Karena tiada yang abadi di dunia ini, segalanya pasti akan habis, berakhir, atau mati. Kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini bukan sekadar retorika, melainkan realita. Sebuah dinasti bisa jatuh bangkrut, negara makmur bisa tenggelam akibat utang, sumber daya alam melimpah bisa licin tandas, dan sumber air juga bisa berhenti mengalir. Kita cenderung menanggapi titik akhir dengan kepanikan, padahal kematian adalah suatu hal alamiah yang bisa menimpa siapa saja.
Bagi mereka yang sudah ditempa pengalaman maupun ilmu
institusi pendidikan formal, manajemen adalah kunci untuk mencegah ‘kiamat’
agar tak menjadi kenyataan. Sebagian besar orang cenderung menganggap meskipun
berhemat adalah cara memperpanjang persediaan sumber yang kita miliki, baik
yang berwujud sumber daya alam maupun sumber keuangan. Tidak sulit dilakukan
meski harus ‘berkorban’.
Hingga saat ini, kita belum bisa benar-benar
mengimplementasikan langkah-langkah yang bisa memperbanyak debit air suatu mata
air, misalnya, atau menemukan sebuah metode untuk menambah cadangan minyak bumi
dan gas. Dalam perspektif sebagian besar manusia, alam sekitar hanyalah benda
mati untuk dieksploitasi sampai kering kerontang. Belum terbit gagasan dalam
benak para cendekiawan sejagat untuk mengganti apa yang sudah mereka ambil,
apalagi memelihara suatu sumber daya alam agar terus mengalirkan rejeki untuk
manusia.
Disiplin menghargai alam
Kebiasaan meminta izin pada alam sekitar sebelum mengambil
atau mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya tidak mudah dilakukan ketika
orang-orang di sekitar kita tidak menjalankannya. Apalagi bagi para penganut Kepercayaan
Tradisional Dvoieverie, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan Ukraina
dan Rusia serta menjadi bagian dari angkatan perang masing-masing kubu.
Demi tugas negara, mereka tinggal di rimba belantara hingga
berbulan-bulan. Mereka berteman kesunyian dan mau tidak mau mendapat
perlindungan dari pepohonan, makanan, minuman, bahkan obat-obatan dari segala
yang ada di hutan. Di tengah tekanan itu mereka menyadari kemurahan hati alam
sekitar, meski mereka ‘tidak datang dengan damai’ sebagaimana sekelompok
pemburu yang berburu kelinci di hutan.
Tanpa aba-aba, perintah, instruksi, maupun komando, para
penganut Dvoieverie di kalangan militer Ukraina dan Rusia mempunyai kebiasaan
meninggalkan sesajen di tepi hutan atau mata air, sebelum mereka masuk ke dalam
hutan, mengambil air, memancing, berburu, atau mengambil apa pun di sana. Selain
sebagai simbolisasi permohonan izin dan ucapan terima kasih pada alam sekitar,
sesajen juga merupakan bentuk pengorbanan yang hanya dapat terwujud berkat
adanya kedisiplinan diri.
Karena kedua pihak sama-sama membutuhkan rimba sebagai
tempat bersembunyi, mereka tidak mengizinkan siapa pun, kecuali kubu tentara swasta,
untuk memasuki area hutan di sekitar perbatasan Ukraina dan Rusia. Konflik
berkepanjangan menjadi satu-satunya hal yang membuat kawasan ini terhindar dari
tangan para korporasi global haus darah.
Berhemat bukan satu-satunya cara
Ya, berhemat bukan satu-satunya jalan yang musti kita tempuh
untuk menjaga kontinuitas segala keberlimpahan alam. Alih-alih cara bertahan
hidup, berhemat justru akan menjadi sumber kesedihan dan keterpurukan kita
ketika kita menjalankannya dengan penuh keterpaksaan. Apalagi bila kita belum
dapat menyingkirkan keinginan untuk ‘menikmati hidup yang senikmat dahulu kala’,
karena, yah, masa lalu tidak akan pernah kembali.
Sebelum mampu memelihara alam dan menikmati
hasil upaya tersebut, kerendahan hati untuk ‘memanusiakan’ alam wajib muncul
terlebih dulu. Bila tidak, itu bukan masalah besar. Yang jadi masalah besar
adalah ketika suatu saat mata air berhenti mengalirkan air, cuaca panas akibat
habisnya kawasan hijau, atau hal-hal sepele lainnya yang mendadak hilang dan
tak bisa lagi kita nikmati. (dswas).