Kamis, 06 November 2025

Ketika Diam Benar-Benar Emas

Silence is golden” dapat diterjemahkan sebagai diam dapat menghasilkan emas. Penafsiran ini tidak sebaiknya disalahkan, karena diam benar-benar menghasilkan emas, setidaknya di abad 18. Diam yang sudah menjadi niat, bahkan dipandang sebagai salah satu cara kaum elit menikmati luang di zaman itu.

Bangsa Sumeria di Mesopotamia sudah mengenal “tanaman pembawa bahagia” alias opium sejak 3400 SM. Mengingat letak geografisnya, bukan kebetulan jika kemudian para pedagang Arab yang memperkenalkan zat pembawa kebahagiaan ini pada orang-orang China Daratan. Walaupun opium telah dicatat dalam naskah kuno China dari zaman Dinasti Tang (617-907) untuk keperluan medis.

Para pedagang Inggris di masa itu yang sedang memutar otak, mencari cara memperluas pasar. Di saat yang sama, Tentara Kerajaan Inggris baru saja menaklukkan Dinasti Mughal di India. Mereka secara tidak sengaja mendapati bahwa dinasti itu telah mengenal opium dan bahkan membudidayakan serta mengolahnya untuk dikonsumsi golongan tertentu, di antaranya para bangsawan.

Inggris telah menjalin hubungan dagang dengan China sejak 1635, walaupun dalam prosesnya perdagangan tidak dilakukan dengan tatap muka langsung antara pihak Inggris sebagai pembeli dan pedagang China. Dengan sistem makelar yang diberlakukan oleh Dinasti Qing sebagai penguasa China saat itu, hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan berinteraksi dengan para pedagang asing.

Ilustrasi: britannica.com

Para pedagang Inggris menjual opium pada makelar resmi yang ditunjuk otoritas China, di mana uang yang dihasilkan dari transaksi ini akan mereka gunakan untuk membeli komoditas perak dari China sebagai bahan baku mata uang logam. Para pedagang China diam-diam melakukan barter antara perak dan opium dengan para pedagang Inggris, lantaran sistem makelar oleh otoritas China dianggap penghalang mengumpulkan cuan.

‘Diam’ sebagai komoditas

Mereka yang getol mengampanyekan legalisasi zat adiktif jenis tertentu sering mengatakan “Tanaman ganja ciptaan Tuhan, dan Tuhan menciptakan seisi dunia untuk manusia. Mengapa kita dilarang menikmati ciptaan Tuhan?”  

Saya pengguna narkoba aktif beberapa tahun yang lalu, karena begitulah perjalanan hidup saya. Narkoba yang paling sering saya konsumsi ada dua, ganja dan pil leksotan (atau kadang-kadang triheksifenidil). Narkoba jenis lain yang sudah saya coba adalah sabu-sabu dan putauw.

Selain itu, saya juga pernah menjadi alkoholik selama sekitar 1,5 tahun. Total waktu saya menikmati halusinasi adalah sekitar 7 tahun, walaupun tidak berturut-turut. Ada beberapa jeda sejak saya pertama kali mengenal narkoba pada 1999, dan resmi putus darinya pada 2018 setelah mengenal yoga dan meditasi.

Alasan saya mencoba narkoba, mungkin sama dengan banyak pecandu dan pemakai narkoba lainnya di luar sana, yaitu ingin lari dari kenyataan hidup yang menyakitkan. Karena cinta yang dikhianati seorang lelaki. Karena sebuah drama percintaan yang tidak happy ending, karena kekasih yang berselingkuh.

Bukan sejarah yang membanggakan.  

Ada sesuatu dalam tanaman opium, ganja, dan sejenisnya, yang membantu manusia mendiamkan suara-suara gelisah, sedih, marah di dalam dirinya. Berbeda dengan minuman beralkohol yang cenderung memperlihatkan watak asli manusia dan menyingkap rahasia yang tak terucap, narkoba cenderung memengaruhi penggunanya untuk ‘diam’. Bagi beberapa pengguna kelas berat, ‘diam’ yang mereka butuhkan adalah ‘diam’ yang produktif mencari dan mengkaji berbagai kemungkinan untuk bisa diwujudkan dalam bentuk apa pun.

Itulah mengapa para pedagang narkoba menjual produk mereka. Karena akan selalu ada orang-orang yang tak dapat mengontrol pelampiasan emosi dengan saksama agar tidak berbalik arah, lalu berpaling ke narkoba untuk menenangkan diri. Untuk membekukan tubuh dan otak agar diam terpaku, sembari halusinasi terbang tinggi ke awang-awang.

Namun, ini bukanlah pakem yang berlaku di dunia narkoba. Karena narkoba jenis tertentu juga digunakan untuk membantu penggunanya agar lebih kuat dalam bekerja, terutama untuk bidang pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik.

Salah siapa?

Era kecanduan opium massal di China digambarkan dalam beberapa film kungfu berlatar belakang sejarah China yang diproduksi sekitar akhir 90-an, salah satunya adalah sequel Once Upon A Time in China (saya lupa ke berapa) yang dibintangi oleh Jet Lee dan Rosamund Kwan. Film-film ini diproduksi di Hongkong, di era sebelum kembalinya negara pulau itu dari tangan Inggris ke China, sehingga dapat dipahami bila pesan anti Barat sangat terasa dalam film-film dari genre yang sama.

Dengan umpan-umpan yang saling berkelindan seperti timeline laman medsos kita, akan sangat mudah mempersalahkan Inggris telah dengan sengaja menyebabkan rakyat China kecanduan opium guna memperlemah mereka dari dalam. Perang Candu I sebagai peristiwa yang menjadi hasil dari meningkatnya ketergantungan pada opium di kalangan rakyat China memang dimenangi oleh Inggris.

Yang jarang diketahui orang adalah, di akhir abad 18 telah terjadi ketidakseimbangan penghasilan antara para pedagang Inggris dan China, karena para pedagang China lebih banyak menjual produk mereka pada para pedagang Inggris daripada membeli barang dagangan yang ditawarkan para pedagang Inggris (mungkin ini mengingatkan Anda pada sesuatu?).

Sebagaimana pebisnis pada umumnya, para pedagang Inggris bisa tahu bahwa opium banyak dikonsumsi di China. Mereka menjual produk pembawa kebahagiaan itu karena itulah satu-satunya produk yang dibeli para pedagang China dari para pedagang asing. Penyebabnya, Dinasti Qing telah melarang perdagangan opium, akibatnya opium menjadi barang yang langka dan otomatis harganya juga naik. Para pedagang China tentu saja tak menyia-nyiakan peluang emas ini. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...