Ada satu hal yang paling ditakuti para pengusaha, yaitu ketika cara meraih untung menjadi lebih mahal. Saat perubahan ini terjadi, para produsen barang dan jasa berpikir seribu kali untuk menaikkan harga produk mereka, terutama untuk produk tersier. Mereka sangat paham bahwa ‘konsumen adalah raja’. Artinya, segencar apapun promo yang dilancarkan para produsen, keputusan membeli atau tidak tetap berada di tangan konsumen dan tak seorang pun yang bisa ikut campur menyangkut preferensi pribadi.
Namun, itu dulu. Dewasa ini, ada banyak jalan yang bisa ditempuh
para produsen guna menaklukkan para konsumen agar mereka tunduk pada keinginan
para produsen, alias mau membelanjakan uang mereka. Mulai dari menurunkan harga
semurah mungkin (dengan seringkali mengorbankan kualitas), hingga promosi yang
secara blak-blakan melanggar ranah privasi para pelanggan (menelepon, mengirim
pesan singkat, dll.). Trik ini memang berhasil membawa hasil dalam bentuk
peningkatan penjualan, walaupun dalam jangka pendek.
Dalam jangka panjang, kekesalan akan muncul di para produsen
lama yang sudah lebih dulu menjual produk mereka dengan harga lebih tinggi.
Mereka bukan hanya kehilangan pelanggan, tetapi bahkan juga menghadapi ancaman
(atau sudah) gulung tikar akibat menolak menurunkan standar demi agar produk
mereka dibeli orang. Di kubu seberang, para produsen yang berani pasang harga
murah pun tidak serta-merta jadi pemenang, walaupun mereka unggul dalam hal
statistik penjualan. Kok bisa?
Penyebabnya, lagi-lagi, kenaikan ongkos produksi. Ibaratnya,
semakin mereka berusaha ‘melarikan diri’ dari ‘sang monster’ ini, semakin ia
mendekat dan melambaikan cakat-cakarnya. Ini tidak aneh, karena manusia di mana
pun merupakan bagian dari komunitas, baik komunitas tingkat RT maupun tingkat
PBB. Adalah merupakan suatu kesesatan pikir apabila kita mengira bisa aman dan
kaya raya sebagaimana rencana dan keinginan kita, ketika mereka yang ada di
sekitar kita tidak merasakannya.
Permohonan maaf kepada alam
Dalam sudut pandang peradaban modern, alam sekitar itu
hidup, tetapi seperti AI, mereka tidak memiliki perasaan dan juga tidak bisa
berpikir. Manusialah yang berkuasa atas mereka, karena hanya manusia yang mampu
menilai makna eksistensi mereka berdasarkan mata uang masing-masing.
Cuaca dapat dimanipulasi, tiruan matahari bisa dibuat,
daging hewan dan sayur-sayuran bisa dibuat di laboratorium. Bila tujuan jangka
panjang kemajuan teknologi ini memang positif, sudah barang tentu taraf hidup
kita akan lebih baik. Alam sekitar kita seharusnya tidak rusak, karena
teknologi kita sudah sangat maju dalam membuat bahan makanan yang tidak
memerlukan eksploitasi alam, dan tidak perlu ditumbuhkan di ladang atau
peternakan yang memakan banyak biaya.
Para penganut Kepercayaan
Asli Siberia menganggap pepohonan dan binatang buruan tidak sekadar hidup,
tetapi juga memiliki roh sebagaimana manusia yang bisa merasakan penderitaan
dan kebahagiaan. Menurut ajaran kepercayaan ini, manusia sebaiknya
mempertahankan kerendahan hati saat mengeksploitasi alam agar bisa menekan hawa
nafsu serakah yang di kemudian hari merugikan diri sendiri.
Kerendahan hati dilambangkan dengan mempersembahkan sesajen kepada hutan sebelum memotong dahan sebatang pohon, atau sebelum memotong daging hewan buruan. Sesajen dipersembahkan sembari mengucapkan permohonan maaf atas tindakan mereka yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa binatang buruan dan pepohonan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Di kemudian hari, anggota
komunitas suku pedalaman Siberia cenderung akan berpikir panjang sebelum
berburu atau memotong sebatang pohon di hutan, mengingat berbelitnya prosesi
yang harus dipatuhi. Sehingga, mereka umumnya tidak berlebihan dalam
mengkonsumsi apa pun dengan tujuan memberi waktu pada pepohonan untuk tumbuh
dan hewan-hewan buruan cukup umur untuk dimangsa.
Memelihara sekitar agar lancar rejeki
Kita semua berharap agar aktivitas kerohanian yang kita
jalankan dapat mendatangkan mukjizat dalam hidup kita, agar turunlah cahaya
yang membawa jawaban bagi segala permasalahan. Terutama untuk satu masalah yang
sedang menjadi tren belakangan ini, yaitu masalah keuangan. Akan tetapi, tidak
disarankan menjalankan ajaran leluhur demi mencapai tujuan ini, karena inti
ajaran leluhur adalah serangkaian petunjuk untuk memelihara keharmonisan antara
manusia dan sekitarnya.
Kita boleh saja menertawakan ajaran Kepercayaan Asli Siberia, walaupun sudah banyak dari kita yang mengalami bencana banjir dan punahnya spesies hewan tertentu akibat perburuan berlebihan. Namun, kita baru bisa melakukannya apabila apa yang menjadi pondasi hidup kita lebih mampu mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia, dan juga alam sekitar. Ketika perilaku kita sudah tak lagi jadi ancaman bagi sumber kehidupan kita sendiri. (dswas).