Minggu, 16 November 2025

Berburu Resep Kuno Untuk Bahagia

Benua terbahagia di dunia dikabarkan sedang galau. Bukan karena masalah ekonomi, melainkan kewalahan menghadapi peningkatan populasi imigran dari Asia, Afrika, dan wilayah lain di Eropa yang ‘menyerbu’ Benua Biru guna memperbaiki taraf hidup atau mencari perlindungan dari konflik politik. Lima besar peringkat negara terbahagia di dunia selalu diduduki negara-negara Eropa, maka siapa yang bisa menyalahkan kedatangan para imigran? Kebahagiaan ibarat gula, yang akan selalu mengundang semut-semut dari berbagai penjuru untuk datang dan mencicipinya.

Berkat kerja keras orang-orang Eropa dari zaman lampau di sektor industri dan pertanian, kekayaan yang tak terhingga nilainya dapat diwariskan pada keturunan mereka hingga beberapa generasi. Didukung pula manajemen keuangan yang sistematis, terencana, dan selalu berorientasi pada masa depan. Guna meningkatkan perputaran uang, mayoritas negara Eropa memberikan stimulus berupa tunjangan sosial bagi warga mereka. Inilah salah satu daya tarik yang menginspirasi para pendatang berusaha masuk ke Eropa.

Beberapa golongan pendatang tidak sepenuhnya bisa merasakan kebahagiaan di tanah air baru mereka yang tampak bagai emas dari kejauhan. Rasa rindu pada kampung halaman membuat mereka memilih berperilaku seolah sedang berada di negara asal, perilaku yang kadang menimbulkan tanda tanya dan gesekan dengan warga pribumi. 

Kehadiran para pendatang menggugah kesadaran sebagian warga asli Eropa tentang jati diri mereka yang menurut mereka nyaris tak berbeda antara satu negara Eropa dengan negara Eropa lainnya. Karena kegelisahan ini membesar dengan berjalannya waktu, maka beberapa kelompok warga lokal Eropa mencoba mencari penawarnya dengan melongok ke masa lalu. 

Ilustrasi: simbol Kepercayaan Asli Slavia, kolovrat

“Istana” terindah

Kesetiaan pada nilai-nilai tradisional adalah salah satu hal yang dibanggakan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang bangsanya. Beliau tidak salah, karena di Rusia kepercayaan tradisional diakui dan dianut sekitar 1 juta orang. Bagi mereka, leluhur adalah manifestasi dari Sang Pencipta, demikian pula seluruh entitas alam dalam berbagai bentuk dan fenomena.

Ritual-ritual, upacara, prosesi Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith) merupakan simbolisasi dari ungkapan terima kasih kepada mereka yang hadir jauh sebelum lahirnya generasi saat ini. Mereka yang menemukan tempat di mana anak-anak jaman now tinggal saat ini, menemukan cara-cara bertahan hidup, berkomunikasi, menata suasana sekitar agar lestari dan senantiasa bermanfaat sepanjang waktu. Menurut sejumlah penelitian yang telah digagas sejak era Josef Stalin, aliran kepercayaan ini berakar dari sumber yang sama dengan Hindu.

Sampai dengan saat ini Kepercayaan Asli Slavia mempersatukan warga etnis terkait yang tersebar di Rusia, Ukraina, Polandia, Belarus, Bulgaria, Ceko, Lithuania, dan Estonia. Mereka berpegang pada nilai-nilai tradisional yang identik satu sama lain, sama-sama meyakini bahwa keluarga adalah tempat terbaik bagi siapa pun untuk merasa bahagia. Maka memperlakukan sesama sebagai keluarga adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkannya.

Mispersepsi berkelanjutan

Dibandingkan etnis lainnya di Eropa, etnis Slavia seringkali mendapat stigma negatif karena rekam jejak politik yang terlibat komunisme/ sosialisme. Ketika Eropa Barat didominasi negara-negara bahagia dan maju, negara-negara Eropa Timur dan Tengah di mana etnis Slavia tinggal dilabeli sebagai negara tidak aman, kurang sejahtera, sarang scammers, dll.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kenyamanan hidup. Ketidaknyamanan yang datang dalam kehidupan kita bisa datang dari persepsi kita sendiri terhadap situasi saat ini. Persepsi yang muncul akibat terlalu lama berada di zona nyaman, dan tak siap untuk menjalani ketidaknyamanan.

Kebangkitan kepercayaan tradisional Eropa, di mana Kepercayaan Asli Slavia merupakan salah satu di antaranya, ditanggapi secara paranoid oleh sebagian kecil pihak sebagai krisis identitas yang menjurus ke arah rasisme dan radikalisme sayap kanan. Seakan-akan kata “Slavia” pada nama kepercayaan ini menjadi petunjuk bagi perspektif para pengamat untuk mengidentikkan kesadaran spiritual ala Slavia dengan waham entitas terbaik sedunia.

Satu hal yang cenderung diabaikan para pengamat adalah kepercayaan lokal ini berangkat dari kerendahatian suku Slavia untuk mengakui bahwa masa lalu tak dapat diubah – selalu ada seseorang, atau sesuatu, yang ada sebelum mereka. Entah itu dari ras yang sama atau bukan, mereka hanya bisa berasumsi dan tidak akan pernah benar-benar tahu tentang faktanya. Mengapa latar belakang Kepercayaan Asli Slavia lebih penting bagi para pengamat daripada tujuan yang hendak dicapai para penganutnya? Hanya para pengamat tersebut yang tahu jawabannya. (dswas)  

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...