Nama Oleg Salenko tidak terlalu dikenal para bola mania sedunia sampai ia mendapat penghargaan Golden Boot Piala Dunia 1994. Di saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kalinya, dua pesepakbola Eropa Timur dianugerahi penghargaan bergengsi FIFA. Selain Salenko, Hristo Stoichkov (Bulgaria) juga meraih penghargaan Golden Boot dengan jumlah gol yang sama dari penampilan mereka bersama tim masing-masing selama turnamen, yaitu 6 gol.
Lahir dari ayah warga Ukraina dan ibu Rusia, Salenko telah
mengawali kiprahnya di turnamen sepak bola internasional bersama timnas Uni
Soviet U-20 tahun 1989. Saat itu ia tampil di Piala Dunia U-20 dan berhasil
menjadi top skorer dengan raihan 5 gol. Sampai dengan tahun lalu, Salenko
merupakan satu-satunya pemain yang menjadi top skorer di turnamen level junior
maupun senior. Dirinya juga menjadi satu-satunya pemain peraih Golden Boot dari
timnas yang tidak lolos fase grup Piala Dunia.
Salenko hanya tampil di event sepak bola internasional
sebanyak sembilan kali. Ia bertanding delapan kali bersama timnas Rusia di
Piala Dunia, dengan salah satunya adalah laga Rusia vs Kamerun di mana ia
mencetak lima gol sekaligus di pertandingan yang dimenangi Rusia 6-1. Sedangkan
satu laga lainnya adalah laga persahabatan bersama timnas Ukraina melawan
Hungaria di tahun 1992, di mana Ukraina kalah 1-3 dalam pertandingan perdananya
sebagai tim nasional di bawah FIFA. Sayangnya, Salenko harus pensiun dini dari
dunia sepak bola di usia 31 tahun akibat cedera.
Akar yang terpisah
Mengapa Salenko meninggalkan Ukraina untuk bergabung dengan Sbornaya
(julukan timnas Rusia)? Seperti para pemain naturalisasi jaman now, Salenko
bebas bergabung salah satu dari keduanya karena ia memiliki kewarganegaraan
ganda dari orang tuanya. Saat itu, Rusia memiliki infrastruktur sepak bola yang
lebih baik dibandingkan negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Ukraina. Sehingga
wajar jika Salenko menganggap masa depannya sebagai pemain sepak bola bakal
lebih cerah bersama Rusia.
Jauh sebelum terjadinya kesenjangan dalam hal infrastruktur
sepak bola di antara negara-negara eks komunis di akhir 90-an, Rusia, Ukraina,
dan beberapa negara Slavia lainnya seperti Bulgaria, Serbia, Macedonia, Ceko,
dll. berakar dari satu rumpun budaya Slavia yang sama. Mereka berasal dari
leluhur yang tinggal di dataran rendah, hutan, dan lahan basah, dengan mata
pencaharian pokok sebagai petani dan penggembala yang lebih sering menghabiskan
waktu berjalan di alam bebas. Maka tidak heran bila mereka memiliki fisik kuat,
yang diwariskan hingga ke beratus-ratus generasi sesudahnya.
Kekuatan fisik itulah yang membuat leluhur Slavia tidak
takut menghadapi pertikaian yang berujung pertumpahan darah dan kematian. Apalagi
bila dikaitkan dengan mitologi Slavia tentang asal mula tanaman dan pepohonan,
bahwa semak belukar dan bunga-bunga liar tumbuh dari darah atau jasad mereka
yang tewas karena keyakinan pada sesuatu, baik prinsip pribadi maupun
kepentingan kelompok.
Menurut cerita rakyat Serbia, bunga peoni putih berubah
menjadi merah akibat darah prajurit Serbia yang tewas dalam Perang Kosovo. Bunga
peoni hitam tumbuh dari darah prajurit keturunan Gipsi, sedangkan peoni biru
berasal dari darah prajurit keturunan Turki. Mitos Bulgaria menyebut bahwa bunga
lilac juga tumbuh dari darah para prajurit, oleh karena itu bunga ini banyak
ditemukan di benteng atau tanah lapang di mana pernah terjadi pertempuran
besar.
Aliran kepercayaan Rusia meyakini bahwa bunga perdu fireweed
tumbuh dari darah korban suatu tindakan pelanggaran. Sementara legenda Kuban
Cossacks (kelompok sosial militer semi merdeka yang terbentuk dari petani dan
tentara pelarian dari Rusia, Ukraina, Polandia, dan Lithuania) menyebut bahwa
bunga mawar tumbuh dari tetesan darah seorang gadis yang bunuh diri karena
dipisahkan paksa dari kekasihnya.
Masa lalu yang dikubur, lalu tumbuh
Apabila jasad atau darah seseorang yang sudah mati
diibaratkan sebagai sesuatu yang sudah tiada, hilang, dan tak mungkin muncul
lagi, maka masa lalu adalah sebuah kata yang paling tepat untuk itu. Karena semua
orang punya masa lalu, juga suatu kelompok etnis, bangsa, bahkan negara.
Leluhur Slavia bersikap bijak memandang sesuatu yang hilang
dan tak akan kembali ini sebagai sesuatu yang “indah” bagaikan bunga
berwarna-warni, sebab seperti itulah masa lalu bagi sebagian besar dari kita.
Indah sebagai bahan cerita, tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa ada
sesuatu yang hilang tiap kali kita mendengar kisah tentang masa lalu. Dalam hal
ini, kehilangan tak terhindarkan walaupun masyarakat dalam kisah itu berusaha
mempertahankannya.
Nilai-nilai tradisional, kebijaksanaan lokal, adat istiadat,
dll. sering kali dianggap sebagai simbolisasi masa lalu yang wajib dilupakan
karena bukan bagian dari kehidupan manusia modern dan tak membawa peradaban
umat manusia ke arah yang lebih baik.
Meminjam konteks leluhur Slavia, masa lalu memang tak akan kembali, tetapi sesuatu akan tumbuh dari jasad masa lalu yang telah membusuk. Bahwa sesuatu yang tumbuh dari situ bukan saja bunga-bunga perdu, tetapi juga sebatang pohon. Satu batang pohon yang akan disusul oleh dua, tiga, sepuluh, atau seratus pohon, bergantung pada banyaknya “jasad masa lalu” yang terkubur di bawah tanah pertempuran peradaban. (dswas)
