Senin, 10 Maret 2025

Ke Mana BRICS Akan Melangkah di Era Donald Trump?

Ketika Presiden Brasil mengumumkan Indonesia sebagai anggota resmi BRICS pada 7 Januari 2025, berbagai lapisan khalayak menganggapnya sebagai secerah harapan bagi perekonomian dalam negeri. Seperti banyak negara lain, perdagangan luar negeri menjadi sumber pendapatan yang signifikan, sehingga keanggotaan BRICS diharapkan dapat memperluas pasar bagi komoditas ekspor Indonesia.

Menurut para pengamat, BRICS yang didominasi China sebagai negara dengan PDB terbesar di antara ke-4 anggota lainnya berupaya berfungsi layaknya kelompok negara G7 di Eropa. Hal ini tersirat dalam misi utama BRICS yang bertujuan mereformasi lembaga keuangan guna memperbaiki situasi ekonomi global.

Secara lebih spesifik, negara-negara BRIC menganggap penting adanya mata uang global baru yang lebih stabil, dengan pergerakan nilai tukar yang tidak terlalu bikin deg-degan. Walaupun pernyataan resmi yang dicetuskan pada 2009 tidak terang-terangan membeberkan tujuan menggeser dominasi dolar AS, nilai tukarnya sempat turun tajam saat itu. 


Foto: Ilustrasi

Ambisi berakhir rugi

Indonesia dan China sudah menerapkan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) dalam perdagangan bilateral sejak beberapa tahun terakhir. Dalam siaran pers Kemendag RI 5 Agustus 2021, dipaparkan bahwa mekanisme ini bertujuan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di kancah perdagangan internasional dan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar. 

Dolar Amerika Serikat mengalir dalam jumlah besar ke Timur Tengah sebagai setelmen pembayaran komoditas minyak, atau yang disebut petrodolar. Nilai tukarnya dipengaruhi oleh dinamika pasar, sehingga tak seorang pun dapat memengaruhi nilai tukar dolar agar lebih tinggi atau lebih rendah daripada mata uang nasional.

Penggunaan mata uang lokal sempat digadang-gadang sebagai solusi, karena nilai tukar mata uang lokal lebih dapat diprediksi, tidak terlalu volatile, dan dapat diintervensi oleh pemerintah masing-masing. Cara ini juga dipandang lebih aman, lebih efisien, dan win-win solution karena dipengaruhi situasi ekonomi di negara asal mata uang lokal tersebut.

Namun, optimisme yang menyertai mekanisme ini perlahan meredup setelah kepemimpinan baru Amerika Serikat di bawah Donald Trump mengancam akan memberlakukan kenaikan tarif sebesar 100% pada semua negara BRICS yang coba-coba menggeser dominasi dolar Amerika.

Amerika Serikat sekutu baru Rusia?  

Sejak masa kampanye hingga terpilih kembali sebagai presiden Amerika Serikat, Donald Trump jarang mengeluarkan pernyataan yang bernada serangan atau ancaman terhadap Rusia di depan publik. Tiap kali membicarakan perang di Ukraina, Trump cenderung berpihak pada Rusia dan mengkritik keras Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menurutnya telah menggelapkan dana bantuan $500 miliar dari Amerika Serikat.

Pertemuan antara delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Menlu Marco Rubio dan delegasi Rusia di bawah Menlu Sergey Lavrov di Arab Saudi pertengahan Februari 2025 merupakan yang pertama digelar sejak perang di Ukraina. Dilansir dari AP Press, pertemuan itu membahas apa yang sebaiknya dilakukan guna mengakhiri perang Ukraina dan memulihkan jumlah staf yang bekerja di masing-masing kedutaan.

Perkembangan selanjutnya di luar dugaan, karena Amerika Serikat semakin mendekat dengan Rusia sejak saat itu. Situasi ini membuat kubu Uni Eropa dan Inggris kebakaran jenggot. Apalagi setelah Menlu Rubio mengkritik pedas Eropa yang menurutnya tidak lagi menjalankan prinsip-prinsip demokrasi, seraya menyoroti kasus pembatalan hasil pemilu Rumania dan pemberlakukan sensor konten media sosial di beberapa negara Eropa.

Peluang untuk BRICS

Di antara negara-negara BRICS selain Rusia, hanya India yang terlihat pro aktif dalam melobi Donald Trump. Perdana Menteri India Narendra Modi sudah beberapa kali berkunjung ke Washington sejak Trump terpilih. Modi tidak memandang remeh rencana kenaikan tarif barang impor yang dicetuskan Trump, apalagi mengingat nilai ekspor India ke Amerika Serikat cukup fantastis, yaitu 87,4 triliun dolar selama 2024 lalu.

Lalu bagaimana Indonesia? Kita tentunya berharap Presiden RI Prabowo Subianto segera merespon perkembangan ini dengan lobi-lobi intensif ke Washington, karena Indonesia merupakan negara yang secara historis memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat. Indonesia juga cukup terbantu dengan adanya aliran dana bantuan dari Amerika Serikat yang disalurkan melalui USAID.

Skema bantuan yang ditujukan bagi perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan di Indonesia saat ini memang tengah dibekukan, dan cukup banyak pihak yang terdampak keputusan ini. Walaupun demikian, belum terlambat bagi pemerintah Indonesia untuk berbincang dalam suasana bersahabat dengan Amerika Serikat guna kebaikan bangsa, jangka pendek maupun jangka panjang.

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...