“Siapa menabur angin akan menuai badai (what goes around comes around)” terdengar mencekam, walaupun acapkali kita gunakan untuk mengungkapkan kekesalan atas perilaku seseorang atau suatu entitas. Padahal kalau kita berhasil mengenyahkan ‘kera-kera emosi yang berloncatan ke sana kemari’, akan terungkaplah suatu makna mendalam. Sebuah ‘mantra’ yang bisa mengundang kebahagiaan untuk datang ke dalam kemuraman hidup kita.
Menengok ke belakang, pencipta ungkapan itu tampaknya sangat
memahami bahwa manusia cenderung lebih cepat bereaksi dan lebih mengingat
hal-hal bernuansa negatif daripada yang positif. Jauh sebelum penelitian
ilmiah menemukan bahwa trauma dapat diturunkan dari satu ke generasi ke
generasi di bawahnya secara naluriah, meski tantangan dan kesulitan hidup lebih
cenderung melunak dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, para leluhur berbagai bangsa dan suku
menciptakan kisah-kisah seram tentang dampak pelanggaran pantangan dan
peraturan adat yang bermaksud agar para penerus mereka mengingat dan
merenungkan makna di baliknya. Namun, perjalanan waktu mentakdirkan suatu kaum
mengalami berbagai kejadian menyakitkan yang menghipnotis mereka untuk
mempermasalahkan legalitas tindak-tanduk orang-orang yang hadir sebelum mereka.
Sejahtera karena liyan juga sejahtera
Kepercayaan asli Armenia (Hetanisme) percaya bahwa pohon apricot
(prunus
armeniaca) adalah pohon kehidupan bukan tanpa alasan. Tidak seperti
pepohonan sakral di daerah tropis, akar pohon tidak bersifat menyimpan air. Justru
sebaliknya, akarnya akan membusuk bila tanah tempat bertumbuhnya mengandung
terlalu banyak air. Walau demikian, pohon apricot dapat bertahan hidup di tengah
cuaca panas dan buahnya tetap terasa manis walaupun hanya butuh sedikit air.
Kemampuannya menyerap karbondioksida dalam jumlah besar
menjadikannya ‘pahlawan’ di tengah isu perubahan iklim. Pohon
apricot juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pedesaan Armenia
sebagai komoditas ekspor utama, dengan tujuan utama Rusia dan negara-negara
Asia Tengah. Meski asal usulnya menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan,
ditemukan bukti bahwa masyarakat Armenia kuno telah mengenalnya sejak 6000 tahun silam.
Ada satu ‘kelemahan’ pohon
kehidupan Armenia ini, yaitu ia tidak dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa
kehadiran hutan atau sekelompok tanaman lain di sekelilingnya dalam jarak
tertentu. Eksplorasi hutan secara berlebihan merupakan kabar buruk bagi
perkebunan apricot, karena tiadanya akar-akar pepohonan lain berarti hilangnya para
liyan yang membantu menjaga kadar air tetap ideal di dalam tanah bagi
pertumbuhan sempurna kelompok pepohonan apricot.
Para leluhur Armenia menyamarkan makna sejati pohon
kehidupan dalam berbagai mitos dan legenda, yang sering kali mengalami
mispersepsi terdistorsi oleh apa yang kita ketahui tentang ‘dunia lain’. Ajaran
leluhur Armenia dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa sang pohon kehidupan
merupakan bagian dari alam raya, bukan sebaliknya. Manusia, idealnya, bertindak-tanduk
berangkat dari pemahaman ini, yaitu menata kondisi yang dibutuhkan suatu
potensi agar tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang
menyenangkan.
Move on dan lebih baik?
Ya. Move on dan
membaik, itulah situasi ideal yang seharusnya bisa kita lihat saat ini. Apabila
ajaran leluhur memang sudah tidak relevan, maka situasi kita saat ini
seharusnya lebih baik karena kita sudah menjalankan ajaran yang lebih baru dan
tentunya lebih relevan. Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang benar-benar
ingin mengubah keadaan menjadi benar-benar lebih baik, bukan sekadar iklan.
Sebuah langkah layak disebut move on apabila mampu menjauhkan manusia dari logika mistika, bahwa tidak ada yang namanya mukjizat akan datang untuk menyelesaikan segala masalah hidup. Bahwa tindakan yang berdasarkan pengetahuan tentang alam sekitarlah penolong sejati mereka di segala zaman. (dswas).