Senin, 03 November 2025

“Tidak Pernah Ada ‘Tangan Tuhan’”

Hari itu 22 Juni 1986. Argentina bertemu Inggris di laga perempat final Piala Dunia 1986, di Stadion Azteca, Meksiko. Babak pertama berlalu dengan skor kacamata, alias 0-0. Setelah turun minum, masing-masing kubu berusaha keras meningkatkan serangan segera setelah peluit panjang kembali berbunyi.

Babak kedua baru berjalan enam menit ketika Maradona mengoper bola ke Jorge Valdano dari luar kotak penalti. Valdano berusaha mencari peluang dengan melewati beberapa bek Inggris, tetapi bolanya mendarat di kaki gelandang Inggris, Steve Hodge, yang berusaha melakukan aksi penyelamatan dengan menendang bola ke arah kiper Inggris, Peter Shilton.

Maradona maju, berusaha memotong arah bola. Shilton melihat gelagat itu, ia berusaha menyelamatkan gawangnya dengan melompat dan menangkis bola dengan tangan kanannya. Maradona yang berada tepat di depan Shilton ikut melompat dan menyundul bola yang mengenai tangan kirinya. Bola mendarat di gawang Inggris, disambut gegap gempita para suporter Argentina.

Wasit asal Tunisia, Ali Ben Nasser, mengesahkan gol tersebut walau diprotes para pemain Inggris yang melihat dengan jelas tangan Maradona menyentuh bola.

Pertandingan yang akhirnya dimenangi Argentina dikenang para fans sebagai gol paling kontroversial dalam sejarah sepak bola. Ketika ditanya wartawan tentang peristiwa itu, Maradona berkilah bahwa gol bersejarah itu tercipta berkat sundulan kepalanya dan ‘tangan Tuhan’, setidaknya sampai beberapa tahun silam.

Tuhan sebagai kambing hitam?

Tahun 1986 merupakan empat tahun sejak terjadinya Perang Falkland pada 1982. Di tahun tersebut, Argentina menginvasi Kepulauan Falkland yang secara geografis masuk dalam wilayah maritim Argentina (hanya sekitar 500 km dari pesisir Patagonia yang merupakan perbatasan antara Argentina dan Chile). Kepulauan ini masih berstatus wilayah koloni Inggris, yang dipertahankan sejak era kolonial.

    Ilustrasi: pexel.com

Sekitar hampir 700 serdadu Argentina tewas dalam pertempuran yang berlangsung 10 pekan. Akibat ketertinggalan dalam hal teknologi persenjataan, Argentina takluk dan tak pernah mengulangi aksi serupa sampai sekarang. Akan tetapi, dendam masih membara di hati rakyat Argentina.

Bagi Maradona, sebagaimana dibeberkannya dalam film dokumenter biografinya, laga Argentina versus Inggris saat itu merupakan peluang untuk membalas dendam. Bukankah wajar bagi bangsa manapun untuk merasa kesal mengetahui kenyataan bahwa mereka tidak berhak atas sebuah tempat yang nyata-nyata berada di wilayah mereka?  

Dendam semacam ini terus bertahan dan tak tergerus roda zaman, bahkan muncul di banyak tempat di seluruh dunia akibat kemunculan banyak peristiwa yang kurang lebih sama. Saking banyaknya, timbul keraguan dalam hati manusia tentang kemampuan mereka mewujudkan apa yang layak mereka dapatkan, akibat harapan tinggi yang tetiba terhempas ke tanah karena tidak sesuai dengan realita.

Dalam kegelapan semacam itulah manusia berusaha mencari pegangan, yang bagi banyak orang disebut agama. Akan tetapi, lentera ini tidak menyala terang di tangan beberapa orang.  Bukan karena lentera yang bermasalah, melainkan kekurangpahaman individu yang bersangkutan untuk memperbaiki sistem pengapian di dalam lentera agar bercahaya lebih terang.

Pembebasan dari tanggung jawab

Bahkan sejak sebelum AI ditemukan untuk mempermudah tugas-tugas kita dalam memenuhi kewajiban, telah muncul pemikiran manusia untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya secara singkat dan cepat. Pemikiran ini muncul didasari oleh pandangan yang menganggap tanggung jawab adalah samsara yang merepotkan dan merupakan halangan bagi manusia untuk menikmati hidup sepuas-puasnya.

“Kami, rakyat Argentina, tidak tahu pasti apa yang sedang dilakukan militer Argentina. Mereka bilang kami menang perang. Tapi kenyataannya, Inggris ibarat menang 20-0 melawan kami. Rasanya menyakitkan. Suasana sebelum pertandingan begitu panas dan heroic, seolah-olah kami akan pergi berperang lagi melawan Inggris,” papar Maradona pada jurnalis yang mewawancarainya dalam film dokumenter Diego Maradona.

“Saya tahu, tangan sayalah yang membuat gol. Saya tidak berniat melakukannya, tapi hakim garis tidak melihat tangan saya menyentuh tangan saya. Wasit memandang saya dan dia bilang ‘Gol’. Rasanya sungguh nikmat, karena ini pembalasan dendam secara simbolis terhadap Inggris.”

Para fans sepak bola mengaitkan sikap Maradona dengan filosofi vivezza criolla, yang secara garis besar  berarti “kelicikan pribumi”. Frasa ini mengacu pada kecenderungan orang-orang pribumi Amerika Selatan untuk menempuh cara apapun demi mencapai tujuan, jika perlu dengan melanggar peraturan yang berlaku.

Handball (pemain selain kiper menyentuh bola dengan tangan) Maradona terjadi di dalam kotak penalti Inggris, maka seharusnya Inggris mendapat hadiah tendangan penalti ke gawang Argentina akibat pelanggaran tersebut. Maradona adalah seorang pesepakbola cerdas yang berlatar belakang religius, sehingga ia membawa Tuhan dalam argumennya tentang gol ‘ilegal’ tersebut.

Akan tetapi, Maradona telah membebaskan dirinya dari samsara yang harus ia tanggung di sepanjang karirnya dengan mengakui kesalahannya. Bahwa bukan ‘tangan Tuhan’, melainkan ‘tangan Diego’-lah yang menciptakan gol.  (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...