Kekalahan Brasil 2-3 versus Jepang dalam laga persahabatan di Tokyo, Jepang, Oktober lalu membuat para fans bola tersentak. Jepang belakangan ini memang tengah membaik, tetapi Brasil adalah juara Piala Dunia lima kali. Hasil ini menambah panjang prestasi memble skuad Samba beberapa tahun terakhir sejak kekalahan memalukan mereka dari Jerman di hadapan publik sendiri pada final Piala Dunia 2014.
Kaum bola mania menghubung-hubungkan prestasi buruk Brasil
dengan perilaku para pesepakbolanya yang dikenal hobi pesta bila mereka sedang
berada di puncak prestasi. Neymar Jr., yang pernah masuk daftar 10 besar atlet
terkaya di dunia di usia belasan tahun, terlihat menghadiri 120 pesta selama
bermain di Eropa bersama Barcelona dan Paris St. Germain. Selain itu, ia juga
hobi makan junk food, yang merupakan pantangan bagi atlet mana pun.
Jauh sebelum Neymar, ada Romario. Bintang Brasil dari era
90-an ini juga gila pesta, terutama setelah kemenangan Brasil di Piala Dunia
1994. Romario adalah bintang turnamen dan peraih penghargaan Golden Ball untuk
pemain terbaik Piala Dunia saat itu. Eforia kemenangan membuat Romario lupa
kembali ke Barcelona FC, klubnya saat itu, tepat waktu dan kembali berlatih.
Ini membuat Johan Cruyff (pelatih Barca saat itu) murka dan menjualnya kembali
ke Brasil (Flamengo) beberapa bulan setelah prestasi moncernya di Piala Dunia
1994.
Tanpa batas memanfaatkan anugerah
Selain negara penghasil pesepakbola terbaik dunia, Brasil
juga dikenal berkat kawasan hutan tropis Amazon yang telah dinobatkan sebagai
paru-paru dunia, penghasil 20% oksigen bersih untuk Bumi. Amazon juga tak
tertandingi dalam hal keanekaragaman hayati yang sebagian besar masih belum
diidentifikasi. Sungai Amazon merupakan sungai terpanjang di dunia yang menjadi
sumber penghidupan masyarakat di sekitarnya.
Gelar Situs Warisan Dunia dari UNESCO untuk Amazon tak menghalangi pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva untuk menginisiasi eksplorasi minyak di sekitar kawasan hutan Amazon. Walaupun pemerintah Brasil bersikukuh eksplorasi hanya dilakukan di luar kawasan hutan Amazon dan tidak masuk area konservasi, keputusan ini membuat banyak pihak terhenyak.
Apalagi setelah pemerintah Brasil mengungkapkan secara terus terang bahwa eksplorasi ini dilakukan sebagai upaya mereka memanfaatkan kekayaan alam yang terkandung di wilayah yurisdiksi mereka untuk menghasilkan pendapatan. Bukan sembarang pendapatan, melainkan pendapatan yang akan dimanfaatkan untuk mendanai proses transisi energi ke energi hijau.
Walaupun pernyataan
Presiden Lula terkesan peduli keberlanjutan lingkungan hidup, tetapi masyarakat
adat Amazon menentang rencana tersebut melalui sejumlah aksi protes sejak 2024
hingga sekarang. Mereka merupakan orang-orang yang secara turun temurun tinggal
di kawasan Amazon, menjaga kelestarian rimba terbesar dunia dengan cara yang
telah diajarkan para pendahulu mereka. Pengakuan UNESCO tentang “kesakralan”
hutan Amazon adalah pengakuan terhadap kerja keras mereka.
Bandingkan dengan Amerika Serikat. Walaupun Presiden Amerika
Serikat Donald Trump dengan lantang menuding narasi perubahan iklim dan energi
hijau yang menyertainya adalah scam, masyarakat adat Penduduk Asli Amerika
relatif bernasib lebih baik daripada masyarakat adat Amazon.
Sebagai contoh, pada Juni 2025 lalu pemerintah AS mengakui
telah menjual secara ilegal lahan konservasi Suku Potawatomi di sekitar
1800-an. Lahan itu akhirnya dikembalikan kepada generasi masa kini suku
tersebut setelah dikuasai oleh pemerintah AS selama 200
tahun lamanya.
Mencegah keberlimpahan lenyap tanpa bekas
Berdasarkan data
April 2025, BUMN minyak Brasil, Petrobas, masih menempati urutan teratas dalam
hal produksi minyak dibandingkan negara-negara produsen minyak lainnya, antara
lain, negara tetangganya yaitu Amerika Serikat. Lalu ke mana perginya semua
keuntungan yang dihasilkan oleh BUMN ini, mengapa triliunan dolar yang mereka
hasilkan tidak cukup untuk mendanai misi transisi energi hijau oleh
pemerintahan Lula?
Ini pertanyaan wajar, karena Presiden Lula mengatakan tujuan
pengeboran minyak di sekitar kawasan Amazon adalah guna menambah pendapatan
negaranya.
Keberlimpahan dapat hangus sia-sia tanpa bekas tanpa
pengelolaan saksama. Tak jauh berbeda dengan kisah dua pesepakbola Brasil,
Neymar Jr. dan Romario, yang menyia-nyiakan bakat mereka karena lebih memilih
kebahagiaan sesaat. Bandingkan dengan masyarakat adat Amazon yang selama
puluhan tahun menjauhi hiruk pikuk kehidupan kota, memilih tinggal di tengah
alam agar bisa menjaga kelestariannya.
Kebahagiaan dapat berubah menjadi samsara apabila pada gilirannya
mempersulit seseorang atau suatu bangsa untuk mampu merawat apa yang sudah
ditinggalkan kepada mereka oleh para leluhur. Keberlimpahan memang bisa membuat
kita lupa daratan, menikmati hidup sepuas-puasnya guna merasakan kesenangan
lebih lama. Ketika apa yang kita andalkan untuk merasa bahagia habis tak
bersisa, kita panik, lalu menempuh cara apapun demi merasakan kebahagiaan itu
lagi secepatnya. (dswas)






