Senin, 23 Maret 2026

Mencari Pemurnian Sebagai Solusi Masalah Hidup

Murni selalu bersih, tetapi bersih belum tentu murni. Inilah kendala yang dihadapi sebagian besar masyarakat saat mereka diberitahu bahwa 22 Maret telah ditetapkan PBB sebagai Hari Air Internasional. Air bersih dibutuhkan manusia demi kelangsungan hidupnya, baik di kota, pedesaan, padang salju, maupun padang pasir, sehingga berbagai cara dilakukan guna mendapatkannya. Antara lain dengan menggali tanah sedalam-dalamnya, atau mengubah air laut menjadi air tawar. Walaupun tidak berarti air dari hasil ‘jerih payah’ itu tidak layak dikonsumsi, tetapi mereka yang sudah sering mengonsumsi air dari tempat lain pasti bisa merasakan perbedaannya.

Masyarakat yang tinggal di pegunungan sungguh sangat beruntung berkat sungai dan mata air dari alam. Mereka tidak perlu membanting tulang mengubah bentuk zat lain menjadi air, melainkan cukup menjaga agar mata air tidak berhenti mengalirkan air yang senantiasa bersih sepanjang masa. Alam raya adalah sekolah para leluhur, di mana mereka membentuk sains zaman kuno yang berakar dari hasil pengamatan tentang segala gerak dan eksistensi di tengah alam bebas. Ilmu pengetahuan itu kemudian dibungkus dengan gaya bercerita agar senantiasa menarik dan diingat selalu oleh berbagai generasi di bawahnya.

Persinggungan dengan berbagai kisah dari luar komunitas mereka memunculkan tantangan baru untuk menemukan kembali ilmu pengetahuan buatan para leluhur, yang sudah pasti cocok untuk komunitas tersebut tanpa banyak drama. Karena drama yang kita butuhkan adalah drama dengan happy ending di akhir cerita; tuntunan yang segera berbuah hasil, bukan berbuah sekuel baru drama itu sendiri.


Illustrasi: Danau Beratan, Bali.


Sumber Konflik

Garis Durand (Durand Line) sebagai garis pemisah antara wilayah Afghanistan dan Pakistan saat ini tidaklah ditentukan oleh masyarakat yang tinggal di sana berabad-abad. Garis sepanjang 2000 km diciptakan oleh para manusia yang datang dari wilayah lain demi memastikan kelangsungan hidup mereka, yang masih jatuh bangun menemukan tempatnya di dunia hingga saat ini. Garis itu ditarik dari gugusan puncak tertinggi dunia, membelah empat sungai (Kunar, Kabul, Kurram, Gomal), dan berakhir di Danau Zerrah yang terletak di perbatasan antara dua negara tersebut dengan Iran.

Jauh sebelum Garis Durand diciptakan dan dibentangkan, Suku Kalash tersebar di wilayah yang dahulu dinamakan Kafiristan dan saat ini bernama Nuristan. Dengan bahasa, budaya, dan kepercayaan asli yang masih dijalankan sampai sekarang, suku ini punya cara unik untuk memposisikan kaum perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila gunung dianggap sebagai representasi dari kemurnian kaum lelaki, lembah merupakan dipandang sebagai simbol kaum perempuan yang tidak murni.

Mengapa tidak murni? Karena kaum perempuan mengalami menstruasi, sedangkan zaman dahulu pembalut wanita masih berada di awang-awang. Oleh karena itu, demi menjaga kebersihan lingkungan, kaum perempuan suku Kalash dilarang bepergian ke tempat tertentu, seperti puncak gunung atau tempat mata air yang dianggap sakral karena fungsinya sebagai sumber penghidupan. Dunia medis pun mengakui bahwa darah menstruasi bukanlah ‘darah murni’, melainkan mengandung zat tertentu yang tidak higienis. Maka masuk akal bila seorang perempuan yang sedang mengalami menstruasi dilarang mandi di sungai yang airnya dimanfaatkan secara kolektif untuk segala kebutuhan hidup masyarakat tersebut.

Sebagai gantinya, Kepercayaan Asli Kalash ‘menghadiahkan’ hak istimewa kepada kaum perempuan dengan cara mempermudah proses perpisahan antara istri dan suami yang sudah lelah mencari happy ending dalam drama rumah tangga di antara mereka berdua. Istri cukup menulis surat kepada suami lama untuk menyatakan perpisahan dan memperkenalkan suami barunya.  Selain itu, kaum perempuan diberi hak untuk menentukan cara pengolahan ladang sekaligus pengelolaan hasil finansial dari ladang tersebut. Mereka juga tidak dilarang untuk berbaur bersama kaum lelaki, termasuk menyanyi dan menari bersama di berbagai acara komunitas, tanpa harus menyelubungi penampilan mereka.

Kemudahan ini dianugerahkan kepada kaum perempuan Suku Kalash sebagai pengakuan oleh sistem Kepercayaan Asli Kalash terhadap fungsi dan peran mereka. Akibat keterbatasan biologis di atas, kaum perempuan lebih banyak tinggal di rumah. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Kalash, rumah merupakan ‘domain’, wilayah kekuasaan kaum perempuan yang memegang fungsi sebagai pelindung keluarga dalam hal spiritual. Mereka berhak atas kebahagiaan, yang pada gilirannya akan menyebarkannya ke seluruh komunitas.  

Memilah sumber yang paling layak dikonsumsi

Saya tidak hendak menjadi hakim atas apa yang menimpa dua (atau tiga) negara di atas. Mengonsumsi air dari sumber yang benar-benar murni adalah mahal harganya bagi kelompok masyarakat tertentu lantaran kondisi geografis yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, tidak butuh waktu lama untuk tahu apa dampak dari segala hal yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, tubuh kita merupakan ‘hakim’ yang paling adil karena ia akan memberi tahu kita tentang hasil eksperimen hidup yang kita lakukan dalam bentuk sakit maupun sehat.

Apabila desalinasi jadi satu-satunya cara untuk memenuhi rasa dahaga, apakah air yang kita tenggak sebagai hasil dari proses ini berhasil menghapus rasa dahaga? Inilah salah satu pertanyaan sebagai perimeter filter aktif guna mendapatkan manfaat dari sebuah pemurnian yang sedang kita jalankan. (dswas). 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...