Kesepian seorang diri tanpa ada yang menyayangi dan peduli .. Saya jamin kamu tak akan merasakannya kalau bersedia tinggal di Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedesaan, di pulau atau kota mana pun.
Penyebabnya bukan karena orang Indonesia ramah-ramah dan
baik hati, bukan. Bukan karena kami senang menolong orang lain atau tetangga
yang sedang kesusahan. Bukan juga karena kami punya kebiasaan bergotong royong
menyelesaikan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum. Karena kami menganggap
semua orang punya derajat yang sama, baik kaya maupun miskin? Ah, bukan itu
juga ‘kali.
Sebagaimana pemberitaan media, nama Indonesia mendadak
“mendunia” akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah yang memengaruhi
keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di area terdampak.
Tidak berarti area yang tidak terdampak kebakaran hutan
tidak bebas masalah. Bila bukan banjir, masyarakat harus membiasakan diri
dengan cuaca panas, siang dan malam, yang berujung kekeringan dan krisis air.
Selain itu, mereka juga perlu membiasakan diri dengan stagflasi global yang
berakibat kenaikan seluruh harga dan minimnya lapangan kerja.
Tumpukan masalah yang berpangkal dari masalah ekonomi
memaksa mereka untuk lebih fokus, baik dalam bekerja ataupun membelanjakan
pendapatan. Yang masih single fokus
bertahan hidup, sementara yang sudah berkeluarga fokus mempertahankan hidup
keluarganya.
Bagi sebagian besar warga di situasi demikian, waktu
berjalan terlalu cepat. Pagi terlalu singkat berubah jadi malam, sementara uang
yang dihasilkan belum cukup untuk keperluan mereka. Bagi mereka, tiada waktu untuk merasa
kesepian.
Warisan kesedihan
Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, kesepian bukan
saja timbul akibat kebutuhan akan kasih sayang yang kurang atau tidak
terpenuhi. Bagi mereka, bermigrasi ke tempat dengan cuaca dan temperatur yang
lebih bersahabat tidak serta-merta menjadi solusi untuk cita-cita hidup yang
lebih baik dan lebih beradab.
Ada rasa kehilangan dalam benak para pendahulu ketika mereka
terpaksa patuh pada larangan menjalankan aktivitas ritual kepercayaan asli di
tempat yang baru. Mereka tidak kuasa untuk menolak peraturan baru bukan karena
tidak berani melawan. Orang-orang dekat mereka (tetangga, kerabat, saudara/i)
telah lebih dulu yakin bahwa kepercayaan asli adalah sesuatu yang harus
ditinggalkan, dengan sederet alasan.
Para tetua komunitas Asli Siberia menyembunyikan homesickness mereka rapat-rapat, sebagai
bentuk dukungan untuk generasi di bawah mereka yang menginginkan masa depan lebih
cerah. Akan tetapi, beban emosional ini memengaruhi tindak-tanduk mereka
sehari-hari, termasuk cara mereka berinteraksi dengan anak dan cucu mereka.
Dari sinilah rasa kesepian, melankoli yang tak dapat
dijelaskan itu diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Lebih dari sekadar
identitas yang hilang ketika suatu kelompok masyarakat memutuskan untuk
“terlahir kembali” dengan meninggalkan kepercayaan lama mereka.
Bebas dari kesepian
Pengakuan pemerintah Rusia atas keberadaan suku-suku
tradisional Siberia merupakan salah satu faktor yang menggugah mereka untuk
membangun jati diri kembali; untuk mencari jalan pulang menuju kebijaksanaan
leluhur yang telah lama ditinggalkan.
Dewasa ini, tak ada lagi rasa takut di benak mereka untuk
menyuguhkan sesajen di tepi hutan atau di bawah pohon. Tak ada rasa khawatir
soal pertanyaan tamu yang datang ke rumah tentang sesajen yang dipasang di
ruang tamu atau meja makan. Mereka bebas dari buruk sangka masyarakat yang
tidak menganut kepercayaan yang sama lantaran meninggalkan sesajen di tempat
umum.
Mereka juga tak khawatir terhadap hukuman dalam bentuk apa pun di hari akhir nanti. Sesajen yang mereka haturkan bukanlah bentuk perlawanan atau ingkar terhadap Sang Pencipta jagat raya, mengapa harus takut? (dswas).