Sabtu, 29 Agustus 2026

Cara Menghadapi Eksploitasi Alam Berlebihan

Sebagai seorang keras kepala yang pernah terlibat dalam begitu banyak kesalahan berujung penyesalan, saya mengakui sifat ini kadang tidak membawa berkah. Mereka yang keras kepala dalam mencari kebenararan atas tindakan mengancam apalagi menghilangkan nyawa banyak orang adalah bukan kelompok manusia yang “baik-baik saja”.

Air bah di Pegunungan Himalaya perbatasan Nepal-Tibet menambah deretan bencana yang terjadi sepanjang 2026. Ribuan warga lokal dan wisatawan masih dinyatakan hilang hingga saat ini.  Di antara mereka terdapat ribuan pekerja konstruksi PLTA yang berjumlah sekitar 27 unit dan terdampak bencana seluruhnya, meski skala kerusakannya mungkin bervariasi.

Dengan luas wilayah sekitar kurang dari 150 ribu kilometer persegi dan 30 juta jiwa penduduk, 27 PLTA dan pembangkit listrik tenaga lainnya mampu menyuplai energi listrik yang lebih dari cukup. Maka tidak heran apabila Nepal mampu mengekspor energi listrik yang mereka hasilkan ke negara-negara tetangga, seperti India, Bangladesh, dan Tibet.

Detil tentang 27 PLTA nahas ini pun masih simpang siur, tentang investor dan apa kebangsaan para pekerja yang masih terperangkap, hilang, atau tewas. Yang jelas, bencana di akhir Agustus 2026 ini mau tak mau menimbulkan kekhawatiran sejumlah kalangan yang masih peduli tentang keberlanjutan alam di sekitar proyek-proyek pembangkit listrik bertenaga air dan panas bumi di beberapa tempat.


Ilustrasi: Mata Air Pakis Suceng, Singosari, Malang. 


Membangun “benteng”

Dalam sudut pandang para penganut kepercayaan asli di berbagai belahan dunia, gesekan dengan alam dalam bentuk bencana besar bisa dicegah apabila manusia menerapkan perspektif gaya hidup mengambil dan memanfaatkan seperlunya.

Akan tetapi, kepercayaan mereka dianggap sebagai non agama dan seringkali mendapat stigma aliran sesat. Penyebabnya satu: karena nilai dan aturan dalam kepercayaan mereka menghalangi niat sejumlah orang yang ingin mengeksploitasi ruang hidup mereka. Baik itu hutan, sungai, laut, gunung … Nyaris tidak ada ruang hidup masyarakat penganut kepercayaan asli yang tidak terjamah eksploitasi.

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah biasa menghadapi alam yang tak bersahabat sejak turun temurun. Mereka sudah biasa menerima kenyataan bahwa tak semua manusia punya niat baik. Mereka juga sudah biasa menghadapi dampak yang timbul akibat niat tidak baik seseorang.

Kebiasaan dalam aliran kepercayaan mereka, yaitu meletakkan sesajen di tempat-tempat di mana mereka hendak melakukan sesuatu (di hutan sebelum berburu, atau di sungai dan laut sebelum memancing), sedikit banyak telah membantu mereka untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk yang terburuk.

Meletakkan sesajen merupakan perwujudan rasa hormat seseorang terhadap semua yang ada di sekelilingnya, pengakuan eksplisit yang dibuatnya secara sadar pada dirinya sendiri bahwa ia tahu ia tidak sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, attitude ini sangat membantu untuk mencegah diri kita dari mengalami kepanikan ekstrim, histeris, atau amarah berlebihan saat mengalami berbagai hal di luar dugaan.  Reaksi negatif saat menghadapi kondisi negatif kadang lebih berbahaya daripada peristiwa aktual pemicu kondisi tersebut.

Jalan keluar selalu terlihat  

Bencana alam yang terjadi akibat eksploitasi alam tanpa manajemen bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa sejenis selalu berulang setiap tahun dan bisa terjadi di mana pun. Semua ini berada di luar kendali kita, karena mungkin mereka yang melakukannya sedang sangat membutuhkan uang.

Berangkat dari pemahaman dan pengertian tentang hal ini, kita akan mampu membentengi diri sendiri dari mengalami emosi negatif saat merespons perbuatan orang-orang seperti mereka. Tanpa emosi negatif dan dengan benak yang senantiasa jernih, tak akan pernah lagi jalan buntu mampir dalam hidup kita. (dswas).

Sabtu, 22 Agustus 2026

Agar Jalan Tidak Pernah Buntu

Perhelatan tahunan akbar turnamen esports Dota 2, The International (TI), digelar di Shanghai, China, 20-23 Agustus tahun ini. Di luar dugaan, tim-tim esport China yang berjaya sekitar 10 – 14 tahun lalu tampil sangat buruk bahkan tidak lolos fase penyisihan grup turnamen yang diikuti tim dari berbagai negara.  

Sejumlah pengamat esport menilai, tim-tim China diperkuat para pemain yang sama persis seperti era 2012 – 2016 saat mereka jadi juara. Usia mereka sudah tidak muda lagi (sekitar 30-an tahun) sehingga semangat juang mereka menurun drastis.

Uniknya, tim-tim Eropa Timur yang didominasi para pemain dari Rusia dan Ukraina justru sedang on fire. Untuk pertama kali dalam sejarah TI, babak final tahun ini mempertemukan dua tim Eropa Timur, yaitu Team Vision dan Team Yandex yang sama-sama diperkuat pemain Rusia – Ukraina.

Team Yandex juga diperkuat sejumlah pemain dari beberapa negara Eropa Timur lain seperti Kazakhstan dan Makedonia Utara.

Kalangan penggiat esport, dan terutama para fans Dota 2, berdecak kagum atas prestasi tim-tim CIS/EEU  yang tidak diunggulkan alias masih dianggap underdog beberapa tahun lalu.

Natus Vincere (Na’Vi) asal Ukraina memang dinobatkan sebagai pemenang pertama TI pertama yang digelar 2011. Setelah 2013, prestasi tim-tim Eropa Timur di TI menurun drastis dan tergusur oleh dominasi tim-tim China.

Momen pandemi 2020-2021 ketika seluruh siswa sekolah harus belajar di rumah dimanfaatkan oleh para veteran esport Rusia dan Ukraina untuk merekrut dan melatih para darah muda yang saat ini dipuja-puji sebagai generasi baru jawara Dota 2.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 


Ambisi bukan satu-satunya penentu kesuksesan  

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada terlempar jauh dari posisi juara untuk kemudian menjadi pecundang. Tidak seperti narapidana yang tahu kapan ia akan menjadi orang bebas, pecundang tidak akan pernah tahu pasti sampai kapan mereka akan menyandang predikat tersebut, entah dalam jangka pendek atau sampai berpuluh-puluh tahun.

Rasa malu dan merasa terhina seringkali muncul bukan disebabkan komentar publik atau media, melainkan suara-suara dalam benak kita sendiri. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, situasi semacam ini terjadi akibat terbukanya sebuah “celah” dalam diri seseorang setelah ia melanggar peraturan adat, tidak menjalankan kebiasaan spiritual, atau telah melakukan kekeliruan terhadap pihak lain.

“Celah” itu membuatnya tidak mampu melihat jalan keluar ketika sedang tertimpa masalah. Bagaikan Bumi yang mengalami gerhana, mendadak semua menjadi gelap di tengah hari yang terang benderang.

Kekalahan dalam sebuah situasi yang seharusnya diterima dengan penuh kerelaan menjadi beban yang harus secepatnya disingkirkan, apapun caranya. Alih-alih berhasil kembali ke zona nyaman, tak sedikit dari mereka yang merasa jadi pecundang malah semakin terjerumus dalam kegelapan suasana hati mereka sendiri.

 

Berubah butuh keberanian

Generasi pertama Eropa Timur (Na’vi dkk.) dikenal karena gaya bermain mereka yang bermodalkan keberanian untuk merangsek jauh ke dalam zona lawan. Akan tetapi, gaya bermain ini menjadi kurang relevan setelah para rival mereka di TI berhasil menemukan titik lemah mereka.

Ya, tak ubahnya pemain sepak bola para pemain Eropa Timur (Rusia) generasi terdahulu (2017- 2019) cenderung emosi saat mereka tertekan.  

Team Spirit merupakan tim esport Eropa Timur pertama yang melibatkan psikolog olahraga untuk membantu menenangkan para pemain seusai sesi permainan intens. Mereka juga merekrut pelatih Airat Gaziev (Silent) yang punya kepribadian tenang dan bisa membuat anak-anak asuhnya patuh tanpa banyak drama.

Lagi-lagi pandemi 2020, di saat seluruh aktivitas di berbagai penjuru dunia terhenti, menjadi titik balik yang mengilhami orang-orang di balik Team Spirit untuk melakukan refleksi. Mereka melihat kembali ke masa sebelumnya, menemukan sebuah kekeliruan fatal, lalu mengakuinya. Setelah itulah mendadak gerhana berakhir, Bumi menjadi terang kembali.  

Hasilnya, tim ini berhasil muncul sebagai juara TI 2021 dan 2023.  (dswas)

Minggu, 09 Agustus 2026

Obat Untuk Mengatasi Putus Asa

Ribuan orang, tua dan muda, berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka menuju kota atau negara maju dengan satu tujuan: mencari penghidupan yang lebih baik.

Berbekal pengetahuan dan modal dari keluarga mereka, orang-orang ini melakukan pertaruhan terbesar dalam hidup mereka. Mengorbankan hak tanah kelahiran mereka untuk berkembang, demi kehidupan pribadi yang lebih membebaskan dari segala keterpurukan.

Zaman dahulu, ‘terpuruk’ artinya benar-benar tak mampu bergerak untuk melakukan apa-apa lantaran sakit atau kondisi fisik khusus. Namun, belakangan ini orang-orang yang secara fisik segar bugar ikut-ikutan merasa terpuruk karena banyak hal.

Dalam sudut pandang ilmu psikologi, mereka yang mengalami situasi seperti itu disebut sedang mengalami stres atau tertekan secara mental. Mereka diberi obat penenang untuk menghilangkan rasa terpuruk yang akan muncul kembali setelah efek obat itu hilang dalam hitungan jam.

Orang-orang dengan gangguan kesehatan yang sama dan tak mampu menebus obat penenang beralih ke ‘obat generik’ yang dilarang oleh undang-undang, alias narkoba. Dari sini kita bisa memahami mengapa rasa putus asa sangat beracun, toxic, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling kita. 


Ilustrasi: Pohon serut di Situs Yoni Hujung, Singosari, Malang.


Putus asa penyakit menular

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak semata-mata mengandalkan pemikiran positif internal sebagai satu-satunya obat bagi rasa putus asa. Tindakan dalam bentuk fisik juga dibutuhkan untuk menstimulasi tumbuhnya energi dalam benak seseorang. Sebuah energi yang nantinya dapat menggeser rasa terpuruk dan mencegah penularannya.

Menyerah sebelum berusaha, putus asa, dan menyesali situasi diri sendiri adalah tindakan terlarang bagi komunitas tradisional Siberia. Sikap-sikap ini tidak membantu dalam survival seseorang di tengah kondisi geografis Siberia yang ekstrim (suhu sekian minus derajat, bongkahan es di mana-mana).

Keharmonisan komunitas pun bisa terganggu karena ego seseorang membuatnya lebih fokus pada dirinya dan ‘dunianya’. Terlebih lagi, putus asa dianggap penghinaan terhadap Sang Pencipta yang telah memperlengkapi manusia dengan kebijaksanaan.  

Para tetua komunitas atau tetangga orang tersebut akan berusaha menariknya keluar dari isolasi diri dengan mengajaknya berkumpul. Mereka akan menyaksikan pertunjukan kecil kesenian tradisional yang menampilkan nyanyian kisah para leluhur semasa hidup mereka. Kisah-kisah mirip film masa kini yang terlalu melebih-lebihkan tapi sarat pesan-pesan moral untuk mengatasi rasa putus asa. 

Orang yang sedang putus asa dalam komunitas ini juga diwajibkan mengunjungi pohon-pohon sakral di tempat-tempat terpencil. Selain menyajikan sesajen, ia juga mengikatkan secarik kain di pohon itu sembari mengucapkan niat untuk bangkit kembali. Apakah tindakan ini bermaksud memanggil kegaiban agar datang dan menolong dirinya?

'Operasi rahasia'

Dalam sudut pandang medis, kurangnya aktivitas fisik (misalnya, olahraga) bukan hanya berakibat negatif bagi kesehatan fisik tetapi juga mental. Ketika manusia jaman modern ‘mencintai alam’ dengan menaklukkan puncak gunung tertinggi sejagat raya, manusia jaman kuno menemukan kejernihan batin dengan berjalan kaki di tengah alam bebas.

Dahulu kala, di saat pepohonan masih banyak jumlahnya, kekokohan akar dan batang yang terlihat oleh mata setiap saat mengingatkan manusia agar selalu tegar di tengah terpaan berbagai kondisi cuaca. Di masa sekarang, pepohonan harus dilindungi dari kehendak yang mengatasnamakan pembangunan dengan cara melilitkan kain di sekitarnya.

Tentu saja, masing-masing individu punya cara sendiri untuk membangkitkan semangat dan mengatasi keputusasaan. Alangkah lebih baik apabila kita dapat menghilangkan perasaan semacam ini secepat mungkin melalui operasi rahasia yang tak diketahui siapa pun.  (dswas)

Sabtu, 01 Agustus 2026

Stagnasi: Kewajaran Yang Butuh Pemecahan

Lelah, lesu, loyo tak berkesudahan? Pekerjaan yang tak maju-maju tetapi juga tak mundur-mundur? Hidup terasa hampa dari hari ke hari? Apabila Anda merasakan salah satu atau seluruh gejala ini, ada kemungkinan Anda sedang menghadapi apa yang disebut stagnasi; sebuah kemacetan, situasi berhenti dalam perjalanan hidup, yang tidak jelas apakah perhentian itu hanya sementara ataukah untuk selamanya.

Sebagaimana orang-orang lain, saya pun juga pernah merasakannya. Bukan numb atau freeze, melainkan stuck, mandek karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk keluar dari sebuah keadaan yang mencekik jiwa. Ketika sekian juta uang dibuang untuk membeli barang-barang, atau untuk jalan-jalan, tidak sanggup mengusir rasa terjebak dalam sebuah (menurut saya saat itu) perangkap yang tak terlihat. Ketika bekerja keras membanting tulang hanya bermakna sebatas punya uang untuk membayar utang, misalnya.

Dalam kasus saya, delusi semacam ini biasanya timbul sebagai rentetan dari rasa marah, iri, dan dengki pada sesama maupun sanak saudara beberapa hari atau beberapa pekan sebelumnya. Seolah-olah ‘neraka’ telah datang dalam hidup sebelum saya meninggalkan dunia fana. Pada fase-fase di mana kita merasa dunia hanya milik kita, sedangkan orang-orang lain hanya penyewa.


Ilustrasi: Pohon beringin raksasa di Punden Dusun Krajan, Dau, Batu.


Tak ada waktu untuk mukjizat

Stagnasi, meski menyedihkan, bukan “penyakit” baru bagi beragam aliran kepercayaan (alias agama asli) di muka Bumi ini. Pada prinsipnya, situasi sulit bisa terjadi kapan saja, saya sudah berulang kali menulis tentang ini. Jalan keluar selalu ada, tetapi karena berbagai hal tidak semua dari kita bisa melihatnya. Entah karena kondisi khusus, atau terjadi ketidakseimbangan yang merupakan dampak langsung beragam pilihan kita sendiri.

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, tidak ada kata terlambat untuk keluar dari stagnasi yang sedang menjerat kehidupan pribadi seseorang maupun kelompok masyarakat. Niat untuk bangkit dan memulai kembali seyogyanya dimanifestasikan, dan menyuguhkan sesajen adalah cara utama yang dilakukan para penganut aliran kepercayaan untuk tujuan ini. Kebiasaan ini, bagi mereka yang menjalankannya, juga berperan dalam pembentukan watak serta resiliensi individu dan kelompok.

Sisi yang tidak nyata dan sukar dibuktikan logika dari sesajen dalam berbagai aliran kepercayaan lebih dipercaya sebagian besar orang. Ini dapat dimengerti. Rata-rata dari kita cenderung menginginkan terjadinya keajaiban yang dapat menghilangkan segala masalah dalam hidup dalam waktu singkat dan tanpa banyak drama.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak punya waktu untuk membahas mukjizat, atau menebak-nebak sesajen jenis apa yang dapat menyenangkan hati kekuatan gaib agar turun dari langit dan bersedia membantu mereka. Sejak ratusan tahun silam, kelompok suku-suku serumpun ini selalu mencari cara agar dapat bertahan hidup di tengah suhu ekstrem. Sebuah situasi yang menuntut bergeraknya logika, bukan angan-angan. Bukan pula sekadar menuruti dorongan hati.

Perjalanan untuk “menyerah”

Sikap menerima apa adanya sangat dilaknat berbagai negara, dianggap sebagai “zona nyaman” yang menghalangi kemajuan. 4, 5, atau bahkan 10 tahun yang lalu, saya akan membenarkan dalil ini. Akan tetapi, secara tak disangka-sangka dunia saat ini kembali pada situasi stagnan akibat banyak golongan di luar sana gamang menurunkan standar hidup mereka. Mereka yang stagnan tetapi berkata, “kami baik-baik saja.”

Selagi mereka belum menyadarinya, situasi tersebut dipastikan akan berlangsung lama, entah kapan akan berakhir. Kabar baiknya, kita tidak harus berada dalam situasi demikian apabila berhasil menemukan cara yang sudah teruji zaman dan waktu. (dswas)

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...