Sabtu, 09 Mei 2026

Agar Hasil Tidak Mengkhianati Upaya

“Siapa menabur angin akan menuai badai (what goes around comes around)” terdengar mencekam, walaupun acapkali kita gunakan untuk mengungkapkan kekesalan atas perilaku seseorang atau suatu entitas. Padahal kalau kita berhasil mengenyahkan ‘kera-kera emosi yang berloncatan ke sana kemari’, akan terungkaplah suatu makna mendalam. Sebuah ‘mantra’ yang bisa mengundang kebahagiaan untuk datang ke dalam kemuraman hidup kita.

Menengok ke belakang, pencipta ungkapan itu tampaknya sangat memahami bahwa manusia cenderung lebih cepat bereaksi dan lebih mengingat hal-hal bernuansa negatif daripada yang positif. Jauh sebelum penelitian ilmiah menemukan bahwa trauma dapat diturunkan dari satu ke generasi ke generasi di bawahnya secara naluriah, meski tantangan dan kesulitan hidup lebih cenderung melunak dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, para leluhur berbagai bangsa dan suku menciptakan kisah-kisah seram tentang dampak pelanggaran pantangan dan peraturan adat yang bermaksud agar para penerus mereka mengingat dan merenungkan makna di baliknya. Namun, perjalanan waktu mentakdirkan suatu kaum mengalami berbagai kejadian menyakitkan yang menghipnotis mereka untuk mempermasalahkan legalitas tindak-tanduk orang-orang yang hadir sebelum mereka.   


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang.


Sejahtera karena liyan juga sejahtera

Kepercayaan asli Armenia (Hetanisme) percaya bahwa pohon apricot (prunus armeniaca) adalah pohon kehidupan bukan tanpa alasan. Tidak seperti pepohonan sakral di daerah tropis, akar pohon tidak bersifat menyimpan air. Justru sebaliknya, akarnya akan membusuk bila tanah tempat bertumbuhnya mengandung terlalu banyak air. Walau demikian, pohon apricot dapat bertahan hidup di tengah cuaca panas dan buahnya tetap terasa manis walaupun hanya butuh sedikit air.

Kemampuannya menyerap karbondioksida dalam jumlah besar menjadikannya ‘pahlawan’ di tengah isu perubahan iklim. Pohon apricot juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pedesaan Armenia sebagai komoditas ekspor utama, dengan tujuan utama Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Meski asal usulnya menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, ditemukan bukti bahwa masyarakat Armenia kuno telah mengenalnya sejak 6000 tahun silam.  

Ada satu ‘kelemahan’ pohon kehidupan Armenia ini, yaitu ia tidak dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa kehadiran hutan atau sekelompok tanaman lain di sekelilingnya dalam jarak tertentu. Eksplorasi hutan secara berlebihan merupakan kabar buruk bagi perkebunan apricot, karena tiadanya akar-akar pepohonan lain berarti hilangnya para liyan yang membantu menjaga kadar air tetap ideal di dalam tanah bagi pertumbuhan sempurna kelompok pepohonan apricot.

Para leluhur Armenia menyamarkan makna sejati pohon kehidupan dalam berbagai mitos dan legenda, yang sering kali mengalami mispersepsi terdistorsi oleh apa yang kita ketahui tentang ‘dunia lain’. Ajaran leluhur Armenia dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa sang pohon kehidupan merupakan bagian dari alam raya, bukan sebaliknya. Manusia, idealnya, bertindak-tanduk berangkat dari pemahaman ini, yaitu menata kondisi yang dibutuhkan suatu potensi agar tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.

Move on dan lebih baik?

Ya. Move on dan membaik, itulah situasi ideal yang seharusnya bisa kita lihat saat ini. Apabila ajaran leluhur memang sudah tidak relevan, maka situasi kita saat ini seharusnya lebih baik karena kita sudah menjalankan ajaran yang lebih baru dan tentunya lebih relevan. Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang benar-benar ingin mengubah keadaan menjadi benar-benar lebih baik, bukan sekadar iklan.

Sebuah langkah layak disebut move on apabila mampu menjauhkan manusia dari logika mistika, bahwa tidak ada yang namanya mukjizat akan datang untuk menyelesaikan segala masalah hidup. Bahwa tindakan yang berdasarkan pengetahuan tentang alam sekitarlah penolong sejati mereka di segala zaman. (dswas).

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...