Minggu, 31 Mei 2026

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan sepak bola bisa gagal meraih kemenangan ketika striker menolak memberikan bola kepada rekannya, lantaran terlalu ingin namanya tercatat sebagai pencetak gol. Sebagai akibatnya, peluang demi peluang terlewat sia-sia karena ambisi pribadi menolak berkompromi guna mencapai tujuan bersama.

Gotong royong juga tak kalah merdu bagi siapa pun yang mendengar frasa ini. Membantu sesama bukanlah perkara besar di saat semua ‘baik-baik saja’. Ketika pekerjaan dan gaji kita lancar, atau ketika tidak terjadi inflasi besar-besaran. Ketika kita tidak merasa berat mengeluarkan uang pribadi untuk sesuatu yang dibutuhkan orang banyak. Ketika kita tidak menghela nafas panjang karena ajakan berpartisipasi sebagai donatur suatu kegiatan komunitas.

Akan tetapi, kerelaan untuk berkorban demi komunitas tidak melulu termanifestasi dalam bentuk sumbangan materi; uang, hewan, bahan makanan, atau apa pun yang bisa dilihat dan diraba. Ada pengorbanan yang mewajibkan kita rela menekan ambisi dan kehendak pribadi, walaupun sudut pandang kita menganggap ambisi tersebut baik demi kesejahteraan bersama. Dalam era di mana citra pribadi menjadi senjata untuk meningkatkan nilai diri sendiri di hadapan publik, sebagaimana kisah dari lapangan bola di atas, pengorbanan semacam ini bisa terasa sangat berat. 


Ilustrasi: lapangan sepak bola di Malang.


Seimbang berkat beruang

Meskipun memiliki bentuk fisik yang tampak buas dan menakutkan, keberlanjutan suatu kawasan hutan bisa terancam apabila satwa endemiknya punah, di antaranya beruang. Melalui pola makannya, beruang telah berperan serta menyuburkan ekosistem hutan melalui sisa-sisa bangkai mangsanya. Dengan memangsa beberapa spesies satwa herbivora, beruang mencegah ledakan populasi mereka agar rumput dan tumbuhan yang menjadi sumber pangan meerka tidak lekas habis (sebagaimana yang dialami manusia dewasa ini).

Maka dapat dimengerti mengapa para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia menganggap beruang sebagai hewan sakral yang dilarang diburu sembarangan, apalagi dimakan dagingnya. Para leluhur Karelia memandang beruang sederajat dengan manusia, sehingga memakan daging beruang adalah kanibalisme. Pandangan yang wajar, bahkan hingga hari ini. Mengingat maraknya kebiasaan “memakan” sesama hanya akan berujung penyesalan entah kapan dan di mana.

Para penganut Kepercayaan Asli Karelia juga menjalankan beberapa kebiasaan lain yang bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem hutan bagi seluruh makhluk hidup, termasuk beruang. Sebagai contoh, sebelum membangun rumah, keluarga dari komunitas ini akan menanam sekelompok bakal pohon sesuai jumlah anggota keluarganya.

Logikanya, ekosistem hutan yang sehat akan menjamin kelangsungan hidup kawanan hewan-hewan herbivora, mangsa sang beruang. Apabila perut beruang kenyang berkat apa yang terdapat di hutan, maka kemungkinan serangan beruang terhadap pemukiman penduduk maupun kawanan hewan ternak mereka bisa diperkecil. Kesadaran ini menjadi norma dalam kehidupan sehari-hari para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia, karena para leluhur mereka mengajarkan untuk tidak merendahkan alam sekitar.

Pengorbanan dan masokisme

Berkorban demi komunitas itu tidak segampang teorinya, apalagi di masa krisis ekonomi global seperti sekarang. Memang, menyumbangkan materi maupun bersedia menyingkirkan ego berakibat kerugian materi dan perasaan bagi kita. Bukankah 4-2 selalu = 2? Bukankah uang kita akan berkurang? Bagaimana bila di lain waktu sejumlah orang di luar sana hanya memperalat kedermawanan kita demi kepentingan mereka sendiri?

Berkaca dari kebiasaan para penganut Kepercayaan Asli Karelia, segala sesuatu bisa dimenej agar bisa terus mendatangkan manfaat dalam jangka panjang. Kemampuan manajerial seperti ini tidak diajarkan di sekolah maupun kampus manapun, melainkan akan kita kuasai dengan sendirinya apabila ada niat memelihara keberlanjutan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Apabila sudah ada kesadaran dalam membedakan mana pemahaman yang cenderung masokis, dan mana yang benar-benar berlandaskan cinta sejati. (dswas).



Minggu, 24 Mei 2026

Trik Jitu Atasi Rejeki Seret

Ada satu hal yang paling ditakuti para pengusaha, yaitu ketika cara meraih untung menjadi lebih mahal. Saat perubahan ini terjadi, para produsen barang dan jasa berpikir seribu kali untuk menaikkan harga produk mereka, terutama untuk produk tersier. Mereka sangat paham bahwa ‘konsumen adalah raja’. Artinya, segencar apapun promo yang dilancarkan para produsen, keputusan membeli atau tidak tetap berada di tangan konsumen dan tak seorang pun yang bisa ikut campur menyangkut preferensi pribadi.

Namun, itu dulu. Dewasa ini, ada banyak jalan yang bisa ditempuh para produsen guna menaklukkan para konsumen agar mereka tunduk pada keinginan para produsen, alias mau membelanjakan uang mereka. Mulai dari menurunkan harga semurah mungkin (dengan seringkali mengorbankan kualitas), hingga promosi yang secara blak-blakan melanggar ranah privasi para pelanggan (menelepon, mengirim pesan singkat, dll.). Trik ini memang berhasil membawa hasil dalam bentuk peningkatan penjualan, walaupun dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, kekesalan akan muncul di para produsen lama yang sudah lebih dulu menjual produk mereka dengan harga lebih tinggi. Mereka bukan hanya kehilangan pelanggan, tetapi bahkan juga menghadapi ancaman (atau sudah) gulung tikar akibat menolak menurunkan standar demi agar produk mereka dibeli orang. Di kubu seberang, para produsen yang berani pasang harga murah pun tidak serta-merta jadi pemenang, walaupun mereka unggul dalam hal statistik penjualan. Kok bisa?

Penyebabnya, lagi-lagi, kenaikan ongkos produksi. Ibaratnya, semakin mereka berusaha ‘melarikan diri’ dari ‘sang monster’ ini, semakin ia mendekat dan melambaikan cakat-cakarnya. Ini tidak aneh, karena manusia di mana pun merupakan bagian dari komunitas, baik komunitas tingkat RT maupun tingkat PBB. Adalah merupakan suatu kesesatan pikir apabila kita mengira bisa aman dan kaya raya sebagaimana rencana dan keinginan kita, ketika mereka yang ada di sekitar kita tidak merasakannya. 


Illustrasi: Pentungansari, Malang.


Permohonan maaf kepada alam

Dalam sudut pandang peradaban modern, alam sekitar itu hidup, tetapi seperti AI, mereka tidak memiliki perasaan dan juga tidak bisa berpikir. Manusialah yang berkuasa atas mereka, karena hanya manusia yang mampu menilai makna eksistensi mereka berdasarkan mata uang masing-masing.

Cuaca dapat dimanipulasi, tiruan matahari bisa dibuat, daging hewan dan sayur-sayuran bisa dibuat di laboratorium. Bila tujuan jangka panjang kemajuan teknologi ini memang positif, sudah barang tentu taraf hidup kita akan lebih baik. Alam sekitar kita seharusnya tidak rusak, karena teknologi kita sudah sangat maju dalam membuat bahan makanan yang tidak memerlukan eksploitasi alam, dan tidak perlu ditumbuhkan di ladang atau peternakan yang memakan banyak biaya.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap pepohonan dan binatang buruan tidak sekadar hidup, tetapi juga memiliki roh sebagaimana manusia yang bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan. Menurut ajaran kepercayaan ini, manusia sebaiknya mempertahankan kerendahan hati saat mengeksploitasi alam agar bisa menekan hawa nafsu serakah yang di kemudian hari merugikan diri sendiri.

Kerendahan hati dilambangkan dengan mempersembahkan sesajen kepada hutan sebelum memotong dahan sebatang pohon, atau sebelum memotong daging hewan buruan. Sesajen dipersembahkan sembari mengucapkan permohonan maaf atas tindakan mereka yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa binatang buruan dan pepohonan demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Di kemudian hari, anggota komunitas suku pedalaman Siberia cenderung akan berpikir panjang sebelum berburu atau memotong sebatang pohon di hutan, mengingat berbelitnya prosesi yang harus dipatuhi. Sehingga, mereka umumnya tidak berlebihan dalam mengkonsumsi apa pun dengan tujuan memberi waktu pada pepohonan untuk tumbuh dan hewan-hewan buruan cukup umur untuk dimangsa.

Memelihara sekitar agar lancar rejeki

Kita semua berharap agar aktivitas kerohanian yang kita jalankan dapat mendatangkan mukjizat dalam hidup kita, agar turunlah cahaya yang membawa jawaban bagi segala permasalahan. Terutama untuk satu masalah yang sedang menjadi tren belakangan ini, yaitu masalah keuangan. Akan tetapi, tidak disarankan menjalankan ajaran leluhur demi mencapai tujuan ini, karena inti ajaran leluhur adalah serangkaian petunjuk untuk memelihara keharmonisan antara manusia dan sekitarnya.

Kita boleh saja menertawakan ajaran Kepercayaan Asli Siberia, walaupun sudah banyak dari kita yang mengalami bencana banjir dan punahnya spesies hewan tertentu akibat perburuan berlebihan. Namun, kita baru bisa melakukannya apabila apa yang menjadi pondasi hidup kita lebih mampu mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia, dan juga alam sekitar. Ketika perilaku kita sudah tak lagi jadi ancaman bagi sumber kehidupan kita sendiri. (dswas).

Minggu, 17 Mei 2026

Gagal Move On Bukan Akhir Dunia – Ini Sebabnya

Penderita demensia cenderung tidak ingat akan banyak hal – nama tempat, nama orang, jalan pulang ke rumah, nama hari, bahkan nama mereka sendiri. Namun, ada satu hal yang masih segar dalam ingatan mereka: lagu-lagu populer dalam suatu fase kehidupan mereka, terutama saat mereka berusia 10 sampai 24 tahun.

Entah itu lagu folk dari era 50-an, blues 60-an, rock & roll 70-an, atau slow rock 80-an, mendengarkan lagu-lagu jadul memberikan efek menenangkan. Detak jantung tidak lagi kencang, hormon dopamine mendadak muncul meredakan kecemasan, bersamaan dengan rasa bahagia mengenang masa muda yang penuh canda dan tawa.

Dalam sejumlah kasus, para pasien demensia yang sudah tak mampu bergerak atau berbicara akan tersenyum, bersenandung, menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama lagu yang tersohor di jamannya. Para anggota keluarga mereka pun lega melihat kehidupan telah ‘kembali’ kepada para ayah, ibu, kakek, atau nenek mereka yang pikun, meski untuk sementara.

Faktanya, mendengarkan lagu-lagu lama memang membawa efek menenangkan bagi siapa saja, meski mereka bukan penderita demensia. Penyebabnya tentu bukan karena para musisi jaman kekinian tidak lagi mampu mencipta lagu yang enak didengar akibat pengaruh Kecerdasan Buatan (AI). Melainkan lebih disebabkan oleh faktor psikologis, tentang kerinduan pada sebuah periode di mana segalanya lebih tidak mengecewakan.  

Namun, toh pada kenyataannya kehidupan kita tidak bisa diputar ulang setiap saat seperti lagu kesayangan kita. Ada hal-hal yang harus tetap tinggal di masa lalu, salah satu penyebabnya karena tidak berkontribusi pada keberlanjutan kesejahteraan alam sekitar. Bukankah kesejahteraan manusia sangat tergantung pada kesejahteraan alam seisinya, bukan hanya sumber daya alam tetapi juga segala makhluk yang eksis di dalamnya?


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang



Alam itu menyembuhkan

Mayoritas dunia mengenal Abkhazia sebagai wilayah dengan bentang alam yang unik, pegunungan bersalju di satu sisi dan tepi Laut Hitam di sisi lain. Kondisi geografis menjadi salah satu faktor di balik berdirinya Kepercayaan Asli Abkhaz ribuan tahun lalu, yang kabarnya mengalami kebangunan kembali di zaman now. Kebijaksanaan lokal leluhur masyarakat Abkhaz ‘menemukan’ bahwa alam sekitar mereka ternyata menyimpan lebih dari sekadar keindahan.

Ketika seorang penganut kepercayaan asli ini sakit, ia disarankan untuk berjalan masuk mengitari hutan tanpa menoleh ke belakang. Tata cara simbolis ini dilakukan dengan maksud meninggalkan penyakit atau hal apapun yang membuat tubuhnya merasa tidak baik-baik saja. Berjalan kaki selalu baik untuk kesehatan, apalagi di bawah rindangnya pepohonan yang melepaskan udara bersih. Dalam sejumlah budaya, menoleh ke belakang merupakan metafora dari mengingat masa lalu yang tidak seluruhnya tentang kenangan manis.

Menyadari berkah tersembunyi ini, Abkhazia menerapkan sejumlah peraturan yang cukup ketat guna melindungi area hutan mereka.  Walaupun turis diizinkan berkunjung dan pariwisata berkembang baik di wilayah ini, beberapa titik sengaja tidak dilengkapi akses jalan. Bahkan dikenakan tarif masuk yang cukup mahal di spot krusial, misalnya di Danau Ritsa yang dianggap sakral oleh para penganut Kepercayaan Asli Abkhaz. Bukan lantaran ada makhluk halus di danau itu yang bisa membantu mereka cepat kaya (pesugihan). Melainkan karena fungsi air memang ‘sakral’ bagi kehidupan manusia sebagaimana yang telah sering saya bahas di banyak artikel di blog ini.

Jangan tersesat di permukaan

Cara-cara lama identik dengan anti modernitas dan kental feodalisme yang menolak kemajuan. Itulah yang sering saya dengar saat masih kuliah. Akan tetapi, kualitas kehidupan manusia belakangan ini tidak semakin baik, walaupun peradaban masa kini sudah jauh lebih modern dibandingkan 10-20 tahun lalu. Ironisnya, eksploitasi alam secara besar-besaran ternyata tidak serta-merta mampu membebaskan manusia dari rasa cemas tentang keuangan dan masa depan.  

Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan melalui kepercayaan tradisional masing-masing seharusnya mendapat dukungan dan ditanggapi dengan pikiran terbuka. Kita tersesat di permukaan apabila kita memilih menghakimi mereka dengan menyematkan label-label negatif, ketika cakrawala pemikiran modern kita telah gagal menyelamatkan alam sekitar dari degradasi dan kehancuran. (dswas).

Sabtu, 09 Mei 2026

Agar Hasil Tidak Mengkhianati Upaya

“Siapa menabur angin akan menuai badai (what goes around comes around)” terdengar mencekam, walaupun acapkali kita gunakan untuk mengungkapkan kekesalan atas perilaku seseorang atau suatu entitas. Padahal kalau kita berhasil mengenyahkan ‘kera-kera emosi yang berloncatan ke sana kemari’, akan terungkaplah suatu makna mendalam. Sebuah ‘mantra’ yang bisa mengundang kebahagiaan untuk datang ke dalam kemuraman hidup kita.

Menengok ke belakang, pencipta ungkapan itu tampaknya sangat memahami bahwa manusia cenderung lebih cepat bereaksi dan lebih mengingat hal-hal bernuansa negatif daripada yang positif. Jauh sebelum penelitian ilmiah menemukan bahwa trauma dapat diturunkan dari satu ke generasi ke generasi di bawahnya secara naluriah, meski tantangan dan kesulitan hidup lebih cenderung melunak dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, para leluhur berbagai bangsa dan suku menciptakan kisah-kisah seram tentang dampak pelanggaran pantangan dan peraturan adat yang bermaksud agar para penerus mereka mengingat dan merenungkan makna di baliknya. Namun, perjalanan waktu mentakdirkan suatu kaum mengalami berbagai kejadian menyakitkan yang menghipnotis mereka untuk mempermasalahkan legalitas tindak-tanduk orang-orang yang hadir sebelum mereka.   


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang.


Sejahtera karena liyan juga sejahtera

Kepercayaan asli Armenia (Hetanisme) percaya bahwa pohon apricot (prunus armeniaca) adalah pohon kehidupan bukan tanpa alasan. Tidak seperti pepohonan sakral di daerah tropis, akar pohon tidak bersifat menyimpan air. Justru sebaliknya, akarnya akan membusuk bila tanah tempat bertumbuhnya mengandung terlalu banyak air. Walau demikian, pohon apricot dapat bertahan hidup di tengah cuaca panas dan buahnya tetap terasa manis walaupun hanya butuh sedikit air.

Kemampuannya menyerap karbondioksida dalam jumlah besar menjadikannya ‘pahlawan’ di tengah isu perubahan iklim. Pohon apricot juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pedesaan Armenia sebagai komoditas ekspor utama, dengan tujuan utama Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Meski asal usulnya menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, ditemukan bukti bahwa masyarakat Armenia kuno telah mengenalnya sejak 6000 tahun silam.  

Ada satu ‘kelemahan’ pohon kehidupan Armenia ini, yaitu ia tidak dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa kehadiran hutan atau sekelompok tanaman lain di sekelilingnya dalam jarak tertentu. Eksplorasi hutan secara berlebihan merupakan kabar buruk bagi perkebunan apricot, karena tiadanya akar-akar pepohonan lain berarti hilangnya para liyan yang membantu menjaga kadar air tetap ideal di dalam tanah bagi pertumbuhan sempurna kelompok pepohonan apricot.

Para leluhur Armenia menyamarkan makna sejati pohon kehidupan dalam berbagai mitos dan legenda, yang sering kali mengalami mispersepsi terdistorsi oleh apa yang kita ketahui tentang ‘dunia lain’. Ajaran leluhur Armenia dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa sang pohon kehidupan merupakan bagian dari alam raya, bukan sebaliknya. Manusia, idealnya, bertindak-tanduk berangkat dari pemahaman ini, yaitu menata kondisi yang dibutuhkan suatu potensi agar tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.

Move on dan lebih baik?

Ya. Move on dan membaik, itulah situasi ideal yang seharusnya bisa kita lihat saat ini. Apabila ajaran leluhur memang sudah tidak relevan, maka situasi kita saat ini seharusnya lebih baik karena kita sudah menjalankan ajaran yang lebih baru dan tentunya lebih relevan. Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang benar-benar ingin mengubah keadaan menjadi benar-benar lebih baik, bukan sekadar iklan.

Sebuah langkah layak disebut move on apabila mampu menjauhkan manusia dari logika mistika, bahwa tidak ada yang namanya mukjizat akan datang untuk menyelesaikan segala masalah hidup. Bahwa tindakan yang berdasarkan pengetahuan tentang alam sekitarlah penolong sejati mereka di segala zaman. (dswas).

Minggu, 03 Mei 2026

Memulihkan Cedera Perusak Masa Depan

Cedera ACL (anterior cruciate ligament) merupakan cedera yang paling ditakuti para pemain sepak bola sedunia. Meski ‘hanya’ menyerang kaki, tetapi dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih tanpa sekali pun ‘merumput’ guna mempertahankan reputasi agar dilirik untuk masuk timnas dan ikut ‘perang’ dalam kompetisi besar (Piala Dunia, Liga Champions, dll.). Tak sedikit pemain yang sinarnya meredup gara-gara cedera ini, bahkan berhenti sama sekali dari dunia yang membesarkan nama mereka.

Tak hanya atlet yang bisa cedera, orang biasa (termasuk mereka yang jarang olahraga) pasti pernah mengalaminya. Entah karena kecelakaan kecil di masa kanak-kanak, kecelakaan sepeda motor, atau salah posisi tidur, otot dan saraf yang berkelindan dalam tubuh kita tidak selalu berada di jalur yang benar atas kehendak mereka sendiri. Dengan penanganan medis modern maupun tradisional, mereka akan kembali ke jalurnya, plus disertai kehati-hatian dalam bergerak guna mencegah terjadinya ‘insiden’ serupa.

Percaya atau tidak, sebuah keseleo yang tampaknya sepele bisa berkontribusi pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah, atau bahkan menyebabkan kematian. Logikanya, keseleo terjadi akibat urat yang mendadak dipaksa melenceng; tidak berada di tempat atau bekerja secara semestinya. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa pada tubuh kita bila keseleo dibiarkan 1-2 hari. Namun, pembiaran selama bertahun-tahun dapat berujung pada masalah kesehatan serius yang bisa mengganggu aktivitas dan bahkan wellbeing kejiwaan kita.


Ilustrasi: Sumber Gentong, Tirtomoyo, Pakis, Malang.


Memulihkan cedera alam

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Azerbaijan, alam dan manusia tidak terpisahkan. Manusia mengambil segalanya dari alam, mulai dari udara, air, pohon, bahkan tanah, demi mempertahankan hidup. Oleh karena itu, kepercayaan tradisional Azerbaijan mengajarkan agar manusia memanusiakan alam, khususnya pepohonan.

Di zaman dahulu, manusia bergantung pada pepohonan sebagai bahan baku pendirian rumah, pakaian, bahkan bahan makanan dan obat-obatan. Para leluhur Azerbaijan menyadari bahwa pepohonan itu hidup, sehingga mereka dianggap punya derajat yang sama dengan manusia. Mereka yakin pepohonan menangis ketika mereka memotong dahannya, demikian pula tetumbuhan yang dicabut dari tanah hingga akar-akarnya. Jauh sebelum manusia mampu mengoreksi ‘kekeliruan’ alam, ada suatu masa di mana mereka menganggap pepohonan adalah para nyonya baik hati yang selalu memenuhi apa yang dibutuhkan manusia dari mereka.

Berdasarkan pandangan ini, para penganut Kepercayaan Asli Azerbaijan memberikan penghormatan kepada alam dan seisinya setiap kali mereka hendak memanfaatkan atau mengambil sesuatu dari alam, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai permohonan izin untuk memotong dahan pohon, atau menebang sebatang atau beberapa pepohonan, telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.

Akibat berbagai faktor, kebiasaan ini pun ditinggalkan. Aneh bin ajaib, pepohonan lambat laun mulai menghilang dari Azerbaijan. Sejumlah kalangan menuding aktivitas masyarakat yang menjadi biang habisnya pepohonan dari rimba Azerbaijan yang dulu mereka banggakan. Akan tetapi, konsumsi kayu oleh masyarakat untuk pemanas ruangan atau bahan baku rumah tidaklah semasif konsumsi kayu untuk keperluan industri.

Apa pun alasan dan siapa pun pelakunya, masyarakat modern Azerbaijan harus bersiap menghadapi konsekuensi dari ‘tangisan’ para pepohonan yang akan datang sewaktu-waktu menghampiri mereka dalam bentuk banjir, tanah longsor, atau kekeringan. Namun, belum terlambat untuk bertindak sebelum mereka benar-benar menangis bersama alam yang cedera.

Sebuah ‘berkah’

Di masa ketika sekumpulan orang berharap keajaiban datang memperbaiki nasib mereka, ‘berkah’ terbaik adalah berhasil menemukan cedera lama di tubuh kita dan segera mencari tindakan medis untuk memulihkannya. Saya menganggapnya berkah karena tidak semua cedera lama bisa ditemukan. Tidak semua orang bisa membatalkan atau mengenyahkan berbagai penyakit serius yang menjangkiti tubuh sebagai dampak ikutan pembiaran cedera, baik secara sengaja atau tidak.

Demikian pula halnya dengan kewawasan diri untuk kembali memanusiakan alam dan pepohonan. Saya juga menyebutnya sebuah ‘berkah’, karena tidak semua orang berhasil menemukan cedera dalam diri masing-masing yang membuat mereka berpaling dari petunjuk hidup harmonis dan bahagia bersama alam. (dswas).

Minggu, 26 April 2026

Obat Kesepian Paling Mujarab

“Ada gula, ada semut.” Sudah menjadi suratan takdir bahwa makhluk hidup akan mendekati suatu entitas yang dirasa menguntungkan bagi kehidupannya. Sebelum mendirikan pemukiman, normalnya, manusia akan terlebih dulu mencari satu zat penting: air. Air yang ‘manis’ dimanfaatkan sedemikian rupa demi agar manusia tidak merasa kekurangan. Ia ibarat idola sepanjang masa bagi siapa saja, tua dan muda, besar dan kecil, di segala dekade dan tren yang senantiasa silih berganti. Dan manusia tetaplah ‘semut’ yang akan pergi begitu saja ketika gula sudah habis, atau rasanya berubah menjadi pahit.

Negara yang dianugerahi keberlimpahan sumber daya alam juga ibarat gula incaran para semut-semut korporasi multinasional atau sesama negara berdaulat. Potensinya menjadi daya tarik bagi siapa saja untuk mengenalnya, walaupun perkenalan tidak selalu berujung hubungan pertemanan atau bahkan pernikahan. Karena ‘gula’ dalam konteks ini dijalankan sekelompok manusia, ia punya keleluasaan untuk menentukan sikap agar hanya ‘ semut-semut’ baik hati yang akan mengelilinginya. Menutup diri atau isolasi mandiri nyaris mustahil diterapkan, karena ‘semut-semut’ telah dikodratkan untuk selalu bisa menemukan ‘gula’ hingga ke liang tersempit dan gelap sekalipun.

Entitas yang berperan sebagai sang ‘gula’ di setiap kisah kadang tak dapat menghindar dari rasa kesepian. Ia tahu mengapa banyak orang tiba-tiba berebut mengirim permintaan pertemanan, ia juga tahu hubungan pertemanan yang dijalinnya tidak akan abadi. Air sebening kaca pujaan umat manusia akan menjadi bahan olok-olok ketika warnanya berubah coklat akibat aktivitas manusia. Si negara super kaya nan dermawan akan ditinggalkan para semut segera setelah ia tidak lagi bagi-bagi angpao. Segala pujian dan kata-kata manis akan berubah menjadi caci maki dan ejekan ketika roda nasib berubah arah bagi ‘gula’ yang telah kehilangan rasa manisnya. 


Ilustrasi: Goa Tetes, Lumajang


‘Gula’ yang selalu manis

Bagi masyarakat Turkmenistan, ‘gula’ yang dimaksud adalah para orang tua, tetua, sesepuh. Dalam budaya yang telah mengakar bersama kepercayaan tradisional Turkmen, “emas dan perak tak pernah menua, tapi ayah dan ibu tak ternilai harganya.” Ada serangkaian aturan tak tertulis yang musti dipatuhi dan terus dipertahankan hingga saat ini dalam hal tindak-tanduk masyarakat terhadap para sesepuh. Mereka harus bersikap sopan, tidak boleh membantah, apalagi berbicara dengan suara keras kepada para orang tua dan sesepuh.

Para orang tua dan sesepuh punya kedudukan tinggi dalam hirarki tak tertulis masyarakat Turkmen, terutama di pedesaan, walaupun tidak sembarang orang berusia lanjut dapat ditunjuk (atau menawarkan diri secara sukarela) untuk mengisi posisi itu. Mereka adalah tempat di mana masyarakat Turkmen meminta nasihat dan saran dalam berbagai hal dan situasi, sehingga tokoh yang dipercaya untuk posisi ini adalah orang-orang kaya pengalaman hidup dan tahu bagaimana menempatkan diri. Maka tidak heran bila sesepuh komunitas lebih didengar daripada tokoh-tokoh lain, misalnya para mullah.

Privilese semacam ini mungkin tak bisa kita temui di negara selain Turkmenistan, yang bisa dibilang sangat ‘aman’ dari sorotan media sosial dan para influencer wisata hingga saat ini.  Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemerintah Turkmenistan yang sangat selektif dalam memberikan visa untuk warga negara asing. Meskipun cukup gencar di internet dalam hal mempromosikan pariwisata Turkmenistan yang kaya dengan situs sejarah dan panorama yang membius jiwa, ada kesan uang bukanlah segalanya bagi mereka. Ini, tentu saja, tak terlepas dari saran dan nasihat para sesepuh Turkmen yang dirumuskan melalui proses panjang dalam mengamati suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. 

Tak pernah kesepian

Saya akan maklum jika Anda memandang Turkmenistan sebelah mata, karena negara ini memang tidaklah selevel banyak negara maju dan bernama besar. Namun, para lansia Turkmenistan tidak mengalami kesepian akut karena kehadiran mereka selalu dibutuhkan orang lain. Ketika fisik sudah tak lagi perkasa untuk bekerja mencari nafkah, para lansia tidak terpinggirkan dari pergaulan masyarakat. Apalagi dianggap beban hidup orang-orang yang lebih muda.

Mereka mendapat kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka untuk memegang sebuah peranan penting dalam masyarakat, menjadi para kakek dan nenek yang selalu dirindukan para cucu. Kebijaksanaan yang berakar dari pemuliaan terhadap para leluhur ini berhasil menciptakan keseimbangan, yang pada gilirannya juga berhasil memeratakan kebahagiaan di kalangan anggota komunitas Turkmenistan.

Berkat para generasi muda yang memercayai mereka sebagai penasihat, para sesepuh menemukan tujuan ketika waktu memakan segalanya. Sebuah tujuan yang membuat sisa hidup mereka kembali bermakna. (dswas).

Minggu, 19 April 2026

Rahasia ‘Menaklukkan’ Alam

Tragedi jatuhnya beberapa pendaki di Gunung Rinjani, yang juga menewaskan pendaki asal Brasil beberapa waktu lalu, merupakan tamparan keras bagi lokasi tersebut. Masyarakat yang tinggal di sekitarnya sebagai pelaku wisata kecil-kecilan, baik sebagai pemandu, porter, penyedia toilet, penjual makanan, toko kelontong, warung mie instan, dll. Mereka merasakan dampak cukup besar setelah Gunung Rinjani mendapat label negatif sebagai lokasi wisata tidak aman dan mematikan.

Terlepas dari apa yang terungkap kemudian (bahwa kemudian berita kematian sang pendaki sengaja di-blow up demi memuluskan rencana membangun eskalator di Gunung Rinjani), peristiwa menyedihkan ini membuka mata khalayak bahwa selalu ada risiko mengancam di balik sebuah keindahan. Bahwa mencari hiburan demi menyenangkan hati diri sendiri seyogyanya dilaksanakan secara penuh pertimbangan, persiapan, kerendahan, dan ketulusan hati, agar kita sebagai sekelompok orang yang mendatangi sebuah tempat fantastis bukan sekadar menghabiskan uang untuk bepergian ke sana. 


Ilustrasi: Gunung Kelud, Blitar.

Akibat inflasi global, nyaris seluruh masyarakat di Bumi ini menurunkan standar hidup mereka; berhemat dengan memangkas pos anggaran yang dirasa tidak terlalu penting demi agar bisa menghemat uang untuk banyak keperluan hidup lainnya. Anggaran hiburan seringkali menjadi korban pertama, karena dianggap tidak terlalu penting di masa sulit. Padahal, justru di era kegelapan seperti sekarang manusia membutuhkan hiburan untuk membantu mereka menemukan dan menekuni apa pun yang merupakan kehendak diri mereka sendiri. Atau yang disebut juga passion.

Di jam kerja kita menyerahkan kehendak kita pada peraturan, target, tujuan, dan serangkaian hal yang tak terlepas dari profesi masing-masing. Sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia untuk mendapatkan hiburan dan merasakan kegembiraan, ketenangan, serta kebahagiaan. Namun, ketakutan kita terhadap kemelaratan dan kesulitan finansial membuat kita mengidentikkan hiburan sebagai salah satu cara mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa kita horang kaya.

‘Win-win solution’

Para penganut aliran kepercayaan Zoroastrianism di Uzbekistan merayakan pergantian dari musim dingin ke musim semi dengan menggelar ritual Navruz (= hari baru dalam Bahasa Persia). Ritual ini tercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO dan diakui PBB sebagai hari libur internasional, karena juga dirayakan di berbagai negara lain (Kazakhstan, Azerbaijan, Afghanistan, Iran, Pakistan, India Utara). Hari raya yang merupakan manifestasi keramahtamahan dan kemanusiaan menyedot perhatian wisatawan internasional, dan selalu menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat yang merayakannya.

Di balik sajian kuliner khas, nyanyian, dan tarian, tersembunyi sebuah tujuan untuk menyenangkan hati ‘para penjaga alam’ agar senantiasa bermurah dan berbaik hati. Agar mereka yang sudah bekerja keras mengolah ladang dan kebun mendapatkan hasil yang setimpal. Ini bukanlah semacam sogokan pada alam agar bersedia mengikuti keinginan manusia, walaupun dalam pelaksanaannya dilantunkan resital yang antara lain berisi tentang permohonan agar hujan tidak turun di musim semi (karena bisa merusak tanaman di ladang).

Masyarakat adat Uzbek memadukan antara kebutuhan akan hiburan dan pemuliaan terhadap alam dan leluhur melalui resital seperti ini. Recital yang bukan hanya menimbulkan rasa senang di hati mereka yang mendengarnya, tetapi juga mereka yang melantunkannya. Selama perayaan Navruz, masyarakat Uzbek tidak bekerja. Setelah perayaan berakhir, seluruh komunitas akan kembali ke pekerjaan masing-masing dengan membawa rasa senang dan tentram karena yakin alam akan bersedia ‘bekerja sama’ dengan mereka hingga musim panen tiba.

Bukan sekadar mencari kesenangan

Sebagai seseorang yang sudah cukup kenyang dalam berburu pemuas nafsu duniawi, saya bisa mengatakan bahwa kesenangan itu tiada batasnya. Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin kita berusaha keras melakukan segala hal demi melegakan dahaga akan kesenangan, semakin tak terpadamkan hasrat kita.

Melalui ritual Navruz, masyarakat adat Uzbek mengajarkan kepada kita bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan akan rekreasi dengan keberadaan alam sekitar. Pergantian musim dipandang sebagai pertanda bahwa alam itu hidup, karena cuaca dan musim tidaklah stagnan. Masyarakat modern menganggapnya suatu fenomena biasa yang bisa dijelaskan ilmu pengetahuan, sehingga terbitlah kepongahan mereka saat menghadapi alam sekitar.

Dalam perayaan Navruz, kuliner Sumalak yang dimasak bersama oleh ibu-ibu komunitas setempat sambil melantunkan nyanyian merupakan cara orang Uzbek menumbuhkan optimisme menyambut musim baru. Sementara ritual Sust xotin (= Poor Woman) bertujuan memelihara rasa kasih sayang terhadap leluhur yang direpresentasikan boneka terbuat dari dahan pohon. Dalam ritual ini, boneka itu dimandikan dengan air secara bergiliran oleh para peserta ritual (semuanya perempuan juga) sembari melantunkan nyanyian tentang harapan mereka.

Alih-alih merasa cemas terhadap ketidakpastian di sepanjang fase baru dalam hidup mereka, ibu-ibu masyarakat adat Uzbek berusaha menipiskan kegelisahan mereka dengan berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Mereka ‘mengorbankan’ bahan makanan yang seharusnya mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan keluarga masing-masing sebagai sesaji untuk leluhur, yang kemudian disantap bersama komunitas sebagai perwujudan kebahagiaan karena berhasil melewati bekunya musim dingin. (dswas). 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...