Minggu, 17 Mei 2026

Gagal Move On Bukan Akhir Dunia – Ini Sebabnya

Penderita demensia cenderung tidak ingat akan banyak hal – nama tempat, nama orang, jalan pulang ke rumah, nama hari, bahkan nama mereka sendiri. Namun, ada satu hal yang masih segar dalam ingatan mereka: lagu-lagu populer dalam suatu fase kehidupan mereka, terutama saat mereka berusia 10 sampai 24 tahun.

Entah itu lagu folk dari era 50-an, blues 60-an, rock & roll 70-an, atau slow rock 80-an, mendengarkan lagu-lagu jadul memberikan efek menenangkan. Detak jantung tidak lagi kencang, hormon dopamine mendadak muncul meredakan kecemasan, bersamaan dengan rasa bahagia mengenang masa muda yang penuh canda dan tawa.

Dalam sejumlah kasus, para pasien demensia yang sudah tak mampu bergerak atau berbicara akan tersenyum, bersenandung, menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama lagu yang tersohor di jamannya. Para anggota keluarga mereka pun lega melihat kehidupan telah ‘kembali’ kepada para ayah, ibu, kakek, atau nenek mereka yang pikun, meski untuk sementara.

Faktanya, mendengarkan lagu-lagu lama memang membawa efek menenangkan bagi siapa saja, meski mereka bukan penderita demensia. Penyebabnya tentu bukan karena para musisi jaman kekinian tidak lagi mampu mencipta lagu yang enak didengar akibat pengaruh Kecerdasan Buatan (AI). Melainkan lebih disebabkan oleh faktor psikologis, tentang kerinduan pada sebuah periode di mana segalanya lebih tidak mengecewakan.  

Namun, toh pada kenyataannya kehidupan kita tidak bisa diputar ulang setiap saat seperti lagu kesayangan kita. Ada hal-hal yang harus tetap tinggal di masa lalu, salah satu penyebabnya karena tidak berkontribusi pada keberlanjutan kesejahteraan alam sekitar. Bukankah kesejahteraan manusia sangat tergantung pada kesejahteraan alam seisinya, bukan hanya sumber daya alam tetapi juga segala makhluk yang eksis di dalamnya?


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang



Alam itu menyembuhkan

Mayoritas dunia mengenal Abkhazia sebagai wilayah dengan bentang alam yang unik, pegunungan bersalju di satu sisi dan tepi Laut Hitam di sisi lain. Kondisi geografis menjadi salah satu faktor di balik berdirinya Kepercayaan Asli Abkhaz ribuan tahun lalu, yang kabarnya mengalami kebangunan kembali di zaman now. Kebijaksanaan lokal leluhur masyarakat Abkhaz ‘menemukan’ bahwa alam sekitar mereka ternyata menyimpan lebih dari sekadar keindahan.

Ketika seorang penganut kepercayaan asli ini sakit, ia disarankan untuk berjalan masuk mengitari hutan tanpa menoleh ke belakang. Tata cara simbolis ini dilakukan dengan maksud meninggalkan penyakit atau hal apapun yang membuat tubuhnya merasa tidak baik-baik saja. Berjalan kaki selalu baik untuk kesehatan, apalagi di bawah rindangnya pepohonan yang melepaskan udara bersih. Dalam sejumlah budaya, menoleh ke belakang merupakan metafora dari mengingat masa lalu yang tidak seluruhnya tentang kenangan manis.

Menyadari berkah tersembunyi ini, Abkhazia menerapkan sejumlah peraturan yang cukup ketat guna melindungi area hutan mereka.  Walaupun turis diizinkan berkunjung dan pariwisata berkembang baik di wilayah ini, beberapa titik sengaja tidak dilengkapi akses jalan. Bahkan dikenakan tarif masuk yang cukup mahal di spot krusial, misalnya di Danau Ritsa yang dianggap sakral oleh para penganut Kepercayaan Asli Abkhaz. Bukan lantaran ada makhluk halus di danau itu yang bisa membantu mereka cepat kaya (pesugihan). Melainkan karena fungsi air memang ‘sakral’ bagi kehidupan manusia sebagaimana yang telah sering saya bahas di banyak artikel di blog ini.

Jangan tersesat di permukaan

Cara-cara lama identik dengan anti modernitas dan kental feodalisme yang menolak kemajuan. Itulah yang sering saya dengar saat masih kuliah. Akan tetapi, kualitas kehidupan manusia belakangan ini tidak semakin baik, walaupun peradaban masa kini sudah jauh lebih modern dibandingkan 10-20 tahun lalu. Ironisnya, eksploitasi alam secara besar-besaran ternyata tidak serta-merta mampu membebaskan manusia dari rasa cemas tentang keuangan dan masa depan.  

Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan melalui kepercayaan tradisional masing-masing seharusnya mendapat dukungan dan ditanggapi dengan pikiran terbuka. Kita tersesat di permukaan apabila kita memilih menghakimi mereka dengan menyematkan label-label negatif, ketika cakrawala pemikiran modern kita telah gagal menyelamatkan alam sekitar dari degradasi dan kehancuran. (dswas).

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...