Apakah masa depan cerah sebuah kenyataan yang tertunda atau angan-angan yang tak pernah terwujud? Saya yakin inilah pertanyaan yang belakangan sering menghantui sebagian besar manusia di Bumi. Saya punya seorang teman yang jatuh sakit akibat tekanan batin dari kegelisahan terkait masa depan anak semata wayangnya. Teman lainnya mengaku depresi membaca berita terkini yang berseliweran di beranda perambannya. Sementara tetangga kami merasakan tekanan ekonomi terlalu kuat baginya, sehingga memilih mengurung diri di rumah dan menghindari berinteraksi dengan para tetangga lainnya.
Tulisan ini tidak hendak mencari siapa yang patut disalahkan
atas situasi kronis tersebut, karena kita perlu memahami bahwa segala hal yang
terjadi saat ini merupakan rentetan hasil dari segala hal yang terjadi di masa
sebelumnya. Jerat kesulitan ekonomi yang menimpa suatu bangsa hari ini
berkaitan erat dengan berbagai langkah, tindakan, sikap, inisiatif, keputusan,
respons, dll. di waktu sebelumnya. Sebagaimana kesuksesan yang tidak terjadi
dalam semalam, kegagalan juga bukan merupakan dampak dari faktor tertentu yang
berdiri sendiri.
Saat roda bergerak ke bawah dan menempatkan status seseorang
di lantai dasar, bahkan bawah tanah, salah satu reaksi yang paling umum adalah
berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan posisi itu dengan berbagai cara.
Meninggalkan zona nyaman secara terpaksa dan di luar keinginan kita tentu saja
mendatangkan perasaan tidak nyaman, kalau bukan kesedihan atau kerontokan
psikologis. Ini adalah suatu hal wajar yang bisa dialami siapa pun, bukan suatu
hal memalukan atau sebuah dosa besar.
Kepercayaan asli menghormati alam
Sebelum dikenal dunia sebagai negara ‘seribu ranjau’ akibat
banyaknya ranjau yang ditanam secara acak guna mengatasi masalah politik,
Myanmar merupakan negara dengan akar budaya lokal yang kuat bahkan hingga saat
ini. Walaupun badan internasional menetapkan Myanmar sebagai negara gagal
akibat masalah ekonomi yang dialaminya, status ini tak mengubah fakta bahwa Myanmar
merupakan lokasi Situs Warisan Dunia yang diakui UNESCO berkat 1000 pagoda dan
berbagai situs sejarah era Hindu-Buddha yang terpelihara dengan baik hingga
saat ini.
Pengakuan dunia terhadap apa yang terlihat oleh mata
telanjang di Myanmar juga tidak mengubah fakta lain bahwa Kepercayaan Asli Myanmar telah lebih dahulu hadir dalam bentuk pemuliaan terhadap kekuatan alam
dan para leluhur. Mata air, sungai, dan lautan tidak dianggap sebagai entitas
benda mati, melainkan sumber kehidupan yang disakralkan melalui sesaji dalam
bentuk bunga, dupa, atau makanan. Kisah-kisah seram disebarkan dari generasi ke
generasi agar orang-orang selalu dapat mengendalikan diri dalam menangani hutan
dan segala isinya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Walaupun media dan sejumlah sumber internet cenderung
memberitakan Myanmar dalam sudut pandang negatif, hingga detik ini pun negara
yang dulu bernama Burma ini “hanya” kehilangan sekitar 12% dari luas hutan
secara keseluruhan. Dunia memang cenderung menyoroti lahan kritis akibat pembalakan
liar, tambang ilegal, ranjau, hilangnya beberapa spesies satwa di Myanmar.
Sampai-sampai kita melupakan keberadaan nilai-nilai kepercayaan asli yang sudah
berjasa mempertahankan kelestarian alam Myanmar hingga saat sebelum berbagai
konflik datang menghujam.
Masa depan cerah bukan mitos
Dalam situasi ekonomi penuh tekanan, mayoritas orang akan
cenderung memilih untuk berhemat agar bisa bertahan hidup. Cara yang sangat
lumrah dan dapat dipahami, meskipun konsekuensinya adalah sebuah daftar panjang
hal-hal yang harus dibuang dengan berat hati. Contoh: produsen makanan akan
mengecilkan ukuran produk makanannya guna menghemat ongkos produksi, sementara
perusahaan yang lebih besar akan memilih untuk mengecilkan jumlah pekerjanya.
Myanmar yang kita kenal saat ini sebagai pusat scam tingkat
dunia, dahulu merupakan rumah bagi sekelompok masyarakat yang menjadikan
kesadaran untuk menghemat sumber daya alam sebagai bagian dari tindak-tanduk
spiritual kepercayaan asli mereka. Di saat hewan buruan masih banyak dan hutan
masih rapat, para leluhur Myanmar memilih untuk mengambil secukupnya bukan
karena terpaksa. Melainkan sebuah pilihan yang didasari kegembiraan menyambut
masa yang akan datang, walaupun pada kenyataannya kita tahu apa yang sedang
menimpa Myanmar hari ini.
Berdasarkan statistik terbaru, hanya sekitar 0,8% dari
jumlah total rakyat Myanmar yang mengaku masih memegang teguh kepercayaan asli.
Sebagai cara menerangi diri kita sendiri dengan optimisme, kita bisa menganggapnya
sebagai sebuah pertanda baik. Sebuah pertanda sangat lemah yang mengisyaratkan
bahwa masih ada segelintir orang di Myanmar yang bisa melihat kebenaran dalam
ajaran para pendahulu mereka tentang membangun masa depan cerah.