Selasa, 30 Desember 2025

Ingin Jadi Pribadi Kokoh dan Tahan Banting? Mari Sayangi Alam Sekitar

Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat maupun suatu bangsa. Semasa hidup mereka, para leluhur sejagat raya harus menghadapi berbagai tantangan dalam bentuk bencana alam yang memaksa mereka untuk mencari cara agar dapat bertahan hidup. Dari sinilah beliau-beliau ini menyadari bahwa alam harus ‘ditaklukkan’ dengan kasih sayang, dengan merawat dan melestarikan, agar ia pun memberikan kasih sayangnya kepada mereka.

Akan tetapi, kesadaran ini hanya dapat terbit setelah individu atau suatu kelompok masyarakat bisa mengatasi keterkejutan dan luapan emosi sesaat yang muncul sebagai reaksi mereka sebagai para korban (atau penonton). Tentu saja, berkomentar tentang bencana lebih mudah daripada benar-benar mengalaminya. Oleh karena itu, publik berhak memperoleh akses edukasi tentang kesiapsiagaan dan langkah-langkah antisipasi bencana, karena (sebagaimana sudah saya tulis berulang kali) mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Sebuah bencana besar di penghujung 2025 (26/11) telah menewaskan ribuan orang di belahan barat Sumatra, Indonesia. Sampai dengan hari ini sekitar satu bulan setelah bencana itu, ratusan orang dinyatakan hilang dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang yang diduga kuat merupakan dampak langsung eksploitasi hutan secara berlebihan di kawasan barat Sumatra.

Tingkat kerusakan yang dialami beberapa titik di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, sangat parah dan nyaris tak ada bedanya dengan dampak tsunami Aceh 2004 lalu. Pemerintah lokal angkat tangan, menyerah untuk bertanggung jawab terhadap keselamatan warga mereka. Pemerintah pusat ingin mempertahankan reputasi sebagai bangsa tahan banting. Sementara itu, para korban pun putus asa karena mereka sudah barang tentu ingin kehidupan mereka kembali seperti dulu.

Mencari dan menemukan

Kepercayaan asli selalu mengiringi lahirnya peradaban di berbagai lokasi di seluruh dunia, termasuk Ukraina. Akibat dinamika politik, Kepercayaan Asli Ukraina sempat dilupakan oleh para penerus orang-orang yang meletakkan pondasinya. Satu peristiwa besar, yaitu pembubaran Uni Soviet, menjadi titik awal kelahiran kembali Kepercayaan Asli Ukraina, atau yang disebut juga Ridnovira.

Perubahan identitas kewarganegaraan dari warga negara Uni Soviet menjadi warga negara Ukraina membawa makna mendalam bagi masyarakat Ukraina. Tak jauh berbeda dengan kelompok masyarakat atau komunitas lain yang pernah atau sedang mengalami situasi serupa saat ini, perubahan mendadak semacam ini seringkali diikuti dengan luapan emosi yang disebut eforia. Namun, Ridnovira merupakan aliran kepercayaan yang bukan sekadar memuliakan alam sekitar melalui ritual dan aktivitas penyakralan menurut tata caranya.

Bagi para penganut Ridnovira, aliran kepercayaan asli tidak melulu soal identitas karena pencarian identitas seharusnya sudah berhenti tatkala mereka menyatakan bersedia menjadi bagian dari suatu entitas, baik dalam lingkup spiritual maupun non spiritual. Memuliakan alam berarti menyatakan diri dengan sadar bahwa mereka adalah bagiannya, tetapi ini hanya dapat terwujud karena para penganut Ridnovira sudah merasa yakin tentang jati diri (self) mereka.

‘Happy Ending’

Tak seorang manusia pun di dunia ini yang tidak menginginkan kestabilan dalam hidup, dan tak seorang pun yang menginginkan bencana. Para penganut kepercayaan asli di berbagai pelosok dunia, termasuk Ridnovira, menyadari bahwa itu hanya bisa tercapai bila kestabilan juga terjadi di luar circle mereka, karena inilah esensi seluruh aliran kepercayaan yang eksis hingga detik ini. Bahwa segala unsur di dunia ini saling terkait dan saling memengaruhi setiap saat, bukan berdiri sendiri sesuai kehendak bebas masing-masing kapan pun mereka menginginkannya.

Gesekan memang akan dan selalu terjadi karena isi kepala masing-masing kelompok dalam masyarakat, baik di level regional maupun global, tidaklah sama. Namun, memaksa mereka agar satu kata dengan berbagai cara dapat berujung ketidakstabilan, semakin menjauh dari ‘happy ending’ yang menjadi impian semua orang. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...