Jumat, 28 November 2025

Kekayaan Yang Sebenarnya: Mengubah Bencana Jadi Anugerah

Kabar gembira. Jumlah orang kaya secara global saat ini mengalami peningkatan, yaitu 3000 miliuner berdasarkan data Maret 2025. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat memimpin dalam hal jumlah milyuner terbanyak, yaitu 902 orang, yang terkonsentrasi di industri teknologi informasi. Sementara itu, China dan India menempati peringkat kedua dan ketiga dengan jumlah masing-masing 512 dan 205 miliuner.

Para ekonom dan ahli keuangan menyambut gembira perkembangan ini, mengingat pertambahan jumlah orang kaya di beberapa negara merupakan tanda-tanda awal bahwa ekonomi dunia tengah membaik dibandingkan era pandemi COVID 2020. Para miliuner ini adalah orang-orang yang telah membanting tulang di sepanjang hidupnya, menyebar aset-asetnya dalam bentuk saham dan obligasi, sehingga tibalah saat ketika mereka dapat menikmati segala upaya yang telah dilakukan bertahun-tahun silam.

Ya, menjadi orang kaya memang luar biasa nikmat: banyak uang, barang-barang mewah, rumah besar, mobil lux, liburan ke luar negeri, dst. Seperti apa situasi para miliuner ini sebenarnya sebelum mereka jadi super kaya, seberapa keras mereka harus bekerja, apa yang mereka korbankan agar mencapai puncak karir dan akhirnya sukses, kita tidak pernah tahu pasti. Sama seperti gunung yang tampak indah dari kejauhan, setelah didekati ternyata jauh berbeda.

Selain terjal dan berbatu, “raut muka” gunung dari dekat tidaklah serata dan secantik apa yang dipamerkan di foto-foto medsos tentang spot wisata Instagrammable. Percaya atau tidak, apa yang paling bernilai dari sebuah gunung adalah hutan dan vegetasi alam di sekitarnya. Selain rasa bangga sudah mencapai sebuah puncak gunung, nyaris tidak ada hal lain yang bisa membuat kita betah berlama-lama di situ.

 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Memuliakan alam bukan sesat

Sayangnya, suka atau tidak suka, peradaban perkotaan sering kali berada dalam situasi di mana pepohonan menjadi pembawa bencana. Kejadian pohon tumbang yang menelan korban jiwa dan materi bukan hal baru, di negara mana pun. Bermula dari cuaca buruk, badai atau hujan deras (atau gabungan keduanya), si pelindung tua di tengah cuaca panas berubah menjadi sumber bencana karena batangnya yang besar roboh, lalu menghancurkan kendaraan atau gedung dan rumah-rumah penduduk.

Kepercayaan Rakyat Armenia (Armenian Folk Beliefs) menganggap pepohonan itu suci, sama sucinya dengan mata air. Masyarakat pemeluk kepercayaan ini meyakini bahwa dengan menandai pohon tertentu dengan secarik kain mereka telah memberitahu sesamanya tentang keberadaan pohon “sakti” tersebut. Ketika semakin banyak orang yang mengikatkan kain di pohon itu, orang-orang lain dari luar komunitas mereka akan berpikir dua kali untuk menebangnya.

Dalam sudut pandang teologi monoteistik, kebiasaan ini dianggap sesat karena menyamakan kebesaran Sang Maha Pencipta dengan benda-benda duniawi, misalnya pohon (Kepercayaan Rakyat Armenia juga menganggap suci mata air, seperti dalam Hindu). Pepohonan bisa tumbang dan tak ada dari mereka yang membela diri mendemonstrasikan kedigdayaan saat para manusia orcs membabat habis hutan.

Dan ini terbukti di saat Armenia mengalami krisis sosial dan ekonomi pasca pembubaran Uni Soviet di akhir 1991. Tanpa kepastian tentang dukungan suplai gas murah yang dahulu mereka dapatkan dari pemerintah Soviet, orang-orang Armenia di masa itu membakar furnitur mereka untuk menghangatkan rumah di tengah kejamnya musim dingin. Ketika semua furnitur habis terbakar, mereka mencari pertolongan ke hutan dan mulai menebangi pohon-pohonnya untuk dijadikan kayu bakar.

Akibatnya sudah bisa ditebak, karena apa yang ditinggalkan deforestasi di belakang selalu sama di mana pun di dunia ini. Banjir dan tanah longsor hanyalah sepenggal kisah yang tersisa dari hilangnya hutan suci. Korban jiwa dan harta benda adalah dampak berikutnya yang menyisakan duka berkepanjangan. 

Penyesalan tidak cukup

Walaupun relatif masih muda sebagai suatu negara, warga Armenia lekas menyadari kekeliruan yang terjadi di masa lalu. Reforestasi dan reboisasi kini gencar dilakukan di negara anggota CSTO (NATO versi Eropa Timur dan Tengah) itu, baik oleh LSM maupun para diaspora yang telah menimba ilmu di luar negeri. Masyarakat Armenia menyadari “kebenaran” di balik petuah para leluhur mereka yang memuliakan rimba belantara.

Memulihkan hutan tidak saja dipandang sebagai upaya penyelamatan lingkungan hidup, tetapi juga melestarikan warisan budaya Armenia sebagai jiwa bangsa dan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam perspektif masyarakat Armenia, pemulihan hutan bukan soal mencari peluang cuan dari industri pariwisata. Memulihkan hutan berarti memulihkan situs-situs alami nan sakral sebagai upaya membangun kembali spiritualitas dan keterkaitan dengan alam, inilah yang signifikan bagi mereka.

Walaupun masalah deforestasi dan dampaknya belum dapat dihilangkan sama sekali dari Armenia, kesadaran tentang keberadaan tempat-tempat sakral adalah langkah awal menuju tujuan bermakna. Semua ini tak akan pernah terlaksana apabila masyarakat Armenia terus terjebak dalam penyesalan berlarut-larut tentang kesalahan di masa lalu.  (dswas)

Rabu, 26 November 2025

Kompleksitas Rasa ‘Terima Kasih’

Beberapa pengamat yakin saat ini Perang Ukraina sedang menjelang babak injury time. Amerika Serikat selaku salah satu pendonor utama Ukraina dalam hal persenjataan dan bantuan kemanusiaan telah menyampaikan proposal perdamaian kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menurut para pengamat politik beberapa bagiannya menguntungkan Rusia. Donald Trump telah mengultimatum Zelensky agar menerima proposalnya, atau negaranya tidak akan menerima bantuan lagi dari AS.

Mulai Januari 2022 (satu bulan sebelum Perang Ukraina) hingga pertengahan 2025, Uni Eropa telah memberikan bantuan senilai 167 miliar euro kepada Ukraina sebagai respons atas operasi militer Rusia di Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022. Sementara Amerika Serikat telah menyalurkan bantuan senilai 1154 miliar euro selama periode yang sama. Bantuan, baik dari UE dan AS, tidak seluruhnya berupa uang tunai, melainkan bantuan militer dan keuangan. Menurut data auditor AS, Amerika Serikat telah mengalokasikan sekitar 175 miliar dolar untuk Ukraina yang sebagian disalurkan guna membiayai kehadiran para awak militer AS di negara itu. 

Nilai aktual dana yang diterima Ukraina dari kedua pihak ini masih simpang siur, apalagi karena di Ukraina sendiri tengah diguncang kasus korupsi yang melibatkan inner circle (orang-orang dalam) Presiden Zelensky. Di saat yang sama, ratusan ribu pengungsi Ukraina di berbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat diisukan akan dipulangkan ke negara mereka. Sebagian dari mereka dikabarkan mengalami pengurangan bantuan keuangan dari negara-negara yang menampung mereka, akibat krisis ekonomi global membuat beban keuangan masing-masing negara penampung bertambah.

Rasa terima kasih tidak pernah usang  

Dalam bahasa Rusia, спасибо (spasibo) berarti “terima kasih”. Secara etimologis, bentuk modern spasibo berasal dari kata spasi bog, yang bermakna “Semoga dewa menyelamatkanmu.”  Ini karena kata spasibog terdiri dari kata spasi yang artinya menyelamatkan, dan bog adalah kata benda yang bermakna dewa.  Sejatinya spasibog adalah sebuah frasa yang diambil dari kalimat doa Kepercayaan Asli Slavia yang kemudian digunakan dalam percakapan sehari-hari.  

Ilustrasi: koleksi pribadi 

Dari makna spasibog tersirat sebuah upaya untuk mengembalikan sesuatu yang diterima seseorang dengan sangat baik dan bermanfaat. Rasa bahagia yang dirasakan si penerima pemberian tersebut diungkapkan dalam harapan semoga hal-hal yang baik juga terjadi dalam hidup atau dialami oleh si pemberi. Seiring dengan dinamika ideologi di Rusia, spasibo pun mengalami perubahan fungsi dari sebuah doa menjadi frasa kesopanan.

Akan tetapi, pandangan masyarakat Slavia tentang terima kasih itu sendiri tidak berubah. Seperti banyak kebijaksanaan lokal lain di seluruh penjuru Bumi, bagi adat Slavia rasa terima kasih tidaklah cukup dengan hanya kata-kata. Rasa terima kasih perlu ditunjukkan melalui perbuatan, termasuk rasa terima kasih pada alam dan para leluhur.   

Salah satu cara berterima kasih pada leluhur yang masih dilakukan beberapa kalangan masyarakat Slavia hingga saat ini adalah menuangkan atau memercikkan sedikit bir atau vodka yang hendak mereka minum, baik di event pribadi maupun komunal. Saya jadi ingat dulu teman-teman sekampus dari Bali juga melakukan “upacara” yang persis sama. Karena keunikan filosofi di baliknya, kebiasaan ini pun segera menular dengan cepat di kalangan teman-teman non Hindu di circle kami saat itu. 

‘Terima kasih’ tidak pernah sesulit ini

Rencana sejumlah negara penampung pengungsi Ukraina untuk memulangkan mereka mau tak mau menimbulkan kecemasan, karena mereka belum yakin keamanan mereka beserta keluarga akan terjamin. Sejak sebelum perang, pemerintah Ukraina sudah memiliki program tunjangan sosial bagi anak-anak, warga penyandang disabilitas, atau kurang mampu secara ekonomi, walaupun sistemnya belum sempurna menurut standar Eropa.

Bayangkan saja bila seluruh dana bantuan kemanusiaan yang diterima pemerintahan Zelensky digunakan sebagai tunjangan sosial bagi warga Ukraina. Taraf hidup mereka mungkin akan menjadi lebih baik, bahkan bisa jauh lebih baik daripada sebelum 2022. Seandainya saja Rusia tidak melakukan operasi militernya di Ukraina pada 24 Februari 2022, mungkin Ukraina tak akan pernah menerima bantuan miliaran dolar atau euro dari berbagai pihak.

Bahwa bencana bisa menjadi berkah bukan lagi imajinasi orang-orang yang tak sanggup menerima kenyataan. Itulah mengapa orang-orang kuno selalu tak lupa meluangkan waktu dan materi yang dimiliki untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada alam dan leluhur sebagai representasi seluruh situasi penyebab segala yang kita terima saat ini.  Peradaban modern memilih untuk mengabaikannya, karena mereka tak ingin dianggap ‘hidup di masa lalu’ yang terlalu banyak aturan dan norma-norma.

Keengganan menyadari proses segala sesuatu membuat kita juga enggan menyadari bahwa uang itu bisa bersifat easy come easy go. Uang yang mudah didapat seringkali mudah pula habisnya. Kemudahan mendapatkannya kadang kala membuat orang lupa untuk melakukan pengaturan saksama, agar apa yang didapat dapat berguna untuk waktu mendatang dan bagi banyak orang, sebagaimana tujuan bantuan tersebut diberikan.  (dswas)

Sabtu, 22 November 2025

Menanti Pohon Tumbuh Di Atas Jasad Masa Lalu

Nama Oleg Salenko tidak terlalu dikenal para bola mania sedunia sampai ia mendapat penghargaan Golden Boot Piala Dunia 1994. Di saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kalinya, dua pesepakbola Eropa Timur dianugerahi penghargaan bergengsi FIFA. Selain Salenko, Hristo Stoichkov (Bulgaria) juga meraih penghargaan Golden Boot dengan jumlah gol yang sama dari penampilan mereka bersama tim masing-masing selama turnamen, yaitu 6 gol.

Lahir dari ayah warga Ukraina dan ibu Rusia, Salenko telah mengawali kiprahnya di turnamen sepak bola internasional bersama timnas Uni Soviet U-20 tahun 1989. Saat itu ia tampil di Piala Dunia U-20 dan berhasil menjadi top skorer dengan raihan 5 gol. Sampai dengan tahun lalu, Salenko merupakan satu-satunya pemain yang menjadi top skorer di turnamen level junior maupun senior. Dirinya juga menjadi satu-satunya pemain peraih Golden Boot dari timnas yang tidak lolos fase grup Piala Dunia.

Salenko hanya tampil di event sepak bola internasional sebanyak sembilan kali. Ia bertanding delapan kali bersama timnas Rusia di Piala Dunia, dengan salah satunya adalah laga Rusia vs Kamerun di mana ia mencetak lima gol sekaligus di pertandingan yang dimenangi Rusia 6-1. Sedangkan satu laga lainnya adalah laga persahabatan bersama timnas Ukraina melawan Hungaria di tahun 1992, di mana Ukraina kalah 1-3 dalam pertandingan perdananya sebagai tim nasional di bawah FIFA. Sayangnya, Salenko harus pensiun dini dari dunia sepak bola di usia 31 tahun akibat cedera.

Akar yang terpisah  

Mengapa Salenko meninggalkan Ukraina untuk bergabung dengan Sbornaya (julukan timnas Rusia)? Seperti para pemain naturalisasi jaman now, Salenko bebas bergabung salah satu dari keduanya karena ia memiliki kewarganegaraan ganda dari orang tuanya. Saat itu, Rusia memiliki infrastruktur sepak bola yang lebih baik dibandingkan negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Ukraina. Sehingga wajar jika Salenko menganggap masa depannya sebagai pemain sepak bola bakal lebih cerah bersama Rusia.

Jauh sebelum terjadinya kesenjangan dalam hal infrastruktur sepak bola di antara negara-negara eks komunis di akhir 90-an, Rusia, Ukraina, dan beberapa negara Slavia lainnya seperti Bulgaria, Serbia, Macedonia, Ceko, dll. berakar dari satu rumpun budaya Slavia yang sama. Mereka berasal dari leluhur yang tinggal di dataran rendah, hutan, dan lahan basah, dengan mata pencaharian pokok sebagai petani dan penggembala yang lebih sering menghabiskan waktu berjalan di alam bebas. Maka tidak heran bila mereka memiliki fisik kuat, yang diwariskan hingga ke beratus-ratus generasi sesudahnya.  

Ilustrasi: koleksi pribadi


Kekuatan fisik itulah yang membuat leluhur Slavia tidak takut menghadapi pertikaian yang berujung pertumpahan darah dan kematian. Apalagi bila dikaitkan dengan mitologi Slavia tentang asal mula tanaman dan pepohonan, bahwa semak belukar dan bunga-bunga liar tumbuh dari darah atau jasad mereka yang tewas karena keyakinan pada sesuatu, baik prinsip pribadi maupun kepentingan kelompok.

Menurut cerita rakyat Serbia, bunga peoni putih berubah menjadi merah akibat darah prajurit Serbia yang tewas dalam Perang Kosovo. Bunga peoni hitam tumbuh dari darah prajurit keturunan Gipsi, sedangkan peoni biru berasal dari darah prajurit keturunan Turki. Mitos Bulgaria menyebut bahwa bunga lilac juga tumbuh dari darah para prajurit, oleh karena itu bunga ini banyak ditemukan di benteng atau tanah lapang di mana pernah terjadi pertempuran besar.  

Aliran kepercayaan Rusia meyakini bahwa bunga perdu fireweed tumbuh dari darah korban suatu tindakan pelanggaran. Sementara legenda Kuban Cossacks (kelompok sosial militer semi merdeka yang terbentuk dari petani dan tentara pelarian dari Rusia, Ukraina, Polandia, dan Lithuania) menyebut bahwa bunga mawar tumbuh dari tetesan darah seorang gadis yang bunuh diri karena dipisahkan paksa dari kekasihnya.

Masa lalu yang dikubur, lalu tumbuh

Apabila jasad atau darah seseorang yang sudah mati diibaratkan sebagai sesuatu yang sudah tiada, hilang, dan tak mungkin muncul lagi, maka masa lalu adalah sebuah kata yang paling tepat untuk itu. Karena semua orang punya masa lalu, juga suatu kelompok etnis, bangsa, bahkan negara.

Leluhur Slavia bersikap bijak memandang sesuatu yang hilang dan tak akan kembali ini sebagai sesuatu yang “indah” bagaikan bunga berwarna-warni, sebab seperti itulah masa lalu bagi sebagian besar dari kita. Indah sebagai bahan cerita, tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa ada sesuatu yang hilang tiap kali kita mendengar kisah tentang masa lalu. Dalam hal ini, kehilangan tak terhindarkan walaupun masyarakat dalam kisah itu berusaha mempertahankannya.

Nilai-nilai tradisional, kebijaksanaan lokal, adat istiadat, dll. sering kali dianggap sebagai simbolisasi masa lalu yang wajib dilupakan karena bukan bagian dari kehidupan manusia modern dan tak membawa peradaban umat manusia ke arah yang lebih baik.

Meminjam konteks leluhur Slavia, masa lalu memang tak akan kembali, tetapi sesuatu akan tumbuh dari jasad masa lalu yang telah membusuk. Bahwa sesuatu yang tumbuh dari situ bukan saja bunga-bunga perdu, tetapi juga sebatang pohon. Satu batang pohon yang akan disusul oleh dua, tiga, sepuluh, atau seratus pohon, bergantung pada banyaknya “jasad masa lalu” yang terkubur di bawah tanah pertempuran peradaban.  (dswas)

Kamis, 20 November 2025

Konsisten Selalu Menang

“Batu ditempa oleh setetes demi setetes air (kap po kap – kamen prodire)” merupakan peribahasa Balkan yang merupakan hasil observasi masyarakat adat Slavia Selatan (terutama Serbia) tentang daya tersembunyi di balik setetes air. Bahwa setetes air awalnya hanya membasahi batu, selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Entah pada tetesan air ke berapa terbentuklah sebuah ceruk pada batu itu.

Ada nasihat tentang konsistensi dalam peribahasa yang hingga saat ini sering digunakan masyarakat Slavia Selatan untuk memotivasi anak-anak, menghibur seorang teman yang merasa hidupnya macet, atau untuk memberitakan tentang tujuan yang akhirnya berhasil dicapai setelah sekian lama. 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Air (Mokosh) itu sakral bagi masyarakat penganut Kepercayaan Asli Slavia, sebagaimana langit dan bumi, karena ada energi gerak yang terkandung di dalamnya. Sumber/ mata air dan sumur dianggap suci, karena keduanya mengalirkan air yang merupakan representasi dari kemurnian, kesabaran, dan keteguhan hati seseorang.

Perspektif Slavia Selatan terbentuk berkat keawasan mereka mengenali pola-pola dan siklus alam, bahwa kenyataan dibentuk oleh kenyataan-kenyataan lain yang berjalan lambat dan kesabaran kekuatan alam.

Sekokoh pegunungan tempat para leluhur mereka tinggal, peribahasa ini masih lestari dan terus digunakan dalam percakapan atau interaksi sehari-hari masyarakat Slavia Selatan sampai detik ini. Kebijaksanaan leluhur masih mengakar kuat walaupun mereka (Serbia, Bosnia, Kroasia, Montenegro, Makedonia) pernah hidup di bawah komunisme, mengalami konflik antar sesama etnis Balkan, dan, khusus Serbia, diratakan dengan tanah oleh NATO.

Uang selalu ‘berbicara’

Sementara itu, apa yang terjadi pada negara-negara yang bersatu padu menaklukkan Serbia dengan dalih membasmi para penjahat perang dari konflik antar etnis Balkan di era 90-an? Sudahkah mereka menjadi negara-negara termakmur sejahtera di dunia yang membuat warga negara-negara miskin iri hati?

Ada beberapa nama negara yang terlibat dalam operasi Perang Yugoslavia dari sisi NATO. Kita sangat tahu siapa bos besarnya, dan kita sangat tahu apa yang sedang menimpa negara-negara itu saat ini. Inilah negara-negara demokrasi “malaikat” yang saat itu sedang menunaikan tugas membasmi kekuatan “iblis” komunisme dan sosialisme.

Amerika Serikat tumbuh sebagai negara maju dan terdepan dalam berbagai bidang, demikian pula negara-negara NATO lainnya dalam operasi tersebut (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Italia, Kanada, Spanyol, Portugal, Denmark, Norwegia, dan Turki). Bahkan beberapa di antara mereka selalu masuk dalam daftar negara terbahagia di dunia selama beberapa tahun secara berturut-turut.

Namun, karena dinamika sektor ekonomi saling memengaruhi antara satu negara dan negara lainnya, kemunduran dan kemajuan ekonomi di suatu negara dampaknya juga akan terasa di banyak negara lain. Operasi militer NATO di Yugoslavia didanai sebagian besar oleh Amerika Serikat, demikian pula beberapa operasi militer lain sebelum dan sesudah itu.

Tibalah titik di mana AS menyadari bahwa semua uang sudah habis, sehingga mereka membutuhkan suntikan dana dari pihak luar. Baru-baru ini, suntikan dana didapat dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan nilai triliunan dolar. Para juru bicara pemerintah boleh saja menjabarkan bahwa dalam hubungan bilateral diperlukan kerja sama bla bla bla … yang intinya adalah: kita harus bekerja sama supaya bisa mendapat uang pinjaman.

Lalu apa manfaat perang di atas? Supaya bisa terus berhutangkah tujuannya?

Cara menghadapi ‘kekuatan yang membingungkan dan menakutkan’

Para ekonom dan pembuat kebijakan ekonomi biasanya akan berkilah bahwa berutang itu wajar saja dalam pembangunan ekonomi negara. Mulai detik ini saya harap kita tak lagi percaya argument seperti ini karena ini adalah suatu fallacy, salah pikir terbesar dalam peradaban manusia.

Kemakmuran dan kesejahteraan stabil memerlukan proses, yang sering kali panjang dan lama. Ini adalah hukum alam yang tak dapat kita hindari, atau kita tolak, karena kita sudah menciptakan teknologi mutakhir. Mempersingkat proses secara permukaan menjadi sesuatu yang kita banggakan sebagai kemajuan zaman, tetapi mengapa situasi kita semakin mundur belakangan ini dan bukan semakin maju? Ingin bukti? Cukup tengok saja situasi alam sekitar, mentalitas masyarakat, balada ekonomi dan politik berbagai negara di dunia …

Berburu investor dan uang pinjaman merupakan upaya mendatangkan uang ke kantong dalam waktu singkat. Setelah uang habis, datanglah masalah tentang cara mengembalikan uang investasi itu kepada pihak yang menginvestasikannya. Artinya ada tekanan pada kita untuk berkompromi dengan kehendak dari luar sebagai bentuk pemenuhan janji, ada keterpaksaaan untuk patuh demi uang yang telah digunakan.

Tekanan yang dirasakan pemerintah suatu negara sebagai debitur akan diteruskan pada masyarakat di bawah naungan mereka, dalam bentuk berbagai kebijakan yang sekonyong-konyong, tidak konsisten dengan kebijakan sebelumnya, dan kadang gagal dimengerti khalayak.

Namun, rakyat jelata berada dalam situasi yang lebih menyenangkan karena mereka bebas memilih cara menanggapi perilaku membingungkan pengayom mereka. Bagi masyarakat Slavia Selatan, kembali memaknai ajaran leluhur adalah salah satu caranya. Agar sesuatu yang membingungkan dan menakutkan tetap menjadi fenomena alam yang lazim terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  (dswas)

Minggu, 16 November 2025

Berburu Resep Kuno Untuk Bahagia

Benua terbahagia di dunia dikabarkan sedang galau. Bukan karena masalah ekonomi, melainkan kewalahan menghadapi peningkatan populasi imigran dari Asia, Afrika, dan wilayah lain di Eropa yang ‘menyerbu’ Benua Biru guna memperbaiki taraf hidup atau mencari perlindungan dari konflik politik. Lima besar peringkat negara terbahagia di dunia selalu diduduki negara-negara Eropa, maka siapa yang bisa menyalahkan kedatangan para imigran? Kebahagiaan ibarat gula, yang akan selalu mengundang semut-semut dari berbagai penjuru untuk datang dan mencicipinya.

Berkat kerja keras orang-orang Eropa dari zaman lampau di sektor industri dan pertanian, kekayaan yang tak terhingga nilainya dapat diwariskan pada keturunan mereka hingga beberapa generasi. Didukung pula manajemen keuangan yang sistematis, terencana, dan selalu berorientasi pada masa depan. Guna meningkatkan perputaran uang, mayoritas negara Eropa memberikan stimulus berupa tunjangan sosial bagi warga mereka. Inilah salah satu daya tarik yang menginspirasi para pendatang berusaha masuk ke Eropa.

Beberapa golongan pendatang tidak sepenuhnya bisa merasakan kebahagiaan di tanah air baru mereka yang tampak bagai emas dari kejauhan. Rasa rindu pada kampung halaman membuat mereka memilih berperilaku seolah sedang berada di negara asal, perilaku yang kadang menimbulkan tanda tanya dan gesekan dengan warga pribumi. 

Kehadiran para pendatang menggugah kesadaran sebagian warga asli Eropa tentang jati diri mereka yang menurut mereka nyaris tak berbeda antara satu negara Eropa dengan negara Eropa lainnya. Karena kegelisahan ini membesar dengan berjalannya waktu, maka beberapa kelompok warga lokal Eropa mencoba mencari penawarnya dengan melongok ke masa lalu. 

Ilustrasi: simbol Kepercayaan Asli Slavia, kolovrat

“Istana” terindah

Kesetiaan pada nilai-nilai tradisional adalah salah satu hal yang dibanggakan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang bangsanya. Beliau tidak salah, karena di Rusia kepercayaan tradisional diakui dan dianut sekitar 1 juta orang. Bagi mereka, leluhur adalah manifestasi dari Sang Pencipta, demikian pula seluruh entitas alam dalam berbagai bentuk dan fenomena.

Ritual-ritual, upacara, prosesi Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith) merupakan simbolisasi dari ungkapan terima kasih kepada mereka yang hadir jauh sebelum lahirnya generasi saat ini. Mereka yang menemukan tempat di mana anak-anak jaman now tinggal saat ini, menemukan cara-cara bertahan hidup, berkomunikasi, menata suasana sekitar agar lestari dan senantiasa bermanfaat sepanjang waktu. Menurut sejumlah penelitian yang telah digagas sejak era Josef Stalin, aliran kepercayaan ini berakar dari sumber yang sama dengan Hindu.

Sampai dengan saat ini Kepercayaan Asli Slavia mempersatukan warga etnis terkait yang tersebar di Rusia, Ukraina, Polandia, Belarus, Bulgaria, Ceko, Lithuania, dan Estonia. Mereka berpegang pada nilai-nilai tradisional yang identik satu sama lain, sama-sama meyakini bahwa keluarga adalah tempat terbaik bagi siapa pun untuk merasa bahagia. Maka memperlakukan sesama sebagai keluarga adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkannya.

Mispersepsi berkelanjutan

Dibandingkan etnis lainnya di Eropa, etnis Slavia seringkali mendapat stigma negatif karena rekam jejak politik yang terlibat komunisme/ sosialisme. Ketika Eropa Barat didominasi negara-negara bahagia dan maju, negara-negara Eropa Timur dan Tengah di mana etnis Slavia tinggal dilabeli sebagai negara tidak aman, kurang sejahtera, sarang scammers, dll.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kenyamanan hidup. Ketidaknyamanan yang datang dalam kehidupan kita bisa datang dari persepsi kita sendiri terhadap situasi saat ini. Persepsi yang muncul akibat terlalu lama berada di zona nyaman, dan tak siap untuk menjalani ketidaknyamanan.

Kebangkitan kepercayaan tradisional Eropa, di mana Kepercayaan Asli Slavia merupakan salah satu di antaranya, ditanggapi secara paranoid oleh sebagian kecil pihak sebagai krisis identitas yang menjurus ke arah rasisme dan radikalisme sayap kanan. Seakan-akan kata “Slavia” pada nama kepercayaan ini menjadi petunjuk bagi perspektif para pengamat untuk mengidentikkan kesadaran spiritual ala Slavia dengan waham entitas terbaik sedunia.

Satu hal yang cenderung diabaikan para pengamat adalah kepercayaan lokal ini berangkat dari kerendahatian suku Slavia untuk mengakui bahwa masa lalu tak dapat diubah – selalu ada seseorang, atau sesuatu, yang ada sebelum mereka. Entah itu dari ras yang sama atau bukan, mereka hanya bisa berasumsi dan tidak akan pernah benar-benar tahu tentang faktanya. Mengapa latar belakang Kepercayaan Asli Slavia lebih penting bagi para pengamat daripada tujuan yang hendak dicapai para penganutnya? Hanya para pengamat tersebut yang tahu jawabannya. (dswas)  

Jumat, 14 November 2025

Melimpah, Tapi Selalu Kurang -- Mengapa?

Kekalahan Brasil 2-3 versus Jepang dalam laga persahabatan di Tokyo, Jepang, Oktober lalu membuat para fans bola tersentak. Jepang belakangan ini memang tengah membaik, tetapi Brasil adalah juara Piala Dunia lima kali. Hasil ini menambah panjang prestasi memble skuad Samba beberapa tahun terakhir sejak kekalahan memalukan mereka dari Jerman di hadapan publik sendiri pada final Piala Dunia 2014.

Kaum bola mania menghubung-hubungkan prestasi buruk Brasil dengan perilaku para pesepakbolanya yang dikenal hobi pesta bila mereka sedang berada di puncak prestasi. Neymar Jr., yang pernah masuk daftar 10 besar atlet terkaya di dunia di usia belasan tahun, terlihat menghadiri 120 pesta selama bermain di Eropa bersama Barcelona dan Paris St. Germain. Selain itu, ia juga hobi makan junk food, yang merupakan pantangan bagi atlet mana pun.

Jauh sebelum Neymar, ada Romario. Bintang Brasil dari era 90-an ini juga gila pesta, terutama setelah kemenangan Brasil di Piala Dunia 1994. Romario adalah bintang turnamen dan peraih penghargaan Golden Ball untuk pemain terbaik Piala Dunia saat itu. Eforia kemenangan membuat Romario lupa kembali ke Barcelona FC, klubnya saat itu, tepat waktu dan kembali berlatih. Ini membuat Johan Cruyff (pelatih Barca saat itu) murka dan menjualnya kembali ke Brasil (Flamengo) beberapa bulan setelah prestasi moncernya di Piala Dunia 1994.

Tanpa batas memanfaatkan anugerah

Selain negara penghasil pesepakbola terbaik dunia, Brasil juga dikenal berkat kawasan hutan tropis Amazon yang telah dinobatkan sebagai paru-paru dunia, penghasil 20% oksigen bersih untuk Bumi. Amazon juga tak tertandingi dalam hal keanekaragaman hayati yang sebagian besar masih belum diidentifikasi. Sungai Amazon merupakan sungai terpanjang di dunia yang menjadi sumber penghidupan masyarakat di sekitarnya.

Gelar Situs Warisan Dunia dari UNESCO untuk Amazon tak menghalangi pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva untuk menginisiasi eksplorasi minyak di sekitar kawasan hutan Amazon. Walaupun pemerintah Brasil bersikukuh eksplorasi hanya dilakukan di luar kawasan hutan Amazon dan tidak masuk area konservasi, keputusan ini membuat banyak pihak terhenyak. 

Illustrasi: pexels.com

Apalagi setelah pemerintah Brasil mengungkapkan secara terus terang bahwa eksplorasi ini dilakukan sebagai upaya mereka memanfaatkan kekayaan alam yang terkandung di wilayah yurisdiksi mereka untuk menghasilkan pendapatan. Bukan sembarang pendapatan, melainkan pendapatan yang akan dimanfaatkan untuk mendanai proses transisi energi ke energi hijau.

Walaupun pernyataan Presiden Lula terkesan peduli keberlanjutan lingkungan hidup, tetapi masyarakat adat Amazon menentang rencana tersebut melalui sejumlah aksi protes sejak 2024 hingga sekarang. Mereka merupakan orang-orang yang secara turun temurun tinggal di kawasan Amazon, menjaga kelestarian rimba terbesar dunia dengan cara yang telah diajarkan para pendahulu mereka. Pengakuan UNESCO tentang “kesakralan” hutan Amazon adalah pengakuan terhadap kerja keras mereka.

Bandingkan dengan Amerika Serikat. Walaupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan lantang menuding narasi perubahan iklim dan energi hijau yang menyertainya adalah scam, masyarakat adat Penduduk Asli Amerika relatif bernasib lebih baik daripada masyarakat adat Amazon.

Sebagai contoh, pada Juni 2025 lalu pemerintah AS mengakui telah menjual secara ilegal lahan konservasi Suku Potawatomi di sekitar 1800-an. Lahan itu akhirnya dikembalikan kepada generasi masa kini suku tersebut setelah dikuasai oleh pemerintah AS selama 200 tahun lamanya.

Mencegah keberlimpahan lenyap tanpa bekas

Berdasarkan data April 2025, BUMN minyak Brasil, Petrobas, masih menempati urutan teratas dalam hal produksi minyak dibandingkan negara-negara produsen minyak lainnya, antara lain, negara tetangganya yaitu Amerika Serikat. Lalu ke mana perginya semua keuntungan yang dihasilkan oleh BUMN ini, mengapa triliunan dolar yang mereka hasilkan tidak cukup untuk mendanai misi transisi energi hijau oleh pemerintahan Lula?

Ini pertanyaan wajar, karena Presiden Lula mengatakan tujuan pengeboran minyak di sekitar kawasan Amazon adalah guna menambah pendapatan negaranya.

Keberlimpahan dapat hangus sia-sia tanpa bekas tanpa pengelolaan saksama. Tak jauh berbeda dengan kisah dua pesepakbola Brasil, Neymar Jr. dan Romario, yang menyia-nyiakan bakat mereka karena lebih memilih kebahagiaan sesaat. Bandingkan dengan masyarakat adat Amazon yang selama puluhan tahun menjauhi hiruk pikuk kehidupan kota, memilih tinggal di tengah alam agar bisa menjaga kelestariannya.

Kebahagiaan dapat berubah menjadi samsara apabila pada gilirannya mempersulit seseorang atau suatu bangsa untuk mampu merawat apa yang sudah ditinggalkan kepada mereka oleh para leluhur. Keberlimpahan memang bisa membuat kita lupa daratan, menikmati hidup sepuas-puasnya guna merasakan kesenangan lebih lama. Ketika apa yang kita andalkan untuk merasa bahagia habis tak bersisa, kita panik, lalu menempuh cara apapun demi merasakan kebahagiaan itu lagi secepatnya.  (dswas)

Rabu, 12 November 2025

Mengapa “Cahaya” Mahal Harganya?

“Happy Diwali” mendadak menjadi trending topic di Amerika Serikat Oktober lalu karena (lagi-lagi) Sang Presiden membuat kejutan. Kali ini dengan perayaan resmi kenegaraan di Gedung Putih untuk hari raya umat Hindu, Jain, dan Sikh India Oktober lalu (21/10). Para ekspatriat India yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Donald Trump tampak menghadiri acara tersebut. Di antaranya, Direktur FBI Kash Patel, yang merupakan anggota loyal Partai Republik.

Di sela-sela acara itu, Trump juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Diwali kepada Perdana Menteri India Narendra Modi, sosok pemimpin yang berulang kali disebutnya sebagai “pemimpin hebat”, “luar biasa”, “teman baik”, dst. Menariknya, beberapa bulan sebelum itu Trump baru saja menjatuhkan tarif 50% atas produk-produk India yang diekspor ke Amerika Serikat.

Trump mengatakan, India layak dikenai kenaikan tarif karena telah menjadi negara importer terbesar produk minyak Rusia dari kawasan Asia. Tarif 50% itu membuat PM Modi mendapat kecaman keras dari publik India. Mereka mengecam Modi karena lobi-lobi intensif yang dilakukannya dengan “sowan” ke Amerika awal tahun ini guna menghindarkan India dari dampak kenaikan tarif ternyata berakhir zonk, tak menghasilkan apa-apa. 

Ilustrasi: pexels.com

India juga merasakan dampak akibat pemblokiran terhadap intan mentah asal Rusia. Pemblokiran tersebut berakibat ketiadaan bahan mentah bagi industri pemotongan dan pemolesan intan di Surat, India, yang merupakan industri padat karya dan banyak menyerap tenaga kerja. Bukan itu saja, tercatat beberapa entitas dan firma teknologi asal India yang masuk blacklist EU dan Amerika Utara akibat hubungan India dengan Rusia.

Maka wajar bila seluruh dunia, termasuk saya, gempar dengan perayaan Diwali di Gedung Putih beberapa waktu lalu.

Apakah ini pertanda bahwa Donald Trump benar-benar telah menemukan “cahaya” (sebagaimana makna Diwali itu sendiri) yang akan menunjukkan jalan menuju cita-cita “Make America Great Again”?

Beragam tidak menguntungkan

Kita hidup di zaman di mana nilai seseorang diukur dari kelebihan yang tampak pada dirinya, entah itu prestasi atau kekayaan, pujian orang lain, tampilan fisik, dan hal-hal superfisial lainnya. Rasanya mustahil kebiasaan semacam ini sudah dimiliki dan dikembangkan para pendahulu berbagai bangsa. Karena bila ya, kita dan banyak bangsa lainnya akan cenderung memiliki budaya yang seragam, mengikuti satu jalur yang sama sesuai ketentuan suara tersuperior di atas semuanya.

Berdasarkan pantauan saya, sangat sedikit postingan internet dari entitas di luar India yang menampilkan negara ini sebagai negara maju di Asia berkat budaya Hindu India yang mengakar kuat sejak ribuan tahun silam (walaupun dasar negara India tetap demokrasi dan bukan undang-undang Hindu). Kalaupun ada, postingan tersebut biasanya dibuat oleh orang-orang India sendiri yang tak kenal lelah menciptakan reputasi yang lebih positif tapi realisitis tentang bangsa mereka.

Hindu merupakan agama atau sistem kepercayaan yang sangat cair, mudah menyesuaikan diri dengan situasi di mana ia mendarat. Ia tak membutuhkan satu lembaga induk besar untuk menentukan kapan umatnya harus merayakan hari-hari yang dianggap penting sebagai bagian dari keberagamaan umat Hindu. Ini berpangkal dari pemahaman mendalam bahwa umat Hindu di wilayah mana pun lebih tahu hari-hari bermakna bagi mereka sendiri dan mengapa hari-hari itu penting bagi mereka.

Kebebasan untuk beragam dalam berhari raya ini dipandang tidak menguntungkan oleh sebagian entitas yang berusaha mencari cuan dari perayaan hari besar keagamaan. Penyebabnya, tidak akan ada umat Hindu yang secara serentak memenuhi pusat perbelanjaan, atau ramai-ramai memesan baju di situs lokapasar menjelang hari raya mereka dalam kurun waktu yang sama. Bukankah semua orang butuh uang cash di zaman ini?

Meski sering mendapat stigma negatif secara regional maupun global akibat agama populernya, India tetap merupakan negara yang mudah menjalin kerja sama dengan berbagai negara, termasuk yang saling berseberangan.

Sebagai contoh, India memiliki hubungan baik dengan Israel dan Palestina. India juga termasuk salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. India menjalin hubungan baik dengan Rusia sejak zaman Uni Soviet (yang menyebabkan India juga punya hubungan baik dengan Ukraina).

India juga memiliki relasi yang baik dengan Afghanistan, yang dikenal berhalauan Islam radikal di mana terdapat pegunungan bernama ‘Hindu Kush’ di Afghanistan yang bermakna literal ‘pembunuh Hindu’.   

Mengubah negatif menjadi positif

Entah bagaimana, Donald Trump yakin tarif 50% untuk India telah berhasil menekan PM Modi untuk mengurangi pembelian minyak Rusia. Oleh karena itu, dirinya memuji Modi atas perubahan sikapnya dan berniat mempertimbangkan kembali kebijakan tarifnya. India enggan berkomentar banyak mengenai masalah minyak Rusia, walaupun media Rusia mempublikasikan artikel bahwa hubungan dua negara itu baik-baik saja dengan adanya tarif Trump atas India.

Yang jelas, perayaan Diwali di Gedung Putih bukan hanya menimbulkan pujian bagi Trump, tetapi juga ketidakpuasan dari komunitas yang tidak merayakan Diwali. Misinformasi di kalangan netizen membuat mereka menyangka Diwali adalah hari special bagi umat Hindu saja, sehingga ada yang melihatnya sebagai momen tepat untuk melancarkan ‘serangan’.  Bahkan hingga merambah ranah privet Wakil Presiden AS JD Vance dan istrinya, Usha, yang merupakan pasangan beda agama.  

Tentu saja, tidak menutup kemungkinan bahwa para haters Donald Trump-lah yang berada di balik kampanye negatif itu. Karena, sama seperti banyak pemimpin lain di dunia ini, selalu ada saja orang yang tidak sejalan dengan kebijakannya, siapa pun mereka. Bagi orang-orang seperti ini, selalu ada saja topik yang diada-adakan sebagai pondasi membangun serangan.

Namun, situasi di atas tidak selamanya berhasil menimbulkan rasa rendah diri dan tersakiti. Jargon ‘survival of the fittest’ (siapa terkuat dia bertahan hidup) bisa menjadi pegangan bagi umat Hindu yang merasa disalahpahami oleh mereka yang non-Hindu. Terutama oleh umat Hindu di luar India, di berbagai lokasi di mana banyak dari mereka menjadi minoritas. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...