“Ignorance is a bliss” (Ketidaktahuan itu anugerah) yang dicetuskan pertama kali oleh Thomas Gray, sastrawan Abad Pertengahan, dalam puisinya, “Ode on a Distant Prospect of Eton College”, sering dikutip sebagai pembenaran untuk sikap menolak tahu.
Frasa dari era 1742 ini sempat sering muncul di sejumlah
media sosial dalam satu tahun terakhir. Mengingat situasi global saat ini, saya
tak mempersalahkan para pengutipnya. Walaupun konteks utuh frasa tersebut lebih
melankolis, yaitu tentang nostalgia masa kanak-kanak yang menurut Gray lebih
bahagia dibandingkan masa dewasa.
Uniknya, sejarah Inggris diwarnai perang-perang konyol yang
mencerminkan perilaku di atas dan jarang dibicarakan orang di masa sekarang. Salah
satunya terjadi pada 1859 di Kepulauan San Juan, saat seorang petani Amerika
menembak seekor babi milik orang Inggris yang menerobos masuk ke ladangnya.
Kerajaan Inggris sudah siap menerjunkan pasukan guna menanggapi insiden
‘berdarah’ tersebut, demikian pula Amerika Serikat yang saat itu belum lama
merdeka.
Walaupun perang akhirnya dapat dicegah, tetapi “The Pig War (Perang Babi)” tetap tercatat dalam sejarah kedua belah pihak. Perang dalam bentuk adu argumen dan provokasi ini pun tidak menelan korban jiwa (selain si babi itu sendiri) dan masuk dalam daftar 10 Perang Terkonyol di Dunia.
Sengaja tidak tahu berakibat fatal
Kisah di atas merupakan contoh bagaimana ketidaktahuan,
dalam hal ini ketidaktahuan tentang cara memelihara hubungan dengan sesama,
dapat menyulut gesekan antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Dewasa
ini, gesekan semacam ini bukan barang langka. Seiring dengan kesulitan ekonomi
yang semakin menggigit dari hari ke hari, kehendak untuk menjadi pemenang di
situasi remeh temeh dianggap sebagai pelipur lara dari pahitnya kehidupan.
Amerika Serikat dan Inggris pun tak luput dari perilaku
semacam ini. Track record sebagai
negara pemenang Perang Dunia II meninggalkan kebanggaan yang mendalam hingga
bertahun-tahun kemudian. Rasa bangga memang baik sebagai motivasi untuk
membangun negara ke arah kemajuan demi kemakmuran bersama. Kekonyolan Perang
Babi, sialnya, ikut bertahan karena mereka tidak tahu bahwa kemalangan yang
mereka timbulkan bagi negara atau pihak lain demi mempertahankan kejayaan
mereka setiap saat bisa menjadi boomerang.
Sebagai contoh, sekitar 10 sampai 20 tahun lalu propaganda
tentang Amerika Serikat sebagai negara demokrasi yang maju dan makmur
ditampilkan melalui media elektronik, film, musik, seni, dll. Karena sudah maju
dan kaya, sejumlah tokoh, misalnya, Bill Gates, digambarkan sebagai sosok
dermawan yang suka membantu sesama di negara-negara terbelakang secara ekonomi.
Amerika Serikat juga membentuk badan penyalur dana kemanusiaan , yaitu USAID,
yang menyalurkan dana bantuan ke berbagai LSM di seluruh dunia.
Ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS, memutus
anggaran untuk USAID adalah salah satu di antara sekian kebijakan penghematan
anggaran di masa pemerintahannya. LSM-LSM yang sudah terbiasa menerima ‘makan
siang gratis’ dari USAID selama bertahun-tahun pun kelimpungan tatkala Trump
mengumumkan pemerintah AS hanya akan memberikan bantuan untuk dua negara, yaitu
Mesir dan Pakistan.
Berbagai pihak yang murka dengan keputusan Trump pun
melancarkan serangan balik guna mendiskreditkan AS dan kebijakan-kebijakannya. “Survival
of the fittest” (ikuti arus atau mati) adalah jargon yang digembar-gemborkan
para buzzer Amerika guna menangkis serangan itu. AS, yang lagi-lagi lupa bahwa
beradaptasi dengan situasi agar bisa terus menyerang juga termasuk bentuk survival, menjadi pihak yang gelagapan
menghadapi respons di luar perkiraannya.
Menolak berjalan dalam lingkaran
Bagi mereka yang meyakininya, agama bukanlah candu. Mereka
benar. Ketidaktahuan juga candu jika terus diulang dan dipertahankan menembus
batas ruang dan waktu. Penyebabnya, bagi sebagian orang menjadi tahu itu
menyakitkan, seperti kata Thomas Gray di awal tulisan ini. Pengetahuan akan membuat
manusia berpikir lebih panjang, dan ini sangat rumit bagi sebagian orang karena
butuh waktu, tenaga, dan banyak uang. Sementara mereka merasa berhak untuk
bahagia dengan cara apa pun.
Itulah mengapa kesulitan ekonomi global yang kita alami saat
ini terasa panjang dan lama, seperti samsara yang terus berputar tanpa henti
hingga akhir dunia. Kita berpikir dan bertindak sekadar mencari aman, baik bagi
diri sendiri maupun kelompok. Kita kecanduan mempertahankan sikap bahwa
kesusahan di pihak lain adalah kemenangan di pihak kita, karena merasa menang
itu memang sungguh luar biasa nikmat.
Butuh keberanian untuk mencoba keluar dari samsara kesesatan
pola pikir, agar tindakan kita bukan hanya memenangkan diri kita sendiri,
tetapi juga “orang-orang kalah” dalam konteks cita-cita kita. Butuh keberanian
untuk mengakui manusia pada dasarnya memiliki batas dan kekurangan, bahwa mengalah
untuk menang bukanlah jargon kosong dan bisa dibuktikan. (dswas)
