Jumat, 13 Maret 2026

Konservasi Sebagai Investasi Penuh Pengorbanan

“Hemat pangkal kaya”, itulah peribahasa yang diperkenalkan kepada kita agar selalu bergaya hidup sederhana, tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Agar di belakang hari uang yang kita miliki dapat kita manfaatkan untuk menaikkan derajat kita di tengah masyarakat. Ironisnya, ketika uang sudah banyak terkumpul terjadilah inflasi global, di mana nilai uang tersebut pun menurun. Alih-alih meningkatkan status, uang yang kita miliki terpaksa dibelanjakan untuk membiayai keperluan sehari-hari.

Argumen di atas biasanya dikemukakan oleh mereka yang menyebut diri mereka sebagai penasihat keuangan atau pakar keuangan. Mungkin Anda juga sudah pernah mendengarnya. Biasanya mereka akan menawarkan alternatif untuk memberdayakan uang Anda di bawah motto “biarkan uang bekerja untuk Anda.” Yang bermakna, seseorang tidak perlu bekerja keras untuk mengembangkan modalnya, melainkan cukup menginvestasikannya dengan cara membeli saham sebuah perusahaan. Atau meminjamkan uangnya pada sebuah bisnis untuk mendapat pembayaran berupa modal + sekian persen bunga. Atau bahkan meminjamkan uang dalam skema pinjaman online.

Berkat literasi keuangan, para pemilik modal kecil hingga menengah cenderung memahami bahwa hasil instan adalah mitos. Ada kesabaran untuk menunggu yang harus mereka terapkan guna meraup cuan, karena sesuatu yang too good to be true kadang hanyalah perangkap para predator keuangan. Akan tetapi, kesabaran ini pun bukanlah senjata yang ampuh untuk mengusir inflasi jauh-jauh.

Akibatnya, berapa pun hasil yang didapat dari skema investasi di atas mengalami penurunan nilai. Para investor harus berhemat luar biasa untuk menanamkan kembali modalnya, atau modal tersebut akan tergerus oleh pengeluaran pribadi mereka sendiri. Bertambahnya bobot tantangan yang harus dijawab para investor memaksa mereka menggali berbagai jalan alternatif agar dapat terus mengembangkan modal. 


Ilustrasi: Candi Waringin Branjang, Blitar


Kepercayaan asli sebagai modal investasi

Di luar segala berita tentang konflik bersenjata dan masalah kesejahteraan, Nigeria merupakan sebuah wilayah di dunia dengan 500 bahasa daerah yang masih dipertahankan penggunaannya di 36 negara bagiannya. Di antara mereka, terdapatlah kaum Maguzawa dalam kelompok suku Hausa yang tinggal di negara bagian Kano, Nigeria Utara, yang bersikukuh mempertahankan gaya hidup seimbang dengan alam di tengah tantangan yang semakin berat dari hari ke hari.

Menurut kepercayaan asli Maguzawa, beberapa jenis binatang buas, misalnya ular piton, merupakan perwujudan leluhur sehingga dilarang diburu dan dibunuh. Pemuliaan terhadap hutan sebagai sumber makanan diwujudkan dalam bentuk larangan mendirikan pemukiman atau membuka ladang di sekitar area yang dianggap sakral. Sebelum memancing di sungai, sesaji diberikan sebagai bentuk penyadaran diri untuk membatasi apa yang bisa mereka ambil dari sungai, termasuk pemanfaatannya untuk keperluan sehari-hari.

Walaupun sepintas sederhana, kebiasaan Maguzawa merupakan bentuk keyakinan terhadap masa depan yang didasari oleh tindakan mereka saat ini. Mereka tidak perlu memprediksi ke mana nasib akan bergerak dalam beberapa hari ke depan, karena hasil dari aktivitas memelihara sesuatu akan menumbuhkan sesuatu juga di waktu yang akan datang. Kepercayaan asli Maguzawa telah menuntun kaumnya kepada hidup harmonis dengan alam yang berkelanjutan berkat kesediaan untuk ‘mengorbankan’ kesenangan sesaat demi hasil nyata di masa depan. Di sinilah kepercayaan asli berfungsi sebagai modal yang nilainya tetap apa pun yang terjadi, meskipun inflasi naik dan turun setiap saat di luar sana.

Berkorban tapi menghasilkan

Mereka yang berprofesi sebagai investor bisa meraih sukses bukan hanya karena didukung modal besar dan kejelian menafsirkan gejolak yang terjadi pada saat itu. Seperti bidang lainnya, kesuksesan tercapai karena kerelaan untuk berkorban. Bukan pengorbanan buta, tentu saja, melainkan pengorbanan yang dilakukan setelah mengamati secara mendetail hasil dari berbagai eksperimen yang telah dijalankan.

Para pendiri aliran kepercayaan dari seluruh penjuru dunia juga menyusun pondasi mereka berdasarkan ‘eksperimen’, berdasarkan apa yang pernah terjadi dan solusi yang ampuh untuk mengatasi situasi tersebut. Bukan berdasarkan suara-suara gaib seperti dalam film horror. Mereka tidak perlu menunggu terlalu lama untuk tahu apa hasil dari menahan diri secara susah payah dari dorongan kencing di sungai, misalnya, karena sungai yang sama dimanfaatkan sebagai air minum.

Mereka juga tidak perlu menebak-nebak apa hasil dari tidak menebang pohon jenis tertentu, atau membabat habis hutan, sesuai aturan aliran kepercayaan mereka. Di musim kemarau atau hujan berikutnya, kekeringan atau banjir bandang adalah akibat dari pelanggaran peraturan yang telah mereka lakukan.  (dswas).

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...