Kamis, 19 Maret 2026

Masa Depan Cerah, Fakta Atau Mitos?

Apakah masa depan cerah sebuah kenyataan yang tertunda atau angan-angan yang tak pernah terwujud? Saya yakin inilah pertanyaan yang belakangan sering menghantui sebagian besar manusia di Bumi. Saya punya seorang teman yang jatuh sakit akibat tekanan batin dari kegelisahan terkait masa depan anak semata wayangnya. Teman lainnya mengaku depresi membaca berita terkini yang berseliweran di beranda perambannya. Sementara tetangga kami merasakan tekanan ekonomi terlalu kuat baginya, sehingga memilih mengurung diri di rumah dan menghindari berinteraksi dengan para tetangga lainnya.

Tulisan ini tidak hendak mencari siapa yang patut disalahkan atas situasi kronis tersebut, karena kita perlu memahami bahwa segala hal yang terjadi saat ini merupakan rentetan hasil dari segala hal yang terjadi di masa sebelumnya. Jerat kesulitan ekonomi yang menimpa suatu bangsa hari ini berkaitan erat dengan berbagai langkah, tindakan, sikap, inisiatif, keputusan, respons, dll. di waktu sebelumnya. Sebagaimana kesuksesan yang tidak terjadi dalam semalam, kegagalan juga bukan merupakan dampak dari faktor tertentu yang berdiri sendiri.

Saat roda bergerak ke bawah dan menempatkan status seseorang di lantai dasar, bahkan bawah tanah, salah satu reaksi yang paling umum adalah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan posisi itu dengan berbagai cara. Meninggalkan zona nyaman secara terpaksa dan di luar keinginan kita tentu saja mendatangkan perasaan tidak nyaman, kalau bukan kesedihan atau kerontokan psikologis. Ini adalah suatu hal wajar yang bisa dialami siapa pun, bukan suatu hal memalukan atau sebuah dosa besar. 


Ilustrasi: Kolam Segaran, Mojokerto


Kepercayaan asli menghormati alam

Sebelum dikenal dunia sebagai negara ‘seribu ranjau’ akibat banyaknya ranjau yang ditanam secara acak guna mengatasi masalah politik, Myanmar merupakan negara dengan akar budaya lokal yang kuat bahkan hingga saat ini. Walaupun badan internasional menetapkan Myanmar sebagai negara gagal akibat masalah ekonomi yang dialaminya, status ini tak mengubah fakta bahwa Myanmar merupakan lokasi Situs Warisan Dunia yang diakui UNESCO berkat 1000 pagoda dan berbagai situs sejarah era Hindu-Buddha yang terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Pengakuan dunia terhadap apa yang terlihat oleh mata telanjang di Myanmar juga tidak mengubah fakta lain bahwa Kepercayaan Asli Myanmar telah lebih dahulu hadir dalam bentuk pemuliaan terhadap kekuatan alam dan para leluhur. Mata air, sungai, dan lautan tidak dianggap sebagai entitas benda mati, melainkan sumber kehidupan yang disakralkan melalui sesaji dalam bentuk bunga, dupa, atau makanan. Kisah-kisah seram disebarkan dari generasi ke generasi agar orang-orang selalu dapat mengendalikan diri dalam menangani hutan dan segala isinya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Walaupun media dan sejumlah sumber internet cenderung memberitakan Myanmar dalam sudut pandang negatif, hingga detik ini pun negara yang dulu bernama Burma ini “hanya” kehilangan sekitar 12% dari luas hutan secara keseluruhan. Dunia memang cenderung menyoroti lahan kritis akibat pembalakan liar, tambang ilegal, ranjau, hilangnya beberapa spesies satwa di Myanmar. Sampai-sampai kita melupakan keberadaan nilai-nilai kepercayaan asli yang sudah berjasa mempertahankan kelestarian alam Myanmar hingga saat sebelum berbagai konflik datang menghujam.

Masa depan cerah bukan mitos

Dalam situasi ekonomi penuh tekanan, mayoritas orang akan cenderung memilih untuk berhemat agar bisa bertahan hidup. Cara yang sangat lumrah dan dapat dipahami, meskipun konsekuensinya adalah sebuah daftar panjang hal-hal yang harus dibuang dengan berat hati. Contoh: produsen makanan akan mengecilkan ukuran produk makanannya guna menghemat ongkos produksi, sementara perusahaan yang lebih besar akan memilih untuk mengecilkan jumlah pekerjanya.

Myanmar yang kita kenal saat ini sebagai pusat scam tingkat dunia, dahulu merupakan rumah bagi sekelompok masyarakat yang menjadikan kesadaran untuk menghemat sumber daya alam sebagai bagian dari tindak-tanduk spiritual kepercayaan asli mereka. Di saat hewan buruan masih banyak dan hutan masih rapat, para leluhur Myanmar memilih untuk mengambil secukupnya bukan karena terpaksa. Melainkan sebuah pilihan yang didasari kegembiraan menyambut masa yang akan datang, walaupun pada kenyataannya kita tahu apa yang sedang menimpa Myanmar hari ini.

Berdasarkan statistik terbaru, hanya sekitar 0,8% dari jumlah total rakyat Myanmar yang mengaku masih memegang teguh kepercayaan asli. Sebagai cara menerangi diri kita sendiri dengan optimisme, kita bisa menganggapnya sebagai sebuah pertanda baik. Sebuah pertanda sangat lemah yang mengisyaratkan bahwa masih ada segelintir orang di Myanmar yang bisa melihat kebenaran dalam ajaran para pendahulu mereka tentang membangun masa depan cerah.  

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...