Selasa, 17 Maret 2026

Mencari Bahagia Yang Bukan Karena Emas

Tak terasa pandemi COVID 19 sudah meninggalkan kita sekitar empat tahun silam, walaupun sisa-sisa krisis kesehatan terbesar di era modern masih terasa hingga saat ini. Kerinduan akan work from home, misalnya, kembali meruyak setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengemukakan ide kembali ke ‘bekerja dari rumah’ sebagai salah satu cara menekan pengeluaran sehari-hari sebagai dampak kian mahalnya harga bahan bakar kendaraan bermotor.

Ketika beberapa dari kita bisa menghemat biaya transportasi, uang makan, dan biaya make-up berkat trik berhemat ini, sekelompok orang menjerit karena kehilangan pemasukan, di antaranya adalah bisnis pariwisata dan siapa pun yang mengais penghasilan di sektor ini. ‘Mimpi buruk’ ini kembali membayangi para pelaku usaha pariwisata di sejumlah wilayah beberapa waktu terakhir, bukan saja akibat krisis geopolitik melainkan melemahnya daya beli masyarakat.

Tentu saja, ekonomi sulit tak harus jadi penghalang bagi siapa pun untuk berbahagia menikmati hidup dengan berwisata. Di kampung kami, orang-orang berusaha “menyeimbangkan” antara keinginan berwisata dengan situasi isi dompet. Antara lain, berwisata secara berkelompok, berwisata sambil buat konten monetisasi, atau mencari spot-spot tersembunyi di sekitar rumah masing-masing yang bisa dijadikan tempat bersantai sambil menikmati suasana sekitar secara gratis. 


Ilustrasi: Sumber Nyolo, Malang. 


Bukan “bahagia” biasa

Meski menyandang julukan “Pantai Emas” di era pra kemerdekaan berkat besarnya kandungan emas yang dimilikinya hingga saat ini, emas bukanlah sumber kebahagiaan sejati bagi masyarakat Ghana yang masih setia pada tradisi mereka. Negara bekas jajahan Inggris ini dihuni sekitar 37 juta jiwa yang terdiri dari 100 kelompok suku dan terbagi dalam sembilan kelompok bahasa daerah dan budaya. Kepercayaan asli mereka dikelompokkan menjadi satu di bawah payung African Traditional Religion (Kepercayaan Asli Afrika), di mana konsep Ubuntu yang bermakna “I am because you are (saya dan kau sama)” merupakan salah satu local genius yang berakar darinya.

Kebahagiaan bagi para penganut Kepercayaan Asli Afrika bukanlah tujuan hidup, melainkan hasil pemeliharaan keharmonisan antara empat tingkatan pembentuk eksistensi manusia, yaitu intrapersonal (self), interpersonal (orang lain), transedental (leluhur), dan universal (alam). Menjaga keharmonisan dengan sesama makhluk tidaklah sulit sepanjang mereka terlihat. Bagaimana dengan para leluhur? Mengingat asal muasal antara lain diwujudkan dengan menuangkan air, madu, susu, atau anggur ke tanah sebagai ungkapan terima kasih pada para pendahulu. Ini juga merupakan cara para penganut Kepercayaan Asli Afrika untuk melatih inisiatif bersedia melepaskan sesuatu yang ingin mereka pegang kuat-kuat.  

Sebagai hasilnya, kebahagiaan dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Afrika merupakan ketentraman, tanpa kecemasan menghadapi situasi apa pun. Hal ini baru bisa dirasakan ketika seseorang berhasil menemukan pemahaman bahwa “bahagia” tidak selalu dan tidak harus berkaitan dengan perasaan nikmat, kesenangan sesaat yang timbul tenggelam sesuai kondisi cuaca.  Sebuah ketentraman yang membuat sekelompok masyarakat merasa cukup, walaupun tidak pernah berpetualang mengelilingi dunia.

Dari sini kita dapat memahami mengapa kekayaan alam Ghana dan Afrika sangat melimpah, walaupun mereka mengalami masa pendudukan di zaman kuno maupun modern selama berabad-abad. Yaitu karena para leluhur Ghana hanya menggunakan kekayaan alam seperlunya, dengan tujuan agar dapat dinikmati generasi berikutnya, yang merupakan representasi dari faktor interpersonal pembentuk eksistentsi manusia.

“Menjual” bahagia di era turbulensi

Para pelaku bisnis pariwisata tidak perlu panik apabila masyarakat tidak terlalu tertarik berwisata karena mereka sudah menemukan “kebahagiaan” dari berjalan-jalan di spot cantik dekat rumah. Justru ini dapat menjadi sebuah peluang untuk berinovasi mengembangkan konsep wisata jenis baru, misalnya, yang bukan hanya menempatkan wisatawan sebagai objek tetapi subjek aktivitas wisata. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar menghabiskan uang untuk bersenang-senang.

Kita sama-sama telah menyaksikan bahwa kesenangan itu tidak abadi, karena akan selalu ada kesedihan yang menyertainya. Apa yang sebaiknya dilakukan para pelaku bisnis pariwisata agar kesenangan wisatawan tidak berubah menjadi kesedihan saat mereka menyadari mahalnya biaya yang harus ia keluarkan (misalnya)?

Apa pun itu, memang tidak mudah menjual kebahagiaan di era penuh turbulensi yang bisa datang sewaktu-waktu seperti saat ini. Sudah saatnya para pelaku bisnis pariwisata menjalin kerja sama dengan empat faktor pembentuk eksistensi di atas, agar bisnis tetap berjalan di tengah hujan badai atau banjir bandang sekalipun.  (dswas) 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...