Minggu, 28 Juni 2026

Menghindari Kesia-siaan Terbesar Dalam Hidup

“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit (many a little makes a mickle)” adalah prinsip hidup orang-orang sukses macam Oprah Winfrey dan George Soros. Mereka hidup di masa ketika dunia sedang susah-susahnya dan tempat yang berbahaya untuk tumbuh dan berkembang. Kesuksesan mereka dan orang-orang seperti mereka bukan hanya menginspirasi banyak orang. Namun, juga menumbuhkan rasa iri dalam benak tidak sedikit orang, yang karena berbagai faktor tidak mempunyai privilese untuk bisa sesukses orang-orang kaya sejagat raya.   

Kita boleh saja menghakimi orang-orang semacam ini dengan berbagai sebutan, toh hidup mati seseorang urusan masing-masing. Tidak ada kaitan antara kehidupan orang lain dan kehidupan kita beserta keluarga, sehingga apa yang mereka rasakan terhadap perbuatan kita kepada mereka juga bukan tanggung jawab kita. Ya atau tidak, mana jawaban yang paling berasal dari lubuk hati terdalam?

Saya menilai sikap semacam ini sebagai sebuah kesia-siaan, pemborosan terbesar dalam hidup. Mengapa? Tidak selalu perasaan senang hati yang timbul dari pilihan untuk bersikap seperti ini. Sampah-sampah hati yang bernama rasa sedih, kesal, marah, benci, malu, dan sederet perasaan negatif lainnya lebih sering muncul sebagai hasilnya.

Di sisi lain, sampah adalah masalah terbesar yang harus diatasi manusia saat ini. Alih-alih mengirim bom nuklir, sebuah negara dapat menghancurkan peradaban negara lain dengan mengirim sampah. Bukan saja sampah dalam pengertian sesuatu yang kotor dan berbau, melainkan juga ‘sampah’ dalam bentuk hasil turunan suatu produk. Misalnya, plastik yang merupakan bentuk turunan ke sekian daripada minyak dan gas bumi. 


Ilustrasi: Punden Mojorejo, Dau, Malang. 


‘Kuras’ sampai habis

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket, yang tinggal di Siberia, Rusia, menggantungkan kehidupan mereka pada alam dalam segala hal; hutan sebagai penghasil bahan bangunan untuk mendirikan rumah, laut dan danau sebagai penghasil ikan untuk santapan keluarga. Mengambil dari alam bukanlah sesuatu yang dilarang, tetapi penuh perhitungan agar bisa menyambut masa depan dengan kebahagiaan dan bukan kecemasan.

Selain melakukan upacara permohonan izin sebelum berbuat sesuatu di alam, tebang pilih dan selektif dalam berburu, ada satu prinsip krusial yang tidak mereka tinggalkan. Yaitu, memanfaatkan segala sesuatu yang mereka ambil dari alam semaksimal mungkin hingga tak bersisa agar tidak menimbulkan timbunan sampah.

Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Ket, binatang dan tumbuhan yang mereka santap atau manfaatkan adalah anugerah dari alam. Menyia-nyiakan sisa-sisanya sama artinya dengan tidak menghargai jerih payah mereka sendiri, apalagi bila sampai membuang sisa-sisa jeroan binatang, atau ikan yang sudah membusuk ke sungai atau danau. Bahkan kulit dan tulang beruang atau rusa bisa mereka ubah jadi bahan tenda. pakaian, atau gagang pisau.

Jauh sebelum orang-orang di desa saya sibuk mengumpulkan sampah plastik untuk ditukar uang receh di bank sampah, masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket sudah menemukan cara untuk hidup minimal tanpa sampah. Karena bagi mereka ‘nyampah’ adalah perbuatan yang sangat dibenci para leluhur. Ironisnya, kita baru memahami alasan di balik prinsip kepercayaan ini setelah lautan sampah menjadi bukit dan menciptakan longsor yang menelan korban jiwa.

Sampah yang paling mudah didaur ulang

Jadi sudah paham ‘kan mengapa sampah hati adalah sampah yang paling mudah kita daur ulang? Kesulitan ekonomi membuat jutaan orang di dunia ini sangat rentan mengalami perasaan tertekan. Ada 90% kemungkinan kita akan bertemu salah satu dari mereka dalam kehidupan sehari, entah di jalan, di sekolah, tempat kerja, pasar, dll. Walaupun kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dirasakan orang lain, karena seluruh manusia itu lahir dan mati dalam keadaan sendiri dan tidak mengajak siapa pun. (dswas). 

Sabtu, 20 Juni 2026

‘Mental Bantuan’ Awal Kehancuran Segalanya

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membubarkan USAID (US Agency for International Development) segera setelah ia dilantik 2025 lalu, mayoritas dunia menyambutnya dengan desah nafas panjang. Betapa tidak,  lembaga itu sudah menyalurkan bantuan untuk 130+ negara di seluruh dunia sebagai dukungan pada berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pemeliharaan demokrasi, dll. sejak didirikan pada 1961.   

Keputusan Trump membubarkan lembaga ini sebenarnya sangat masuk akal, antara lain karena AS harus menanggung utang yang sangat besar akibat fokus pemerintahan berbagai era sebelumnya terhadap perkembangan di berbagai negara di dunia. Saat didirikan, beberapa negara penerima bantuan sedang mengalami kondisi sulit akibat berbagai hal, misalnya, bencana alam atau konflik politik, sehingga kehidupan rakyat mereka terbengkalai.

Namun, beberapa negara penerima bantuan USAID lainnya sebenarnya ‘baik-baik saja’ saat lembaga tersebut mulai mencairkan dana. Mereka tidak kaya raya, tetapi tidak mengalami bencana kelaparan atau perang besar. Sebut saja negara-negara Asia seperti Indonesia, India, China, Bangladesh, Filipina, dll., seperti yang terlihat di bagan ini. Mirisnya, taraf kehidupan di negara-negara penerima bantuan juga masih ‘gitu-gitu aja’ sejak saat bantuan pertama kali ditransfer oleh USAID hingga saat dihentikan.

Kalau Anda mengklik tautan yang saya berikan di atas, akan terlihat peta dunia berikut nama negara beserta jumlah bantuan yang mereka terima dari Amerika Serikat. Semakin gelap warna biru suatu negara, semakin besar bantuan yang diterima negara itu. Saya belum tahu bagaimana pihak Amerika Serikat mengontrol dan memeriksa sejauh mana efektivitas bantuan yang mereka salurkan bagi negara penerima. Apakah negara penerima sudah bisa memperbaiki kehidupan mereka: sudah lebih maju, sehat, terdidik, dan lebih demokratis setelah mereka menerima bantuan dari Amerika Serikat?

Bila tidak, mengapa tidak diterapkan shock therapy bagi negara-negara penerima bantuan agar mereka mau memperbaiki situasi mereka? Dan yang lebih penting mencemaskan lagi adalah, mengapa sebuah negara besar seperti Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk mengevaluasi sejauh mana uang yang mereka habiskan benar-benar bermanfaat bagi negara yang mereka pilih untuk dibantu? 


Ilustrasi: Pantai Ngliyep, Malang Selatan. 


Wajib memberi, wajib menerima  

Sebelum kita tiba di zaman modern di mana manusia mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, di masa lampau (dan di masa sekarang) para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap memohon bantuan adalah sesuatu yang lumrah. Ketika mereka akan berburu di hutan atau memancing di laut, kondisi alam yang kondusif jelas akan sangat membantu mereka agar memperoleh apa yang dicari, yaitu binatang buruan atau ikan untuk disajikan sebagai lauk makan malam keluarga mereka.

Alam mempunyai sifat yang sukar diprediksi. Maka Tengerisme sebagai salah satu percabangan Kepercayaan Asli Siberia menyusun pedoman yang mempersiapkan para penganutnya untuk selalu siap menghadapi segala fenomena alam. Hidup sederhana dan bersedia menjaga kelestarian alam sekitar adalah beberapa hal kecil yang wajib dijalankan, bukan agar mukjizat datang dan mengubah hidup mereka.

Dalam logika sederhana, hidup sederhana artinya lebih sedikit mengonsumsi dan lebih sedikit menghabiskan. Apabila diterapkan sungguh-sungguh, kelangkaan ikan atau binatang buruan bisa dicegah. Misi berburu dan memancing berhasil, keluarga di rumah bisa makan lezat setiap hari.

Tengerisme mengenal sesajen, sama seperti banyak kepercayaan asli lainnya di seluruh dunia. Namun, bagi mereka sesajen lebih bermakna sebagai pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Sesajen tak punya arti apa-apa bila tidak dibarengi tingkah laku sesuai pedoman yang telah disusun nenek moyang mereka.  

Tanpa pamrih hanya mitos

Bahkan sebuah badan amal pun punya sederet peraturan bagi penerima bantuan. Sungguh naif kalau kita percaya 100% pada sebuah entitas yang menyatakan mereka tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan tanpa mengharap atau keinginan mendapatkan sesuatu. Seandainya bantuan keuangan yang sangat murah hati tidak disertai batasan dan aturan tentang cara pemanfaatannya, jangan bersorak kegirangan.

Setelah sekian puluh tahun hidup susah, Anda mendadak kaya karena bantuan seseorang, lalu mendadak susah lagi karena bantuan itu mendadak hilang. Bersediakaj Anda kembali ke kehidupan lama, kehidupan sebelum menerima bantuan, dengan rela dan tanpa penyesalan, tanpa kegalauan?  (dswas).

Minggu, 14 Juni 2026

Kaitan Antara Kesabaran dan Kesejahteraan

Permainan sepak bola pada dasarnya adalah upaya 10 orang dalam satu tim (minus penjaga gawang) menggiring bola di tanah lapang sepanjang 105 meter untuk memasukkannya ke gawang lawan, yang dilakukan secara terus menerus meski mereka berulang kali gagal. Kabar baiknya, mereka punya waktu selama 90 menit untuk mencoba, yang bisa diperpanjang selama 30 menit. 

Artinya, seorang pesepakbola sudah semestinya merupakan sosok penyabar, karena pemenang bisa saja tidak dapat ditentukan bahkan setelah 120 menit habis untuk berlarian mengejar bola. Kesabaran juga dibutuhkan para suporter yang harus rela menyisihkan uang demi memberikan dukungan semangat  buat tim kesayangan mereka, di mana pun mereka ‘pentas’.

Sementara suporter yang tidak bisa hadir di stadion harus rela bangun di tengah malam, mengorbankan jam tidur mereka demi menyaksikan laga para bintang kesayangan mereka. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir mengapa ada pemain maupun penonton yang terlibat adu fisik gara-gara sepak bola.

Mungkin lantaran pemberitaan media tentang gemerlap kehidupan para selebritis sepak bola dan kekayaan mereka berhasil menyembunyikan fakta bahwa betapa besarnya kesabaran yang perlu dimiliki untuk bisa mengantar tim mereka jadi juara. Ironisnya, pemberitaan semacam inilah yang justru laris karena kita menganggapnya lebih enak ‘dimakan’.

Hal ini tidak lain karena manusia membutuhkan tempat pelarian dari getirnya kenyataan hidup, suatu hal yang sah-sah saja sebab tidak melanggar hukum dan undang-undang. Yang kita langgar adalah hak kita sendiri untuk hidup tenang dan terbebas dari penderitaan batin, alias stress. 


Ilustrasi: Bunga wijayakusuma (fishbone cactus) mekar beberapa detik saja di malam hari,
sebelum menguncup kembali dan layu di pagi hari. 


Adaptasi implementasi kesabaran

Sabar tidaklah semudah mengobral kata tentang sabar itu sendiri. Bagaimana kalau kita belajar tentang sabar kepada masyarakat suku tradisional Siberia? Di tengah suhu sekian puluh minus derajat Celcius yang membekukan segalanya, di sebuah tempat di Bumi di mana salju dan es membentang sejauh mata memandang, di sanalah mereka tinggal berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, suhu ekstrem tak membekukan kehalusan perasaan, juga akal budi mereka. Ini dibuktikan dengan adanya Kepercayaan Asli Siberia yang salah satu ajarannya adalah tentang sabar mengamati arah gerak alam sekitar, sebelum memutuskan ke arah mana tangan dan kaki bergerak demi tujuan mencapai kesejahteraan hidup di tengah situasi yang menantang akal sehat.

Berbeda dari masyarakat perkotaan, masyarakat asli Siberia tidak setiap saat pergi berburu beruang atau menangkap ikan di sungai. Kesabaran mereka menanti saat yang tepat untuk segala aktivitas eksploitasi alam merupakan bentuk penerapan ilmu manajemen sumber daya alam dalam kehidupan nyata. Faktanya, segala kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern umumnya berpangkal dari ketidaksabaran.

Kesabaran yang diajarkan Kepercayaan Asli Siberia bukanlah soal penantian yang pasif, bukan pasrah mengikuti arah angin bertiup. Melainkan lebih tentang kerelaan untuk senantiasa menyamankan diri dengan perubahan situasi, sembari tidak kehilangan fokus dalam memelihara keharmonisan dengan sesama maupun alam sekitar.  

Sebagai komunitas nomaden, masyarakat asli Siberia bisa saja bermigrasi ke wilayah lain yang lebih hangat, lebih hijau, dengan temperatur yang lebih bersahabat. Namun, bersenjatakan pengetahuan mendalam tentang alam sekitar, para leluhur mereka memilih bertahan di tengah suhu ekstrem Kutub Utara dari generasi ke generasi, dan berhasil survive hingga saat ini.

Dampak jalan pintas

Adalah wajar jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih dalam hidup. Bukankah tanpa ambisi seseorang, tidak mungkin ada internet di antara kita? Namun, internet diciptakan melalui proses panjang selama bertahun-tahun. Sementara manusia modern lebih mengutamakan cara-cara mudah dan cepat untuk bisa memegang uang dalam genggamannya.

Herannya, semakin mudah kita mendapat uang hari ini, semakin berbelit dampak ikutan yang musti kita hadapi di belakang hari.  Semakin mudah dan cepat kita menjual lahan pertanian milik keluarga, mengapa semakin cepat ludes pula uang yang kita dapat? (contoh)

Jalan pintas memang bisa membawa kesejahteraan, walaupun hanya sebentar. 

Minggu, 07 Juni 2026

Memelihara Rejeki Agar Tak Pernah Habis

Karena tiada yang abadi di dunia ini, segalanya pasti akan habis, berakhir, atau mati. Kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini bukan sekadar retorika, melainkan realita. Sebuah dinasti bisa jatuh bangkrut, negara makmur bisa tenggelam akibat utang, sumber daya alam melimpah bisa licin tandas, dan sumber air juga bisa berhenti mengalir. Kita cenderung menanggapi titik akhir dengan kepanikan, padahal kematian adalah suatu hal alamiah yang bisa menimpa siapa saja.

Bagi mereka yang sudah ditempa pengalaman maupun ilmu institusi pendidikan formal, manajemen adalah kunci untuk mencegah ‘kiamat’ agar tak menjadi kenyataan. Sebagian besar orang cenderung menganggap meskipun berhemat adalah cara memperpanjang persediaan sumber yang kita miliki, baik yang berwujud sumber daya alam maupun sumber keuangan. Tidak sulit dilakukan meski harus ‘berkorban’.

Hingga saat ini, kita belum bisa benar-benar mengimplementasikan langkah-langkah yang bisa memperbanyak debit air suatu mata air, misalnya, atau menemukan sebuah metode untuk menambah cadangan minyak bumi dan gas. Dalam perspektif sebagian besar manusia, alam sekitar hanyalah benda mati untuk dieksploitasi sampai kering kerontang. Belum terbit gagasan dalam benak para cendekiawan sejagat untuk mengganti apa yang sudah mereka ambil, apalagi memelihara suatu sumber daya alam agar terus mengalirkan rejeki untuk manusia.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 



Disiplin menghargai alam   

Kebiasaan meminta izin pada alam sekitar sebelum mengambil atau mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya tidak mudah dilakukan ketika orang-orang di sekitar kita tidak menjalankannya. Apalagi bagi para penganut Kepercayaan Tradisional Dvoieverie, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan Ukraina dan Rusia serta menjadi bagian dari angkatan perang masing-masing kubu.

Demi tugas negara, mereka tinggal di rimba belantara hingga berbulan-bulan. Mereka berteman kesunyian dan mau tidak mau mendapat perlindungan dari pepohonan, makanan, minuman, bahkan obat-obatan dari segala yang ada di hutan. Di tengah tekanan itu mereka menyadari kemurahan hati alam sekitar, meski mereka ‘tidak datang dengan damai’ sebagaimana sekelompok pemburu yang berburu kelinci di hutan.

Tanpa aba-aba, perintah, instruksi, maupun komando, para penganut Dvoieverie di kalangan militer Ukraina dan Rusia mempunyai kebiasaan meninggalkan sesajen di tepi hutan atau mata air, sebelum mereka masuk ke dalam hutan, mengambil air, memancing, berburu, atau mengambil apa pun di sana. Selain sebagai simbolisasi permohonan izin dan ucapan terima kasih pada alam sekitar, sesajen juga merupakan bentuk pengorbanan yang hanya dapat terwujud berkat adanya kedisiplinan diri.  

Karena kedua pihak sama-sama membutuhkan rimba sebagai tempat bersembunyi, mereka tidak mengizinkan siapa pun, kecuali kubu tentara swasta, untuk memasuki area hutan di sekitar perbatasan Ukraina dan Rusia. Konflik berkepanjangan menjadi satu-satunya hal yang membuat kawasan ini terhindar dari tangan para korporasi global haus darah.

Berhemat bukan satu-satunya cara

Ya, berhemat bukan satu-satunya jalan yang musti kita tempuh untuk menjaga kontinuitas segala keberlimpahan alam. Alih-alih cara bertahan hidup, berhemat justru akan menjadi sumber kesedihan dan keterpurukan kita ketika kita menjalankannya dengan penuh keterpaksaan. Apalagi bila kita belum dapat menyingkirkan keinginan untuk ‘menikmati hidup yang senikmat dahulu kala’, karena, yah, masa lalu tidak akan pernah kembali.

Sebelum mampu memelihara alam dan menikmati hasil upaya tersebut, kerendahan hati untuk ‘memanusiakan’ alam wajib muncul terlebih dulu. Bila tidak, itu bukan masalah besar. Yang jadi masalah besar adalah ketika suatu saat mata air berhenti mengalirkan air, cuaca panas akibat habisnya kawasan hijau, atau hal-hal sepele lainnya yang mendadak hilang dan tak bisa lagi kita nikmati. (dswas).

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...