Minggu, 31 Mei 2026

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan sepak bola bisa gagal meraih kemenangan ketika striker menolak memberikan bola kepada rekannya, lantaran terlalu ingin namanya tercatat sebagai pencetak gol. Sebagai akibatnya, peluang demi peluang terlewat sia-sia karena ambisi pribadi menolak berkompromi guna mencapai tujuan bersama.

Gotong royong juga tak kalah merdu bagi siapa pun yang mendengar frasa ini. Membantu sesama bukanlah perkara besar di saat semua ‘baik-baik saja’. Ketika pekerjaan dan gaji kita lancar, atau ketika tidak terjadi inflasi besar-besaran. Ketika kita tidak merasa berat mengeluarkan uang pribadi untuk sesuatu yang dibutuhkan orang banyak. Ketika kita tidak menghela nafas panjang karena ajakan berpartisipasi sebagai donatur suatu kegiatan komunitas.

Akan tetapi, kerelaan untuk berkorban demi komunitas tidak melulu termanifestasi dalam bentuk sumbangan materi; uang, hewan, bahan makanan, atau apa pun yang bisa dilihat dan diraba. Ada pengorbanan yang mewajibkan kita rela menekan ambisi dan kehendak pribadi, walaupun sudut pandang kita menganggap ambisi tersebut baik demi kesejahteraan bersama. Dalam era di mana citra pribadi menjadi senjata untuk meningkatkan nilai diri sendiri di hadapan publik, sebagaimana kisah dari lapangan bola di atas, pengorbanan semacam ini bisa terasa sangat berat. 


Ilustrasi: lapangan sepak bola di Malang.


Seimbang berkat beruang

Meskipun memiliki bentuk fisik yang tampak buas dan menakutkan, keberlanjutan suatu kawasan hutan bisa terancam apabila satwa endemiknya punah, di antaranya beruang. Melalui pola makannya, beruang telah berperan serta menyuburkan ekosistem hutan melalui sisa-sisa bangkai mangsanya. Dengan memangsa beberapa spesies satwa herbivora, beruang mencegah ledakan populasi mereka agar rumput dan tumbuhan yang menjadi sumber pangan meerka tidak lekas habis (sebagaimana yang dialami manusia dewasa ini).

Maka dapat dimengerti mengapa para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia menganggap beruang sebagai hewan sakral yang dilarang diburu sembarangan, apalagi dimakan dagingnya. Para leluhur Karelia memandang beruang sederajat dengan manusia, sehingga memakan daging beruang adalah kanibalisme. Pandangan yang wajar, bahkan hingga hari ini. Mengingat maraknya kebiasaan “memakan” sesama hanya akan berujung penyesalan entah kapan dan di mana.

Para penganut Kepercayaan Asli Karelia juga menjalankan beberapa kebiasaan lain yang bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem hutan bagi seluruh makhluk hidup, termasuk beruang. Sebagai contoh, sebelum membangun rumah, keluarga dari komunitas ini akan menanam sekelompok bakal pohon sesuai jumlah anggota keluarganya.

Logikanya, ekosistem hutan yang sehat akan menjamin kelangsungan hidup kawanan hewan-hewan herbivora, mangsa sang beruang. Apabila perut beruang kenyang berkat apa yang terdapat di hutan, maka kemungkinan serangan beruang terhadap pemukiman penduduk maupun kawanan hewan ternak mereka bisa diperkecil. Kesadaran ini menjadi norma dalam kehidupan sehari-hari para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia, karena para leluhur mereka mengajarkan untuk tidak merendahkan alam sekitar.

Pengorbanan dan masokisme

Berkorban demi komunitas itu tidak segampang teorinya, apalagi di masa krisis ekonomi global seperti sekarang. Memang, menyumbangkan materi maupun bersedia menyingkirkan ego berakibat kerugian materi dan perasaan bagi kita. Bukankah 4-2 selalu = 2? Bukankah uang kita akan berkurang? Bagaimana bila di lain waktu sejumlah orang di luar sana hanya memperalat kedermawanan kita demi kepentingan mereka sendiri?

Berkaca dari kebiasaan para penganut Kepercayaan Asli Karelia, segala sesuatu bisa dimenej agar bisa terus mendatangkan manfaat dalam jangka panjang. Kemampuan manajerial seperti ini tidak diajarkan di sekolah maupun kampus manapun, melainkan akan kita kuasai dengan sendirinya apabila ada niat memelihara keberlanjutan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Apabila sudah ada kesadaran dalam membedakan mana pemahaman yang cenderung masokis, dan mana yang benar-benar berlandaskan cinta sejati. (dswas).



Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...