Rabu, 12 November 2025

Mengapa “Cahaya” Mahal Harganya?

“Happy Diwali” mendadak menjadi trending topic di Amerika Serikat Oktober lalu karena (lagi-lagi) Sang Presiden membuat kejutan. Kali ini dengan perayaan resmi kenegaraan di Gedung Putih untuk hari raya umat Hindu, Jain, dan Sikh India Oktober lalu (21/10). Para ekspatriat India yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Donald Trump tampak menghadiri acara tersebut. Di antaranya, Direktur FBI Kash Patel, yang merupakan anggota loyal Partai Republik.

Di sela-sela acara itu, Trump juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Diwali kepada Perdana Menteri India Narendra Modi, sosok pemimpin yang berulang kali disebutnya sebagai “pemimpin hebat”, “luar biasa”, “teman baik”, dst. Menariknya, beberapa bulan sebelum itu Trump baru saja menjatuhkan tarif 50% atas produk-produk India yang diekspor ke Amerika Serikat.

Trump mengatakan, India layak dikenai kenaikan tarif karena telah menjadi negara importer terbesar produk minyak Rusia dari kawasan Asia. Tarif 50% itu membuat PM Modi mendapat kecaman keras dari publik India. Mereka mengecam Modi karena lobi-lobi intensif yang dilakukannya dengan “sowan” ke Amerika awal tahun ini guna menghindarkan India dari dampak kenaikan tarif ternyata berakhir zonk, tak menghasilkan apa-apa. 

Ilustrasi: pexels.com

India juga merasakan dampak akibat pemblokiran terhadap intan mentah asal Rusia. Pemblokiran tersebut berakibat ketiadaan bahan mentah bagi industri pemotongan dan pemolesan intan di Surat, India, yang merupakan industri padat karya dan banyak menyerap tenaga kerja. Bukan itu saja, tercatat beberapa entitas dan firma teknologi asal India yang masuk blacklist EU dan Amerika Utara akibat hubungan India dengan Rusia.

Maka wajar bila seluruh dunia, termasuk saya, gempar dengan perayaan Diwali di Gedung Putih beberapa waktu lalu.

Apakah ini pertanda bahwa Donald Trump benar-benar telah menemukan “cahaya” (sebagaimana makna Diwali itu sendiri) yang akan menunjukkan jalan menuju cita-cita “Make America Great Again”?

Beragam tidak menguntungkan

Kita hidup di zaman di mana nilai seseorang diukur dari kelebihan yang tampak pada dirinya, entah itu prestasi atau kekayaan, pujian orang lain, tampilan fisik, dan hal-hal superfisial lainnya. Rasanya mustahil kebiasaan semacam ini sudah dimiliki dan dikembangkan para pendahulu berbagai bangsa. Karena bila ya, kita dan banyak bangsa lainnya akan cenderung memiliki budaya yang seragam, mengikuti satu jalur yang sama sesuai ketentuan suara tersuperior di atas semuanya.

Berdasarkan pantauan saya, sangat sedikit postingan internet dari entitas di luar India yang menampilkan negara ini sebagai negara maju di Asia berkat budaya Hindu India yang mengakar kuat sejak ribuan tahun silam (walaupun dasar negara India tetap demokrasi dan bukan undang-undang Hindu). Kalaupun ada, postingan tersebut biasanya dibuat oleh orang-orang India sendiri yang tak kenal lelah menciptakan reputasi yang lebih positif tapi realisitis tentang bangsa mereka.

Hindu merupakan agama atau sistem kepercayaan yang sangat cair, mudah menyesuaikan diri dengan situasi di mana ia mendarat. Ia tak membutuhkan satu lembaga induk besar untuk menentukan kapan umatnya harus merayakan hari-hari yang dianggap penting sebagai bagian dari keberagamaan umat Hindu. Ini berpangkal dari pemahaman mendalam bahwa umat Hindu di wilayah mana pun lebih tahu hari-hari bermakna bagi mereka sendiri dan mengapa hari-hari itu penting bagi mereka.

Kebebasan untuk beragam dalam berhari raya ini dipandang tidak menguntungkan oleh sebagian entitas yang berusaha mencari cuan dari perayaan hari besar keagamaan. Penyebabnya, tidak akan ada umat Hindu yang secara serentak memenuhi pusat perbelanjaan, atau ramai-ramai memesan baju di situs lokapasar menjelang hari raya mereka dalam kurun waktu yang sama. Bukankah semua orang butuh uang cash di zaman ini?

Meski sering mendapat stigma negatif secara regional maupun global akibat agama populernya, India tetap merupakan negara yang mudah menjalin kerja sama dengan berbagai negara, termasuk yang saling berseberangan.

Sebagai contoh, India memiliki hubungan baik dengan Israel dan Palestina. India juga termasuk salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. India menjalin hubungan baik dengan Rusia sejak zaman Uni Soviet (yang menyebabkan India juga punya hubungan baik dengan Ukraina).

India juga memiliki relasi yang baik dengan Afghanistan, yang dikenal berhalauan Islam radikal di mana terdapat pegunungan bernama ‘Hindu Kush’ di Afghanistan yang bermakna literal ‘pembunuh Hindu’.   

Mengubah negatif menjadi positif

Entah bagaimana, Donald Trump yakin tarif 50% untuk India telah berhasil menekan PM Modi untuk mengurangi pembelian minyak Rusia. Oleh karena itu, dirinya memuji Modi atas perubahan sikapnya dan berniat mempertimbangkan kembali kebijakan tarifnya. India enggan berkomentar banyak mengenai masalah minyak Rusia, walaupun media Rusia mempublikasikan artikel bahwa hubungan dua negara itu baik-baik saja dengan adanya tarif Trump atas India.

Yang jelas, perayaan Diwali di Gedung Putih bukan hanya menimbulkan pujian bagi Trump, tetapi juga ketidakpuasan dari komunitas yang tidak merayakan Diwali. Misinformasi di kalangan netizen membuat mereka menyangka Diwali adalah hari special bagi umat Hindu saja, sehingga ada yang melihatnya sebagai momen tepat untuk melancarkan ‘serangan’.  Bahkan hingga merambah ranah privet Wakil Presiden AS JD Vance dan istrinya, Usha, yang merupakan pasangan beda agama.  

Tentu saja, tidak menutup kemungkinan bahwa para haters Donald Trump-lah yang berada di balik kampanye negatif itu. Karena, sama seperti banyak pemimpin lain di dunia ini, selalu ada saja orang yang tidak sejalan dengan kebijakannya, siapa pun mereka. Bagi orang-orang seperti ini, selalu ada saja topik yang diada-adakan sebagai pondasi membangun serangan.

Namun, situasi di atas tidak selamanya berhasil menimbulkan rasa rendah diri dan tersakiti. Jargon ‘survival of the fittest’ (siapa terkuat dia bertahan hidup) bisa menjadi pegangan bagi umat Hindu yang merasa disalahpahami oleh mereka yang non-Hindu. Terutama oleh umat Hindu di luar India, di berbagai lokasi di mana banyak dari mereka menjadi minoritas. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...