Sabtu, 22 November 2025

Menanti Pohon Tumbuh Di Atas Jasad Masa Lalu

Nama Oleg Salenko tidak terlalu dikenal para bola mania sedunia sampai ia mendapat penghargaan Golden Boot Piala Dunia 1994. Di saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kalinya, dua pesepakbola Eropa Timur dianugerahi penghargaan bergengsi FIFA. Selain Salenko, Hristo Stoichkov (Bulgaria) juga meraih penghargaan Golden Boot dengan jumlah gol yang sama dari penampilan mereka bersama tim masing-masing selama turnamen, yaitu 6 gol.

Lahir dari ayah warga Ukraina dan ibu Rusia, Salenko telah mengawali kiprahnya di turnamen sepak bola internasional bersama timnas Uni Soviet U-20 tahun 1989. Saat itu ia tampil di Piala Dunia U-20 dan berhasil menjadi top skorer dengan raihan 5 gol. Sampai dengan tahun lalu, Salenko merupakan satu-satunya pemain yang menjadi top skorer di turnamen level junior maupun senior. Dirinya juga menjadi satu-satunya pemain peraih Golden Boot dari timnas yang tidak lolos fase grup Piala Dunia.

Salenko hanya tampil di event sepak bola internasional sebanyak sembilan kali. Ia bertanding delapan kali bersama timnas Rusia di Piala Dunia, dengan salah satunya adalah laga Rusia vs Kamerun di mana ia mencetak lima gol sekaligus di pertandingan yang dimenangi Rusia 6-1. Sedangkan satu laga lainnya adalah laga persahabatan bersama timnas Ukraina melawan Hungaria di tahun 1992, di mana Ukraina kalah 1-3 dalam pertandingan perdananya sebagai tim nasional di bawah FIFA. Sayangnya, Salenko harus pensiun dini dari dunia sepak bola di usia 31 tahun akibat cedera.

Akar yang terpisah  

Mengapa Salenko meninggalkan Ukraina untuk bergabung dengan Sbornaya (julukan timnas Rusia)? Seperti para pemain naturalisasi jaman now, Salenko bebas bergabung salah satu dari keduanya karena ia memiliki kewarganegaraan ganda dari orang tuanya. Saat itu, Rusia memiliki infrastruktur sepak bola yang lebih baik dibandingkan negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Ukraina. Sehingga wajar jika Salenko menganggap masa depannya sebagai pemain sepak bola bakal lebih cerah bersama Rusia.

Jauh sebelum terjadinya kesenjangan dalam hal infrastruktur sepak bola di antara negara-negara eks komunis di akhir 90-an, Rusia, Ukraina, dan beberapa negara Slavia lainnya seperti Bulgaria, Serbia, Macedonia, Ceko, dll. berakar dari satu rumpun budaya Slavia yang sama. Mereka berasal dari leluhur yang tinggal di dataran rendah, hutan, dan lahan basah, dengan mata pencaharian pokok sebagai petani dan penggembala yang lebih sering menghabiskan waktu berjalan di alam bebas. Maka tidak heran bila mereka memiliki fisik kuat, yang diwariskan hingga ke beratus-ratus generasi sesudahnya.  

Ilustrasi: koleksi pribadi


Kekuatan fisik itulah yang membuat leluhur Slavia tidak takut menghadapi pertikaian yang berujung pertumpahan darah dan kematian. Apalagi bila dikaitkan dengan mitologi Slavia tentang asal mula tanaman dan pepohonan, bahwa semak belukar dan bunga-bunga liar tumbuh dari darah atau jasad mereka yang tewas karena keyakinan pada sesuatu, baik prinsip pribadi maupun kepentingan kelompok.

Menurut cerita rakyat Serbia, bunga peoni putih berubah menjadi merah akibat darah prajurit Serbia yang tewas dalam Perang Kosovo. Bunga peoni hitam tumbuh dari darah prajurit keturunan Gipsi, sedangkan peoni biru berasal dari darah prajurit keturunan Turki. Mitos Bulgaria menyebut bahwa bunga lilac juga tumbuh dari darah para prajurit, oleh karena itu bunga ini banyak ditemukan di benteng atau tanah lapang di mana pernah terjadi pertempuran besar.  

Aliran kepercayaan Rusia meyakini bahwa bunga perdu fireweed tumbuh dari darah korban suatu tindakan pelanggaran. Sementara legenda Kuban Cossacks (kelompok sosial militer semi merdeka yang terbentuk dari petani dan tentara pelarian dari Rusia, Ukraina, Polandia, dan Lithuania) menyebut bahwa bunga mawar tumbuh dari tetesan darah seorang gadis yang bunuh diri karena dipisahkan paksa dari kekasihnya.

Masa lalu yang dikubur, lalu tumbuh

Apabila jasad atau darah seseorang yang sudah mati diibaratkan sebagai sesuatu yang sudah tiada, hilang, dan tak mungkin muncul lagi, maka masa lalu adalah sebuah kata yang paling tepat untuk itu. Karena semua orang punya masa lalu, juga suatu kelompok etnis, bangsa, bahkan negara.

Leluhur Slavia bersikap bijak memandang sesuatu yang hilang dan tak akan kembali ini sebagai sesuatu yang “indah” bagaikan bunga berwarna-warni, sebab seperti itulah masa lalu bagi sebagian besar dari kita. Indah sebagai bahan cerita, tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa ada sesuatu yang hilang tiap kali kita mendengar kisah tentang masa lalu. Dalam hal ini, kehilangan tak terhindarkan walaupun masyarakat dalam kisah itu berusaha mempertahankannya.

Nilai-nilai tradisional, kebijaksanaan lokal, adat istiadat, dll. sering kali dianggap sebagai simbolisasi masa lalu yang wajib dilupakan karena bukan bagian dari kehidupan manusia modern dan tak membawa peradaban umat manusia ke arah yang lebih baik.

Meminjam konteks leluhur Slavia, masa lalu memang tak akan kembali, tetapi sesuatu akan tumbuh dari jasad masa lalu yang telah membusuk. Bahwa sesuatu yang tumbuh dari situ bukan saja bunga-bunga perdu, tetapi juga sebatang pohon. Satu batang pohon yang akan disusul oleh dua, tiga, sepuluh, atau seratus pohon, bergantung pada banyaknya “jasad masa lalu” yang terkubur di bawah tanah pertempuran peradaban.  (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...