Tragedi jatuhnya beberapa pendaki di Gunung Rinjani, yang juga menewaskan pendaki asal Brasil beberapa waktu lalu, merupakan tamparan keras bagi lokasi tersebut. Masyarakat yang tinggal di sekitarnya sebagai pelaku wisata kecil-kecilan, baik sebagai pemandu, porter, penyedia toilet, penjual makanan, toko kelontong, warung mie instan, dll. Mereka merasakan dampak cukup besar setelah Gunung Rinjani mendapat label negatif sebagai lokasi wisata tidak aman dan mematikan.
Terlepas dari apa yang terungkap kemudian (bahwa kemudian
berita kematian sang pendaki sengaja di-blow
up demi memuluskan rencana membangun eskalator di Gunung Rinjani),
peristiwa menyedihkan ini membuka mata khalayak bahwa selalu ada risiko
mengancam di balik sebuah keindahan. Bahwa mencari hiburan demi menyenangkan
hati diri sendiri seyogyanya dilaksanakan secara penuh pertimbangan, persiapan,
kerendahan, dan ketulusan hati, agar kita sebagai sekelompok orang yang
mendatangi sebuah tempat fantastis bukan sekadar menghabiskan uang untuk
bepergian ke sana.
Akibat inflasi global, nyaris seluruh masyarakat di Bumi ini menurunkan standar hidup mereka; berhemat dengan memangkas pos anggaran yang dirasa tidak terlalu penting demi agar bisa menghemat uang untuk banyak keperluan hidup lainnya. Anggaran hiburan seringkali menjadi korban pertama, karena dianggap tidak terlalu penting di masa sulit. Padahal, justru di era kegelapan seperti sekarang manusia membutuhkan hiburan untuk membantu mereka menemukan dan menekuni apa pun yang merupakan kehendak diri mereka sendiri. Atau yang disebut juga passion.
Di jam kerja kita menyerahkan kehendak kita pada peraturan,
target, tujuan, dan serangkaian hal yang tak terlepas dari profesi
masing-masing. Sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia untuk mendapatkan
hiburan dan merasakan kegembiraan, ketenangan, serta kebahagiaan. Namun,
ketakutan kita terhadap kemelaratan dan kesulitan finansial membuat kita
mengidentikkan hiburan sebagai salah satu cara mendapatkan pengakuan dari masyarakat
bahwa kita horang kaya.
‘Win-win solution’
Para penganut aliran kepercayaan Zoroastrianism di Uzbekistan
merayakan pergantian dari musim dingin ke musim semi dengan menggelar ritual Navruz
(= hari baru dalam Bahasa Persia). Ritual ini tercatat dalam Warisan Budaya Tak
Benda UNESCO dan diakui PBB sebagai hari libur internasional, karena juga
dirayakan di berbagai negara lain (Kazakhstan, Azerbaijan, Afghanistan, Iran,
Pakistan, India Utara). Hari raya yang merupakan manifestasi keramahtamahan dan
kemanusiaan menyedot perhatian wisatawan internasional, dan selalu menjadi
sumber pendapatan bagi masyarakat yang merayakannya.
Di balik sajian kuliner khas, nyanyian, dan tarian,
tersembunyi sebuah tujuan untuk menyenangkan hati ‘para penjaga alam’ agar
senantiasa bermurah dan berbaik hati. Agar mereka yang sudah bekerja keras
mengolah ladang dan kebun mendapatkan hasil yang setimpal. Ini bukanlah semacam
sogokan pada alam agar bersedia mengikuti keinginan manusia, walaupun dalam
pelaksanaannya dilantunkan resital yang antara lain berisi tentang permohonan
agar hujan tidak turun di musim semi (karena bisa merusak tanaman di ladang).
Masyarakat adat Uzbek memadukan antara kebutuhan akan
hiburan dan pemuliaan terhadap alam dan leluhur melalui resital seperti ini.
Recital yang bukan hanya menimbulkan rasa senang di hati mereka yang mendengarnya,
tetapi juga mereka yang melantunkannya. Selama perayaan Navruz, masyarakat
Uzbek tidak bekerja. Setelah perayaan berakhir, seluruh komunitas akan kembali
ke pekerjaan masing-masing dengan membawa rasa senang dan tentram karena yakin
alam akan bersedia ‘bekerja sama’ dengan mereka hingga musim panen tiba.
Bukan sekadar mencari kesenangan
Sebagai seseorang yang sudah cukup kenyang dalam berburu
pemuas nafsu duniawi, saya bisa mengatakan bahwa kesenangan itu tiada batasnya.
Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin kita berusaha keras melakukan segala
hal demi melegakan dahaga akan kesenangan, semakin tak terpadamkan hasrat kita.
Melalui ritual Navruz, masyarakat adat Uzbek mengajarkan
kepada kita bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan akan rekreasi dengan
keberadaan alam sekitar. Pergantian musim dipandang sebagai pertanda bahwa alam
itu hidup, karena cuaca dan musim tidaklah stagnan. Masyarakat modern
menganggapnya suatu fenomena biasa yang bisa dijelaskan ilmu pengetahuan,
sehingga terbitlah kepongahan mereka saat menghadapi alam sekitar.
Dalam perayaan Navruz, kuliner Sumalak yang dimasak
bersama oleh ibu-ibu komunitas setempat sambil melantunkan nyanyian merupakan
cara orang Uzbek menumbuhkan optimisme menyambut musim baru. Sementara ritual
Sust xotin (= Poor Woman) bertujuan memelihara rasa kasih sayang terhadap
leluhur yang direpresentasikan boneka terbuat dari dahan pohon. Dalam ritual ini,
boneka itu dimandikan dengan air secara bergiliran oleh para peserta ritual (semuanya
perempuan juga) sembari melantunkan nyanyian tentang harapan mereka.
Alih-alih merasa cemas terhadap ketidakpastian di sepanjang fase baru dalam hidup mereka, ibu-ibu masyarakat adat Uzbek berusaha menipiskan kegelisahan mereka dengan berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Mereka ‘mengorbankan’ bahan makanan yang seharusnya mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan keluarga masing-masing sebagai sesaji untuk leluhur, yang kemudian disantap bersama komunitas sebagai perwujudan kebahagiaan karena berhasil melewati bekunya musim dingin. (dswas).
