Jumat, 14 November 2025

Melimpah, Tapi Selalu Kurang -- Mengapa?

Kekalahan Brasil 2-3 versus Jepang dalam laga persahabatan di Tokyo, Jepang, Oktober lalu membuat para fans bola tersentak. Jepang belakangan ini memang tengah membaik, tetapi Brasil adalah juara Piala Dunia lima kali. Hasil ini menambah panjang prestasi memble skuad Samba beberapa tahun terakhir sejak kekalahan memalukan mereka dari Jerman di hadapan publik sendiri pada final Piala Dunia 2014.

Kaum bola mania menghubung-hubungkan prestasi buruk Brasil dengan perilaku para pesepakbolanya yang dikenal hobi pesta bila mereka sedang berada di puncak prestasi. Neymar Jr., yang pernah masuk daftar 10 besar atlet terkaya di dunia di usia belasan tahun, terlihat menghadiri 120 pesta selama bermain di Eropa bersama Barcelona dan Paris St. Germain. Selain itu, ia juga hobi makan junk food, yang merupakan pantangan bagi atlet mana pun.

Jauh sebelum Neymar, ada Romario. Bintang Brasil dari era 90-an ini juga gila pesta, terutama setelah kemenangan Brasil di Piala Dunia 1994. Romario adalah bintang turnamen dan peraih penghargaan Golden Ball untuk pemain terbaik Piala Dunia saat itu. Eforia kemenangan membuat Romario lupa kembali ke Barcelona FC, klubnya saat itu, tepat waktu dan kembali berlatih. Ini membuat Johan Cruyff (pelatih Barca saat itu) murka dan menjualnya kembali ke Brasil (Flamengo) beberapa bulan setelah prestasi moncernya di Piala Dunia 1994.

Tanpa batas memanfaatkan anugerah

Selain negara penghasil pesepakbola terbaik dunia, Brasil juga dikenal berkat kawasan hutan tropis Amazon yang telah dinobatkan sebagai paru-paru dunia, penghasil 20% oksigen bersih untuk Bumi. Amazon juga tak tertandingi dalam hal keanekaragaman hayati yang sebagian besar masih belum diidentifikasi. Sungai Amazon merupakan sungai terpanjang di dunia yang menjadi sumber penghidupan masyarakat di sekitarnya.

Gelar Situs Warisan Dunia dari UNESCO untuk Amazon tak menghalangi pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva untuk menginisiasi eksplorasi minyak di sekitar kawasan hutan Amazon. Walaupun pemerintah Brasil bersikukuh eksplorasi hanya dilakukan di luar kawasan hutan Amazon dan tidak masuk area konservasi, keputusan ini membuat banyak pihak terhenyak. 

Illustrasi: pexels.com

Apalagi setelah pemerintah Brasil mengungkapkan secara terus terang bahwa eksplorasi ini dilakukan sebagai upaya mereka memanfaatkan kekayaan alam yang terkandung di wilayah yurisdiksi mereka untuk menghasilkan pendapatan. Bukan sembarang pendapatan, melainkan pendapatan yang akan dimanfaatkan untuk mendanai proses transisi energi ke energi hijau.

Walaupun pernyataan Presiden Lula terkesan peduli keberlanjutan lingkungan hidup, tetapi masyarakat adat Amazon menentang rencana tersebut melalui sejumlah aksi protes sejak 2024 hingga sekarang. Mereka merupakan orang-orang yang secara turun temurun tinggal di kawasan Amazon, menjaga kelestarian rimba terbesar dunia dengan cara yang telah diajarkan para pendahulu mereka. Pengakuan UNESCO tentang “kesakralan” hutan Amazon adalah pengakuan terhadap kerja keras mereka.

Bandingkan dengan Amerika Serikat. Walaupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan lantang menuding narasi perubahan iklim dan energi hijau yang menyertainya adalah scam, masyarakat adat Penduduk Asli Amerika relatif bernasib lebih baik daripada masyarakat adat Amazon.

Sebagai contoh, pada Juni 2025 lalu pemerintah AS mengakui telah menjual secara ilegal lahan konservasi Suku Potawatomi di sekitar 1800-an. Lahan itu akhirnya dikembalikan kepada generasi masa kini suku tersebut setelah dikuasai oleh pemerintah AS selama 200 tahun lamanya.

Mencegah keberlimpahan lenyap tanpa bekas

Berdasarkan data April 2025, BUMN minyak Brasil, Petrobas, masih menempati urutan teratas dalam hal produksi minyak dibandingkan negara-negara produsen minyak lainnya, antara lain, negara tetangganya yaitu Amerika Serikat. Lalu ke mana perginya semua keuntungan yang dihasilkan oleh BUMN ini, mengapa triliunan dolar yang mereka hasilkan tidak cukup untuk mendanai misi transisi energi hijau oleh pemerintahan Lula?

Ini pertanyaan wajar, karena Presiden Lula mengatakan tujuan pengeboran minyak di sekitar kawasan Amazon adalah guna menambah pendapatan negaranya.

Keberlimpahan dapat hangus sia-sia tanpa bekas tanpa pengelolaan saksama. Tak jauh berbeda dengan kisah dua pesepakbola Brasil, Neymar Jr. dan Romario, yang menyia-nyiakan bakat mereka karena lebih memilih kebahagiaan sesaat. Bandingkan dengan masyarakat adat Amazon yang selama puluhan tahun menjauhi hiruk pikuk kehidupan kota, memilih tinggal di tengah alam agar bisa menjaga kelestariannya.

Kebahagiaan dapat berubah menjadi samsara apabila pada gilirannya mempersulit seseorang atau suatu bangsa untuk mampu merawat apa yang sudah ditinggalkan kepada mereka oleh para leluhur. Keberlimpahan memang bisa membuat kita lupa daratan, menikmati hidup sepuas-puasnya guna merasakan kesenangan lebih lama. Ketika apa yang kita andalkan untuk merasa bahagia habis tak bersisa, kita panik, lalu menempuh cara apapun demi merasakan kebahagiaan itu lagi secepatnya.  (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...