Riuh rendah dari sektor ekonomi dan finansial tak kunjung usai, sementara alam menunjukkan taringnya dengan beragam fenomena kebencanaan. Mulai dari wabah, gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, hingga kebakaran. Klop sudah.
Saking lengkapnya tantangan hidup yang harus dihadapi
manusia sepanjang 2026, segelintir orang pun bertanya-tanya, “Apakah kiamat
memang sudah dekat?”. “Apakah ini kiamat?” tanya segelintir lainnya.
Bila ya, saya memprediksi tak sedikit orang yang akan
menyambutnya dengan suka cita. Ya, Anda tidak salah membaca. Siapa saja yang
termasuk golongan ini, kita tidak akan pernah tahu. Jangan-jangan orang
terdekat kita sendiri; sanak saudara, teman kerja, tetangga, atau mungkin orang
asing yang duduk di sebelah kita dalam komuter.
Jutaan manusia di Bumi geleng-geleng kepala menonton sepak
terjang para tokoh terkemuka, ketika mereka dibombardir deretan kabar buruk
terkait situasi alam di berbagai penjuru dunia. Seorang kenalan saya
menjelaskan, situasi saat ini sudah terlalu parah untuk diperbaiki.
Andaikata ada niat untuk itu pun, para
inisiatornya mungkin akan bingung mulai dari mana. Antara membenahi mindset manusia atau memperbaiki alam
sekitar, mana yang harus didahulukan. Dua-duanya sudah mengalami kerusakan
parah, sehingga menghancurkannya hingga rata dengan tanah adalah solusi
satu-satunya. Benarkah demikian?
Kiamat terus berputar
Sebagaimana para penganut aliran kepercayaan pada umumnya,
masyarakat Kepercayaan Asli Siberia tidak mengakui adanya Hari Kiamat. Waktu terus
berputar, demikian juga penghidupan. Keduanya tidak bergerak dalam garis lurus
untuk mencapai titik akhir, melainkan siklus yang terus berputar.
Layaknya sesajen yang mereka suguhkan di tepi sungai atau
hutan, dalam satu sampai dua hari masih tampak segar. Hari berikutnya, sesajen
dalam bentuk makanan atau bunga akan mengalami pembusukan hingga akhirnya
kembali ke tanah. Namun, sesajen itu sendiri bukanlah yang terakhir.
Bencana dan sederet kesulitan hidup yang hadir sebagai hasil
ketidakharmonisan diterima dengan tulus. Bukan karena mereka malas berusaha
atau pasrah dan suicidal (ingin lekas
mati).
Memang, ada sebuah periode gelap ketika kasus bunuh diri mengalami
peningkatan di kalangan komunitas adat Siberia. Masa memilukan ini terjadi tak
lama setelah mereka berinteraksi dengan paham-paham dari luar wilayah. Saya
menganggapnya sebagai semacam gegar budaya.
Pengaruh luar tidak dapat dihindari walaupun telah berusaha
keras mengisolasi diri. Maka jalan satu-satunya adalah membangun ‘sel-sel’ baru
yang cukup kuat untuk menyeimbangkan diri dengan pengaruh luar. Bukan sesuatu
yang mudah, memang. Apalagi kapasitas individu komunitas itu sendiri juga
bervariasi.
Namun, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap inilah
satu-satunya cara mereka menghadapi kiamat, yang dalam konteks ini bermakna
peristiwa buruk maha dahsyat. Satu peristiwa buruk yang telah usai akan disusul
peristiwa buruk lagi dan lagi. Akan selalu ada peristiwa buruk yang lebih buruk
dari situasi sebelumnya. Mereka tidak menuntut jawaban untuk pertanyaan “mengapa
kiamat terjadi?”, karena yang mereka butuhkan adalah tindakan nyata.
Hidup itu ‘indah’
Memang terdengar klise, tetapi benar ‘kan? Bersiap
menyongsong Hari Akhir itu memang perlu, karena kita dianjurkan untuk selalu
siap terhadap berbagai kemungkinan. Kita memilih bersiap untuk kemungkinan
terburuk, karena terlalu sering berharap dan kecewa. Akibatnya, kita cenderung
takut menghadapi Hari Kiamat, Hari Akhir, Akhir Zaman, Hari Penghabisan, dsb.
Orang bijak berkata, masa depan akan terbentuk sesuai mindset kita. Apabila kita membiarkan diri kita dikuasai rasa takut akan hari depan, jangan heran memandang sekeliling di mana kita berada dewasa ini. (dswas)