Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membubarkan USAID (US Agency for International Development) segera setelah ia dilantik 2025 lalu, mayoritas dunia menyambutnya dengan desah nafas panjang. Betapa tidak, lembaga itu sudah menyalurkan bantuan untuk 130+ negara di seluruh dunia sebagai dukungan pada berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pemeliharaan demokrasi, dll. sejak didirikan pada 1961.
Keputusan Trump membubarkan lembaga ini sebenarnya sangat
masuk akal, antara lain karena AS harus menanggung utang yang sangat besar
akibat fokus pemerintahan berbagai era sebelumnya terhadap perkembangan di
berbagai negara di dunia. Saat didirikan, beberapa negara penerima bantuan sedang
mengalami kondisi sulit akibat berbagai hal, misalnya, bencana alam atau
konflik politik, sehingga kehidupan rakyat mereka terbengkalai.
Namun, beberapa negara penerima bantuan USAID lainnya
sebenarnya ‘baik-baik saja’ saat lembaga tersebut mulai mencairkan dana. Mereka
tidak kaya raya, tetapi tidak mengalami bencana kelaparan atau perang besar.
Sebut saja negara-negara Asia seperti Indonesia, India, China, Bangladesh,
Filipina, dll., seperti yang terlihat di bagan ini. Mirisnya, taraf kehidupan di
negara-negara penerima bantuan juga masih ‘gitu-gitu aja’ sejak saat bantuan
pertama kali ditransfer oleh USAID hingga saat dihentikan.
Kalau Anda mengklik tautan yang saya berikan di atas, akan
terlihat peta dunia berikut nama negara beserta jumlah bantuan yang mereka
terima dari Amerika Serikat. Semakin gelap warna biru suatu negara, semakin
besar bantuan yang diterima negara itu. Saya belum tahu bagaimana pihak Amerika
Serikat mengontrol dan memeriksa sejauh mana efektivitas bantuan yang mereka
salurkan bagi negara penerima. Apakah negara penerima sudah bisa memperbaiki
kehidupan mereka: sudah lebih maju, sehat, terdidik, dan lebih demokratis
setelah mereka menerima bantuan dari Amerika Serikat?
Bila tidak, mengapa tidak diterapkan shock therapy bagi
negara-negara penerima bantuan agar mereka mau memperbaiki situasi mereka? Dan
yang lebih penting mencemaskan lagi adalah, mengapa sebuah negara besar seperti
Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk mengevaluasi sejauh mana uang yang
mereka habiskan benar-benar bermanfaat bagi negara yang mereka pilih untuk
dibantu?
Wajib memberi, wajib menerima
Sebelum kita tiba di zaman modern di mana manusia
mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, di
masa lampau (dan di masa sekarang) para penganut Kepercayaan Asli Siberia
menganggap memohon bantuan adalah sesuatu yang lumrah. Ketika mereka akan
berburu di hutan atau memancing di laut, kondisi alam yang kondusif jelas akan
sangat membantu mereka agar memperoleh apa yang dicari, yaitu binatang buruan
atau ikan untuk disajikan sebagai lauk makan malam keluarga mereka.
Alam mempunyai sifat yang sukar diprediksi. Maka Tengerisme
sebagai salah satu percabangan Kepercayaan Asli Siberia menyusun pedoman yang
mempersiapkan para penganutnya untuk selalu siap menghadapi segala fenomena
alam. Hidup sederhana dan bersedia menjaga kelestarian alam sekitar adalah
beberapa hal kecil yang wajib dijalankan, bukan agar mukjizat datang dan
mengubah hidup mereka.
Dalam logika sederhana, hidup sederhana artinya lebih
sedikit mengonsumsi dan lebih sedikit menghabiskan. Apabila diterapkan
sungguh-sungguh, kelangkaan ikan atau binatang buruan bisa dicegah. Misi
berburu dan memancing berhasil, keluarga di rumah bisa makan lezat setiap hari.
Tengerisme mengenal sesajen, sama seperti banyak kepercayaan
asli lainnya di seluruh dunia. Namun, bagi mereka sesajen lebih bermakna
sebagai pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri dan segala sesuatu yang ada
di dalamnya. Sesajen tak punya arti apa-apa bila tidak dibarengi tingkah laku
sesuai pedoman yang telah disusun nenek moyang mereka.
Tanpa pamrih hanya mitos
Bahkan sebuah badan amal pun punya sederet peraturan bagi
penerima bantuan. Sungguh naif kalau kita percaya 100% pada sebuah entitas yang
menyatakan mereka tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan tanpa mengharap
atau keinginan mendapatkan sesuatu. Seandainya bantuan keuangan yang sangat
murah hati tidak disertai batasan dan aturan tentang cara pemanfaatannya,
jangan bersorak kegirangan.
Setelah sekian puluh tahun hidup susah, Anda mendadak kaya karena bantuan seseorang, lalu mendadak susah lagi karena bantuan itu mendadak hilang. Bersediakaj Anda kembali ke kehidupan lama, kehidupan sebelum menerima bantuan, dengan rela dan tanpa penyesalan, tanpa kegalauan? (dswas).