Minggu, 14 Juni 2026

Kaitan Antara Kesabaran dan Kesejahteraan

Permainan sepak bola pada dasarnya adalah upaya 10 orang dalam satu tim (minus penjaga gawang) menggiring bola di tanah lapang sepanjang 105 meter untuk memasukkannya ke gawang lawan, yang dilakukan secara terus menerus meski mereka berulang kali gagal. Kabar baiknya, mereka punya waktu selama 90 menit untuk mencoba, yang bisa diperpanjang selama 30 menit. 

Artinya, seorang pesepakbola sudah semestinya merupakan sosok penyabar, karena pemenang bisa saja tidak dapat ditentukan bahkan setelah 120 menit habis untuk berlarian mengejar bola. Kesabaran juga dibutuhkan para suporter yang harus rela menyisihkan uang demi memberikan dukungan semangat  buat tim kesayangan mereka, di mana pun mereka ‘pentas’.

Sementara suporter yang tidak bisa hadir di stadion harus rela bangun di tengah malam, mengorbankan jam tidur mereka demi menyaksikan laga para bintang kesayangan mereka. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir mengapa ada pemain maupun penonton yang terlibat adu fisik gara-gara sepak bola.

Mungkin lantaran pemberitaan media tentang gemerlap kehidupan para selebritis sepak bola dan kekayaan mereka berhasil menyembunyikan fakta bahwa betapa besarnya kesabaran yang perlu dimiliki untuk bisa mengantar tim mereka jadi juara. Ironisnya, pemberitaan semacam inilah yang justru laris karena kita menganggapnya lebih enak ‘dimakan’.

Hal ini tidak lain karena manusia membutuhkan tempat pelarian dari getirnya kenyataan hidup, suatu hal yang sah-sah saja sebab tidak melanggar hukum dan undang-undang. Yang kita langgar adalah hak kita sendiri untuk hidup tenang dan terbebas dari penderitaan batin, alias stress. 


Ilustrasi: Bunga wijayakusuma (fishbone cactus) mekar beberapa detik saja di malam hari,
sebelum menguncup kembali dan layu di pagi hari. 


Adaptasi implementasi kesabaran

Sabar tidaklah semudah mengobral kata tentang sabar itu sendiri. Bagaimana kalau kita belajar tentang sabar kepada masyarakat suku tradisional Siberia? Di tengah suhu sekian puluh minus derajat Celcius yang membekukan segalanya, di sebuah tempat di Bumi di mana salju dan es membentang sejauh mata memandang, di sanalah mereka tinggal berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, suhu ekstrem tak membekukan kehalusan perasaan, juga akal budi mereka. Ini dibuktikan dengan adanya Kepercayaan Asli Siberia yang salah satu ajarannya adalah tentang sabar mengamati arah gerak alam sekitar, sebelum memutuskan ke arah mana tangan dan kaki bergerak demi tujuan mencapai kesejahteraan hidup di tengah situasi yang menantang akal sehat.

Berbeda dari masyarakat perkotaan, masyarakat asli Siberia tidak setiap saat pergi berburu beruang atau menangkap ikan di sungai. Kesabaran mereka menanti saat yang tepat untuk segala aktivitas eksploitasi alam merupakan bentuk penerapan ilmu manajemen sumber daya alam dalam kehidupan nyata. Faktanya, segala kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern umumnya berpangkal dari ketidaksabaran.

Kesabaran yang diajarkan Kepercayaan Asli Siberia bukanlah soal penantian yang pasif, bukan pasrah mengikuti arah angin bertiup. Melainkan lebih tentang kerelaan untuk senantiasa menyamankan diri dengan perubahan situasi, sembari tidak kehilangan fokus dalam memelihara keharmonisan dengan sesama maupun alam sekitar.  

Sebagai komunitas nomaden, masyarakat asli Siberia bisa saja bermigrasi ke wilayah lain yang lebih hangat, lebih hijau, dengan temperatur yang lebih bersahabat. Namun, bersenjatakan pengetahuan mendalam tentang alam sekitar, para leluhur mereka memilih bertahan di tengah suhu ekstrem Kutub Utara dari generasi ke generasi, dan berhasil survive hingga saat ini.

Dampak jalan pintas

Adalah wajar jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih dalam hidup. Bukankah tanpa ambisi seseorang, tidak mungkin ada internet di antara kita? Namun, internet diciptakan melalui proses panjang selama bertahun-tahun. Sementara manusia modern lebih mengutamakan cara-cara mudah dan cepat untuk bisa memegang uang dalam genggamannya.

Herannya, semakin mudah kita mendapat uang hari ini, semakin berbelit dampak ikutan yang musti kita hadapi di belakang hari.  Semakin mudah dan cepat kita menjual lahan pertanian milik keluarga, mengapa semakin cepat ludes pula uang yang kita dapat? (contoh)

Jalan pintas memang bisa membawa kesejahteraan, walaupun hanya sebentar. 

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...