Minggu, 29 Maret 2026

Mencari Petunjuk Spiritual Tanpa Tersesat, Mungkinkah?

Dalam situasi terjepit akibat berbagai hal (dan terutama sekali faktor ekonomi), sebagian orang berusaha mencari solusi segala permasalahannya dengan melakukan revolusi spiritual. Yaitu dengan lebih menekuni tuntunan agama guna mencari ketenangan batin, untuk menjernihkan kebisingan suara hati agar terlihatlah jalan yang sebaiknya ia pilih menuju penyelesaian segala masalah mereka.

Ada yang bilang ini seperti orang yang ingin melupakan segala kesedihannya dengan cara mengonsumsi obat penenang atau anti depresi. “Tuduhan” yang sekilas terlalu kejam dan tidak adil. Namun, saya yakin sebagian dari kita pernah mengalami situasi seperti ini, atau bahkan sedang mengalaminya saat ini. Mereka yang memilih jalan di atas tak dapat disalahkan, karena toh setidaknya mereka berusaha mencari solusi. Berusaha menolong diri mereka sendiri dari keterpurukan, karena terpuruk dan tak berdaya itu lebih menyakitkan rasanya. Betul tidak?

Tujuan yang tadinya terdengar penuh cahaya dan sering dijadikan parameter kematangan mental seseorang bisa berubah menjadi kesesatan. Yaitu tatkala mereka menjadikannya sebagai satu-satunya cara agar tujuannya tercapai, tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan segala langkah dan gerakan yang diambilnya. Keputusan tersebut bukanlah sebuah keputusan mandiri yang diambil sebagai hasil sebuah pencarian spiritual melalui latihan dan wawas diri, melainkan sesuatu yang diinjeksikan ke dalam diri mereka sebagai ‘vaksin’.

Vaksin memang bertujuan melatih sel-sel tubuh untuk menjadi kebal dengan mengenali dan memerangi virus dan bakteri. Akan tetapi, vaksin yang efektif terbuat dari sel bakteri atau virus itu sendiri yang telah dilemahkan agar sel tubuh cukup kuat untuk mengenalinya sebagai komponen jahat untuk diperangi. Artinya, vaksin dengan sel bakteri atau virus yang tidak cukup lemah sama adalah sangat berbahaya bila diinjeksikan ke tubuh seseorang. Tujuannya pun sudah jelas, yaitu membuat tubuh sekelompok manusia menjadi sakit. Namun, bagaimana seandainya bukan sakit fisik, melainkan mental, yang jadi sasarannya?


Ilustrasi: Sebuah pemakaman umum di Malang.


Bukan hanya harta

Dewasa ini, kita ‘sakit’ menyaksikan previlese segelintir orang yang seolah tak merasakan kecemasan lantaran anak cucu mereka sulit mencari nafkah atau tak bisa menikmati gaji besar. Nama besar keluarga (tertentu) seakan jadi jaminan bahwa anak cucu mereka akan hidup enak hingga tujuh turunan. Itulah kenyataan di beberapa tempat di dunia masa kini. Asal tahu saja, ratusan hingga ribuan tahun lalu, suatu keluarga tak harus jadi kaya terlebih dulu supaya bisa memastikan dan berperan serta dalam kesejahteraan hidup generasi penerus mereka.  

Orang-orang Serbia yang masih memegang teguh Kepercayaan Asli Slavia (Rodnovery) memandang rumah sebagai “kuil” di mana sosok ayah dan ibu atau kakek dan nenek menjadi wakil para leluhur. Tanpa para leluhur, tidak akan ada kakek nenek, orang tua, apalagi kita. Menghormati orang tua dianggap sama sakralnya dengan memuliakan mata air dan para leluhur yang telah lama tiada. Ini diperkuat pula oleh nama aliran kepercayaan itu sendiri, Rodnovery, yang terbentuk dari kata Rod (garis keturunan, kelahiran, kekerabatan).  

Sebagai timbal balik, generasi senior orang Serbia memberikan dukungan pada generasi muda untuk tujuan mereka membangun komunitas yang lebih baik dan sejahtera. Dukungan dalam bentuk uang atau harta benda memang bernilai, tetapi kehadiran, pemahaman, dan penerimaan oleh generasi senior lebih tak ternilai harganya apabila bertujuan untuk menentramkan dan, pada gilirannya, menumbuhkan rasa aman dalam benak generasi yang lebih muda. Dukungan yang akan selalu hidup dalam ingatan para generasi muda sebagai petunjuk bagi para leluhur masa depan untuk bersikap dan bertindak dengan penuh kewaspadaan sebagai teladan bagi generasi berikutnya.

Sadar setelah tiada

Dalam banyak kasus, generasi baru dan muda akan menyadari dan memahami makna di balik nasihat kaum senior “bawel” bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, setelah para pendahulu ini meninggal dunia, setelah kedua generasi itu dipisahkan oleh jarak dan takdir. Kerinduan pada sosok pelindung seringkali menjadi penuntun untuk kembali mengingat wejangan dan saran yang seringkali dipandang tidak relevan dengan situasi generasi yang lebih muda pada saat itu.

Berbagai dinamika membuat sekelompok orang memilih petunjuk berdasarkan impresi emosional, bukan berdasarkan faktualitas petunjuk itu sendiri. Situasi seperti ini dapat terjadi karena ada penyesalan mendalam akibat rasa kehilangan sosok penuntun dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kesedihan menahun yang tidak dapat (atau belum dapat) diredam dengan penerimaan atas kepergian sosok tersebut dalam kehidupan mereka.

Penyesalan ini membuat mereka tersesat dalam memilih petunjuk dan tuntunan hidup. Keliru dalam memilih petunjuk yang benar-benar mendatangkan hasil berwujud kebahagiaan dari mampu menimbulkan rasa aman dalam batin mereka di tengah kesulitan hidup silih berganti. (dswas) 

Senin, 23 Maret 2026

Mencari Pemurnian Sebagai Solusi Masalah Hidup

Murni selalu bersih, tetapi bersih belum tentu murni. Inilah kendala yang dihadapi sebagian besar masyarakat saat mereka diberitahu bahwa 22 Maret telah ditetapkan PBB sebagai Hari Air Internasional. Air bersih dibutuhkan manusia demi kelangsungan hidupnya, baik di kota, pedesaan, padang salju, maupun padang pasir, sehingga berbagai cara dilakukan guna mendapatkannya. Antara lain dengan menggali tanah sedalam-dalamnya, atau mengubah air laut menjadi air tawar. Walaupun tidak berarti air dari hasil ‘jerih payah’ itu tidak layak dikonsumsi, tetapi mereka yang sudah sering mengonsumsi air dari tempat lain pasti bisa merasakan perbedaannya.

Masyarakat yang tinggal di pegunungan sungguh sangat beruntung berkat sungai dan mata air dari alam. Mereka tidak perlu membanting tulang mengubah bentuk zat lain menjadi air, melainkan cukup menjaga agar mata air tidak berhenti mengalirkan air yang senantiasa bersih sepanjang masa. Alam raya adalah sekolah para leluhur, di mana mereka membentuk sains zaman kuno yang berakar dari hasil pengamatan tentang segala gerak dan eksistensi di tengah alam bebas. Ilmu pengetahuan itu kemudian dibungkus dengan gaya bercerita agar senantiasa menarik dan diingat selalu oleh berbagai generasi di bawahnya.

Persinggungan dengan berbagai kisah dari luar komunitas mereka memunculkan tantangan baru untuk menemukan kembali ilmu pengetahuan buatan para leluhur, yang sudah pasti cocok untuk komunitas tersebut tanpa banyak drama. Karena drama yang kita butuhkan adalah drama dengan happy ending di akhir cerita; tuntunan yang segera berbuah hasil, bukan berbuah sekuel baru drama itu sendiri.


Illustrasi: Danau Beratan, Bali.


Sumber Konflik

Garis Durand (Durand Line) sebagai garis pemisah antara wilayah Afghanistan dan Pakistan saat ini tidaklah ditentukan oleh masyarakat yang tinggal di sana berabad-abad. Garis sepanjang 2000 km diciptakan oleh para manusia yang datang dari wilayah lain demi memastikan kelangsungan hidup mereka, yang masih jatuh bangun menemukan tempatnya di dunia hingga saat ini. Garis itu ditarik dari gugusan puncak tertinggi dunia, membelah empat sungai (Kunar, Kabul, Kurram, Gomal), dan berakhir di Danau Zerrah yang terletak di perbatasan antara dua negara tersebut dengan Iran.

Jauh sebelum Garis Durand diciptakan dan dibentangkan, Suku Kalash tersebar di wilayah yang dahulu dinamakan Kafiristan dan saat ini bernama Nuristan. Dengan bahasa, budaya, dan kepercayaan asli yang masih dijalankan sampai sekarang, suku ini punya cara unik untuk memposisikan kaum perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila gunung dianggap sebagai representasi dari kemurnian kaum lelaki, lembah merupakan dipandang sebagai simbol kaum perempuan yang tidak murni.

Mengapa tidak murni? Karena kaum perempuan mengalami menstruasi, sedangkan zaman dahulu pembalut wanita masih berada di awang-awang. Oleh karena itu, demi menjaga kebersihan lingkungan, kaum perempuan suku Kalash dilarang bepergian ke tempat tertentu, seperti puncak gunung atau tempat mata air yang dianggap sakral karena fungsinya sebagai sumber penghidupan. Dunia medis pun mengakui bahwa darah menstruasi bukanlah ‘darah murni’, melainkan mengandung zat tertentu yang tidak higienis. Maka masuk akal bila seorang perempuan yang sedang mengalami menstruasi dilarang mandi di sungai yang airnya dimanfaatkan secara kolektif untuk segala kebutuhan hidup masyarakat tersebut.

Sebagai gantinya, Kepercayaan Asli Kalash ‘menghadiahkan’ hak istimewa kepada kaum perempuan dengan cara mempermudah proses perpisahan antara istri dan suami yang sudah lelah mencari happy ending dalam drama rumah tangga di antara mereka berdua. Istri cukup menulis surat kepada suami lama untuk menyatakan perpisahan dan memperkenalkan suami barunya.  Selain itu, kaum perempuan diberi hak untuk menentukan cara pengolahan ladang sekaligus pengelolaan hasil finansial dari ladang tersebut. Mereka juga tidak dilarang untuk berbaur bersama kaum lelaki, termasuk menyanyi dan menari bersama di berbagai acara komunitas, tanpa harus menyelubungi penampilan mereka.

Kemudahan ini dianugerahkan kepada kaum perempuan Suku Kalash sebagai pengakuan oleh sistem Kepercayaan Asli Kalash terhadap fungsi dan peran mereka. Akibat keterbatasan biologis di atas, kaum perempuan lebih banyak tinggal di rumah. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Kalash, rumah merupakan ‘domain’, wilayah kekuasaan kaum perempuan yang memegang fungsi sebagai pelindung keluarga dalam hal spiritual. Mereka berhak atas kebahagiaan, yang pada gilirannya akan menyebarkannya ke seluruh komunitas.  

Memilah sumber yang paling layak dikonsumsi

Saya tidak hendak menjadi hakim atas apa yang menimpa dua (atau tiga) negara di atas. Mengonsumsi air dari sumber yang benar-benar murni adalah mahal harganya bagi kelompok masyarakat tertentu lantaran kondisi geografis yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, tidak butuh waktu lama untuk tahu apa dampak dari segala hal yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, tubuh kita merupakan ‘hakim’ yang paling adil karena ia akan memberi tahu kita tentang hasil eksperimen hidup yang kita lakukan dalam bentuk sakit maupun sehat.

Apabila desalinasi jadi satu-satunya cara untuk memenuhi rasa dahaga, apakah air yang kita tenggak sebagai hasil dari proses ini berhasil menghapus rasa dahaga? Inilah salah satu pertanyaan sebagai perimeter filter aktif guna mendapatkan manfaat dari sebuah pemurnian yang sedang kita jalankan. (dswas). 

Kamis, 19 Maret 2026

Masa Depan Cerah, Fakta Atau Mitos?

Apakah masa depan cerah sebuah kenyataan yang tertunda atau angan-angan yang tak pernah terwujud? Saya yakin inilah pertanyaan yang belakangan sering menghantui sebagian besar manusia di Bumi. Saya punya seorang teman yang jatuh sakit akibat tekanan batin dari kegelisahan terkait masa depan anak semata wayangnya. Teman lainnya mengaku depresi membaca berita terkini yang berseliweran di beranda perambannya. Sementara tetangga kami merasakan tekanan ekonomi terlalu kuat baginya, sehingga memilih mengurung diri di rumah dan menghindari berinteraksi dengan para tetangga lainnya.

Tulisan ini tidak hendak mencari siapa yang patut disalahkan atas situasi kronis tersebut, karena kita perlu memahami bahwa segala hal yang terjadi saat ini merupakan rentetan hasil dari segala hal yang terjadi di masa sebelumnya. Jerat kesulitan ekonomi yang menimpa suatu bangsa hari ini berkaitan erat dengan berbagai langkah, tindakan, sikap, inisiatif, keputusan, respons, dll. di waktu sebelumnya. Sebagaimana kesuksesan yang tidak terjadi dalam semalam, kegagalan juga bukan merupakan dampak dari faktor tertentu yang berdiri sendiri.

Saat roda bergerak ke bawah dan menempatkan status seseorang di lantai dasar, bahkan bawah tanah, salah satu reaksi yang paling umum adalah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan posisi itu dengan berbagai cara. Meninggalkan zona nyaman secara terpaksa dan di luar keinginan kita tentu saja mendatangkan perasaan tidak nyaman, kalau bukan kesedihan atau kerontokan psikologis. Ini adalah suatu hal wajar yang bisa dialami siapa pun, bukan suatu hal memalukan atau sebuah dosa besar. 


Ilustrasi: Kolam Segaran, Mojokerto


Kepercayaan asli menghormati alam

Sebelum dikenal dunia sebagai negara ‘seribu ranjau’ akibat banyaknya ranjau yang ditanam secara acak guna mengatasi masalah politik, Myanmar merupakan negara dengan akar budaya lokal yang kuat bahkan hingga saat ini. Walaupun badan internasional menetapkan Myanmar sebagai negara gagal akibat masalah ekonomi yang dialaminya, status ini tak mengubah fakta bahwa Myanmar merupakan lokasi Situs Warisan Dunia yang diakui UNESCO berkat 1000 pagoda dan berbagai situs sejarah era Hindu-Buddha yang terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Pengakuan dunia terhadap apa yang terlihat oleh mata telanjang di Myanmar juga tidak mengubah fakta lain bahwa Kepercayaan Asli Myanmar telah lebih dahulu hadir dalam bentuk pemuliaan terhadap kekuatan alam dan para leluhur. Mata air, sungai, dan lautan tidak dianggap sebagai entitas benda mati, melainkan sumber kehidupan yang disakralkan melalui sesaji dalam bentuk bunga, dupa, atau makanan. Kisah-kisah seram disebarkan dari generasi ke generasi agar orang-orang selalu dapat mengendalikan diri dalam menangani hutan dan segala isinya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Walaupun media dan sejumlah sumber internet cenderung memberitakan Myanmar dalam sudut pandang negatif, hingga detik ini pun negara yang dulu bernama Burma ini “hanya” kehilangan sekitar 12% dari luas hutan secara keseluruhan. Dunia memang cenderung menyoroti lahan kritis akibat pembalakan liar, tambang ilegal, ranjau, hilangnya beberapa spesies satwa di Myanmar. Sampai-sampai kita melupakan keberadaan nilai-nilai kepercayaan asli yang sudah berjasa mempertahankan kelestarian alam Myanmar hingga saat sebelum berbagai konflik datang menghujam.

Masa depan cerah bukan mitos

Dalam situasi ekonomi penuh tekanan, mayoritas orang akan cenderung memilih untuk berhemat agar bisa bertahan hidup. Cara yang sangat lumrah dan dapat dipahami, meskipun konsekuensinya adalah sebuah daftar panjang hal-hal yang harus dibuang dengan berat hati. Contoh: produsen makanan akan mengecilkan ukuran produk makanannya guna menghemat ongkos produksi, sementara perusahaan yang lebih besar akan memilih untuk mengecilkan jumlah pekerjanya.

Myanmar yang kita kenal saat ini sebagai pusat scam tingkat dunia, dahulu merupakan rumah bagi sekelompok masyarakat yang menjadikan kesadaran untuk menghemat sumber daya alam sebagai bagian dari tindak-tanduk spiritual kepercayaan asli mereka. Di saat hewan buruan masih banyak dan hutan masih rapat, para leluhur Myanmar memilih untuk mengambil secukupnya bukan karena terpaksa. Melainkan sebuah pilihan yang didasari kegembiraan menyambut masa yang akan datang, walaupun pada kenyataannya kita tahu apa yang sedang menimpa Myanmar hari ini.

Berdasarkan statistik terbaru, hanya sekitar 0,8% dari jumlah total rakyat Myanmar yang mengaku masih memegang teguh kepercayaan asli. Sebagai cara menerangi diri kita sendiri dengan optimisme, kita bisa menganggapnya sebagai sebuah pertanda baik. Sebuah pertanda sangat lemah yang mengisyaratkan bahwa masih ada segelintir orang di Myanmar yang bisa melihat kebenaran dalam ajaran para pendahulu mereka tentang membangun masa depan cerah.  

Selasa, 17 Maret 2026

Mencari Bahagia Yang Bukan Karena Emas

Tak terasa pandemi COVID 19 sudah meninggalkan kita sekitar empat tahun silam, walaupun sisa-sisa krisis kesehatan terbesar di era modern masih terasa hingga saat ini. Kerinduan akan work from home, misalnya, kembali meruyak setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengemukakan ide kembali ke ‘bekerja dari rumah’ sebagai salah satu cara menekan pengeluaran sehari-hari sebagai dampak kian mahalnya harga bahan bakar kendaraan bermotor.

Ketika beberapa dari kita bisa menghemat biaya transportasi, uang makan, dan biaya make-up berkat trik berhemat ini, sekelompok orang menjerit karena kehilangan pemasukan, di antaranya adalah bisnis pariwisata dan siapa pun yang mengais penghasilan di sektor ini. ‘Mimpi buruk’ ini kembali membayangi para pelaku usaha pariwisata di sejumlah wilayah beberapa waktu terakhir, bukan saja akibat krisis geopolitik melainkan melemahnya daya beli masyarakat.

Tentu saja, ekonomi sulit tak harus jadi penghalang bagi siapa pun untuk berbahagia menikmati hidup dengan berwisata. Di kampung kami, orang-orang berusaha “menyeimbangkan” antara keinginan berwisata dengan situasi isi dompet. Antara lain, berwisata secara berkelompok, berwisata sambil buat konten monetisasi, atau mencari spot-spot tersembunyi di sekitar rumah masing-masing yang bisa dijadikan tempat bersantai sambil menikmati suasana sekitar secara gratis. 


Ilustrasi: Sumber Nyolo, Malang. 


Bukan “bahagia” biasa

Meski menyandang julukan “Pantai Emas” di era pra kemerdekaan berkat besarnya kandungan emas yang dimilikinya hingga saat ini, emas bukanlah sumber kebahagiaan sejati bagi masyarakat Ghana yang masih setia pada tradisi mereka. Negara bekas jajahan Inggris ini dihuni sekitar 37 juta jiwa yang terdiri dari 100 kelompok suku dan terbagi dalam sembilan kelompok bahasa daerah dan budaya. Kepercayaan asli mereka dikelompokkan menjadi satu di bawah payung African Traditional Religion (Kepercayaan Asli Afrika), di mana konsep Ubuntu yang bermakna “I am because you are (saya dan kau sama)” merupakan salah satu local genius yang berakar darinya.

Kebahagiaan bagi para penganut Kepercayaan Asli Afrika bukanlah tujuan hidup, melainkan hasil pemeliharaan keharmonisan antara empat tingkatan pembentuk eksistensi manusia, yaitu intrapersonal (self), interpersonal (orang lain), transedental (leluhur), dan universal (alam). Menjaga keharmonisan dengan sesama makhluk tidaklah sulit sepanjang mereka terlihat. Bagaimana dengan para leluhur? Mengingat asal muasal antara lain diwujudkan dengan menuangkan air, madu, susu, atau anggur ke tanah sebagai ungkapan terima kasih pada para pendahulu. Ini juga merupakan cara para penganut Kepercayaan Asli Afrika untuk melatih inisiatif bersedia melepaskan sesuatu yang ingin mereka pegang kuat-kuat.  

Sebagai hasilnya, kebahagiaan dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Afrika merupakan ketentraman, tanpa kecemasan menghadapi situasi apa pun. Hal ini baru bisa dirasakan ketika seseorang berhasil menemukan pemahaman bahwa “bahagia” tidak selalu dan tidak harus berkaitan dengan perasaan nikmat, kesenangan sesaat yang timbul tenggelam sesuai kondisi cuaca.  Sebuah ketentraman yang membuat sekelompok masyarakat merasa cukup, walaupun tidak pernah berpetualang mengelilingi dunia.

Dari sini kita dapat memahami mengapa kekayaan alam Ghana dan Afrika sangat melimpah, walaupun mereka mengalami masa pendudukan di zaman kuno maupun modern selama berabad-abad. Yaitu karena para leluhur Ghana hanya menggunakan kekayaan alam seperlunya, dengan tujuan agar dapat dinikmati generasi berikutnya, yang merupakan representasi dari faktor interpersonal pembentuk eksistentsi manusia.

“Menjual” bahagia di era turbulensi

Para pelaku bisnis pariwisata tidak perlu panik apabila masyarakat tidak terlalu tertarik berwisata karena mereka sudah menemukan “kebahagiaan” dari berjalan-jalan di spot cantik dekat rumah. Justru ini dapat menjadi sebuah peluang untuk berinovasi mengembangkan konsep wisata jenis baru, misalnya, yang bukan hanya menempatkan wisatawan sebagai objek tetapi subjek aktivitas wisata. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar menghabiskan uang untuk bersenang-senang.

Kita sama-sama telah menyaksikan bahwa kesenangan itu tidak abadi, karena akan selalu ada kesedihan yang menyertainya. Apa yang sebaiknya dilakukan para pelaku bisnis pariwisata agar kesenangan wisatawan tidak berubah menjadi kesedihan saat mereka menyadari mahalnya biaya yang harus ia keluarkan (misalnya)?

Apa pun itu, memang tidak mudah menjual kebahagiaan di era penuh turbulensi yang bisa datang sewaktu-waktu seperti saat ini. Sudah saatnya para pelaku bisnis pariwisata menjalin kerja sama dengan empat faktor pembentuk eksistensi di atas, agar bisnis tetap berjalan di tengah hujan badai atau banjir bandang sekalipun.  (dswas) 

Jumat, 13 Maret 2026

Konservasi Sebagai Investasi Penuh Pengorbanan

“Hemat pangkal kaya”, itulah peribahasa yang diperkenalkan kepada kita agar selalu bergaya hidup sederhana, tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Agar di belakang hari uang yang kita miliki dapat kita manfaatkan untuk menaikkan derajat kita di tengah masyarakat. Ironisnya, ketika uang sudah banyak terkumpul terjadilah inflasi global, di mana nilai uang tersebut pun menurun. Alih-alih meningkatkan status, uang yang kita miliki terpaksa dibelanjakan untuk membiayai keperluan sehari-hari.

Argumen di atas biasanya dikemukakan oleh mereka yang menyebut diri mereka sebagai penasihat keuangan atau pakar keuangan. Mungkin Anda juga sudah pernah mendengarnya. Biasanya mereka akan menawarkan alternatif untuk memberdayakan uang Anda di bawah motto “biarkan uang bekerja untuk Anda.” Yang bermakna, seseorang tidak perlu bekerja keras untuk mengembangkan modalnya, melainkan cukup menginvestasikannya dengan cara membeli saham sebuah perusahaan. Atau meminjamkan uangnya pada sebuah bisnis untuk mendapat pembayaran berupa modal + sekian persen bunga. Atau bahkan meminjamkan uang dalam skema pinjaman online.

Berkat literasi keuangan, para pemilik modal kecil hingga menengah cenderung memahami bahwa hasil instan adalah mitos. Ada kesabaran untuk menunggu yang harus mereka terapkan guna meraup cuan, karena sesuatu yang too good to be true kadang hanyalah perangkap para predator keuangan. Akan tetapi, kesabaran ini pun bukanlah senjata yang ampuh untuk mengusir inflasi jauh-jauh.

Akibatnya, berapa pun hasil yang didapat dari skema investasi di atas mengalami penurunan nilai. Para investor harus berhemat luar biasa untuk menanamkan kembali modalnya, atau modal tersebut akan tergerus oleh pengeluaran pribadi mereka sendiri. Bertambahnya bobot tantangan yang harus dijawab para investor memaksa mereka menggali berbagai jalan alternatif agar dapat terus mengembangkan modal. 


Ilustrasi: Candi Waringin Branjang, Blitar


Kepercayaan asli sebagai modal investasi

Di luar segala berita tentang konflik bersenjata dan masalah kesejahteraan, Nigeria merupakan sebuah wilayah di dunia dengan 500 bahasa daerah yang masih dipertahankan penggunaannya di 36 negara bagiannya. Di antara mereka, terdapatlah kaum Maguzawa dalam kelompok suku Hausa yang tinggal di negara bagian Kano, Nigeria Utara, yang bersikukuh mempertahankan gaya hidup seimbang dengan alam di tengah tantangan yang semakin berat dari hari ke hari.

Menurut kepercayaan asli Maguzawa, beberapa jenis binatang buas, misalnya ular piton, merupakan perwujudan leluhur sehingga dilarang diburu dan dibunuh. Pemuliaan terhadap hutan sebagai sumber makanan diwujudkan dalam bentuk larangan mendirikan pemukiman atau membuka ladang di sekitar area yang dianggap sakral. Sebelum memancing di sungai, sesaji diberikan sebagai bentuk penyadaran diri untuk membatasi apa yang bisa mereka ambil dari sungai, termasuk pemanfaatannya untuk keperluan sehari-hari.

Walaupun sepintas sederhana, kebiasaan Maguzawa merupakan bentuk keyakinan terhadap masa depan yang didasari oleh tindakan mereka saat ini. Mereka tidak perlu memprediksi ke mana nasib akan bergerak dalam beberapa hari ke depan, karena hasil dari aktivitas memelihara sesuatu akan menumbuhkan sesuatu juga di waktu yang akan datang. Kepercayaan asli Maguzawa telah menuntun kaumnya kepada hidup harmonis dengan alam yang berkelanjutan berkat kesediaan untuk ‘mengorbankan’ kesenangan sesaat demi hasil nyata di masa depan. Di sinilah kepercayaan asli berfungsi sebagai modal yang nilainya tetap apa pun yang terjadi, meskipun inflasi naik dan turun setiap saat di luar sana.

Berkorban tapi menghasilkan

Mereka yang berprofesi sebagai investor bisa meraih sukses bukan hanya karena didukung modal besar dan kejelian menafsirkan gejolak yang terjadi pada saat itu. Seperti bidang lainnya, kesuksesan tercapai karena kerelaan untuk berkorban. Bukan pengorbanan buta, tentu saja, melainkan pengorbanan yang dilakukan setelah mengamati secara mendetail hasil dari berbagai eksperimen yang telah dijalankan.

Para pendiri aliran kepercayaan dari seluruh penjuru dunia juga menyusun pondasi mereka berdasarkan ‘eksperimen’, berdasarkan apa yang pernah terjadi dan solusi yang ampuh untuk mengatasi situasi tersebut. Bukan berdasarkan suara-suara gaib seperti dalam film horror. Mereka tidak perlu menunggu terlalu lama untuk tahu apa hasil dari menahan diri secara susah payah dari dorongan kencing di sungai, misalnya, karena sungai yang sama dimanfaatkan sebagai air minum.

Mereka juga tidak perlu menebak-nebak apa hasil dari tidak menebang pohon jenis tertentu, atau membabat habis hutan, sesuai aturan aliran kepercayaan mereka. Di musim kemarau atau hujan berikutnya, kekeringan atau banjir bandang adalah akibat dari pelanggaran peraturan yang telah mereka lakukan.  (dswas).

Rabu, 11 Maret 2026

Cara Mendatangkan Kemudahan Setelah Kesulitan

 “War is money,” kata para penggemar teori konspirasi. Bagi yang bukan, money is money. Uang bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan salah satu penentu bagaimana kehidupan kita akan berjalan setiap hari. Dalam kondisi ekstrim seperti saat ini, uang juga menjadi penentu kebahagiaan. Di mana sebagian kecil orang menyabda diri mereka sendiri bahwa mereka tidak berhak untuk bahagia bila tidak punya uang dalam jumlah tertentu.

Kita tidak dapat menyalahkan atau menghakimi mereka yang tengah mengalami posisi seperti tersebut di atas, karena tingkat kesulitan hidup yang tengah dialami seluruh umat manusia di muka Bumi ini tidak sama antara satu dan lainnya. Walaupun kata “kesulitan” hidup itu sendiri tengah trending di banyak tempat di berbagai belahan dunia belakangan ini, akibat berbagai fenomena pasca pandemi virus korona.

Tidak ada sesosok manusia pun yang akan duduk manis dan tenang-tenang saja menghadapi situasi demikian. Bagi para pemilik usaha, pemutusan hubungan kerja adalah opsi yang paling masuk akal. Sementara bagi rumah tangga, penghematan drastis menjadi cara bertahan hidup. Dan berhasil. Saya bisa bilang begitu karena hingga detik ini kita tak menyaksikan bunuh diri atau depresi menjadi tren bersamaan dengan kesulitan keuangan global. Bukan begitu? 

Akan tetapi, ‘dinamika positif’ ini datang dengan konsekuensi.  Jika punya anggaran cekak ibarat berkendara di jalan sempit, perlu kewaspadaan ekstra guna mempertahankan fokus dan terjaga agar perjalanan berlangsung seamless. Alih-alih meningkatkan keahlian mengemudi di jalan sempit, sebagian orang memikirkan cara menyingkirkan pengendara lain agar perjalanan mereka tidak terhalang dan lebih cepat sampai. Berita baiknya, itu bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan manusia untuk mendatangkan kemudahan di tengah kesulitannya. 


Ilustrasi: Telaga Rambut Monte, Blitar


Berlatih ‘mendatangkan’ kemudahan

Di saat kesulitan keuangan menjadi problematika mayoritas manusia, ada sekelompok lain yang menghadapi kesulitan dalam bentuk konflik antar sesama mereka sendiri. Rakyat Kongo adalah salah satu kelompok masyarakat yang mengalaminya, antara lain sebagai dampak ikutan menjadi sebuah bangsa dengan 200 kelompok etnis yang berbicara dalam 250 bahasa dan dialek yang berbeda.

Bakongo (sebutan bagi masyarakat Kongo) pernah disatukan oleh satu kepercayaan tradisional yang disebut Bukongo, di mana leluhur dan unsur-unsur alam dimuliakan agar senantiasa dapat mengayomi di berbagai situasi dan kondisi. Mereka tidak berharap muncul kekuatan gaib atau keajaiban yang akan menyelesaikan masalah saat menuangkan air atau minuman anggur ke tanah sebagai penghormatan kepada para leluhur.

‘Membuang’ air atau anggur memerlukan pengorbanan besar, mengingat Bakongo adalah masyarakat yang tinggal di tengah alam yang kadang tidak bersahabat. Dalam logika manusia modern, tindakan ini sia-sia, bahkan dipandang sebagai pemborosan. Padahal inilah cara Bakongo melatih diri mereka sendiri untuk menyadari bahwa dalam situasi sesulit apapun tugas-tugas sebagai suatu entitas masyarakat harus dilaksanakan guna menciptakan keseimbangan antara manusia dan manusia, serta manusia dan lingkungan sekitarnya.  

Hasilnya, Bakongo yang diwakili oleh para elit politik Republik Demokratik Kongo tidak ragu mengadopsi standar baru Forest Stewardship Council (FSC) sebagai langkah pemanfaatan wilayah hutan seluas 155 juta hektar (atau 18% dari luas hutan tropis dunia) secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Artinya, masyarakat sekitar dan pemerintah tidak dilarang mengeksploitasi luasnya hutan RD Kongo untuk kesejahteraan bersama, sembari mengingatkan diri mereka sendiri seberapa banyak yang bisa mereka ambil agar sumber nafkah tersebut tidak punah.

Perspektif bisa ‘mendatangkan’ kemudahan

Kemudahan setelah kesulitan tidak akan pernah terjadi secara sekonyong-konyong, walaupun kita melakukan semua yang kita anggap bisa mendatangkannya. Yang biasa terjadi adalah, kita tidak menyadari bahwa kemudahan itu sudah datang. Entah lantaran sudah tidak sanggup lagi menghadapi kesulitan, atau mungkin akibat dorongan beragam faktor lain yang bisa bervariasi antar individu.

Bakongo bisa saja memilih melupakan para leluhur mereka, dan menjual luasnya hutan mereka kepada para investor. Bukankah itu sebuah kemudahan yang akan mengeluarkan mereka dari jurang kemiskinan? Sebaliknya, RD Kongo memilih untuk melestarikan kekayaan alam mereka setelah bencana yang menelan ratusan korban jiwa datang silih berganti akibat eksploitasi berlebihan.

Langkah tersebut mampu menarik kepercayaan dari dua lembaga keuangan dunia, yaitu IMF dan World Bank, yang bersedia menaikkan rating kredit mereka pada Januari 2026 sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah lebih besar dari sebelumnya. Dana pinjaman tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai dana pembangunan infrastruktur dan perbaikan kesejahteraan masyarakat RD Kongo.

Bagaimana bila dikorupsi?

Mereka yang berhalusinasi bahwa korupsi merupakan sebuah kemudahan yang didatangkan untuk mereka adalah orang-orang yang sudah melupakan keseimbangan, dan sudah lama pula melupakan para leluhur mereka. (dswas)

Sabtu, 07 Maret 2026

Mencapai Hidup Bahagia di Samping Seteru

 “Bad news is good news” bagi sebagian kecil orang. Entah Anda sudah tahu atau tidak, inilah norma kontemporer yang telah berlaku beberapa dekade belakangan ini. Menolak atau menyesalinya mendatangkan kompleksitas dalam hidup kita sendiri, karena kita akan melakukan apapun guna mengenyahkan negativitas ini dari pandangan dan perasaan.

Justru kecenderungan yang muncul saat ini adalah kita tidak bisa hidup tanpa ‘bad news’, seakan ada sesuatu yang hilang dari hidup kita apabila segala sesuatu berjalan mulus dan lancar. Bahkan, jurnalistik, dunia di mana saya mencari makan saat ini, mungkin sudah punah sejak berpuluh tahun silam bila ‘bad news’ mendadak hilang karena situasi dunia semakin membaik dan sejahtera.

Menurut sebuah sumber, kecenderungan kita pada berita buruk tidaklah muncul sekonyong-konyong, melainkan evolusioner. Zaman dahulu kala, saat manusia hidup sebagai bangsa pemburu atau petani, nomaden atau menetap di tanah tak bertuan atau sebagai imigran, eskalasi bisa muncul setiap saat dari bangsa tetangga yang punya dendam lama. Atau sekadar ingin menambah jumlah pengikut tanpa berkenalan terlebih dahulu.

Situasi ini mendorong manusia masa lalu untuk menciptakan, mengembangkan, dan menguasai seni bertahan hidup dari serangan musuh dengan cara mengenali sinyal-sinyal ketegangan sebelum erupsi muncul dalam bentuk ‘serangan'. Kemampuan ini diwariskan secara naluriah dari generasi ke generasi melalui struktur bahasa, budaya, kepercayaan asli, bahkan hingga ke hal-hal kecil seperti resep makanan, misalnya (sebagai contoh, di Indonesia ada sebuah kudapan bernama ‘tahu berontak’*).

Warisan berupa ilmu kewaspadaaan tersebut tetap lestari menembus waktu, walaupun keadaan sekitar berubah lebih ‘ramah’ dibanding beberapa generasi sebelumnya. Kenyamanan yang bentuknya terus berkembang dari zaman ke zaman menghilangkan situasi sulit dalam perjalanan hidup anak manusia, sehingga warisan ilmu kewaspadaan pun semakin terdesak dan kehilangan salurannya. Berkat internet, ‘kerinduan’ itupun terjawab seiring dengan kemudahan memperoleh informasi bernama ‘bad news’ yang mewadahi kewaspadaan dan naluri tempur mereka tanpa kehilangan kenyamanan.  


Ilustrasi: Bunga Wijayakusuma di halaman


Harmoni yang saling menghidupi

Berita buruk tentang Afrika, dan terutama Sudan Selatan, mengaburkan banyak hal indah dan menakjubkan tentang benua terluas kedua di dunia setelah Asia. Tidak banyak yang tahu bahwa Sudan Selatan merupakan surga bagi keanekaragaman, baik dari segi biodiversitas, etnis, bahasa, dan budaya. Selain wilayah hutan tropis terbesar dunia, Sudah Selatan memiliki keanekaragaman spesies, terutama mamalia, yang hingga saat ini dapat terus bermigrasi dan seolah tak tersentuh konflik yang tak berkesudahan.

Suku Dinka yang mencakup 38% dari total jumlah penduduk Sudan Selatan punya cara unik untuk melindungi kelestarian alam mereka, yang masih terus dipertahankan hingga saat ini. Kepercayaan Asli Dinka mendorong suku Dinka untuk bersahabat dengan alam, di antaranya dengan menempatkan hewan-hewan liar selevel dengan manusia. Pemuliaan ini diwujudkan dalam bentuk menjadikan hewan tertentu sebagai lambang pelindung kelompok suku tertentu (totemisme). Sebagai contoh, suatu suku dengan totem singa dilarang memburu atau melukai singa. Aturan yang sama juga berlaku untuk kelompok suku dengan totem jenis hewan lainnya.

Sejak kecil, orang-orang Dinka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kemunculan singa (misalnya, kera mendadak berlompatan dari pohon) dengan pendekatan yang tidak menyamakan kehadiran singa dengan kedatangan roh jahat atau hantu gentayangan. Bila tanda-tanda kedatangan singa muncul saat mereka sedang menggembala ternak di tepi sungai, artinya si singa itu sedang haus dan butuh minum. Para penggembala Dinka akan menggiring ternak mereka menjauh guna memberi ruang pada si singa untuk mendekat ke sungai dan meminum airnya. Anak-anak penggembala Dinka sudah diajarkan tentang gerakan tubuh, atau suara, yang sebaiknya tidak dilakukan agar tidak memancing perhatian atau membuat si singa merasa tertekan. Sebuah ilmu yang juga dimiliki seluruh kelompok suku di Afrika dan diajarkan secara turun temurun.  

Gabungan antara kepekaan membaca tanda-tanda alam dan kepercayaan totemisme membuat Suku Dinka tidak pernah mengalami insiden diterkam singa, buaya, harimau, atau hewan-hewan buas lainnya. Mereka dan berbagai kelompok suku lainnya di Afrika tidak berburu untuk kesenangan atau hiburan, melainkan semata-mata guna memenuhi kebutuhan hidup. Suku Dinka menggembalakan ternak mereka secara nomaden, berpindah tempat setelah jangka waktu tertentu, dengan tujuan memberi waktu pada rumput dan tumbuhan lain di tempat itu untuk tumbuh kembali.

Hidup bahagia bersama ‘musuh’

Bagi mereka yang tak doyan membaca atau menyaksikannya, berita buruk merupakan monster mengerikan yang bisa memicu depresi. Kita tak mungkin bisa lari atau mengisolasi diri rapat-rapat agat tak terkontaminasi berita buruk sama sekali, karena akan selalu ada orang di sekitar kita yang membawa berita buruk itu ke hadapan Anda. Entah pasangan, kerabat, teman, atau anggota keluarga lainnya.

Lakon drama yang sedang tren saat ini dengan terang benderang mengajarkan kepada kita bahwa berita buruk tak bisa dicegah untuk timbul dan mengacaukan segala rencana. Reaksi kitalah yang pada akhirnya akan mengarahkan bagaimana emosi kita menghadapi derasnya arus berita buruk yang terus menguat. 

Ibarat anak penggembala Suku Dinka yang tiap hari bertemu singa saat menggembalakan hewan ternak di padang rumput, rasa takut dan cemas justru akan mendorongnya melakukan tindakan yang pada akhirnya membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Rasa takut dan cemas kita menghadapi berita buruk membuat kita menanggapinya dengan cara berlebihan, seolah-olah seluruh dunia Anda bertumpu pada berita buruk itu.

 

*) Tahu berontak adalah nama kudapan berupa tahu dengan isian tumis kecambah, wortel, dan daun bawang yang berjejalan di dalam kulit tahu, sehingga menimbulkan impresi bahwa sayuran ini sedang berontak.

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...