Minggu, 05 April 2026

Tetap Sehat dan Semangat Meski Kehilangan Pekerjaan

Stagflasi (suatu masa di mana masyarakat global menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah langkanya lapangan pekerjaan) merupakan dampak langsung kebijakan menerbitkan uang baru secara besar-besaran oleh seluruh bank sentral di dunia. Langkah yang dimaksudkan sebagai solusi untuk menghadapi dampak pandemi COVID19 ternyata berbuntut panjang, entah sampai kapan.

Sekitar satu tahun lalu, sejumlah orang berhasil bertahan hidup dengan menurunkan standar hidup mereka dan memotong segala jenis pengeluaran yang dirasa tidak penting. Ini tidak mudah bagi sebagian orang, karena mereka harus cukup kokoh untuk merasakan semacam “kepedihan” akibat harus melepas gaya hidup sebelumnya. Bukan saja karena gengsi, melainkan bayang-bayang kenangan hidup yang lebih nikmat dan membahagiakan waktu masih punya banyak uang. Belum lagi rasa sesal saat teringat perilaku belanja di masa lalu yang terlalu royal, atau kenangan akan uang yang terbuang sia-sia dan tidak jelas larinya ke mana.

Namun, itulah sebuah kelaziman dalam hidup kita, karena kesulitan akan menyertai kemudahan. Manusia modern tidak bahagia karena terjebak dalam ilusi tentang gelap dan terang, yang menurut sudut pandang mereka adalah dua hal yang mengada karena kehendak “setan” dan “malaikat”. Bahwa suatu hari kejahatan akan musnah oleh kebajikan, bahwa dosa akan dihapus oleh pahala, dan seterusnya. Padahal demi mempertahankan kesenangan, beberapa orang rela melakukan segalanya, termasuk melakukan hal-hal yang sebelumnya terlarang dan hina bagi nilai-nilai atau standar mereka sendiri. Itulah, antara lain, mengapa kita sulit bahagia. 


Ilustrasi: Candi Rambut Monte, Blitar


Kebal syok

Mereka yang hidup ribuan tahun lalu di muka Bumi tidak membutuhkan ajian kebal peluru, karena memang peluru belum diciptakan di era mereka. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan menjaga keharmonisan, keseimbangan antara berbagai unsur, sebagai cara melatih diri mereka sendiri untuk senantiasa seimbang di tengah situasi apa pun.

Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Turkik (Turkic Indigenous Faith) yang disebut Tengrisme mengajarkan bahwa dualisme, kegelapan dan cahaya, dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan peran serta manusia. Para penganut Tengrisme yang saat ini tersebar di Mongolia dan Kazakhztan mewujudkan peran serta tersebut dengan larangan mencemari sumber air, serta mengikatkan kain di beberapa pohon yang dianggap penting dalam keberlanjutannya.

Agar kematian sebagai salah satu representasi kegelapan dapat diterima sebagai kewajaran dalam hidup, para penganut Tengrisme mengadakan jamuan makan di hari ke-7 dan ke-49 setelah seseorang dalam komunitas mereka meninggal dunia. Menyediakan makanan untuk orang lain (apalagi dalam jumlah besar) dianggap memberatkan keluarga almarhum, itulah pandangan sebagian orang yang belum mempelajari tradisi ini.

Sederhananya, keluarga yang ditinggalkan harus bangkit dari kesedihan agar bisa melanjutkan hidup. Untuk itu, mereka harus merelakan kepergian orang terkasih yang dilambangkan dalam bentuk menyediakan makanan untuk jamuan makan di atas. Namun, karena biasanya masyarakat Tengrisme hidup secara komunal maka mereka akan bergotong royong guna membantu keluarga yang sedang berduka menyediakan makanan guna keperluan rangkaian upacara kematian.

Anti manja

Di beberapa negara, mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja biasanya akan mendapat tunjangan pengangguran dari pemerintah masing-masing. Mereka yang tidak mendapat tunjangan semacam ini tidak perlu merasa iri, bukankah “rejeki orang sudah ada yang mengatur”?  Sama halnya kita tidak perlu merasa iri mendengar kisah-kisah tentang warga negara di luar sana yang hidup sepenuhnya dengan biaya pemerintah tanpa perlu bekerja.

Walau sepintas fasilitas semacam ini dijustifikasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah suatu negara terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan warga negara mereka, tetapi sejauh mana hal itu memengaruhi mental suatu bangsa sering tidak dibicarakan. Apalagi membicarakan bagaimana efeknya terhadap cara bangsa tersebut berinteraksi dengan dunia luar.

Olahraga kita butuhkan guna menjaga kesehatan fisik. Macam-macam pengorbanan yang dilakukan para leluhur manusia berbagai bangsa, dalam bentuk sesajen dan aturan-aturan, bertujuan untuk melatih mental agar tidak rapuh, mudah patah semangat, syok, kagetan, histeris, pingsan, kehilangan kesadaran, depresi, stress, dll. dalam melanjutkan hidup di tengah cuaca yang mudah berubah. Punya ketahanan mental itu sama pentingnya dengan punya rudal balisitk, drone serang, atau drone kamikaze lho. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...