Minggu, 09 November 2025

Buah Pemberontakan Terhadap Masa Lalu

Di saat sebagian besar negara baru saja mengalami demam AI, salah satu orang hebat di industri tersebut malah melirik air sebagai sumber inspirasi berikutnya. Bill Gates beberapa waktu lalu menyatakan organisasi amal di bawah namanya dan mantan istrinya, Bill & Melissa Gates Foundation, tengah meluncurkan inisiatif yang bertujuan memaksimalkan penggunaan air sebagai sarana kebersihan dan kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Boss Microsoft itu juga meluncurkan teknologi baru yang disebut Omniprocessor. Ketika kita sibuk menganalisa perang chip antara Amerika Serikat dan China, pengguna chip terbesar di dunia malah fokus pada penciptaan mesin yang mengolah air kotor menjadi air bersih layak minum dan energi uap yang menggerakkan mesin tersebut.

Ironisnya, di beberapa tempat kekeringan melanda sebagai akibat fenomena alam dalam bentuk berkurangnya curah hujan dan alih fungsi lahan resapan air menjadi pemukiman. Inilah yang juga terjadi di kampung halaman saya, Singosari, Malang, Indonesia. Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti dengan berkurangnya lahan resapan air turut berperan dalam memampatkan beberapa sumber air hingga tak lagi mengalirkan air.

Tadinya saya dan banyak warga lokal berharap basis religius kota kami dan nilai-nilai agama akan membantu mengingatkan masyarakat untuk memuliakan air sebagai sumber kehidupan. Namun, itu tidak terjadi.

Budaya lokal yang berakar dari sistem kepercayaan pemuliaan terhadap para leluhur dan bersinkretis dengan ajaran Hindu dicap sebagai aliran sesat, karena menandai pohon dan hutan agar tidak ditebang dengan dupa dan bunga disebut bukan perilaku orang beragama.

Vandalisme = ‘pemberontakan’

Sementara itu, ribuan mil dari kota kecil saya, sebuah situs bersejarah berubah bentuk untuk selamanya akibat aksi vandalism oleh sekelompok aktivis lingkungan hidup yang menamakan diri mereka Just Stop Oil. Peristiwa miris ini terjadi beberapa waktu lalu, tetapi menjadi viral setelah dibahas kembali oleh Ian Miles Cheong melalui cuitannya di X.

Cuitan itu menyoroti tentang keputusan sebuah pengadilan Inggris yang membebaskan dua aktivis Just Stop Oil dari tanggung jawab atas perbuatan mereka. Awalnya, mereka diadili akibat tindakan yang menyebabkan kerusakan permanen pada Stonehenge, sebuah situs prasejarah di Salisbury, Wiltshire, Inggris. Menurut pengadilan tersebut, para aktivis berhak melakukan protes atas terjadinya perubahan iklim bahkan dengan melakukan perbuatan yang menyulut kemarahan publik, karena itulah tujuan aksi itu.

Ilustrasi: getimage

Sama halnya reruntuhan candi-candi Hindu di tempat asal saya, Stonehenge adalah seonggok batu. Meski demikian, ada saja orang-orang yang menganggap tumpukan batu bata ini bernilai dengan menjadikannya sebagai latar belakang selfie. Atau spot menonton fenomena alam memukau, seperti matahari terbenam atau gerhana matahari.

Kerusakan permanen pada Stonehenge akan menghalangi generasi berikutnya untuk berusaha memahami karakter para pendahulu mereka dengan lebih baik melalui bentuk batu yang digunakan, misalnya, atau melalui kajian tentang bagaimana batu-batu Stonehenge didirikan.

Fakta bahwa tulang belulang manusia yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak dikubur di lokasi yang sama bisa menjadi petunjuk tentang apa peristiwa yang terjadi di wilayah itu ribuan, atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Bagaimana peristiwa itu membentuk karakter masyarakat, dan seterusnya.

Akan tetapi, masa lalu berbagai bangsa nyaris selalu mempunyai lembaran kelam yang membayangi masa kini dari waktu ke waktu. Sebagian orang menganggap cara cepat dan mudah untuk membebaskan diri dari samsara ini adalah ‘memberontak’: menghancurkan, merusak, atau mengabaikan segala bentuk yang menyimbolkan atau merupakan representasi masa lalu.

‘Pemberontakan’ semacam ini mulai menjadi kenormalan baru, seiring dengan perkembangan situasi yang membuat manusia merasa kehilangan kebebasan untuk menikmati kebahagiaan.

Orang-orang di kampung halaman saya tidak merasa bersalah melakukan tindakan yang merusak kelestarian mata air, karena bagi mereka masih ada air tanah (yang menurut penelitian terbaru sudah tidak layak dikonsumsi akibat pencemaran oleh pabrik-pabrik di sekitarnya). Peradaban Hindu bagi mereka adalah simbolisasi masa lampau penuh dosa. Peradaban ‘kegelapan’ yang memberdayakan potensi di sekitarnya, antara lain sejumlah mata air yang masih tersisa dan masih mereka gunakan sepuasnya sampai detik ini.  (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...