“Hemat pangkal kaya”, itulah peribahasa yang diperkenalkan kepada kita agar selalu bergaya hidup sederhana, tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Agar di belakang hari uang yang kita miliki dapat kita manfaatkan untuk menaikkan derajat kita di tengah masyarakat. Ironisnya, ketika uang sudah banyak terkumpul terjadilah inflasi global, di mana nilai uang tersebut pun menurun. Alih-alih meningkatkan status, uang yang kita miliki terpaksa dibelanjakan untuk membiayai keperluan sehari-hari.
Argumen di atas biasanya dikemukakan oleh mereka yang
menyebut diri mereka sebagai penasihat keuangan atau pakar keuangan. Mungkin
Anda juga sudah pernah mendengarnya. Biasanya mereka akan menawarkan alternatif
untuk memberdayakan uang Anda di bawah motto “biarkan uang bekerja untuk Anda.”
Yang bermakna, seseorang tidak perlu bekerja keras untuk mengembangkan
modalnya, melainkan cukup menginvestasikannya dengan cara membeli saham sebuah
perusahaan. Atau meminjamkan uangnya pada sebuah bisnis untuk mendapat
pembayaran berupa modal + sekian persen bunga. Atau bahkan meminjamkan uang
dalam skema pinjaman online.
Berkat literasi keuangan, para pemilik modal kecil hingga
menengah cenderung memahami bahwa hasil instan adalah mitos. Ada kesabaran
untuk menunggu yang harus mereka terapkan guna meraup cuan, karena sesuatu yang
too good to be true kadang hanyalah perangkap para predator keuangan. Akan
tetapi, kesabaran ini pun bukanlah senjata yang ampuh untuk mengusir inflasi
jauh-jauh.
Akibatnya, berapa pun hasil yang didapat dari skema
investasi di atas mengalami penurunan nilai. Para investor harus berhemat luar
biasa untuk menanamkan kembali modalnya, atau modal tersebut akan tergerus oleh
pengeluaran pribadi mereka sendiri. Bertambahnya bobot tantangan yang harus
dijawab para investor memaksa mereka menggali berbagai jalan alternatif agar
dapat terus mengembangkan modal.
Kepercayaan asli sebagai modal investasi
Di luar segala berita tentang konflik bersenjata dan masalah
kesejahteraan, Nigeria merupakan sebuah wilayah di dunia dengan 500 bahasa
daerah yang masih dipertahankan penggunaannya di 36 negara bagiannya. Di antara
mereka, terdapatlah kaum Maguzawa dalam kelompok suku Hausa yang tinggal di negara
bagian Kano, Nigeria Utara, yang bersikukuh mempertahankan gaya hidup seimbang
dengan alam di tengah tantangan yang semakin berat dari hari ke hari.
Menurut kepercayaan asli Maguzawa, beberapa jenis binatang
buas, misalnya ular piton, merupakan perwujudan leluhur sehingga dilarang
diburu dan dibunuh. Pemuliaan terhadap hutan sebagai sumber makanan diwujudkan
dalam bentuk larangan mendirikan pemukiman atau membuka ladang di sekitar area
yang dianggap sakral. Sebelum memancing di sungai, sesaji diberikan sebagai
bentuk penyadaran diri untuk membatasi apa yang bisa mereka ambil dari sungai,
termasuk pemanfaatannya untuk keperluan sehari-hari.
Walaupun sepintas sederhana, kebiasaan Maguzawa merupakan
bentuk keyakinan terhadap masa depan yang didasari oleh tindakan mereka saat
ini. Mereka tidak perlu memprediksi ke mana nasib akan bergerak dalam beberapa
hari ke depan, karena hasil dari aktivitas memelihara sesuatu akan menumbuhkan
sesuatu juga di waktu yang akan datang. Kepercayaan asli Maguzawa telah menuntun
kaumnya kepada hidup harmonis dengan alam yang berkelanjutan berkat kesediaan
untuk ‘mengorbankan’ kesenangan sesaat demi hasil nyata di masa depan. Di sinilah
kepercayaan asli berfungsi sebagai modal yang nilainya tetap apa pun yang
terjadi, meskipun inflasi naik dan turun setiap saat di luar sana.
Berkorban tapi menghasilkan
Mereka yang berprofesi sebagai investor bisa meraih sukses
bukan hanya karena didukung modal besar dan kejelian menafsirkan gejolak yang
terjadi pada saat itu. Seperti bidang lainnya, kesuksesan tercapai karena
kerelaan untuk berkorban. Bukan pengorbanan buta, tentu saja, melainkan
pengorbanan yang dilakukan setelah mengamati secara mendetail hasil dari
berbagai eksperimen yang telah dijalankan.
Para pendiri aliran kepercayaan dari seluruh penjuru dunia
juga menyusun pondasi mereka berdasarkan ‘eksperimen’, berdasarkan apa yang
pernah terjadi dan solusi yang ampuh untuk mengatasi situasi tersebut. Bukan
berdasarkan suara-suara gaib seperti dalam film horror. Mereka tidak perlu
menunggu terlalu lama untuk tahu apa hasil dari menahan diri secara susah payah
dari dorongan kencing di sungai, misalnya, karena sungai yang sama dimanfaatkan
sebagai air minum.
Mereka juga tidak perlu menebak-nebak apa hasil dari tidak
menebang pohon jenis tertentu, atau membabat habis hutan, sesuai aturan aliran
kepercayaan mereka. Di musim kemarau atau hujan berikutnya, kekeringan atau
banjir bandang adalah akibat dari pelanggaran peraturan yang telah mereka
lakukan. (dswas).