Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. Itulah yang pernah dikatakan seorang tokoh sejarah bangsa kami. Setelah menelusuri riwayat hidupnya, ternyata sang tokoh pernah belajar di suatu negara Eropa pada saat negara kami bahkan belum lahir.
Namun, saya tak hendak membicarakan identitas beliau dalam
tulisan ini. Atau apa motif beliau. Atau teori konspirasi. Dalam konteks yang
saya beberkan di bawah ini, mitos-mitos memancing rasa penasaran khalayak
sehingga sering menjadi sumber inspirasi ribuan film seram. Lebih dari itu, mitos
mencerminkan kekhawatiran masyarakat pemilik mitos terhadap sesuatu hal yang
ingin mereka cegah agar tak menjadi kenyataan.
Ketika masyarakat modern mengenal lele raksasa Sungai Mekong
(pangasiandon gigas) sebagai ikan air tawar terbesar dunia yang ramai diekspos
sejak berhasil ditangkap di Thailand pada 2005, masyarakat penganut Aliran
Kepercayaan yang tinggal di sekitar sungai tersebut (Thailand, Laos,
Kamboja) menyucikannya dan menganggapnya sebagai hewan keramat. Ketika seorang
sutradara Thailand memenangi penghargaan Palm d’Or berkat sebuah film indie
“Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives” (2010) yang terinspirasi eksistensi
lele raksasa tersebut, para manusia gua Thailand sudah terlebih dulu
mengabadikannya dalam lukisan di sebuah dinding gua 3000 tahun lalu.
Sungai Mekong mempersatukan berbagai komunitas yang tinggal
di sekitarnya berkat kepedulian dan rasa terima kasih mereka pada air dan alam
seisinya. Mereka menganggap lele raksasa adalah perwujudan roh penjaga sungai
yang wajib dihormati dan dilarang untuk ditangkap. Selain sebagai bentuk terima
kasih pada mata air, sesajen juga dipersembahkan pada para lele raksasa Mekong
sebagai wujud terima kasih atas kesediaan mereka menjaga sungai. Tak lupa diciptakanlah
mitos-mitos agar anak cucu mereka tidak berani menangkap sang ikan suci,
termasuk kisah tentang malapetaka atas siapa pun yang melanggar pantangan ini.
Karena wilayah tersebut subur dan kaya sumber daya alam,
para pendatang dari benua lain tertarik untuk mengeksploitasinya. Sebagai
kompensasi, para pendatang ini menawarkan ilmu pengetahuan dan budaya yang
menawarkan kebebasan dari belenggu aturan-aturan tak masuk akal. Masyarakat
Dataran Sungai Mekong pun berinteraksi dengan ‘kebaruan’ yang ditawarkan para
pendatang, lalu sontak tersadar bahwa selama ini para leluhur mereka ternyata
mengajarkan kesesatan.
Ketika roh penjaga sungai berhasil dibasmi
Apa yang awalnya adalah keinginan untuk dikenal dan diakui
berubah menjadi bencana, setelah berita tentang tertangkapnya sang ikan suci
tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat setempat pun berlomba-lomba menangkapnya
setelah mendapat pencerahan bahwa ikan suci ini tidaklah sesakti yang
digembar-gemborkan para leluhur mereka. Lambat laun, lele raksasa Mekong kian
menyusut jumlahnya.
Bersamaan dengan penurunan populasi lele raksasa, masyarakat
setempat menyaksikan penurunan populasi berbagai jenis ikan lain, walaupun
Sungai Mekong sebenarnya punya kualitas air yang jauh lebih baik dibandingkan
banyak kota di Asia Tenggara (termasuk kota saya).
Setelah dilakukan penelitian,
terungkaplah bahwa ‘sang hantu herbivora’ ternyata menggunakan kekuatannya
untuk membersihkan sungai dengan cara memakan sisa-sisa organisme yang mati dan
membusuk di dasar sungai. Dasar Sungai Mekong telah menjadi ‘hutan ganggang’
yang memakan oksigen bagi makhluk hidup lain di sungai, karena lele raksasa
yang mengonsumsinya semakin tersingkir dari peradaban modern Sungai Mekong. Penjaga
sungai dilenyapkan oleh manusia yang keliru mempersepsikan ‘kesaktian’-nya.
‘Mimpi buruk’ atau kebetulan?
Dahulu kala, di saat habitat Sungai Mekong masih belum
terjamah nafsu manusia, lele raksasa akan bermigrasi
dari Danau Tonle Sap di Kamboja menuju Sungai Mekong di awal musim hujan.
Mereka berenang sejauh 5 km per hari, melewati Phnom Penh dan telaga-telaga
dalam menuju perbatasan Thailand dan Laos untuk bertelur. Setelah menetas,
larva lele raksasa akan dihanyutkan arus ‘pasang’ Sungai Mekong kembali ke
hutan rawa-rawa Kamboja untuk tumbuh besar dan mengulang siklus di atas.
Bersamaan dengan terhentinya siklus tersebut, dunia menyaksikan bagaimana Kamboja mendapat stigma negatif sebagai negara pusat scam terbesar. Tempat di mana ribuan anak muda dari berbagai negara tetangga berangkat mencari nafkah dan beberapa tak pernah kembali. Di saat yang sama, Kamboja dan Thailand bertikai akibat suatu masalah yang diciptakan para pendatang. Laos yang terjebak di tengah-tengah, terpaksa memilih untuk berpihak dan berseberangan dengan Kamboja. Sementara Thailand dihadapkan pada deretan masalah yang timbul akibat overtourism. (dswas)