Tersedia hadiah uang tunai sekitar $9 juta dolar dari FIFA untuk masing-masing tim peserta Piala Dunia 2026 yang hanya finis di babak penyisihan grup. $11 juta dolar bagi tim yang sampai di babak 32 besar, $15 juta bila sampai babak 16 besar, $19 juta perempat final, juara keempat $27 juta, juara ketiga $29 juta, juara dua $33 juta, dan jawara $50 juta.
Lalu mengapa kita menyaksikan pria-pria dewasa di lapangan
bola meneteskan air mata saat terpaksa menerima kenyataan bahwa mereka kalah
dan gagal maju ke babak berikutnya? Yang jelas bukan karena mereka menangisi
hilangnya hadiah uang tunai. Bukan juga karena kecemasan akan kehilangan
pekerjaan (sekitar 20 pemain Piala Dunia mendapat kontrak baru sebelum turnamen
tersebut berakhir). Mereka berjuang demi meraih sesuatu yang lebih besar dan berharga
daripada uang, tapi tidak mampu mendapatkannya.
Dari sudut pandang saya sebagai pehobi sepak bola, air mata akibat kegagalan itu bukan muncul dari rasa lelah setelah berlarian selama 90 menit nonstop selama beberapa hari tapi hasilnya zonk. Melainkan dari rasa kecewa yang mendalam karena harus mengulang dari nol selama empat tahun berikutnya untuk persiapan, bongkar pasang pemain dan pelatih, lolos kualifikasi, dan seterusnya.
“Badai pasti berlalu”
Masyarakat penganut kepercayaan asli cenderung menjalani
hidup sehari-hari secara sederhana, sehingga mindset yang sama pun diterapkan saat mereka mengalami kekalahan,
kerugian, kehilangan, atau berbagai kesialan lainnya. Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggapnya sebagai sebuah keadaan yang bersifat temporer, alias
tidak menetap, sehingga manusia termotivasi untuk keluar dari ketidaknyamanan
itu.
Sesajen yang mereka suguhkan saat memulihkan diri dari
keterkejutan akibat kegagalan berfungsi sebagai sebuah cara untuk membawa kesadaran
mereka kembali ke waktu nyata. Bukan sebagai cara menarik hati para lelembut
atau kekuatan tak dikenal untuk mendatangkan mukjizat yang membalikkan keadaan
dalam waktu singkat dan sesuai keinginan. Bukankah manusia itu sendiri bukan
entitas pasif, karena mereka bebas mengeksploitasi alam untuk banyak tujuan?
Bagi suku-suku Siberia yang biasa hidup di tengah kerasnya
alam selama berpuluh bahkan beratus tahun, menghadapi kegagalan atau hal yang
tidak diinginkan merupakan bagian yang membentuk spiritualitas mereka.
Kegagalan mendapat hewan buruan atau ikan tangkapan tidak lantas diterima
sebagai sebuah ‘hukuman’ oleh alam, melainkan sebuah keadaan yang bisa terjadi
kapanpun.
Emosi berlebihan sebagai tanggapan atas situasi tersebut
bukanlah solusi untuk memperbaiki keadaan, apalagi menghaturkan sesajen dalam
suasana hati yang tidak stabil. Lantaran kesesatan spiritual rentan terjadi
dalam situasi demikian, mereka wajib menyelesaikan kecamuk dalam hati
masing-masing terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas ibadah. Karena selain
diri mereka sendiri, tidak ada yang bisa menyembuhkannya.
Penghiburan selalu ada
Dalam sepak bola, dan cabang olahraga lainnya, cara
mengobati rasa sedih akibat kekalahan adalah bangkit dan mencoba kembali sampai
berhasil. Meski tak sedikit para atlet dan pesepakbola yang mengalah pada
keadaan, pensiun akibat faktor usia ketika prestasi yang diincar tak juga
terengkuh dalam genggaman. Toh tak sedikit pula dari mereka yang berhasil move on dari kekecewaan dan meraih
banyak hal baru yang tak terduga sebelumnya.
Platform media sosial berhasil menjadi lapangan pekerjaan baru bagi sederet nama yang melegenda dalam sepak bola 90an sampai awal 2000an. Uniknya, mereka yang dulu bermusuhan di lapangan bola malah jadi sahabat di masa tua, sama-sama laris manis berkat podcast yang membahas dan menertawakan kekonyolan diri mereka sendiri di masa muda. (dswas)