Rabu, 11 Maret 2026

Cara Mendatangkan Kemudahan Setelah Kesulitan

 “War is money,” kata para penggemar teori konspirasi. Bagi yang bukan, money is money. Uang bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan salah satu penentu bagaimana kehidupan kita akan berjalan setiap hari. Dalam kondisi ekstrim seperti saat ini, uang juga menjadi penentu kebahagiaan. Di mana sebagian kecil orang menyabda diri mereka sendiri bahwa mereka tidak berhak untuk bahagia bila tidak punya uang dalam jumlah tertentu.

Kita tidak dapat menyalahkan atau menghakimi mereka yang tengah mengalami posisi seperti tersebut di atas, karena tingkat kesulitan hidup yang tengah dialami seluruh umat manusia di muka Bumi ini tidak sama antara satu dan lainnya. Walaupun kata “kesulitan” hidup itu sendiri tengah trending di banyak tempat di berbagai belahan dunia belakangan ini, akibat berbagai fenomena pasca pandemi virus korona.

Tidak ada sesosok manusia pun yang akan duduk manis dan tenang-tenang saja menghadapi situasi demikian. Bagi para pemilik usaha, pemutusan hubungan kerja adalah opsi yang paling masuk akal. Sementara bagi rumah tangga, penghematan drastis menjadi cara bertahan hidup. Dan berhasil. Saya bisa bilang begitu karena hingga detik ini kita tak menyaksikan bunuh diri atau depresi menjadi tren bersamaan dengan kesulitan keuangan global. Bukan begitu? 

Akan tetapi, ‘dinamika positif’ ini datang dengan konsekuensi.  Jika punya anggaran cekak ibarat berkendara di jalan sempit, perlu kewaspadaan ekstra guna mempertahankan fokus dan terjaga agar perjalanan berlangsung seamless. Alih-alih meningkatkan keahlian mengemudi di jalan sempit, sebagian orang memikirkan cara menyingkirkan pengendara lain agar perjalanan mereka tidak terhalang dan lebih cepat sampai. Berita baiknya, itu bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan manusia untuk mendatangkan kemudahan di tengah kesulitannya. 


Ilustrasi: Telaga Rambut Monte, Blitar


Berlatih ‘mendatangkan’ kemudahan

Di saat kesulitan keuangan menjadi problematika mayoritas manusia, ada sekelompok lain yang menghadapi kesulitan dalam bentuk konflik antar sesama mereka sendiri. Rakyat Kongo adalah salah satu kelompok masyarakat yang mengalaminya, antara lain sebagai dampak ikutan menjadi sebuah bangsa dengan 200 kelompok etnis yang berbicara dalam 250 bahasa dan dialek yang berbeda.

Bakongo (sebutan bagi masyarakat Kongo) pernah disatukan oleh satu kepercayaan tradisional yang disebut Bukongo, di mana leluhur dan unsur-unsur alam dimuliakan agar senantiasa dapat mengayomi di berbagai situasi dan kondisi. Mereka tidak berharap muncul kekuatan gaib atau keajaiban yang akan menyelesaikan masalah saat menuangkan air atau minuman anggur ke tanah sebagai penghormatan kepada para leluhur.

‘Membuang’ air atau anggur memerlukan pengorbanan besar, mengingat Bakongo adalah masyarakat yang tinggal di tengah alam yang kadang tidak bersahabat. Dalam logika manusia modern, tindakan ini sia-sia, bahkan dipandang sebagai pemborosan. Padahal inilah cara Bakongo melatih diri mereka sendiri untuk menyadari bahwa dalam situasi sesulit apapun tugas-tugas sebagai suatu entitas masyarakat harus dilaksanakan guna menciptakan keseimbangan antara manusia dan manusia, serta manusia dan lingkungan sekitarnya.  

Hasilnya, Bakongo yang diwakili oleh para elit politik Republik Demokratik Kongo tidak ragu mengadopsi standar baru Forest Stewardship Council (FSC) sebagai langkah pemanfaatan wilayah hutan seluas 155 juta hektar (atau 18% dari luas hutan tropis dunia) secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Artinya, masyarakat sekitar dan pemerintah tidak dilarang mengeksploitasi luasnya hutan RD Kongo untuk kesejahteraan bersama, sembari mengingatkan diri mereka sendiri seberapa banyak yang bisa mereka ambil agar sumber nafkah tersebut tidak punah.

Perspektif bisa ‘mendatangkan’ kemudahan

Kemudahan setelah kesulitan tidak akan pernah terjadi secara sekonyong-konyong, walaupun kita melakukan semua yang kita anggap bisa mendatangkannya. Yang biasa terjadi adalah, kita tidak menyadari bahwa kemudahan itu sudah datang. Entah lantaran sudah tidak sanggup lagi menghadapi kesulitan, atau mungkin akibat dorongan beragam faktor lain yang bisa bervariasi antar individu.

Bakongo bisa saja memilih melupakan para leluhur mereka, dan menjual luasnya hutan mereka kepada para investor. Bukankah itu sebuah kemudahan yang akan mengeluarkan mereka dari jurang kemiskinan? Sebaliknya, RD Kongo memilih untuk melestarikan kekayaan alam mereka setelah bencana yang menelan ratusan korban jiwa datang silih berganti akibat eksploitasi berlebihan.

Langkah tersebut mampu menarik kepercayaan dari dua lembaga keuangan dunia, yaitu IMF dan World Bank, yang bersedia menaikkan rating kredit mereka pada Januari 2026 sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah lebih besar dari sebelumnya. Dana pinjaman tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai dana pembangunan infrastruktur dan perbaikan kesejahteraan masyarakat RD Kongo.

Bagaimana bila dikorupsi?

Mereka yang berhalusinasi bahwa korupsi merupakan sebuah kemudahan yang didatangkan untuk mereka adalah orang-orang yang sudah melupakan keseimbangan, dan sudah lama pula melupakan para leluhur mereka. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...