Kamis, 30 Oktober 2025

"Anugerah" Yang Membutakan Kita

Ignorance is a bliss” (Ketidaktahuan itu anugerah) yang dicetuskan pertama kali oleh Thomas Gray, sastrawan Abad Pertengahan, dalam puisinya, “Ode on a Distant Prospect of Eton College”, sering dikutip sebagai pembenaran untuk sikap menolak tahu.

Frasa dari era 1742 ini sempat sering muncul di sejumlah media sosial dalam satu tahun terakhir. Mengingat situasi global saat ini, saya tak mempersalahkan para pengutipnya. Walaupun konteks utuh frasa tersebut lebih melankolis, yaitu tentang nostalgia masa kanak-kanak yang menurut Gray lebih bahagia dibandingkan masa dewasa.

Uniknya, sejarah Inggris diwarnai perang-perang konyol yang mencerminkan perilaku di atas dan jarang dibicarakan orang di masa sekarang. Salah satunya terjadi pada 1859 di Kepulauan San Juan, saat seorang petani Amerika menembak seekor babi milik orang Inggris yang menerobos masuk ke ladangnya. Kerajaan Inggris sudah siap menerjunkan pasukan guna menanggapi insiden ‘berdarah’ tersebut, demikian pula Amerika Serikat yang saat itu belum lama merdeka.

Walaupun perang akhirnya dapat dicegah, tetapi “The Pig War (Perang Babi)” tetap tercatat dalam sejarah kedua belah pihak. Perang dalam bentuk adu argumen dan provokasi ini pun tidak menelan korban jiwa (selain si babi itu sendiri) dan masuk dalam daftar 10 Perang Terkonyol di Dunia

Ilustrasi: pexel.com

Sengaja tidak tahu berakibat fatal

Kisah di atas merupakan contoh bagaimana ketidaktahuan, dalam hal ini ketidaktahuan tentang cara memelihara hubungan dengan sesama, dapat menyulut gesekan antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Dewasa ini, gesekan semacam ini bukan barang langka. Seiring dengan kesulitan ekonomi yang semakin menggigit dari hari ke hari, kehendak untuk menjadi pemenang di situasi remeh temeh dianggap sebagai pelipur lara dari pahitnya kehidupan.

Amerika Serikat dan Inggris pun tak luput dari perilaku semacam ini. Track record sebagai negara pemenang Perang Dunia II meninggalkan kebanggaan yang mendalam hingga bertahun-tahun kemudian. Rasa bangga memang baik sebagai motivasi untuk membangun negara ke arah kemajuan demi kemakmuran bersama. Kekonyolan Perang Babi, sialnya, ikut bertahan karena mereka tidak tahu bahwa kemalangan yang mereka timbulkan bagi negara atau pihak lain demi mempertahankan kejayaan mereka setiap saat bisa menjadi boomerang.

Sebagai contoh, sekitar 10 sampai 20 tahun lalu propaganda tentang Amerika Serikat sebagai negara demokrasi yang maju dan makmur ditampilkan melalui media elektronik, film, musik, seni, dll. Karena sudah maju dan kaya, sejumlah tokoh, misalnya, Bill Gates, digambarkan sebagai sosok dermawan yang suka membantu sesama di negara-negara terbelakang secara ekonomi. Amerika Serikat juga membentuk badan penyalur dana kemanusiaan , yaitu USAID, yang menyalurkan dana bantuan ke berbagai LSM di seluruh dunia.

Ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS, memutus anggaran untuk USAID adalah salah satu di antara sekian kebijakan penghematan anggaran di masa pemerintahannya. LSM-LSM yang sudah terbiasa menerima ‘makan siang gratis’ dari USAID selama bertahun-tahun pun kelimpungan tatkala Trump mengumumkan pemerintah AS hanya akan memberikan bantuan untuk dua negara, yaitu Mesir dan Pakistan.

Berbagai pihak yang murka dengan keputusan Trump pun melancarkan serangan balik guna mendiskreditkan AS dan kebijakan-kebijakannya. “Survival of the fittest” (ikuti arus atau mati) adalah jargon yang digembar-gemborkan para buzzer Amerika guna menangkis serangan itu. AS, yang lagi-lagi lupa bahwa beradaptasi dengan situasi agar bisa terus menyerang juga termasuk bentuk survival, menjadi pihak yang gelagapan menghadapi respons di luar perkiraannya.

Menolak berjalan dalam lingkaran

Bagi mereka yang meyakininya, agama bukanlah candu. Mereka benar. Ketidaktahuan juga candu jika terus diulang dan dipertahankan menembus batas ruang dan waktu. Penyebabnya, bagi sebagian orang menjadi tahu itu menyakitkan, seperti kata Thomas Gray di awal tulisan ini. Pengetahuan akan membuat manusia berpikir lebih panjang, dan ini sangat rumit bagi sebagian orang karena butuh waktu, tenaga, dan banyak uang. Sementara mereka merasa berhak untuk bahagia dengan cara apa pun.

Itulah mengapa kesulitan ekonomi global yang kita alami saat ini terasa panjang dan lama, seperti samsara yang terus berputar tanpa henti hingga akhir dunia. Kita berpikir dan bertindak sekadar mencari aman, baik bagi diri sendiri maupun kelompok. Kita kecanduan mempertahankan sikap bahwa kesusahan di pihak lain adalah kemenangan di pihak kita, karena merasa menang itu memang sungguh luar biasa nikmat.

Butuh keberanian untuk mencoba keluar dari samsara kesesatan pola pikir, agar tindakan kita bukan hanya memenangkan diri kita sendiri, tetapi juga “orang-orang kalah” dalam konteks cita-cita kita. Butuh keberanian untuk mengakui manusia pada dasarnya memiliki batas dan kekurangan, bahwa mengalah untuk menang bukanlah jargon kosong dan bisa dibuktikan. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...