptakan oleh para manusia yang datang
dari wilayah lain demi memastikan kelangsungan hidup mereka, yang masih jatuh
bangun menemukan tempatnya di dunia hingga saat ini. Garis itu ditarik dari gugusan
puncak tertinggi dunia, membelah empat sungai (Kunar, Kabul, Kurram, Gomal),
dan berakhir di Danau Zerrah yang terletak di perbatasan antara dua negara
tersebut dengan Iran.
Jauh sebelum Garis Durand diciptakan dan dibentangkan, Suku Kalash tersebar di
wilayah yang dahulu dinamakan Kafiristan dan saat ini bernama Nuristan. Dengan
bahasa, budaya, dan kepercayaan asli yang masih dijalankan sampai sekarang,
suku ini punya cara unik untuk memposisikan kaum perempuan dalam kehidupan
bermasyarakat. Apabila gunung dianggap sebagai representasi dari kemurnian kaum
lelaki, lembah merupakan dipandang sebagai simbol kaum perempuan yang tidak
murni.
Mengapa tidak murni? Karena kaum perempuan mengalami
menstruasi, sedangkan zaman dahulu pembalut wanita masih berada di awang-awang.
Oleh karena itu, demi menjaga kebersihan lingkungan, kaum perempuan suku Kalash
dilarang bepergian ke tempat tertentu, seperti puncak gunung atau tempat mata
air yang dianggap sakral karena fungsinya sebagai sumber penghidupan. Dunia
medis pun mengakui bahwa darah menstruasi bukanlah ‘darah murni’, melainkan
mengandung zat tertentu yang tidak higienis. Maka masuk akal bila seorang
perempuan yang sedang mengalami menstruasi dilarang mandi di sungai yang airnya
dimanfaatkan secara kolektif untuk segala kebutuhan hidup masyarakat tersebut.
Sebagai gantinya, Kepercayaan
Asli Kalash ‘menghadiahkan’ hak istimewa kepada kaum perempuan dengan cara
mempermudah proses perpisahan antara istri dan suami yang sudah lelah mencari
happy ending dalam drama rumah tangga di antara mereka berdua. Istri cukup
menulis surat kepada suami lama untuk menyatakan perpisahan dan memperkenalkan
suami barunya. Selain itu, kaum
perempuan diberi hak untuk menentukan cara pengolahan ladang sekaligus
pengelolaan hasil finansial dari ladang tersebut. Mereka juga tidak dilarang
untuk berbaur bersama kaum lelaki, termasuk menyanyi dan menari bersama di
berbagai acara komunitas, tanpa harus menyelubungi penampilan mereka.
Kemudahan ini dianugerahkan kepada kaum perempuan Suku
Kalash sebagai pengakuan oleh sistem Kepercayaan Asli Kalash terhadap fungsi
dan peran mereka. Akibat keterbatasan biologis di atas, kaum perempuan lebih
banyak tinggal di rumah. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Kalash, rumah
merupakan ‘domain’, wilayah kekuasaan kaum perempuan yang memegang fungsi
sebagai pelindung keluarga dalam hal spiritual. Mereka berhak atas kebahagiaan,
yang pada gilirannya akan menyebarkannya ke seluruh komunitas.
Memilah sumber yang paling layak dikonsumsi
Saya tidak hendak menjadi hakim atas apa yang menimpa dua
(atau tiga) negara di atas. Mengonsumsi air dari sumber yang benar-benar murni
adalah mahal harganya bagi kelompok masyarakat tertentu lantaran kondisi
geografis yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, tidak butuh waktu lama untuk
tahu apa dampak dari segala hal yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, tubuh kita merupakan ‘hakim’ yang paling adil karena ia akan
memberi tahu kita tentang hasil eksperimen hidup yang kita lakukan dalam bentuk
sakit maupun sehat.
Apabila desalinasi jadi satu-satunya cara untuk memenuhi rasa dahaga, apakah air yang kita tenggak sebagai hasil dari proses ini berhasil menghapus rasa dahaga? Inilah salah satu pertanyaan sebagai perimeter filter aktif guna mendapatkan manfaat dari sebuah pemurnian yang sedang kita jalankan. (dswas).