Dalam situasi terjepit akibat berbagai hal (dan terutama sekali faktor ekonomi), sebagian orang berusaha mencari solusi segala permasalahannya dengan melakukan revolusi spiritual. Yaitu dengan lebih menekuni tuntunan agama guna mencari ketenangan batin, untuk menjernihkan kebisingan suara hati agar terlihatlah jalan yang sebaiknya ia pilih menuju penyelesaian segala masalah mereka.
Ada yang bilang ini seperti orang yang ingin melupakan
segala kesedihannya dengan cara mengonsumsi obat penenang atau anti depresi.
“Tuduhan” yang sekilas terlalu kejam dan tidak adil. Namun, saya yakin sebagian
dari kita pernah mengalami situasi seperti ini, atau bahkan sedang mengalaminya
saat ini. Mereka yang memilih jalan di atas tak dapat disalahkan, karena toh
setidaknya mereka berusaha mencari solusi. Berusaha menolong diri mereka
sendiri dari keterpurukan, karena terpuruk dan tak berdaya itu lebih
menyakitkan rasanya. Betul tidak?
Tujuan yang tadinya terdengar penuh cahaya dan sering
dijadikan parameter kematangan mental seseorang bisa berubah menjadi kesesatan.
Yaitu tatkala mereka menjadikannya sebagai satu-satunya cara agar tujuannya
tercapai, tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan segala langkah dan
gerakan yang diambilnya. Keputusan tersebut bukanlah sebuah keputusan mandiri
yang diambil sebagai hasil sebuah pencarian spiritual melalui latihan dan wawas
diri, melainkan sesuatu yang diinjeksikan ke dalam diri mereka sebagai
‘vaksin’.
Vaksin memang bertujuan melatih sel-sel tubuh untuk menjadi
kebal dengan mengenali dan memerangi virus dan bakteri. Akan tetapi, vaksin
yang efektif terbuat dari sel bakteri atau virus itu sendiri yang telah
dilemahkan agar sel tubuh cukup kuat untuk mengenalinya sebagai komponen jahat
untuk diperangi. Artinya, vaksin dengan sel bakteri atau virus yang tidak cukup
lemah sama adalah sangat berbahaya bila diinjeksikan ke tubuh seseorang.
Tujuannya pun sudah jelas, yaitu membuat tubuh sekelompok manusia menjadi
sakit. Namun, bagaimana seandainya bukan sakit fisik, melainkan mental, yang
jadi sasarannya?
Bukan hanya harta
Dewasa ini, kita ‘sakit’ menyaksikan previlese segelintir
orang yang seolah tak merasakan kecemasan lantaran anak cucu mereka sulit
mencari nafkah atau tak bisa menikmati gaji besar. Nama besar keluarga
(tertentu) seakan jadi jaminan bahwa anak cucu mereka akan hidup enak hingga
tujuh turunan. Itulah kenyataan di beberapa tempat di dunia masa kini. Asal
tahu saja, ratusan hingga ribuan tahun lalu, suatu keluarga tak harus jadi kaya
terlebih dulu supaya bisa memastikan dan berperan serta dalam kesejahteraan
hidup generasi penerus mereka.
Orang-orang Serbia yang masih memegang teguh Kepercayaan
Asli Slavia (Rodnovery) memandang rumah sebagai “kuil” di mana sosok ayah
dan ibu atau kakek dan nenek menjadi wakil para leluhur. Tanpa para leluhur,
tidak akan ada kakek nenek, orang tua, apalagi kita. Menghormati orang tua dianggap
sama sakralnya dengan memuliakan mata air dan para leluhur yang telah lama
tiada. Ini diperkuat pula oleh nama aliran kepercayaan itu sendiri, Rodnovery,
yang terbentuk dari kata Rod (garis keturunan, kelahiran, kekerabatan).
Sebagai timbal balik, generasi senior orang Serbia
memberikan dukungan
pada generasi muda untuk tujuan mereka membangun komunitas yang lebih baik dan
sejahtera. Dukungan dalam bentuk uang atau harta benda memang bernilai, tetapi
kehadiran, pemahaman, dan penerimaan oleh generasi senior lebih tak ternilai
harganya apabila bertujuan untuk menentramkan dan, pada gilirannya, menumbuhkan
rasa aman dalam benak generasi yang lebih muda. Dukungan yang akan selalu hidup
dalam ingatan para generasi muda sebagai petunjuk bagi para leluhur masa depan
untuk bersikap dan bertindak dengan penuh kewaspadaan sebagai teladan bagi
generasi berikutnya.
Sadar setelah tiada
Dalam banyak kasus, generasi baru dan muda akan menyadari
dan memahami makna di balik nasihat kaum senior “bawel” bertahun-tahun, atau
bahkan berpuluh-puluh tahun, setelah para pendahulu ini meninggal dunia, setelah
kedua generasi itu dipisahkan oleh jarak dan takdir. Kerinduan pada sosok
pelindung seringkali menjadi penuntun untuk kembali mengingat wejangan dan
saran yang seringkali dipandang tidak relevan dengan situasi generasi yang
lebih muda pada saat itu.
Berbagai dinamika membuat sekelompok orang memilih petunjuk
berdasarkan impresi emosional, bukan berdasarkan faktualitas petunjuk itu
sendiri. Situasi seperti ini dapat terjadi karena ada penyesalan mendalam
akibat rasa kehilangan sosok penuntun dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kesedihan
menahun yang tidak dapat (atau belum dapat) diredam dengan penerimaan atas
kepergian sosok tersebut dalam kehidupan mereka.
Penyesalan ini membuat mereka tersesat dalam memilih petunjuk dan tuntunan hidup. Keliru dalam memilih petunjuk yang benar-benar mendatangkan hasil berwujud kebahagiaan dari mampu menimbulkan rasa aman dalam batin mereka di tengah kesulitan hidup silih berganti. (dswas)