Benua terbahagia di dunia dikabarkan sedang galau. Bukan karena masalah ekonomi, melainkan kewalahan menghadapi peningkatan populasi imigran dari Asia, Afrika, dan wilayah lain di Eropa yang ‘menyerbu’ Benua Biru guna memperbaiki taraf hidup atau mencari perlindungan dari konflik politik. Lima besar peringkat negara terbahagia di dunia selalu diduduki negara-negara Eropa, maka siapa yang bisa menyalahkan kedatangan para imigran? Kebahagiaan ibarat gula, yang akan selalu mengundang semut-semut dari berbagai penjuru untuk datang dan mencicipinya.
Berkat kerja keras orang-orang Eropa dari zaman lampau di
sektor industri dan pertanian, kekayaan yang tak terhingga nilainya dapat
diwariskan pada keturunan mereka hingga beberapa generasi. Didukung pula
manajemen keuangan yang sistematis, terencana, dan selalu berorientasi pada
masa depan. Guna meningkatkan perputaran uang, mayoritas negara Eropa
memberikan stimulus berupa tunjangan sosial bagi warga mereka. Inilah salah
satu daya tarik yang menginspirasi para pendatang berusaha masuk ke Eropa.
Beberapa golongan pendatang tidak sepenuhnya bisa merasakan
kebahagiaan di tanah air baru mereka yang tampak bagai emas dari kejauhan. Rasa
rindu pada kampung halaman membuat mereka memilih berperilaku seolah sedang
berada di negara asal, perilaku yang kadang menimbulkan tanda tanya dan gesekan
dengan warga pribumi.
Kehadiran para pendatang menggugah kesadaran sebagian warga
asli Eropa tentang jati diri mereka yang menurut mereka nyaris tak berbeda
antara satu negara Eropa dengan negara Eropa lainnya. Karena kegelisahan ini
membesar dengan berjalannya waktu, maka beberapa kelompok warga lokal Eropa
mencoba mencari penawarnya dengan melongok ke masa lalu.
“Istana” terindah
Kesetiaan pada nilai-nilai tradisional adalah salah satu hal
yang dibanggakan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang bangsanya. Beliau tidak
salah, karena di Rusia kepercayaan tradisional diakui dan dianut sekitar 1 juta
orang. Bagi mereka, leluhur adalah manifestasi dari Sang Pencipta, demikian
pula seluruh entitas alam dalam berbagai bentuk dan fenomena.
Ritual-ritual, upacara, prosesi Kepercayaan Asli Slavia
(Slavic Native Faith) merupakan simbolisasi dari ungkapan terima kasih kepada
mereka yang hadir jauh sebelum lahirnya generasi saat ini. Mereka yang
menemukan tempat di mana anak-anak jaman now tinggal saat ini, menemukan
cara-cara bertahan hidup, berkomunikasi, menata suasana sekitar agar lestari
dan senantiasa bermanfaat sepanjang waktu. Menurut sejumlah penelitian yang
telah digagas sejak era Josef Stalin, aliran kepercayaan ini berakar dari
sumber yang sama dengan Hindu.
Sampai dengan saat ini Kepercayaan Asli Slavia mempersatukan
warga etnis terkait yang tersebar di Rusia, Ukraina, Polandia, Belarus,
Bulgaria, Ceko, Lithuania, dan Estonia. Mereka berpegang pada nilai-nilai
tradisional yang identik satu sama lain, sama-sama meyakini bahwa keluarga
adalah tempat terbaik bagi siapa pun untuk merasa bahagia. Maka memperlakukan
sesama sebagai keluarga adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk
mewujudkannya.
Mispersepsi berkelanjutan
Dibandingkan etnis lainnya di Eropa, etnis Slavia seringkali
mendapat stigma negatif karena rekam jejak politik yang terlibat komunisme/
sosialisme. Ketika Eropa Barat didominasi negara-negara bahagia dan maju,
negara-negara Eropa Timur dan Tengah di mana etnis Slavia tinggal dilabeli
sebagai negara tidak aman, kurang sejahtera, sarang scammers, dll.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kenyamanan
hidup. Ketidaknyamanan yang datang dalam kehidupan kita bisa datang dari
persepsi kita sendiri terhadap situasi saat ini. Persepsi yang muncul akibat
terlalu lama berada di zona nyaman, dan tak siap untuk menjalani
ketidaknyamanan.
Kebangkitan kepercayaan tradisional Eropa, di mana
Kepercayaan Asli Slavia merupakan salah satu di antaranya, ditanggapi secara paranoid
oleh sebagian kecil pihak sebagai krisis identitas yang menjurus ke arah
rasisme dan radikalisme sayap kanan. Seakan-akan kata “Slavia” pada nama
kepercayaan ini menjadi petunjuk bagi perspektif para pengamat untuk
mengidentikkan kesadaran spiritual ala Slavia dengan waham entitas terbaik sedunia.
Satu hal yang cenderung diabaikan para pengamat adalah kepercayaan lokal ini berangkat dari kerendahatian suku Slavia untuk mengakui bahwa masa lalu tak dapat diubah – selalu ada seseorang, atau sesuatu, yang ada sebelum mereka. Entah itu dari ras yang sama atau bukan, mereka hanya bisa berasumsi dan tidak akan pernah benar-benar tahu tentang faktanya. Mengapa latar belakang Kepercayaan Asli Slavia lebih penting bagi para pengamat daripada tujuan yang hendak dicapai para penganutnya? Hanya para pengamat tersebut yang tahu jawabannya. (dswas)






