Minggu, 18 Oktober 2026

Masalah Ekonomi Singkirkan Kesepian – Benarkah?

Kesepian seorang diri tanpa ada yang menyayangi dan peduli .. Saya jamin kamu tak akan merasakannya kalau bersedia tinggal di Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedesaan, di pulau atau kota mana pun.

Penyebabnya bukan karena orang Indonesia ramah-ramah dan baik hati, bukan. Bukan karena kami senang menolong orang lain atau tetangga yang sedang kesusahan. Bukan juga karena kami punya kebiasaan bergotong royong menyelesaikan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum. Karena kami menganggap semua orang punya derajat yang sama, baik kaya maupun miskin? Ah, bukan itu juga ‘kali.

Sebagaimana pemberitaan media, nama Indonesia mendadak “mendunia” akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah yang memengaruhi keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di area terdampak.

Tidak berarti area yang tidak terdampak kebakaran hutan tidak bebas masalah. Bila bukan banjir, masyarakat harus membiasakan diri dengan cuaca panas, siang dan malam, yang berujung kekeringan dan krisis air. Selain itu, mereka juga perlu membiasakan diri dengan stagflasi global yang berakibat kenaikan seluruh harga dan minimnya lapangan kerja.

Tumpukan masalah yang berpangkal dari masalah ekonomi memaksa mereka untuk lebih fokus, baik dalam bekerja ataupun membelanjakan pendapatan. Yang masih single fokus bertahan hidup, sementara yang sudah berkeluarga fokus mempertahankan hidup keluarganya.

Bagi sebagian besar warga di situasi demikian, waktu berjalan terlalu cepat. Pagi terlalu singkat berubah jadi malam, sementara uang yang dihasilkan belum cukup untuk keperluan mereka.  Bagi mereka, tiada waktu untuk merasa kesepian.  


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuno di Sumber Kalimangun, Randuagung, Malang. 


Warisan kesedihan

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, kesepian bukan saja timbul akibat kebutuhan akan kasih sayang yang kurang atau tidak terpenuhi. Bagi mereka, bermigrasi ke tempat dengan cuaca dan temperatur yang lebih bersahabat tidak serta-merta menjadi solusi untuk cita-cita hidup yang lebih baik dan lebih beradab.

Ada rasa kehilangan dalam benak para pendahulu ketika mereka terpaksa patuh pada larangan menjalankan aktivitas ritual kepercayaan asli di tempat yang baru. Mereka tidak kuasa untuk menolak peraturan baru bukan karena tidak berani melawan. Orang-orang dekat mereka (tetangga, kerabat, saudara/i) telah lebih dulu yakin bahwa kepercayaan asli adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, dengan sederet alasan.

Para tetua komunitas Asli Siberia menyembunyikan homesickness mereka rapat-rapat, sebagai bentuk dukungan untuk generasi di bawah mereka yang menginginkan masa depan lebih cerah. Akan tetapi, beban emosional ini memengaruhi tindak-tanduk mereka sehari-hari, termasuk cara mereka berinteraksi dengan anak dan cucu mereka.   

Dari sinilah rasa kesepian, melankoli yang tak dapat dijelaskan itu diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Lebih dari sekadar identitas yang hilang ketika suatu kelompok masyarakat memutuskan untuk “terlahir kembali” dengan meninggalkan kepercayaan lama mereka.

 

Bebas dari kesepian

Pengakuan pemerintah Rusia atas keberadaan suku-suku tradisional Siberia merupakan salah satu faktor yang menggugah mereka untuk membangun jati diri kembali; untuk mencari jalan pulang menuju kebijaksanaan leluhur yang telah lama ditinggalkan.

Dewasa ini, tak ada lagi rasa takut di benak mereka untuk menyuguhkan sesajen di tepi hutan atau di bawah pohon. Tak ada rasa khawatir soal pertanyaan tamu yang datang ke rumah tentang sesajen yang dipasang di ruang tamu atau meja makan. Mereka bebas dari buruk sangka masyarakat yang tidak menganut kepercayaan yang sama lantaran meninggalkan sesajen di tempat umum.

Mereka juga tak khawatir terhadap hukuman dalam bentuk apa pun di hari akhir nanti. Sesajen yang mereka haturkan bukanlah bentuk perlawanan atau ingkar terhadap Sang Pencipta jagat raya, mengapa harus takut?   (dswas). 

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...