Minggu, 07 Juni 2026

Memelihara Rejeki Agar Tak Pernah Habis

Karena tiada yang abadi di dunia ini, segalanya pasti akan habis, berakhir, atau mati. Kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini bukan sekadar retorika, melainkan realita. Sebuah dinasti bisa jatuh bangkrut, negara makmur bisa tenggelam akibat utang, sumber daya alam melimpah bisa licin tandas, dan sumber air juga bisa berhenti mengalir. Kita cenderung menanggapi titik akhir dengan kepanikan, padahal kematian adalah suatu hal alamiah yang bisa menimpa siapa saja.

Bagi mereka yang sudah ditempa pengalaman maupun ilmu institusi pendidikan formal, manajemen adalah kunci untuk mencegah ‘kiamat’ agar tak menjadi kenyataan. Sebagian besar orang cenderung menganggap meskipun berhemat adalah cara memperpanjang persediaan sumber yang kita miliki, baik yang berwujud sumber daya alam maupun sumber keuangan. Tidak sulit dilakukan meski harus ‘berkorban’.

Hingga saat ini, kita belum bisa benar-benar mengimplementasikan langkah-langkah yang bisa memperbanyak debit air suatu mata air, misalnya, atau menemukan sebuah metode untuk menambah cadangan minyak bumi dan gas. Dalam perspektif sebagian besar manusia, alam sekitar hanyalah benda mati untuk dieksploitasi sampai kering kerontang. Belum terbit gagasan dalam benak para cendekiawan sejagat untuk mengganti apa yang sudah mereka ambil, apalagi memelihara suatu sumber daya alam agar terus mengalirkan rejeki untuk manusia.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 



Disiplin menghargai alam   

Kebiasaan meminta izin pada alam sekitar sebelum mengambil atau mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya tidak mudah dilakukan ketika orang-orang di sekitar kita tidak menjalankannya. Apalagi bagi para penganut Kepercayaan Tradisional Dvoieverie, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan Ukraina dan Rusia serta menjadi bagian dari angkatan perang masing-masing kubu.

Demi tugas negara, mereka tinggal di rimba belantara hingga berbulan-bulan. Mereka berteman kesunyian dan mau tidak mau mendapat perlindungan dari pepohonan, makanan, minuman, bahkan obat-obatan dari segala yang ada di hutan. Di tengah tekanan itu mereka menyadari kemurahan hati alam sekitar, meski mereka ‘tidak datang dengan damai’ sebagaimana sekelompok pemburu yang berburu kelinci di hutan.

Tanpa aba-aba, perintah, instruksi, maupun komando, para penganut Dvoieverie di kalangan militer Ukraina dan Rusia mempunyai kebiasaan meninggalkan sesajen di tepi hutan atau mata air, sebelum mereka masuk ke dalam hutan, mengambil air, memancing, berburu, atau mengambil apa pun di sana. Selain sebagai simbolisasi permohonan izin dan ucapan terima kasih pada alam sekitar, sesajen juga merupakan bentuk pengorbanan yang hanya dapat terwujud berkat adanya kedisiplinan diri.  

Karena kedua pihak sama-sama membutuhkan rimba sebagai tempat bersembunyi, mereka tidak mengizinkan siapa pun, kecuali kubu tentara swasta, untuk memasuki area hutan di sekitar perbatasan Ukraina dan Rusia. Konflik berkepanjangan menjadi satu-satunya hal yang membuat kawasan ini terhindar dari tangan para korporasi global haus darah.

Berhemat bukan satu-satunya cara

Ya, berhemat bukan satu-satunya jalan yang musti kita tempuh untuk menjaga kontinuitas segala keberlimpahan alam. Alih-alih cara bertahan hidup, berhemat justru akan menjadi sumber kesedihan dan keterpurukan kita ketika kita menjalankannya dengan penuh keterpaksaan. Apalagi bila kita belum dapat menyingkirkan keinginan untuk ‘menikmati hidup yang senikmat dahulu kala’, karena, yah, masa lalu tidak akan pernah kembali.

Sebelum mampu memelihara alam dan menikmati hasil upaya tersebut, kerendahan hati untuk ‘memanusiakan’ alam wajib muncul terlebih dulu. Bila tidak, itu bukan masalah besar. Yang jadi masalah besar adalah ketika suatu saat mata air berhenti mengalirkan air, cuaca panas akibat habisnya kawasan hijau, atau hal-hal sepele lainnya yang mendadak hilang dan tak bisa lagi kita nikmati. (dswas).

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...