Minggu, 24 Mei 2026

Trik Jitu Atasi Rejeki Seret

Ada satu hal yang paling ditakuti para pengusaha, yaitu ketika cara meraih untung menjadi lebih mahal. Saat perubahan ini terjadi, para produsen barang dan jasa berpikir seribu kali untuk menaikkan harga produk mereka, terutama untuk produk tersier. Mereka sangat paham bahwa ‘konsumen adalah raja’. Artinya, segencar apapun promo yang dilancarkan para produsen, keputusan membeli atau tidak tetap berada di tangan konsumen dan tak seorang pun yang bisa ikut campur menyangkut preferensi pribadi.

Namun, itu dulu. Dewasa ini, ada banyak jalan yang bisa ditempuh para produsen guna menaklukkan para konsumen agar mereka tunduk pada keinginan para produsen, alias mau membelanjakan uang mereka. Mulai dari menurunkan harga semurah mungkin (dengan seringkali mengorbankan kualitas), hingga promosi yang secara blak-blakan melanggar ranah privasi para pelanggan (menelepon, mengirim pesan singkat, dll.). Trik ini memang berhasil membawa hasil dalam bentuk peningkatan penjualan, walaupun dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, kekesalan akan muncul di para produsen lama yang sudah lebih dulu menjual produk mereka dengan harga lebih tinggi. Mereka bukan hanya kehilangan pelanggan, tetapi bahkan juga menghadapi ancaman (atau sudah) gulung tikar akibat menolak menurunkan standar demi agar produk mereka dibeli orang. Di kubu seberang, para produsen yang berani pasang harga murah pun tidak serta-merta jadi pemenang, walaupun mereka unggul dalam hal statistik penjualan. Kok bisa?

Penyebabnya, lagi-lagi, kenaikan ongkos produksi. Ibaratnya, semakin mereka berusaha ‘melarikan diri’ dari ‘sang monster’ ini, semakin ia mendekat dan melambaikan cakat-cakarnya. Ini tidak aneh, karena manusia di mana pun merupakan bagian dari komunitas, baik komunitas tingkat RT maupun tingkat PBB. Adalah merupakan suatu kesesatan pikir apabila kita mengira bisa aman dan kaya raya sebagaimana rencana dan keinginan kita, ketika mereka yang ada di sekitar kita tidak merasakannya. 


Illustrasi: Pentungansari, Malang.


Permohonan maaf kepada alam

Dalam sudut pandang peradaban modern, alam sekitar itu hidup, tetapi seperti AI, mereka tidak memiliki perasaan dan juga tidak bisa berpikir. Manusialah yang berkuasa atas mereka, karena hanya manusia yang mampu menilai makna eksistensi mereka berdasarkan mata uang masing-masing.

Cuaca dapat dimanipulasi, tiruan matahari bisa dibuat, daging hewan dan sayur-sayuran bisa dibuat di laboratorium. Bila tujuan jangka panjang kemajuan teknologi ini memang positif, sudah barang tentu taraf hidup kita akan lebih baik. Alam sekitar kita seharusnya tidak rusak, karena teknologi kita sudah sangat maju dalam membuat bahan makanan yang tidak memerlukan eksploitasi alam, dan tidak perlu ditumbuhkan di ladang atau peternakan yang memakan banyak biaya.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap pepohonan dan binatang buruan tidak sekadar hidup, tetapi juga memiliki roh sebagaimana manusia yang bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan. Menurut ajaran kepercayaan ini, manusia sebaiknya mempertahankan kerendahan hati saat mengeksploitasi alam agar bisa menekan hawa nafsu serakah yang di kemudian hari merugikan diri sendiri.

Kerendahan hati dilambangkan dengan mempersembahkan sesajen kepada hutan sebelum memotong dahan sebatang pohon, atau sebelum memotong daging hewan buruan. Sesajen dipersembahkan sembari mengucapkan permohonan maaf atas tindakan mereka yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa binatang buruan dan pepohonan demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Di kemudian hari, anggota komunitas suku pedalaman Siberia cenderung akan berpikir panjang sebelum berburu atau memotong sebatang pohon di hutan, mengingat berbelitnya prosesi yang harus dipatuhi. Sehingga, mereka umumnya tidak berlebihan dalam mengkonsumsi apa pun dengan tujuan memberi waktu pada pepohonan untuk tumbuh dan hewan-hewan buruan cukup umur untuk dimangsa.

Memelihara sekitar agar lancar rejeki

Kita semua berharap agar aktivitas kerohanian yang kita jalankan dapat mendatangkan mukjizat dalam hidup kita, agar turunlah cahaya yang membawa jawaban bagi segala permasalahan. Terutama untuk satu masalah yang sedang menjadi tren belakangan ini, yaitu masalah keuangan. Akan tetapi, tidak disarankan menjalankan ajaran leluhur demi mencapai tujuan ini, karena inti ajaran leluhur adalah serangkaian petunjuk untuk memelihara keharmonisan antara manusia dan sekitarnya.

Kita boleh saja menertawakan ajaran Kepercayaan Asli Siberia, walaupun sudah banyak dari kita yang mengalami bencana banjir dan punahnya spesies hewan tertentu akibat perburuan berlebihan. Namun, kita baru bisa melakukannya apabila apa yang menjadi pondasi hidup kita lebih mampu mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia, dan juga alam sekitar. Ketika perilaku kita sudah tak lagi jadi ancaman bagi sumber kehidupan kita sendiri. (dswas).

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...