Jumat, 06 Desember 2024

(Semoga) Tak Seburuk Nasib Laron

Sekitar 20 tahun lalu, bahkan sampai sekarang, berkunjung atau tinggal di luar negeri merupakan sesuatu yang 'wow' bagi kalangan kami. Bukan hanya mengenal budaya, berinteraksi dengan teman-teman baru, atau sekadar menikmati keindahan suasana, tinggal di luar negeri itu keren karena memerlukan keberanian yang tidak dimiliki semua orang. 

Para ekspat bepergian jauh meninggalkan kampung halaman, semua yang mereka kenal dengan baik sejak kanak-kanak, demi mengejar cita-cita, tuntutan tugas, atau komitmen keluarga. Dengan kata lain, mereka meninggalkan zona nyaman demi satu tujuan besar dalam hidupnya.

Bagi para imigran Timur Tengah di Eropa, tujuan itu adalah menyelamatkan diri dan keluarga mereka dari perang, persekusi terhadap kaum minoritas, atau peraturan ketat yang diberlakukan negara mereka terhadap kaum perempuan. 

Mereka berdatangan ke Benua Biru sejak 2015, setelah Angela Merkel, Kanselir Jerman saat itu, memerintahkan pembukaan perbatasan negaranya bagi para pengungsi yang didominasi warga negara Suriah, Irak, dan Afghanistan. Dengan berjalannya waktu, para pengungsi berdatangan dari wilayah lain, seperti Afrika dan Asia, mendarat di negara Eropa lainnya dengan tujuan yang sedikit berbeda, yaitu guna menyelamatkan diri dari kemiskinan.  


Demi kesejahteraan 

Eropa dikenal seluruh dunia berkat kebijakan murah hatinya yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial.  Baik warga negara maupun imigran berhak mendapat uang tunjangan dari pemerintah, semacam uang gratis yang diberikan kepada mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Nominal dan berapa lama seseorang berhak atas tunjangan sosial bergantung pada peraturan negara Eropa di mana ia tinggal. 

Kebijakan uang tunjangan awalnya memang benar-benar berhasil menempatkan deretan negara Eropa Barat sebagai negara termakmur, terbahagia, teraman di dunia, dan banyak lagi. Masalah datang ketika semua keindahan itu menimbulkan perasaan sesal di hati warga negara lain: "seandainya negaraku seperti itu", "kenapa ya negaraku miskin", "kapan negara kita maju:, dll. 

Mereka hanya dipameri semua yang bagus dan baik di Eropa Barat dan merasa iri, sampai-sampai mereka tidak keheranan dan mempertanyakan dari mana negara-negara tersebut punya uang untuk dibagikan sebagai uang tunjangan. Apakah dari uang pajak atau hasil perdagangan bilateral? Bisa jadi. 

Eropa dan Amerika Serikat termasuk wilayah yang memberlakukan pajak cukup tinggi bagi warganya. Namun, tingginya pajak diimbangi dengan tata kelola pemerintahan, infrastruktur yang baik, serta berbagai tunjangan yang bisa didapat warga negara dari pemerintah.   

Akan tetapi, pandemi COVID-19 memaksa sejumlah negara memberikan uang tunjangan yang lebih banyak dari biasanya. Perdagangan internasional karut marut akibat kedatangan berbagai produk impor yang harganya luar biasa murah, sehingga penghasilan Eropa Barat dari perdagangan pun berkurang drastis. 

Selain itu, warga asli juga mulai mengeluhkan tingkah laku para imigran yang bertolak belakang dari nilai-nilai adab Eropa Barat. Imigran dianggap mencuri lapangan pekerjaan dari warga lokal karena mereka bersedia dibayar murah untuk pekerjaan apa pun. Belum lagi meningkatnya angka kriminalitas, khususnya kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan. 

Sejak beberapa waktu lalu, Eropa Barat sudah memberlakukan peraturan ketat bagi para imigran yang datang tanpa keahlian, tetapi belum mampu menghentikan arus masuk imigran dari berbagai penjuru.  

Anti berhemat

Tidak ada uang gratis di dunia ini memang benar adanya. Uang tunjangan dermawan yang ditawarkan beberapa negara Eropa tak lain dan tak bukan adalah uang pinjaman, yang nantinya dikembalikan oleh warga negara melalui pembayaran beraneka ragam pajak. 

Skema ini sepintas ideal, apabila jumlah warga negara relatif sedikit dan tidak sebanyak negara-negara seperti China, India, Indonesia, bahkan Amerika Serikat. Menjadi tidak ideal karena arus masuk imigran berlangsung terlalu cepat, bahkan tidak terkendali. Di antara mereka yang berhasil mendapat pekerjaan, hanya segelintir saja yang mampu atau bersedia membayar pajak. 

Sejumlah negara Eropa berupaya mengatasi kekurangan anggaran ini dengan uang pinjaman dari Bank Sentral masing-masing. Teknisnya, negara menerbitkan obligasi (surat utang) pemerintah yang kemudian diajukan kepada Bank Sentral. Selanjutnya, Bank Sentral akan mencetak uang baru berdasarkan nilai surat utang tersebut. 

Mengapa langkah ini berisiko? Apa pun yang memiliki persediaan melimpah akan turun harganya, dan ini juga berlaku untuk nilai uang. Kekacauan ekonomi dipastikan akan terjadi bila mata uang nasional suatu negara menurun, dan dampaknya akan merembet ke mana-mana. 

Untuk itu, (mantan) Perdana Menteri Prancis Michel Barnier mengajukan usulan pengurangan anggaran tunjangan sosial sebagai upaya penyelamatan keuangan negara. Langkah ini sebenarnya juga akan efektif mencegah kedatangan imigran, yaitu dengan menawarkan uang tunjangan lebih rendah, atau bahkan tidak sama sekali. 

Sayang, niat baik Barnier malah berbuah pelengseran dirinya dari jabatan melalui mosi tidak percaya Parlemen Prancis dalam sidang awal Desember 2024. Di bawah pimpinan Marine Le Pen, seorang pentolan sayap kanan, kubu kanan dan kiri parlemen sepakat menolak usulan Barnier dan memaksanya berhenti sebagai perdana menteri setelah 3 bulan menjabat. 

Kisruh politik tersebut bukan saja mencerminkan keengganan parlemen Prancis untuk hidup hemat, tetapi juga keengganan menghadapi risiko aksi massa yang bisa saja terjadi setelah putusan diberlakukan. Apalagi Prancis sudah cukup kenyang dengan aksi massa anarkis, yang sebagian besar pelakunya imigran. 

Satu hal yang pasti, Marine Le Pen sedang terlibat kasus hukum penggelapan uang negara di waktu yang sama. Sehingga tidak berlebihan bila kita menganggap Le Pen sedang berusaha menaikkan posisi tawarnya dengan memimpin aksi parlemen pelengseran Barnier. 

Ibarat laron beterbangan mengitari cahaya lampu di malam hari, sudah sifat manusia untuk mudah terpikat pada segala hal yang gemerlap berkilauan guna mencari kebahagiaan. Semoga saja kita tidak bernasib seperti laron yang mati di saat fajar menyingsing lantaran gagal menemukan pasangan. 

Selasa, 12 November 2024

Mewaspadai Kedatangan si Silent Killer di Sekitar Kita

“Tak seorang pun dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat berniat untuk mengambil pelajaran dari itu,” tegas Raja Charles pada Konferensi Negara-negara Persemakmuran yang digelar di Samoa, Oktober 2024.   

Pernyataaan di atas ditafsirkan beberapa media sebagai pandangan Raja Inggris terhadap sepak terjang negaranya di masa imperialisme/ kolonialisme, yang sarat dengan darah dan air mata. Niat baik Raja Charles tidak disambut hangat sejumlah kalangan saat berkata,

“Di mana terjadi ketidaksetaraan .. kita harus mencari cara dan tutur kata yang tepat untuk menyampaikannya. Dengan melihat dunia dan mempertimbangkan secara mendalam berbagai tantangan yang mengkhawatirkan, maka kami memilih penyampaian dan penghormatan bagi komunitas dan menolak penyampaian yang mendatangkan perpecahan dalam keluarga Persemakmuran.”

Pernyataan tersebut seolah merupakan tanggapan langsung atas ketidakhadiran India dan Afrika Selatan, yang termasuk pendiri sekaligus anggota Persemakmuran, dalam konferensi tersebut. Keduanya memilih hadir di Konferensi BRICS (singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) yang digelar sehari sebelumnya.

Mengingat konflik geopolitik dan rivalitas antara Rusia dan kubu Barat (di mana Inggris termasuk di antaranya), ketidakhadiran India dan Afrika Selatan rupanya dianggap Raja Inggris sebagai sikap yang kurang bersahabat dan negatif bagi kebersamaan Negara-negara Persemakmuran. 

Terlepas dari bagaimana Inggris memperlakukan India dan Afrika Selatan di masa pendudukan, wajar bila Raja Inggris melontarkan kekecewaannya mengingat bantuan yang sudah diberikan Inggris kepada negara-negara anggota Persemakmuran. Walaupun detail mengenai bantuan tersebut tidak dipaparkan secara terang-terangan.

“Aku ra popo (Aku baik-baik saja)"

Menurut sebuah sumber, menjelang akhir 2024 Ukraina tercatat sebagai negara dengan tingkat depresi tertinggi di dunia. Tidak mengherankan mengingat situasi geopolitik yang dialami negara ini.

Yang justru mencengangkan, posisi ke-2 dan ke-3 masing-masing dihuni Amerika Serikat dan Australia. Artinya, jumlah penderita depresi di dua negara yang juga dikenal sebagai negara maju hampir sama banyak dengan penderita depresi di negara yang sedang berperang.

Data ini mencengangkan sekaligus mengkhawatirkan karena depresi dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya ternyata bisa mencengkeram negara mana pun, bahkan yang dikenal berkat kesejahteraan dan stabilitasnya.

Penyebab utamanya tentu saja bukan karena negara-negara itu tidak memiliki fasilitas rumah sakit jiwa yang memadai, atau kekurangan tenaga spesialis di bidang kesehatan mental. Sering kali ketidaktahuan penderita bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya berkontribusi dalam tingkat keparahan penyakit yang dideritanya.

Penggambaran tentang masalah kesehatan mental sebagaimana diekspos influencer, media sosial, atau plot film-film serial streaming berlangganan terkadang ditafsirkan sebagai suatu kebenaran. Lantaran tayangan-tayangan tersebut meninggalkan impresi yang tidak nyaman dan gloomy, batin kita menolak untuk membayangkan atau curious tentang kemungkinan bersarangnya penyakit ini dalam jiwa kita. Sepanjang kita tidak ingin bunuh diri atau berhalusinasi mendengar suara dari langit, itu artinya mental kita baik-baik saja, bukan?

Silent killer

GERD (gastroesphageal influx disease) merupakan suatu kondisi di mana penderitanya mendadak mengalami rasa panas di dada atau sesak napas yang diakibatkan naiknya asam dari lambung ke kerongkongan. Meski tidak menyebabkan kematian, GERD bisa memicu kondisi lain yang membahayakan jiwa, di antaranya peningkatan risiko kanker.

Ironisnya, penyakit yang kerap disamakan dengan maag ini merupakan salah satu penyakit lazim di kalangan masyarakat dunia, baik tua muda, pria wanita. Lantaran salah satu pemicunya juga tak kalah lazim, yaitu stress.

Stress, satu kata ini kian lazim seiring meningkatnya jumlah orang yang wajib atau merasa wajib tampil kokoh dan tegar di hadapan publik maupun dalam kehidupan sehari-hari, baik karena tuntutan pekerjaan atau peran dalam keluarga, di saat situasi benak mereka adalah sebaliknya. Ibaratnya, bukan manusia modern kalau tidak pernah stress dalam hidup ini. 

Apakah gara-gara hidup itu singkat maka kurang bermakna tanpa stress? 

Berkaca dari ‘sabda’ Raja Charles di atas, rasa tertekan bukan hanya dialami mereka yang pernah dijajah tetapi juga kubu yang menjajah. Kaum imperialis merasa menemukan rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya saat mereka ‘menemukan’ tanah jajahan yang kaya sinar matahari dan banyak hal lain yang tidak ada di kampung halamannya. Adalah wajar bila mereka merasakan kehilangan yang cukup dalam ketika terpaksa angkat kaki dari rumah idaman untuk selamanya.

Lantaran tidak diungkapkan dan hanya dipendam selama berabad-abad, rasa kehilangan tersebut mendistorsi perspektif, reaksi, tindakan, dan kebijaksanaan kolektif suatu bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Memengaruhi pola pikir manusia saat mengalami peristiwa demi peristiwa yang semakin ruwet dari waktu ke waktu.

Segala hal yang terjadi di muka Bumi dewasa ini merupakan rangkaian sebab dan akibat yang tiada putus dan merembet ke mana-mana bagaikan kanker ganas yang dipicu GERD kronis. Segala kompleksitas yang terjadi di tengah dinamika masyarakat sebagai komunitas global ternyata bermuara dari satu atau beberapa permasalahan di masa lalu yang diabaikan.

Selasa, 23 Juli 2024

Hidup Dengan Rasa Malu Bukan Akhir Dunia – Bagaimana Caranya?

Seseorang merasa malu hidup di tengah masyarakat lantaran merasa memiliki kekurangan yang membuatnya berasumsi dirinya kurang layak sejajar dengan lainnya. Maka wajar bila orang akan merasa malu bila para tetangga di lingkungannya tahu kehidupan keluarga mereka di bawah standar, karena siapa pun kita pasti akan merasa diri kita baik bila memiliki sesuatu yang dapat kita banggakan. Di antaranya, kemakmuran dan hidup yang mapan.

Lantaran kita hidup di zaman di mana pencitraan lebih menentukan nilai seseorang dibandingkan kualitasnya yang sebenarnya, sebagian besar orang rela melakukan apa pun demi menyita perhatian khalayak, berapa pun biayanya. Kalau tidak ada biaya, kini ada jalan pintas: utang. Bukan utang ke tetangga, tentunya, melainkan ke bank, aplikasi pinjaman online, dan berbagai lembaga penyalur kredit lainnya. 

Sejumlah kalangan mengklaim bisnis pinjam meminjam uang sudah muncul berabad silam Sebelum Masehi, diawali ketika para petani kala itu meminjam uang pada rentenir di saat masa panen belum tiba demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Walaupun pemberlakuan bunga pinjaman dikecam keras oleh Aristoteles sebagai praktik tidak terhormat, dikutuk sebagai dosa oleh kalangan Kristen dan Islam Abad Pertengahan, lama kelamaan peradaban manusia menganggap bisnis pinjam meminjam uang adalah suatu hal biasa.

Menghentikan atau melampiaskan rasa malu?

Tidak berlebihan bila kita mengibaratkan rasa malu layaknya siksa api neraka bagi banyak orang, tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras, maupun profesi. Orang yang merasakannya menganggap seluruh dunia sedang menghinanya, sehingga harga dirinya pun jatuh. Menghina orang lain dan mengganggunya secara massal (bullying/ perundungan) bukan lagi ilusi, melainkan situasi nyata di kalangan remaja seluruh dunia.

Tren penembakan massal di Amerika Serikat yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, misalnya, didalangi para pelaku yang sebagian besar adalah korban perundungan di sekolah.

Rasa malu, terhina, rendah diri yang menyiksa batin mereka butuh jalan keluar, pelampiasan. Mereka mengira melampiaskan rasa terhina dengan menembak membabi buta ke segala arah adalah cara terbaik agar semua tahu apa yang sedang ia rasakan selama ini.

Lain halnya Jepang di mana para korban perundungan cenderung memilih mengakhiri hidupnya daripada menanggung malu berkepanjangan. Meski dikabarkan mengalami penurunan, para pelaku bunuh diri bukan hanya siswa sekolah menengah tetapi juga anak-anak usia sekolah dasar.

Di masa lalu, tepatnya di era kejayaan para samurai, mengakhiri hidup dipandang sebagai wujud penyesalan karena majikan mereka kalah dalam perang atau sebagai cara menghukum diri sendiri yang dikenal dengan istilah seppuku. Seppuku dianggap lebih terhormat daripada dieksekusi mati, baik oleh musuh atau karena mereka lalai dalam menjalankan tugas.

Walaupun pemerintah Jepang era modern telah melarang seppuku, mau tidak mau serpihan kultur masa lalu mengilhami para remaja belasan tahun yang mengira mereka tengah berada di situasi para samurai yang merasa terancam kehilangan harga diri.

Dua tindakan di atas yang masing-masing bertujuan menggelar (penembakan massal) dan menggulung (bunuh diri) rasa malu di atas sama-sama berakhir dengan kematian, juga penderitaan orang lain yang terhubung dengan para pelaku.

Karena rasa malu bersifat naluriah yang dialami setiap manusia, apakah sebaiknya kita lenyapkan saja kata “malu” dari kamus berbagai bahasa di dunia agar manusia tidak lagi ingat bagaimana cara mengekspresikan ketakutan terhadap kehilangan sesuatu yang tak kasat mata di dalam dirinya?

Lebih baik malu sesaat daripada hancur selamanya 

Rasa malu bukanlah sesuatu yang buruk. Sepanjang perjalanan hidup manusia, mereka akan menemui banyak situasi di mana rasa malulah yang menjadi pengarah, pengemudi bagi kendaraan tingkah laku mereka. Rasa malu juga yang dijadikan senjata bagi beberapa orang untuk menguasai kelompok lainnya. 

Contoh, kembali lagi ke masalah utang, lembaga penagih utang akan menghubungi (dan dalam beberapa kasus debt collector juga menagih) mereka yang terdaftar sebagai kontrak darurat debitur apabila debitur tersebut tidak membayar utangnya dan tidak dapat dihubungi. 

Andaikata tidak ada komunikasi transparan antara debitur dan para kontak daruratnya tentang utangnya karena si debitur malu ketahuan punya utang, bukan mustahil perpecahan antar anggota keluarga, kerabat, dan teman terjadi akibat invasi debt collector ke ranah pribadi para debitur (yang mana merupakan praktik lazim di kalangan aplikasi pinjaman online di Indonesia). 

Di jaman yang serba kompleks seperti sekarang, sumber rasa malu bukan hanya utang. Perubahan status, jatuh miskin, kekalahan dalam perang atau kompetisi olahraga, kehilangan pekerjaan .. pemicunya berbeda untuk tiap orang sesuai latar belakang dan preferensi mereka. Akan tetapi, apa yang mereka rasakan saat merasa malu ialah sama: resah, gelisah, sesak napas, anti sosial, benci diri sendiri, dll. 

Kalau kita pikir-pikir lagi, sebenarnya siapa yang harus disalahkan karena memberikan semua ketidaknyamanan ini pada diri kita? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. Lalu bagaimana mengatasi rasa malu semacam ini yang dialami suatu bangsa atau kelompok di saat yang bersamaan dan bertahan hingga bertahun-tahun? 

Semua pertanyaan ini bisa terjawab dengan melakukan serangkaian langkah mudah. Satu kekeliruan yang sering kali kita lakukan saat merasa terhina atau direndahkan adalah buru-buru mencari cara untuk keluar dari kepedihan ini. Padahal, sebuah pengakuan bahwa kita memang sedang merasa rendah dan terhina dibutuhkan. Oke, kita malu, kita paria. Titik, itu saja. 

Ingat, rasa malu ini bukanlah diri Anda. Jangan tergoda untuk cepat-cepat membunuhnya atau melampiaskannya, karena semua hal yang kita lakukan berdasarkan dua tujuan itu tidak akan pernah benar-benar melenyapkan rasa malu dalam diri kita. Malah hanya memberi si rasa malu makanan untuk tumbuh lebih besar dalam diri kita tanpa kita sadari. 

Rabu, 29 Mei 2024

Gampang-Gampang Susah Melindungi Komunitas dari Sisi Negatif Individualisme

Tidaklah rumit memulai komunitas di mana pun Anda berinteraksi dengan sejumlah orang yang membicarakan topik dan/atau minat yang sama. Dan bukanlah hal yang sulit untuk memulai komunitas yang dibangun berdasarkan kesamaan identitas, kewarganegaraan, atau tempat tinggal karena ada satu hal yang menyatukan mereka.

Namun, memulai sebuah komunitas tidak sesulit membuat para anggotanya merasa menjadi bagiannya. Mengapa harus repot-repot bergabung dengan suatu komunitas ketika Anda tidak merasa enjoy di situ? 

Pada akhirnya, komunitas tersebut akan terhenti di tengah perjalanan karena gagal memaknai alasan keberadaannya; sesuatu yang memerlukan keputusan terkonsolidasi, bukan visi pribadi seseorang (yaitu pemimpinnya). 

Individualisme itu berat

Budaya individualistis menghargai pencapaian pribadi, kemampuan mengarahkan diri sendiri, dan kebebasan individu. Di tengah situasi sulit, budaya tersebut berharap masyarakat dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri, mandiri, dan tidak menyusahkan orang lain dengan kesulitan mereka.

Budaya ini bagus karena siapa pun akan belajar cara tumbuh dan mengembangkan potensinya untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka, Namun, ada juga kekurangannya.

Mengingat budaya individualistis menghargai otonomi dan identitas pribadi, masyarakat cenderung mengutamakan kenyamanan diri masing-masing di atas kebaikan bersama. Seseorang yang dibesarkan dalam budaya individualistis akan cenderung meremehkan pengaruh keputusannya terhadap orang lain, karena mereka menganggap orang lain akan melakukan hal yang sama. 

Ilustrasi: lalesh aldarwish

Akibatnya, mereka rentan stres karena merasa kesepian dan kurangnya dukungan. Belum lagi sikap anti sosial yang berdampak buruk bagi komunitas. Sikap "pokoknya harus seperti ini" itu tidak manusiawi karena tidak memandang anggota masyarakat sebagai pria atau wanita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Keterputusan seorang pekerja dari timnya dapat memicu turunnya rasa kegotongroyongan, karena tidak ada pihak yang bersedia menurunkan egonya dan saling menjangkau satu sama lain.

Sebuah eksperimen

Apabila Anda pernah atau sedang merasakan apa yang saya beberkan di atas, tenanglah. Anggap saja hal ini sebagai tantangan yang menunggu jawaban Anda, bukan menganggap individualisme sebagai pertanda buruk bagi masyarakat. Ada tingkat baru yang dicapai saat Anda dan komunitas berhasil mengatasi tantangan tersebut. Namun, pertanyaannya masih 'bagaimana'.

Kebanyakan orang yang berada di posisi manajerial biasanya memberikan ruang kepada individu, agar mereka dapat mengembangkan potensi tanpa mengorbankan privasi. Suatu langkah yang sekaligus membuat mereka menjauh dari tujuan kolektif pada tingkat tertentu.

Bagaimana kalau kita coba pendekatan lain?

Alih-alih menempatkan para individualis di mana mereka ingin berada, mari kita dorong mereka keluar dari zona nyaman itu. Limpahkan peran khusus untuk para individualis yang mengharuskan mereka mengajar orang lain untuk melakukan sesuatu. Peran ini akan menempatkan mereka di situasi tertentu di mana mereka akan lebih sering berinteraksi dengan orang lain dan mengemban bertanggung jawab untuk memberdayakan mereka. Dengan demikian, tebalnya pola pikir individualistis dapat ditipiskan.

Anda jelas akan berhadapan dengan penolakan saat memaksa mereka mengikuti cara ini. Namun, kita sudah terbiasa menghadapi situasi ekstrim di sekitar kita akibat kesulitan ekonomi dsb. Sedikit komplain tidak akan mengganggu hari Anda, jika kebaikan bersama jadi yang utama.

Oleh karena itu, komunikasi senantiasa diperlukan untuk membangun pemahaman tentang mengapa mereka harus bertahan dari rasa ketidaknyamanan tersebut. Apalagi jika kita berbicara tentang komunitas online yang dimensinya berbeda dibandingkan komunitas pada umumnya.

Emosi menjadikan kita manusia, sekaligus hal yang mendasari beberapa orang lebih memilih mendelegasikan tugas pekerja pada AI. Sesuatu yang membuat kita merasa hidup telah dikambinghitamkan sebagai pemicu pengangguran di sejumlah negara. Namun demikian, gagasan dan semangat manusialah yang menyelesaikan tiap masalah yang mereka hadapi dalam masyarakat masing-masing. Jimat yang akan membuat kita bahagia dan menemukan makna hidup.

Minggu, 25 Februari 2024

Ketika Self-Respect Sirna Ditelan Pragmatisme

Menarik janji dan pendirian seolah menjadi tren, dan para pelakunya pun tak lagi khawatir akan konsekuensi perilaku menyimpang semacam ini. Menarik ucapan, atau bahkan menyangkal ucapannya sendiri kian menjadi kelaziman, seakan-akan ini satu-satunya cara praktis mencapai tujuan.

Sampai sekitar dua atau tiga tahun lalu, peradaban modern masih bisa membanggakan diri prinsip, nilai-nilai, kehormatan, harga diri, reputasi ... segala hal yang kita banggakan dan jaga baik-baik demi membentuk citra diri yang sesuai harapan dan norma-norma masyarakat. Kini tidak lagi.

Menolak uang mudah adalah salah satu bentuk self-respect.

Politik “jual diri”

Katakanlah kita pebisnis yang ingin sukses di bidang kita, langkah pertama kita adalah melakukan riset tentang kebutuhan khalayak, lalu menciptakan produk yang sesuai. Selanjutnya kita menciptakan merek, nama, identitas, dan nilai produk yang sejalan dengan apa yang berlaku di masyarakat.

Mengingat khalayak adalah konsumen kita, pemasar yang baik tidak akan mengabaikan mereka dalam setiap langkahnya. Guna merebut hati calon konsumen, sebuah merek sebaiknya membangun komunikasi pemasaran yang persuasive dan kepedulian mendalam pada mereka.

Sikap kita menyikapi persaingan yang semakin ketat juga merupakan cerminan dari seberapa tingginya kepercayaan diri sebuah merek.

Mengikuti tren memang bisa meningkatkan nilai jual sebuah merek dalam jangka pendek dan dalam waktu singkat. Namun, terlalu sering berubah sesuai tren menunjukkan ketidakpercayaan diri merek terhadap citra diri yang sudah dibangunnya sejak awal.

Dan, bagaimana kita akan sukses meyakinkan orang lain kalau kita tidak yakin dengan diri sendiri?

Politik “jual diri” atau pencitraan banyak diterapkan para pemimpin dan tokoh dari berbagai belahan dunia sebagai cara menumbuhkan rasa hormat publik, yang selanjutnya (diharapkan) diikuti dengan kepatuhan masyarakat pada mereka.

Masyarakat pun juga dapat menerimanya, sepanjang para pemimpin dan tokoh tersebut menunjukkan tindak-tanduk sesuai citra diri yang mereka presentasikan. Jangankan patuh, rasa hormat rakyat jelata pada pemimpinnya akan hilang bila sang pemimpin tidak mampu menghormati dirinya sendiri.

Sedihnya, pemimpin dan tokoh semacam ini tidak sedikit jumlahnya.

Self-respect vs profit

Menurut pakar kesehatan mental, menghormati diri sendiri (self-respect) penting guna mendukung ketahanan psikis seseorang menghadapi tantangan, membangun kebahagiaan, meraih sukses tanpa rasa kehilangan harga diri.

Self-respect adalah satu hal yang menjaga kita dari tergoda melibatkan diri dalam segala sesuatu yang pada akhirnya kita sesali di belakang hari. Dialah penjaga keamanan tak terlihat yang selalu bersama kita hingga hembusan nafas terakhir.

Namun, sering kali orang mengabaikan self-respect demi keuntungan materi dalam jangka pendek tanpa bijak mempertimbangkan dampaknya di belakang hari.

Seorang aktivis pergerakan yang mendadak berubah sikap setelah menduduki jabatan penting di pemerintahan, seorang tokoh oposisi yang bertahun-tahun getol anti pemerintah mendadak menjilat ludahnya sendiri .. Saya yakin Anda bisa membayangkan siapa mereka.

Dampak pandangan jangka pendek

Bekerja keras mencari uang adalah hak tiap manusia, siapa pun tak bisa menghakimi seseorang tentang cara yang ia tempuh untuk memenuhi kebutuhan. Kecuali bila ia melanggar hukum dan peraturan yang berlaku, tentu saja.

Akan tetapi, inflasi, sempitnya lapangan kerja, jatuhnya nilai tukar mata uang nasional, adalah beberapa di antara faktor ekonomi yang mendorong seorang individu condong pada cara termudah memperoleh penghasilan. Ngapain jalan kaki kalo bisa naik motor ke tujuan, bukan begitu?

Adalah naif jika saya meyakinkan Anda tidak ada dampak dari menanggalkan prinsip demi keuntungan materi, meski di sisi lain saya dan Anda sama-sama tahu kita berkewajiban memenuhi kebutuhan keluarga (bila sudah berkeluarga). Pun, tidak ada undang-undang yang melarang kita untuk menanggalkan prinsip lama dan beralih ke prinsip baru yang lebih praktis dan menguntungkan.

Apakah ukuran “asal tidak salah” sudah cukup untuk menjamin langkah ke depan yang tanpa masalah? Apakah tiadanya masalah sudah cukup sebagai pernyataan bahwa proses yang kita tempuh sudah benar menurut nilai-nilai kemanusiaan, keluhuran budi, norma-norma sosial?

Saya tidak yakin pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul dalam benak siapa pun yang mengutamakan keuntungan jangka pendek. 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...