Sabtu, 20 Juni 2026

‘Mental Bantuan’ Awal Kehancuran Segalanya

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membubarkan USAID (US Agency for International Development) segera setelah ia dilantik 2025 lalu, mayoritas dunia menyambutnya dengan desah nafas panjang. Betapa tidak,  lembaga itu sudah menyalurkan bantuan untuk 130+ negara di seluruh dunia sebagai dukungan pada berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pemeliharaan demokrasi, dll. sejak didirikan pada 1961.   

Keputusan Trump membubarkan lembaga ini sebenarnya sangat masuk akal, antara lain karena AS harus menanggung utang yang sangat besar akibat fokus pemerintahan berbagai era sebelumnya terhadap perkembangan di berbagai negara di dunia. Saat didirikan, beberapa negara penerima bantuan sedang mengalami kondisi sulit akibat berbagai hal, misalnya, bencana alam atau konflik politik, sehingga kehidupan rakyat mereka terbengkalai.

Namun, beberapa negara penerima bantuan USAID lainnya sebenarnya ‘baik-baik saja’ saat lembaga tersebut mulai mencairkan dana. Mereka tidak kaya raya, tetapi tidak mengalami bencana kelaparan atau perang besar. Sebut saja negara-negara Asia seperti Indonesia, India, China, Bangladesh, Filipina, dll., seperti yang terlihat di bagan ini. Mirisnya, taraf kehidupan di negara-negara penerima bantuan juga masih ‘gitu-gitu aja’ sejak saat bantuan pertama kali ditransfer oleh USAID hingga saat dihentikan.

Kalau Anda mengklik tautan yang saya berikan di atas, akan terlihat peta dunia berikut nama negara beserta jumlah bantuan yang mereka terima dari Amerika Serikat. Semakin gelap warna biru suatu negara, semakin besar bantuan yang diterima negara itu. Saya belum tahu bagaimana pihak Amerika Serikat mengontrol dan memeriksa sejauh mana efektivitas bantuan yang mereka salurkan bagi negara penerima. Apakah negara penerima sudah bisa memperbaiki kehidupan mereka: sudah lebih maju, sehat, terdidik, dan lebih demokratis setelah mereka menerima bantuan dari Amerika Serikat?

Bila tidak, mengapa tidak diterapkan shock therapy bagi negara-negara penerima bantuan agar mereka mau memperbaiki situasi mereka? Dan yang lebih penting mencemaskan lagi adalah, mengapa sebuah negara besar seperti Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk mengevaluasi sejauh mana uang yang mereka habiskan benar-benar bermanfaat bagi negara yang mereka pilih untuk dibantu? 


Ilustrasi: Pantai Ngliyep, Malang Selatan. 


Wajib memberi, wajib menerima  

Sebelum kita tiba di zaman modern di mana manusia mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, di masa lampau (dan di masa sekarang) para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap memohon bantuan adalah sesuatu yang lumrah. Ketika mereka akan berburu di hutan atau memancing di laut, kondisi alam yang kondusif jelas akan sangat membantu mereka agar memperoleh apa yang dicari, yaitu binatang buruan atau ikan untuk disajikan sebagai lauk makan malam keluarga mereka.

Alam mempunyai sifat yang sukar diprediksi. Maka Tengerisme sebagai salah satu percabangan Kepercayaan Asli Siberia menyusun pedoman yang mempersiapkan para penganutnya untuk selalu siap menghadapi segala fenomena alam. Hidup sederhana dan bersedia menjaga kelestarian alam sekitar adalah beberapa hal kecil yang wajib dijalankan, bukan agar mukjizat datang dan mengubah hidup mereka.

Dalam logika sederhana, hidup sederhana artinya lebih sedikit mengonsumsi dan lebih sedikit menghabiskan. Apabila diterapkan sungguh-sungguh, kelangkaan ikan atau binatang buruan bisa dicegah. Misi berburu dan memancing berhasil, keluarga di rumah bisa makan lezat setiap hari.

Tengerisme mengenal sesajen, sama seperti banyak kepercayaan asli lainnya di seluruh dunia. Namun, bagi mereka sesajen lebih bermakna sebagai pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Sesajen tak punya arti apa-apa bila tidak dibarengi tingkah laku sesuai pedoman yang telah disusun nenek moyang mereka.  

Tanpa pamrih hanya mitos

Bahkan sebuah badan amal pun punya sederet peraturan bagi penerima bantuan. Sungguh naif kalau kita percaya 100% pada sebuah entitas yang menyatakan mereka tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan tanpa mengharap atau keinginan mendapatkan sesuatu. Seandainya bantuan keuangan yang sangat murah hati tidak disertai batasan dan aturan tentang cara pemanfaatannya, jangan bersorak kegirangan.

Setelah sekian puluh tahun hidup susah, Anda mendadak kaya karena bantuan seseorang, lalu mendadak susah lagi karena bantuan itu mendadak hilang. Bersediakaj Anda kembali ke kehidupan lama, kehidupan sebelum menerima bantuan, dengan rela dan tanpa penyesalan, tanpa kegalauan?  (dswas).

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...