Minggu, 12 April 2026

Mimpi Buruk: Ketika Takhayul dan Mitos Menjadi Kenyataan

Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. Itulah yang pernah dikatakan seorang tokoh sejarah bangsa kami. Setelah menelusuri riwayat hidupnya, ternyata sang tokoh pernah belajar di suatu negara Eropa pada saat negara kami bahkan belum lahir.

Namun, saya tak hendak membicarakan identitas beliau dalam tulisan ini. Atau apa motif beliau. Atau teori konspirasi. Dalam konteks yang saya beberkan di bawah ini, mitos-mitos memancing rasa penasaran khalayak sehingga sering menjadi sumber inspirasi ribuan film seram. Lebih dari itu, mitos mencerminkan kekhawatiran masyarakat pemilik mitos terhadap sesuatu hal yang ingin mereka cegah agar tak menjadi kenyataan.

Ketika masyarakat modern mengenal lele raksasa Sungai Mekong (pangasiandon gigas) sebagai ikan air tawar terbesar dunia yang ramai diekspos sejak berhasil ditangkap di Thailand pada 2005, masyarakat penganut Aliran Kepercayaan yang tinggal di sekitar sungai tersebut (Thailand, Laos, Kamboja) menyucikannya dan menganggapnya sebagai hewan keramat. Ketika seorang sutradara Thailand memenangi penghargaan Palm d’Or berkat sebuah film indie “Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives” (2010) yang terinspirasi eksistensi lele raksasa tersebut, para manusia gua Thailand sudah terlebih dulu mengabadikannya dalam lukisan di sebuah dinding gua 3000 tahun lalu.

Sungai Mekong mempersatukan berbagai komunitas yang tinggal di sekitarnya berkat kepedulian dan rasa terima kasih mereka pada air dan alam seisinya. Mereka menganggap lele raksasa adalah perwujudan roh penjaga sungai yang wajib dihormati dan dilarang untuk ditangkap. Selain sebagai bentuk terima kasih pada mata air, sesajen juga dipersembahkan pada para lele raksasa Mekong sebagai wujud terima kasih atas kesediaan mereka menjaga sungai. Tak lupa diciptakanlah mitos-mitos agar anak cucu mereka tidak berani menangkap sang ikan suci, termasuk kisah tentang malapetaka atas siapa pun yang melanggar pantangan ini.

Karena wilayah tersebut subur dan kaya sumber daya alam, para pendatang dari benua lain tertarik untuk mengeksploitasinya. Sebagai kompensasi, para pendatang ini menawarkan ilmu pengetahuan dan budaya yang menawarkan kebebasan dari belenggu aturan-aturan tak masuk akal. Masyarakat Dataran Sungai Mekong pun berinteraksi dengan ‘kebaruan’ yang ditawarkan para pendatang, lalu sontak tersadar bahwa selama ini para leluhur mereka ternyata mengajarkan kesesatan. 


Ilustrasi: Pura Tirta Empul, Bali.


Ketika roh penjaga sungai berhasil dibasmi

Apa yang awalnya adalah keinginan untuk dikenal dan diakui berubah menjadi bencana, setelah berita tentang tertangkapnya sang ikan suci tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat setempat pun berlomba-lomba menangkapnya setelah mendapat pencerahan bahwa ikan suci ini tidaklah sesakti yang digembar-gemborkan para leluhur mereka. Lambat laun, lele raksasa Mekong kian menyusut jumlahnya.

Bersamaan dengan penurunan populasi lele raksasa, masyarakat setempat menyaksikan penurunan populasi berbagai jenis ikan lain, walaupun Sungai Mekong sebenarnya punya kualitas air yang jauh lebih baik dibandingkan banyak kota di Asia Tenggara (termasuk kota saya).

Setelah dilakukan penelitian, terungkaplah bahwa ‘sang hantu herbivora’ ternyata menggunakan kekuatannya untuk membersihkan sungai dengan cara memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk di dasar sungai. Dasar Sungai Mekong telah menjadi ‘hutan ganggang’ yang memakan oksigen bagi makhluk hidup lain di sungai, karena lele raksasa yang mengonsumsinya semakin tersingkir dari peradaban modern Sungai Mekong. Penjaga sungai dilenyapkan oleh manusia yang keliru mempersepsikan ‘kesaktian’-nya.

‘Mimpi buruk’ atau kebetulan?

Dahulu kala, di saat habitat Sungai Mekong masih belum terjamah nafsu manusia, lele raksasa akan bermigrasi dari Danau Tonle Sap di Kamboja menuju Sungai Mekong di awal musim hujan. Mereka berenang sejauh 5 km per hari, melewati Phnom Penh dan telaga-telaga dalam menuju perbatasan Thailand dan Laos untuk bertelur. Setelah menetas, larva lele raksasa akan dihanyutkan arus ‘pasang’ Sungai Mekong kembali ke hutan rawa-rawa Kamboja untuk tumbuh besar dan mengulang siklus di atas.

Bersamaan dengan terhentinya siklus tersebut, dunia menyaksikan bagaimana Kamboja mendapat stigma negatif sebagai negara pusat scam terbesar. Tempat di mana ribuan anak muda dari berbagai negara tetangga berangkat mencari nafkah dan beberapa tak pernah kembali. Di saat yang sama, Kamboja dan Thailand bertikai akibat suatu masalah yang diciptakan para pendatang. Laos yang terjebak di tengah-tengah, terpaksa memilih untuk berpihak dan berseberangan dengan Kamboja. Sementara Thailand dihadapkan pada deretan masalah yang timbul akibat overtourism. (dswas) 

 

 

 

 

 

 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...