Sabtu, 31 Oktober 2026

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keuangan Inggris) Iain Macleod mengemukakan pendapatnya tentang stagflasi di depan majelis sidang 17 November 1965. Sektor finansial Inggris saat itu juga menolak pemikiran Macleod, karena mereka tak percaya inflasi dan stagnasi ekonomi bisa terjadi di waktu yang sama.  

“Saat ini kita tengah mengalami dua hal terburuk dari masing-masing sektor – bukan hanya inflasi di satu sisi atau stagnasi di sisi lain. Keduanya terjadi bersamaan,” ujarnya saat itu.

Pemerintah dan Menkeu Inggris kala itu, James Callaghan, membantah pandangan Macleod karena ilmu ekonomi era 1960-1970-an yakin pengangguran dan stagnasi tidak mungkin bisa terhadi bersamaan. Macleod dianggap sedang berilusi. Para ekonom Inggris di masa itu yakin ekonomi mampu menyeimbangkan dirinya sendiri apabila pemerintah mampu mengelola harga dan pendapatan.

Masalahnya, para ekonom Inggris di era 1960-1970-an lupa memperhitungkan satu faktor krusial, yaitu hawa nafsu manusia. Secara teori, semua manusia dan seluruh pemerintahan dapat melewati masa inflasi dengan aman hingga akhirnya tercapailah kestabilan ekonomi. Dengan satu syarat: mereka bersedia menyambut ‘kenormalan baru’ dengan tulus dan ikhlas.

Menurunkan standar hidup yang sudah terlanjur tinggi dengan mengurangi pengeluaran, itulah kenormalan baru yang saya maksud. Rakyat biasa mungkin tidak akan menemui kesulitan berarti untuk memulainya. Namun, bagaimana dengan para pejabat dan anggota Kerajaan Inggris? Mampukah mereka menurunkan standar hidup dari makan tiga kali sehari menjadi dua kali sehari, misalnya?


Ilustrasi: Candi Srigading, Lawang, Malang. 


‘Pergi dan jangan kembali’

Masyarakat penganut kepercayaan tradisional di seluruh belahan dunia menjalankan tata cara yang sekilas aneh di mata kita, orang-orang modern. Asal tahu saja, ada satu prinsip yang mereka pegang teguh, bahkan hingga saat ini: seseorang yang sudah meninggal tidak akan mungkin bangkit lagi.

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia memakamkan jenazah di puncak gunung atau di tengah hutan lebat. Beberapa suku Siberia yang hidup nomaden bahkan berpindah tempat ketika ada anggota mereka yang meninggal. Jenazah mereka tinggalkan jauh-jauh menyiratkan kesediaan mereka untuk melepaskan kepergian si orang yang sudah meninggal, dan mereka tak ingin mendiang mencari mereka.

Masyarakat yang kita anggap terbelakang ini tampaknya sudah mengerti bahwa jenazah yang mengalami proses dekomposisi akan menghasilkan cairan dan bakteri berbahaya untuk kesehatan. Tanah dan air tanah bisa tercemar jika jenazah atau area pemakaman tidak ditempatkan dalam jarak aman.

Maka cukup beralasan bila sejumlah sumber menyebut masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap pemakaman sebagai wilayah terlarang. Tidak boleh ada aktivitas di area tersebut, sehingga tidak ada tempat sakral atau tempat ibadah yang mereka dirikan di pemakaman. Apalagi rumah untuk tempat tinggal. Dan penyebabnya ternyata bukan karena mereka takut sama hantu kuburan. 


Bangkit dari ‘koma’

Bagi cukup banyak orang, stagflasi itu keadaan koma, dalam arti yang sesungguhnya. Bayangkan saja, peluang mendapat penghasilan semakin menyempit ketika biaya hidup melejit ke angkasa dan entah kapan akan mendarat lagi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk keluar dari situ, stuck. Hanya rasa lapar dan haus yang bisa memaksa kita untuk terus bernafas dan bergerak.

Katakanlah stagflasi itu seseorang yang sudah meninggal, maka yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan. Membohongi diri sendiri bahwa si mendiang akan kembali suatu saat nanti sama artinya dengan berpura-pura situasi ekonomi kita sedang baik-baik saja. (dswas).

Sabtu, 24 Oktober 2026

Cara Menghadapi ‘Hari Kiamat’

Riuh rendah dari sektor ekonomi dan finansial tak kunjung usai, sementara alam menunjukkan taringnya dengan beragam fenomena kebencanaan. Mulai dari wabah, gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, hingga kebakaran. Klop sudah.

Saking lengkapnya tantangan hidup yang harus dihadapi manusia sepanjang 2026, segelintir orang pun bertanya-tanya, “Apakah kiamat memang sudah dekat?”. “Apakah ini kiamat?” tanya segelintir lainnya.

Bila ya, saya memprediksi tak sedikit orang yang akan menyambutnya dengan suka cita. Ya, Anda tidak salah membaca. Siapa saja yang termasuk golongan ini, kita tidak akan pernah tahu. Jangan-jangan orang terdekat kita sendiri; sanak saudara, teman kerja, tetangga, atau mungkin orang asing yang duduk di sebelah kita dalam komuter.

Jutaan manusia di Bumi geleng-geleng kepala menonton sepak terjang para tokoh terkemuka, ketika mereka dibombardir deretan kabar buruk terkait situasi alam di berbagai penjuru dunia. Seorang kenalan saya menjelaskan, situasi saat ini sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Andaikata ada niat untuk itu pun, para inisiatornya mungkin akan bingung mulai dari mana. Antara membenahi mindset manusia atau memperbaiki alam sekitar, mana yang harus didahulukan. Dua-duanya sudah mengalami kerusakan parah, sehingga menghancurkannya hingga rata dengan tanah adalah solusi satu-satunya. Benarkah demikian?


Ilustrasi: Situs Sumur Windu Kendedes, Polowijen, Malang. 


Kiamat terus berputar

Sebagaimana para penganut aliran kepercayaan pada umumnya, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia tidak mengakui adanya Hari Kiamat. Waktu terus berputar, demikian juga penghidupan. Keduanya tidak bergerak dalam garis lurus untuk mencapai titik akhir, melainkan siklus yang terus berputar.

Layaknya sesajen yang mereka suguhkan di tepi sungai atau hutan, dalam satu sampai dua hari masih tampak segar. Hari berikutnya, sesajen dalam bentuk makanan atau bunga akan mengalami pembusukan hingga akhirnya kembali ke tanah. Namun, sesajen itu sendiri bukanlah yang terakhir. 

Bencana dan sederet kesulitan hidup yang hadir sebagai hasil ketidakharmonisan diterima dengan tulus. Bukan karena mereka malas berusaha atau pasrah dan suicidal (ingin lekas mati).

Memang, ada sebuah periode gelap ketika kasus bunuh diri mengalami peningkatan di kalangan komunitas adat Siberia. Masa memilukan ini terjadi tak lama setelah mereka berinteraksi dengan paham-paham dari luar wilayah. Saya menganggapnya sebagai semacam gegar budaya.

Pengaruh luar tidak dapat dihindari walaupun telah berusaha keras mengisolasi diri. Maka jalan satu-satunya adalah membangun ‘sel-sel’ baru yang cukup kuat untuk menyeimbangkan diri dengan pengaruh luar. Bukan sesuatu yang mudah, memang. Apalagi kapasitas individu komunitas itu sendiri juga bervariasi.

Namun, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap inilah satu-satunya cara mereka menghadapi kiamat, yang dalam konteks ini bermakna peristiwa buruk maha dahsyat. Satu peristiwa buruk yang telah usai akan disusul peristiwa buruk lagi dan lagi. Akan selalu ada peristiwa buruk yang lebih buruk dari situasi sebelumnya. Mereka tidak menuntut jawaban untuk pertanyaan “mengapa kiamat terjadi?”, karena yang mereka butuhkan adalah tindakan nyata.  

 

Hidup itu ‘indah’  

Memang terdengar klise, tetapi benar ‘kan? Bersiap menyongsong Hari Akhir itu memang perlu, karena kita dianjurkan untuk selalu siap terhadap berbagai kemungkinan. Kita memilih bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena terlalu sering berharap dan kecewa. Akibatnya, kita cenderung takut menghadapi Hari Kiamat, Hari Akhir, Akhir Zaman, Hari Penghabisan, dsb.

Orang bijak berkata, masa depan akan terbentuk sesuai mindset kita. Apabila kita membiarkan diri kita dikuasai rasa takut akan hari depan, jangan heran memandang sekeliling di mana kita berada dewasa ini. (dswas)

Minggu, 18 Oktober 2026

Masalah Ekonomi Singkirkan Kesepian – Benarkah?

Kesepian seorang diri tanpa ada yang menyayangi dan peduli .. Saya jamin kamu tak akan merasakannya kalau bersedia tinggal di Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedesaan, di pulau atau kota mana pun.

Penyebabnya bukan karena orang Indonesia ramah-ramah dan baik hati, bukan. Bukan karena kami senang menolong orang lain atau tetangga yang sedang kesusahan. Bukan juga karena kami punya kebiasaan bergotong royong menyelesaikan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum. Karena kami menganggap semua orang punya derajat yang sama, baik kaya maupun miskin? Ah, bukan itu juga ‘kali.

Sebagaimana pemberitaan media, nama Indonesia mendadak “mendunia” akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah yang memengaruhi keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di area terdampak.

Tidak berarti area yang tidak terdampak kebakaran hutan tidak bebas masalah. Bila bukan banjir, masyarakat harus membiasakan diri dengan cuaca panas, siang dan malam, yang berujung kekeringan dan krisis air. Selain itu, mereka juga perlu membiasakan diri dengan stagflasi global yang berakibat kenaikan seluruh harga dan minimnya lapangan kerja.

Tumpukan masalah yang berpangkal dari masalah ekonomi memaksa mereka untuk lebih fokus, baik dalam bekerja ataupun membelanjakan pendapatan. Yang masih single fokus bertahan hidup, sementara yang sudah berkeluarga fokus mempertahankan hidup keluarganya.

Bagi sebagian besar warga di situasi demikian, waktu berjalan terlalu cepat. Pagi terlalu singkat berubah jadi malam, sementara uang yang dihasilkan belum cukup untuk keperluan mereka.  Bagi mereka, tiada waktu untuk merasa kesepian.  


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuno di Sumber Kalimangun, Randuagung, Malang. 


Warisan kesedihan

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, kesepian bukan saja timbul akibat kebutuhan akan kasih sayang yang kurang atau tidak terpenuhi. Bagi mereka, bermigrasi ke tempat dengan cuaca dan temperatur yang lebih bersahabat tidak serta-merta menjadi solusi untuk cita-cita hidup yang lebih baik dan lebih beradab.

Ada rasa kehilangan dalam benak para pendahulu ketika mereka terpaksa patuh pada larangan menjalankan aktivitas ritual kepercayaan asli di tempat yang baru. Mereka tidak kuasa untuk menolak peraturan baru bukan karena tidak berani melawan. Orang-orang dekat mereka (tetangga, kerabat, saudara/i) telah lebih dulu yakin bahwa kepercayaan asli adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, dengan sederet alasan.

Para tetua komunitas Asli Siberia menyembunyikan homesickness mereka rapat-rapat, sebagai bentuk dukungan untuk generasi di bawah mereka yang menginginkan masa depan lebih cerah. Akan tetapi, beban emosional ini memengaruhi tindak-tanduk mereka sehari-hari, termasuk cara mereka berinteraksi dengan anak dan cucu mereka.   

Dari sinilah rasa kesepian, melankoli yang tak dapat dijelaskan itu diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Lebih dari sekadar identitas yang hilang ketika suatu kelompok masyarakat memutuskan untuk “terlahir kembali” dengan meninggalkan kepercayaan lama mereka.

 

Bebas dari kesepian

Pengakuan pemerintah Rusia atas keberadaan suku-suku tradisional Siberia merupakan salah satu faktor yang menggugah mereka untuk membangun jati diri kembali; untuk mencari jalan pulang menuju kebijaksanaan leluhur yang telah lama ditinggalkan.

Dewasa ini, tak ada lagi rasa takut di benak mereka untuk menyuguhkan sesajen di tepi hutan atau di bawah pohon. Tak ada rasa khawatir soal pertanyaan tamu yang datang ke rumah tentang sesajen yang dipasang di ruang tamu atau meja makan. Mereka bebas dari buruk sangka masyarakat yang tidak menganut kepercayaan yang sama lantaran meninggalkan sesajen di tempat umum.

Mereka juga tak khawatir terhadap hukuman dalam bentuk apa pun di hari akhir nanti. Sesajen yang mereka haturkan bukanlah bentuk perlawanan atau ingkar terhadap Sang Pencipta jagat raya, mengapa harus takut?   (dswas). 

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...