Di saat sebagian besar negara baru saja mengalami demam AI, salah satu orang hebat di industri tersebut malah melirik air sebagai sumber inspirasi berikutnya. Bill Gates beberapa waktu lalu menyatakan organisasi amal di bawah namanya dan mantan istrinya, Bill & Melissa Gates Foundation, tengah meluncurkan inisiatif yang bertujuan memaksimalkan penggunaan air sebagai sarana kebersihan dan kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Boss Microsoft itu juga meluncurkan teknologi baru yang
disebut Omniprocessor. Ketika kita sibuk menganalisa perang chip antara Amerika
Serikat dan China, pengguna chip terbesar di dunia malah fokus pada penciptaan
mesin yang mengolah air kotor menjadi air bersih layak minum dan energi uap
yang menggerakkan mesin tersebut.
Ironisnya, di beberapa tempat kekeringan melanda sebagai
akibat fenomena alam dalam bentuk berkurangnya curah hujan dan alih fungsi
lahan resapan air menjadi pemukiman. Inilah yang juga terjadi di kampung
halaman saya, Singosari, Malang, Indonesia. Pertambahan jumlah penduduk yang
diikuti dengan berkurangnya lahan resapan air turut berperan dalam memampatkan
beberapa sumber air hingga tak lagi mengalirkan air.
Tadinya saya dan banyak warga lokal berharap basis religius
kota kami dan nilai-nilai agama akan membantu mengingatkan masyarakat untuk
memuliakan air sebagai sumber kehidupan. Namun, itu tidak terjadi.
Budaya lokal yang berakar dari sistem kepercayaan pemuliaan
terhadap para leluhur dan bersinkretis dengan ajaran Hindu dicap sebagai aliran
sesat, karena menandai pohon dan hutan agar tidak ditebang dengan dupa dan
bunga disebut bukan perilaku orang beragama.
Vandalisme = ‘pemberontakan’
Sementara itu, ribuan mil dari kota kecil saya, sebuah situs
bersejarah berubah bentuk untuk selamanya akibat aksi vandalism oleh sekelompok
aktivis lingkungan hidup yang menamakan diri mereka Just Stop Oil. Peristiwa
miris ini terjadi beberapa waktu lalu, tetapi menjadi viral setelah dibahas
kembali oleh Ian Miles Cheong melalui cuitannya di X.
Cuitan itu menyoroti tentang keputusan sebuah pengadilan
Inggris yang membebaskan dua aktivis Just Stop Oil dari tanggung jawab atas
perbuatan mereka. Awalnya, mereka diadili akibat tindakan yang menyebabkan
kerusakan permanen pada Stonehenge, sebuah situs prasejarah di Salisbury,
Wiltshire, Inggris. Menurut pengadilan tersebut, para aktivis berhak melakukan
protes atas terjadinya perubahan iklim bahkan dengan melakukan perbuatan yang menyulut
kemarahan publik, karena itulah tujuan aksi itu.
Sama halnya reruntuhan candi-candi Hindu di tempat asal
saya, Stonehenge adalah seonggok batu. Meski demikian, ada saja orang-orang
yang menganggap tumpukan batu bata ini bernilai dengan menjadikannya sebagai
latar belakang selfie. Atau spot menonton fenomena alam memukau, seperti
matahari terbenam atau gerhana matahari.
Kerusakan permanen pada Stonehenge akan menghalangi generasi
berikutnya untuk berusaha memahami karakter para pendahulu mereka dengan lebih
baik melalui bentuk batu yang digunakan, misalnya, atau melalui kajian tentang
bagaimana batu-batu Stonehenge didirikan.
Fakta bahwa tulang belulang manusia yang terdiri dari orang
dewasa dan anak-anak dikubur di lokasi yang sama bisa menjadi petunjuk tentang
apa peristiwa yang terjadi di wilayah itu ribuan, atau bahkan jutaan tahun yang
lalu. Bagaimana peristiwa itu membentuk karakter masyarakat, dan seterusnya.
Akan tetapi, masa lalu berbagai bangsa nyaris selalu
mempunyai lembaran kelam yang membayangi masa kini dari waktu ke waktu.
Sebagian orang menganggap cara cepat dan mudah untuk membebaskan diri dari
samsara ini adalah ‘memberontak’: menghancurkan, merusak, atau mengabaikan
segala bentuk yang menyimbolkan atau merupakan representasi masa lalu.
‘Pemberontakan’ semacam ini mulai menjadi kenormalan baru,
seiring dengan perkembangan situasi yang membuat manusia merasa kehilangan
kebebasan untuk menikmati kebahagiaan.
Orang-orang di kampung halaman saya tidak merasa bersalah
melakukan tindakan yang merusak kelestarian mata air, karena bagi mereka masih
ada air tanah (yang menurut penelitian terbaru sudah tidak layak dikonsumsi
akibat pencemaran oleh pabrik-pabrik di sekitarnya). Peradaban Hindu bagi
mereka adalah simbolisasi masa lampau penuh dosa. Peradaban ‘kegelapan’ yang
memberdayakan potensi di sekitarnya, antara lain sejumlah mata air yang masih
tersisa dan masih mereka gunakan sepuasnya sampai detik ini. (dswas)
