Minggu, 29 Maret 2026

Mencari Petunjuk Spiritual Tanpa Tersesat, Mungkinkah?

Dalam situasi terjepit akibat berbagai hal (dan terutama sekali faktor ekonomi), sebagian orang berusaha mencari solusi segala permasalahannya dengan melakukan revolusi spiritual. Yaitu dengan lebih menekuni tuntunan agama guna mencari ketenangan batin, untuk menjernihkan kebisingan suara hati agar terlihatlah jalan yang sebaiknya ia pilih menuju penyelesaian segala masalah mereka.

Ada yang bilang ini seperti orang yang ingin melupakan segala kesedihannya dengan cara mengonsumsi obat penenang atau anti depresi. “Tuduhan” yang sekilas terlalu kejam dan tidak adil. Namun, saya yakin sebagian dari kita pernah mengalami situasi seperti ini, atau bahkan sedang mengalaminya saat ini. Mereka yang memilih jalan di atas tak dapat disalahkan, karena toh setidaknya mereka berusaha mencari solusi. Berusaha menolong diri mereka sendiri dari keterpurukan, karena terpuruk dan tak berdaya itu lebih menyakitkan rasanya. Betul tidak?

Tujuan yang tadinya terdengar penuh cahaya dan sering dijadikan parameter kematangan mental seseorang bisa berubah menjadi kesesatan. Yaitu tatkala mereka menjadikannya sebagai satu-satunya cara agar tujuannya tercapai, tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan segala langkah dan gerakan yang diambilnya. Keputusan tersebut bukanlah sebuah keputusan mandiri yang diambil sebagai hasil sebuah pencarian spiritual melalui latihan dan wawas diri, melainkan sesuatu yang diinjeksikan ke dalam diri mereka sebagai ‘vaksin’.

Vaksin memang bertujuan melatih sel-sel tubuh untuk menjadi kebal dengan mengenali dan memerangi virus dan bakteri. Akan tetapi, vaksin yang efektif terbuat dari sel bakteri atau virus itu sendiri yang telah dilemahkan agar sel tubuh cukup kuat untuk mengenalinya sebagai komponen jahat untuk diperangi. Artinya, vaksin dengan sel bakteri atau virus yang tidak cukup lemah sama adalah sangat berbahaya bila diinjeksikan ke tubuh seseorang. Tujuannya pun sudah jelas, yaitu membuat tubuh sekelompok manusia menjadi sakit. Namun, bagaimana seandainya bukan sakit fisik, melainkan mental, yang jadi sasarannya?


Ilustrasi: Sebuah pemakaman umum di Malang.


Bukan hanya harta

Dewasa ini, kita ‘sakit’ menyaksikan previlese segelintir orang yang seolah tak merasakan kecemasan lantaran anak cucu mereka sulit mencari nafkah atau tak bisa menikmati gaji besar. Nama besar keluarga (tertentu) seakan jadi jaminan bahwa anak cucu mereka akan hidup enak hingga tujuh turunan. Itulah kenyataan di beberapa tempat di dunia masa kini. Asal tahu saja, ratusan hingga ribuan tahun lalu, suatu keluarga tak harus jadi kaya terlebih dulu supaya bisa memastikan dan berperan serta dalam kesejahteraan hidup generasi penerus mereka.  

Orang-orang Serbia yang masih memegang teguh Kepercayaan Asli Slavia (Rodnovery) memandang rumah sebagai “kuil” di mana sosok ayah dan ibu atau kakek dan nenek menjadi wakil para leluhur. Tanpa para leluhur, tidak akan ada kakek nenek, orang tua, apalagi kita. Menghormati orang tua dianggap sama sakralnya dengan memuliakan mata air dan para leluhur yang telah lama tiada. Ini diperkuat pula oleh nama aliran kepercayaan itu sendiri, Rodnovery, yang terbentuk dari kata Rod (garis keturunan, kelahiran, kekerabatan).  

Sebagai timbal balik, generasi senior orang Serbia memberikan dukungan pada generasi muda untuk tujuan mereka membangun komunitas yang lebih baik dan sejahtera. Dukungan dalam bentuk uang atau harta benda memang bernilai, tetapi kehadiran, pemahaman, dan penerimaan oleh generasi senior lebih tak ternilai harganya apabila bertujuan untuk menentramkan dan, pada gilirannya, menumbuhkan rasa aman dalam benak generasi yang lebih muda. Dukungan yang akan selalu hidup dalam ingatan para generasi muda sebagai petunjuk bagi para leluhur masa depan untuk bersikap dan bertindak dengan penuh kewaspadaan sebagai teladan bagi generasi berikutnya.

Sadar setelah tiada

Dalam banyak kasus, generasi baru dan muda akan menyadari dan memahami makna di balik nasihat kaum senior “bawel” bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, setelah para pendahulu ini meninggal dunia, setelah kedua generasi itu dipisahkan oleh jarak dan takdir. Kerinduan pada sosok pelindung seringkali menjadi penuntun untuk kembali mengingat wejangan dan saran yang seringkali dipandang tidak relevan dengan situasi generasi yang lebih muda pada saat itu.

Berbagai dinamika membuat sekelompok orang memilih petunjuk berdasarkan impresi emosional, bukan berdasarkan faktualitas petunjuk itu sendiri. Situasi seperti ini dapat terjadi karena ada penyesalan mendalam akibat rasa kehilangan sosok penuntun dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kesedihan menahun yang tidak dapat (atau belum dapat) diredam dengan penerimaan atas kepergian sosok tersebut dalam kehidupan mereka.

Penyesalan ini membuat mereka tersesat dalam memilih petunjuk dan tuntunan hidup. Keliru dalam memilih petunjuk yang benar-benar mendatangkan hasil berwujud kebahagiaan dari mampu menimbulkan rasa aman dalam batin mereka di tengah kesulitan hidup silih berganti. (dswas) 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...