Sabtu, 24 Oktober 2026

Cara Menghadapi ‘Hari Kiamat’

Riuh rendah dari sektor ekonomi dan finansial tak kunjung usai, sementara alam menunjukkan taringnya dengan beragam fenomena kebencanaan. Mulai dari wabah, gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, hingga kebakaran. Klop sudah.

Saking lengkapnya tantangan hidup yang harus dihadapi manusia sepanjang 2026, segelintir orang pun bertanya-tanya, “Apakah kiamat memang sudah dekat?”. “Apakah ini kiamat?” tanya segelintir lainnya.

Bila ya, saya memprediksi tak sedikit orang yang akan menyambutnya dengan suka cita. Ya, Anda tidak salah membaca. Siapa saja yang termasuk golongan ini, kita tidak akan pernah tahu. Jangan-jangan orang terdekat kita sendiri; sanak saudara, teman kerja, tetangga, atau mungkin orang asing yang duduk di sebelah kita dalam komuter.

Jutaan manusia di Bumi geleng-geleng kepala menonton sepak terjang para tokoh terkemuka, ketika mereka dibombardir deretan kabar buruk terkait situasi alam di berbagai penjuru dunia. Seorang kenalan saya menjelaskan, situasi saat ini sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Andaikata ada niat untuk itu pun, para inisiatornya mungkin akan bingung mulai dari mana. Antara membenahi mindset manusia atau memperbaiki alam sekitar, mana yang harus didahulukan. Dua-duanya sudah mengalami kerusakan parah, sehingga menghancurkannya hingga rata dengan tanah adalah solusi satu-satunya. Benarkah demikian?


Ilustrasi: Situs Sumur Windu Kendedes, Polowijen, Malang. 


Kiamat terus berputar

Sebagaimana para penganut aliran kepercayaan pada umumnya, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia tidak mengakui adanya Hari Kiamat. Waktu terus berputar, demikian juga penghidupan. Keduanya tidak bergerak dalam garis lurus untuk mencapai titik akhir, melainkan siklus yang terus berputar.

Layaknya sesajen yang mereka suguhkan di tepi sungai atau hutan, dalam satu sampai dua hari masih tampak segar. Hari berikutnya, sesajen dalam bentuk makanan atau bunga akan mengalami pembusukan hingga akhirnya kembali ke tanah. Namun, sesajen itu sendiri bukanlah yang terakhir. 

Bencana dan sederet kesulitan hidup yang hadir sebagai hasil ketidakharmonisan diterima dengan tulus. Bukan karena mereka malas berusaha atau pasrah dan suicidal (ingin lekas mati).

Memang, ada sebuah periode gelap ketika kasus bunuh diri mengalami peningkatan di kalangan komunitas adat Siberia. Masa memilukan ini terjadi tak lama setelah mereka berinteraksi dengan paham-paham dari luar wilayah. Saya menganggapnya sebagai semacam gegar budaya.

Pengaruh luar tidak dapat dihindari walaupun telah berusaha keras mengisolasi diri. Maka jalan satu-satunya adalah membangun ‘sel-sel’ baru yang cukup kuat untuk menyeimbangkan diri dengan pengaruh luar. Bukan sesuatu yang mudah, memang. Apalagi kapasitas individu komunitas itu sendiri juga bervariasi.

Namun, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap inilah satu-satunya cara mereka menghadapi kiamat, yang dalam konteks ini bermakna peristiwa buruk maha dahsyat. Satu peristiwa buruk yang telah usai akan disusul peristiwa buruk lagi dan lagi. Akan selalu ada peristiwa buruk yang lebih buruk dari situasi sebelumnya. Mereka tidak menuntut jawaban untuk pertanyaan “mengapa kiamat terjadi?”, karena yang mereka butuhkan adalah tindakan nyata.  

 

Hidup itu ‘indah’  

Memang terdengar klise, tetapi benar ‘kan? Bersiap menyongsong Hari Akhir itu memang perlu, karena kita dianjurkan untuk selalu siap terhadap berbagai kemungkinan. Kita memilih bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena terlalu sering berharap dan kecewa. Akibatnya, kita cenderung takut menghadapi Hari Kiamat, Hari Akhir, Akhir Zaman, Hari Penghabisan, dsb.

Orang bijak berkata, masa depan akan terbentuk sesuai mindset kita. Apabila kita membiarkan diri kita dikuasai rasa takut akan hari depan, jangan heran memandang sekeliling di mana kita berada dewasa ini. (dswas)

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...