Stagflasi (suatu masa di mana masyarakat global menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah langkanya lapangan pekerjaan) merupakan dampak langsung kebijakan menerbitkan uang baru secara besar-besaran oleh seluruh bank sentral di dunia. Langkah yang dimaksudkan sebagai solusi untuk menghadapi dampak pandemi COVID19 ternyata berbuntut panjang, entah sampai kapan.
Sekitar satu tahun lalu, sejumlah orang berhasil bertahan
hidup dengan menurunkan standar hidup mereka dan memotong segala jenis
pengeluaran yang dirasa tidak penting. Ini tidak mudah bagi sebagian orang,
karena mereka harus cukup kokoh untuk merasakan semacam “kepedihan” akibat
harus melepas gaya hidup sebelumnya. Bukan saja karena gengsi, melainkan bayang-bayang
kenangan hidup yang lebih nikmat dan membahagiakan waktu masih punya banyak
uang. Belum lagi rasa sesal saat teringat perilaku belanja di masa lalu yang
terlalu royal, atau kenangan akan uang yang terbuang sia-sia dan tidak jelas
larinya ke mana.
Namun, itulah sebuah kelaziman dalam hidup kita, karena
kesulitan akan menyertai kemudahan. Manusia modern tidak bahagia karena
terjebak dalam ilusi tentang gelap dan terang, yang menurut sudut pandang
mereka adalah dua hal yang mengada karena kehendak “setan” dan “malaikat”.
Bahwa suatu hari kejahatan akan musnah oleh kebajikan, bahwa dosa akan dihapus
oleh pahala, dan seterusnya. Padahal demi mempertahankan kesenangan, beberapa
orang rela melakukan segalanya, termasuk melakukan hal-hal yang sebelumnya
terlarang dan hina bagi nilai-nilai atau standar mereka sendiri. Itulah, antara
lain, mengapa kita sulit bahagia.
Kebal syok
Mereka yang hidup ribuan tahun lalu di muka Bumi tidak
membutuhkan ajian kebal peluru, karena memang peluru belum diciptakan di era
mereka. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan menjaga keharmonisan,
keseimbangan antara berbagai unsur, sebagai cara melatih diri mereka sendiri
untuk senantiasa seimbang di tengah situasi apa pun.
Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Turkik (Turkic Indigenous
Faith) yang disebut Tengrisme
mengajarkan bahwa dualisme, kegelapan dan cahaya, dapat hidup berdampingan
secara harmonis dengan peran serta manusia. Para penganut Tengrisme yang saat
ini tersebar di Mongolia dan Kazakhztan mewujudkan peran serta tersebut dengan larangan
mencemari sumber air, serta mengikatkan kain di beberapa pohon yang dianggap
penting dalam keberlanjutannya.
Agar kematian sebagai salah satu representasi kegelapan
dapat diterima sebagai kewajaran dalam hidup, para penganut Tengrisme
mengadakan jamuan makan di hari ke-7 dan ke-49 setelah seseorang dalam komunitas
mereka meninggal dunia. Menyediakan makanan untuk orang lain (apalagi dalam
jumlah besar) dianggap memberatkan keluarga almarhum, itulah pandangan sebagian
orang yang belum mempelajari tradisi ini.
Sederhananya, keluarga yang ditinggalkan harus bangkit dari
kesedihan agar bisa melanjutkan hidup. Untuk itu, mereka harus merelakan
kepergian orang terkasih yang dilambangkan dalam bentuk menyediakan makanan
untuk jamuan makan di atas. Namun, karena biasanya masyarakat Tengrisme hidup
secara komunal maka mereka akan bergotong royong guna membantu keluarga
yang sedang berduka menyediakan makanan guna keperluan rangkaian upacara
kematian.
Anti manja
Di beberapa negara, mereka yang mengalami pemutusan hubungan
kerja biasanya akan mendapat tunjangan pengangguran dari pemerintah
masing-masing. Mereka yang tidak mendapat tunjangan semacam ini tidak perlu
merasa iri, bukankah “rejeki orang sudah ada yang mengatur”? Sama halnya kita tidak perlu merasa iri
mendengar kisah-kisah tentang warga negara di luar sana yang hidup sepenuhnya
dengan biaya pemerintah tanpa perlu bekerja.
Walau sepintas fasilitas semacam ini dijustifikasi sebagai
bentuk kepedulian pemerintah suatu negara terhadap kesejahteraan dan
kebahagiaan warga negara mereka, tetapi sejauh mana hal itu memengaruhi mental
suatu bangsa sering tidak dibicarakan. Apalagi membicarakan bagaimana efeknya
terhadap cara bangsa tersebut berinteraksi dengan dunia luar.
Olahraga kita butuhkan guna menjaga kesehatan fisik. Macam-macam
pengorbanan yang dilakukan para leluhur manusia berbagai bangsa, dalam bentuk
sesajen dan aturan-aturan, bertujuan untuk melatih mental agar tidak rapuh, mudah
patah semangat, syok, kagetan, histeris, pingsan, kehilangan kesadaran,
depresi, stress, dll. dalam melanjutkan hidup di tengah cuaca yang mudah
berubah. Punya ketahanan mental itu sama pentingnya dengan punya rudal balisitk,
drone serang, atau drone kamikaze lho.