Minggu, 01 Februari 2026

Modifikasi Cuaca: Upaya Bertahan Hidup atau Menaklukkan Alam?

Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir bandang yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Negara kami, Indonesia, sudah sangat akrab dengan bencana, terutama banjir yang semakin sering terjadi dan semakin parah setiap tahun. Salah satu yang terparah dan belum lama terjadi adalah bencana banjir Sumatra 26 November lalu, di mana ribuan orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Bencana Sumatra bisa dikatakan ‘hadiah’ akhir tahun yang menimbulkan perasaan berkecamuk di hati setiap warga negara Indonesia. Melalui media sosial dan berbagai kanal berita, seluruh negeri (bahkan luar negeri) menyaksikan kepiluan para korban dan para pejabat setempat yang mengaku tidak sanggup mengatasi dampak salah satu bencana terbesar dalam sejarah bangsa kami.

Ketika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan prakiraan tentang kemungkinan bencana serupa di wilayah lain, yaitu Pulau Jawa, kepanikan pun menyeruak. Jakarta disebut sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak, sehingga Gubernur Jakarta Pramono Anung memutuskan implementasi modifikasi cuaca sebagai solusi demi mencegah datangnya banjir besar yang bisa menenggelamkan ibu kota negara.

Berbagai pihak melayangkan kritik terhadap keputusannya, mengingat metode ini tidak sepenuhnya aman. Sejumlah studi telah mengungkap dampak negatif modifikasi cuaca, terutama yang diakibatkan penggunaan bahan kimia apabila metode ini diimplementasikan dalam jangka panjang. Serbuk perak iodida yang lazim digunakan dalam modifikasi cuaca dapat menjadi bumerang yang pada gilirannya malah mencemari tanah dan air. Sementara dampaknya pada tubuh manusia (terutama kulit) masih dalam perdebatan.


Ilustrasi: panorama dari sebuah kafe yang didirikan di sebelah sebuah situs sejarah di Bromo


‘Mengarahkan’ cuaca dalam sudut pandang spiritual

Modifikasi cuaca bukanlah barang baru dalam budaya kami, khususnya di kalangan penganut Aliran Kepercayaan. Keahlian ‘mengarahkan cuaca’ sudah dikenal sejak lama dan diajarkan secara turun temurun, walaupun hanya satu jenis cuaca saja yang ‘dikendalikan’, yaitu hujan. Ahli di bidang ini disebut pawang hujan, sering digunakan jasanya untuk mencegah turunnya hujan saat penyelenggaraan berbagai acara yang melibatkan banyak orang di ruang terbuka.

Berbeda dengan tujuan modifikasi cuaca, seorang pawang hujan tidak berfokus untuk membatalkan atau menghentikan terjadinya hujan, melainkan hanya menundanya. Konsep ini didasari oleh keyakinan bahwa alam mengandung sesuatu yang hidup di dalamnya, sehingga ia memiliki arah geraknya sendiri. Manusia tidak dapat mencegah, menolak lalu berusaha menghentikannya. Sama seperti manusia tidak dapat menolak takdir. Penolakan yang diwujudkan dalam bentuk upaya menghentikan cuaca (atau lebih tepatnya hujan), walaupun berpeluang berhasil akan menimbulkan berbagai konsekuensi baru yang pada akhirnya menuntut manusia berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.  

Maka dari itu, keahlian ‘mengarahkan’ hujan dilarang digunakan sekehendak hati oleh seseorang yang memiliki kemampuan tersebut. Hujan ‘diarahkan’ agar tidak turun di saat acara pesta pernikahan, misalnya, bertujuan agar para tamu yang hadir tidak direpotkan oleh air yang membasahi busana pesta mereka. Agar mereka tetap dapat merasa senang, menikmati suasana, berinteraksi dengan handai taulan, turut berbahagia bersama kedua mempelai. Sebagaimana tujuan diselenggarakannya sebuah pesta pernikahan.

Tergantung ‘pak sopir’

Memiliki kekuatan, atau keahlian, untuk mengubah hujan dari terjadi menjadi tidak terjadi sebaiknya diikuti dengan rasa tanggung jawab. Sebagai contoh, fenomena Rara, pawang hujan yang mempertontonkan aksinya menghentikan hujan saat berlangsungnya sesi balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 2022 lalu dan viral di X. Walaupun aksi Rara menuai pujian dari seluruh dunia, kita tidak pernah tahu apa dampak ikutan dari sebuah unjuk kekuatan yang bisa saja dicerna sebagai ‘menantang Sang Pencipta’ oleh sebagian orang.

Demikian pula halnya dengan kemampuan memodifikasi cuaca. Bencana alam seyogyanya dipandang sebagai hasil akhir serangkaian sebab yang saling berkelindan, dan bukan semata-mata akibat satu faktor yang dalam konteks ini adalah hujan deras. Pengimplementasian modifikasi cuaca mungkin masih dapat dianggap wajar apabila terjadi keadaan kahar yang benar-benar menempatkan manusia dalam jalan buntu.

Namun, seberapa buntukah situasi yang membuat pemanfaatan modifikasi cuaca menjadi wajar? Parameter yang jelas dan transparan sudah saatnya ditetapkan sebagai pengendali si pengendali cuaca itu sendiri. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...