Permainan sepak bola pada dasarnya adalah upaya 10 orang dalam satu tim (minus penjaga gawang) menggiring bola di tanah lapang sepanjang 105 meter untuk memasukkannya ke gawang lawan, yang dilakukan secara terus menerus meski mereka berulang kali gagal. Kabar baiknya, mereka punya waktu selama 90 menit untuk mencoba, yang bisa diperpanjang selama 30 menit.
Artinya, seorang pesepakbola sudah semestinya merupakan
sosok penyabar, karena pemenang bisa saja tidak dapat ditentukan bahkan setelah
120 menit habis untuk berlarian mengejar bola. Kesabaran juga dibutuhkan para
suporter yang harus rela menyisihkan uang demi memberikan dukungan
semangat buat tim kesayangan mereka, di
mana pun mereka ‘pentas’.
Sementara suporter yang tidak bisa hadir di stadion harus
rela bangun di tengah malam, mengorbankan jam tidur mereka demi menyaksikan
laga para bintang kesayangan mereka. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir
mengapa ada pemain maupun penonton yang terlibat adu fisik gara-gara sepak
bola.
Mungkin lantaran pemberitaan media tentang gemerlap
kehidupan para selebritis sepak bola dan kekayaan mereka berhasil
menyembunyikan fakta bahwa betapa besarnya kesabaran yang perlu dimiliki untuk
bisa mengantar tim mereka jadi juara. Ironisnya, pemberitaan semacam inilah
yang justru laris karena kita menganggapnya lebih enak ‘dimakan’.
Hal ini tidak lain karena manusia membutuhkan tempat
pelarian dari getirnya kenyataan hidup, suatu hal yang sah-sah saja sebab tidak
melanggar hukum dan undang-undang. Yang kita langgar adalah hak kita sendiri
untuk hidup tenang dan terbebas dari penderitaan batin, alias stress.
Adaptasi implementasi kesabaran
Sabar tidaklah semudah mengobral kata tentang sabar itu
sendiri. Bagaimana kalau kita belajar tentang sabar kepada masyarakat suku
tradisional Siberia? Di tengah suhu sekian puluh minus derajat Celcius yang
membekukan segalanya, di sebuah tempat di Bumi di mana salju dan es membentang
sejauh mata memandang, di sanalah mereka tinggal berabad-abad lamanya.
Akan tetapi, suhu ekstrem tak membekukan kehalusan perasaan,
juga akal budi mereka. Ini dibuktikan dengan adanya Kepercayaan Asli Siberia
yang salah satu ajarannya adalah tentang sabar mengamati arah gerak alam
sekitar, sebelum memutuskan ke arah mana tangan dan kaki bergerak demi tujuan
mencapai kesejahteraan hidup di tengah situasi yang menantang akal sehat.
Berbeda dari masyarakat perkotaan, masyarakat asli Siberia
tidak setiap saat pergi berburu beruang atau menangkap ikan di sungai. Kesabaran
mereka menanti saat yang tepat untuk segala aktivitas eksploitasi alam
merupakan bentuk penerapan ilmu manajemen sumber daya alam dalam kehidupan
nyata. Faktanya, segala kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern
umumnya berpangkal dari ketidaksabaran.
Kesabaran yang diajarkan Kepercayaan Asli Siberia bukanlah
soal penantian yang pasif, bukan pasrah mengikuti arah angin bertiup. Melainkan
lebih tentang kerelaan untuk senantiasa menyamankan diri dengan perubahan
situasi, sembari tidak kehilangan fokus dalam memelihara keharmonisan dengan sesama
maupun alam sekitar.
Sebagai komunitas nomaden, masyarakat asli Siberia bisa saja
bermigrasi ke wilayah lain yang lebih hangat, lebih hijau, dengan temperatur
yang lebih bersahabat. Namun, bersenjatakan pengetahuan mendalam tentang alam
sekitar, para leluhur mereka memilih bertahan di tengah suhu ekstrem Kutub
Utara dari generasi ke generasi, dan berhasil survive hingga saat ini.
Dampak jalan pintas
Adalah wajar jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih
dalam hidup. Bukankah tanpa ambisi seseorang, tidak mungkin ada internet di
antara kita? Namun, internet diciptakan melalui proses panjang selama
bertahun-tahun. Sementara manusia modern lebih mengutamakan cara-cara mudah dan
cepat untuk bisa memegang uang dalam genggamannya.
Herannya, semakin mudah kita mendapat uang hari ini, semakin
berbelit dampak ikutan yang musti kita hadapi di belakang hari. Semakin mudah dan cepat kita menjual lahan
pertanian milik keluarga, mengapa semakin cepat ludes pula uang yang kita dapat?
(contoh)
Jalan pintas memang bisa membawa kesejahteraan, walaupun hanya sebentar.