“Batu ditempa oleh setetes demi setetes air (kap po kap – kamen prodire)” merupakan peribahasa Balkan yang merupakan hasil observasi masyarakat adat Slavia Selatan (terutama Serbia) tentang daya tersembunyi di balik setetes air. Bahwa setetes air awalnya hanya membasahi batu, selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Entah pada tetesan air ke berapa terbentuklah sebuah ceruk pada batu itu.
Ada nasihat tentang konsistensi dalam peribahasa yang hingga
saat ini sering digunakan masyarakat Slavia Selatan untuk memotivasi anak-anak,
menghibur seorang teman yang merasa hidupnya macet, atau untuk memberitakan
tentang tujuan yang akhirnya berhasil dicapai setelah sekian lama.
Air (Mokosh) itu sakral bagi masyarakat penganut Kepercayaan
Asli Slavia, sebagaimana langit dan bumi, karena ada energi gerak yang
terkandung di dalamnya. Sumber/ mata air dan sumur dianggap suci, karena
keduanya mengalirkan air yang merupakan representasi dari kemurnian, kesabaran,
dan keteguhan hati seseorang.
Perspektif Slavia Selatan terbentuk berkat keawasan mereka
mengenali pola-pola dan siklus alam, bahwa kenyataan dibentuk oleh
kenyataan-kenyataan lain yang berjalan lambat dan kesabaran kekuatan alam.
Sekokoh pegunungan tempat para leluhur mereka tinggal,
peribahasa ini masih lestari dan terus digunakan dalam percakapan atau
interaksi sehari-hari masyarakat Slavia Selatan sampai detik ini. Kebijaksanaan
leluhur masih mengakar kuat walaupun mereka (Serbia, Bosnia, Kroasia,
Montenegro, Makedonia) pernah hidup di bawah komunisme, mengalami konflik antar
sesama etnis Balkan, dan, khusus Serbia, diratakan dengan tanah oleh NATO.
Uang selalu ‘berbicara’
Sementara itu, apa yang terjadi pada negara-negara yang
bersatu padu menaklukkan Serbia dengan dalih membasmi para penjahat perang dari
konflik antar etnis Balkan di era 90-an? Sudahkah mereka menjadi negara-negara
termakmur sejahtera di dunia yang membuat warga negara-negara miskin iri hati?
Ada beberapa nama negara yang terlibat dalam operasi Perang
Yugoslavia dari sisi NATO. Kita sangat tahu siapa bos besarnya, dan kita sangat
tahu apa yang sedang menimpa negara-negara itu saat ini. Inilah negara-negara
demokrasi “malaikat” yang saat itu sedang menunaikan tugas membasmi kekuatan
“iblis” komunisme dan sosialisme.
Amerika Serikat tumbuh sebagai negara maju dan terdepan
dalam berbagai bidang, demikian pula negara-negara NATO lainnya dalam operasi
tersebut (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Italia, Kanada, Spanyol,
Portugal, Denmark, Norwegia, dan Turki). Bahkan beberapa di antara mereka
selalu masuk dalam daftar negara terbahagia di dunia selama beberapa tahun
secara berturut-turut.
Namun, karena dinamika sektor ekonomi saling memengaruhi
antara satu negara dan negara lainnya, kemunduran dan kemajuan ekonomi di suatu
negara dampaknya juga akan terasa di banyak negara lain. Operasi militer NATO
di Yugoslavia didanai sebagian besar oleh Amerika Serikat, demikian pula
beberapa operasi militer lain sebelum dan sesudah itu.
Tibalah titik di mana AS menyadari bahwa semua uang sudah
habis, sehingga mereka membutuhkan suntikan dana dari pihak luar. Baru-baru
ini, suntikan dana didapat dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan nilai
triliunan dolar. Para juru bicara pemerintah boleh saja menjabarkan bahwa dalam
hubungan bilateral diperlukan kerja sama bla bla bla … yang intinya adalah:
kita harus bekerja sama supaya bisa mendapat uang pinjaman.
Lalu apa manfaat perang di atas? Supaya bisa terus
berhutangkah tujuannya?
Cara menghadapi ‘kekuatan yang membingungkan dan menakutkan’
Para ekonom dan pembuat kebijakan ekonomi biasanya akan
berkilah bahwa berutang itu wajar saja dalam pembangunan ekonomi negara. Mulai
detik ini saya harap kita tak lagi percaya argument seperti ini karena ini
adalah suatu fallacy, salah pikir terbesar dalam peradaban manusia.
Kemakmuran dan kesejahteraan stabil memerlukan proses, yang
sering kali panjang dan lama. Ini adalah hukum alam yang tak dapat kita hindari,
atau kita tolak, karena kita sudah menciptakan teknologi mutakhir. Mempersingkat
proses secara permukaan menjadi sesuatu yang kita banggakan sebagai kemajuan
zaman, tetapi mengapa situasi kita semakin mundur belakangan ini dan bukan
semakin maju? Ingin bukti? Cukup tengok saja situasi alam sekitar, mentalitas
masyarakat, balada ekonomi dan politik berbagai negara di dunia …
Berburu investor dan uang pinjaman merupakan upaya
mendatangkan uang ke kantong dalam waktu singkat. Setelah uang habis, datanglah
masalah tentang cara mengembalikan uang investasi itu kepada pihak yang
menginvestasikannya. Artinya ada tekanan pada kita untuk berkompromi dengan
kehendak dari luar sebagai bentuk pemenuhan janji, ada keterpaksaaan untuk
patuh demi uang yang telah digunakan.
Tekanan yang dirasakan pemerintah suatu negara sebagai
debitur akan diteruskan pada masyarakat di bawah naungan mereka, dalam bentuk
berbagai kebijakan yang sekonyong-konyong, tidak konsisten dengan kebijakan
sebelumnya, dan kadang gagal dimengerti khalayak.
Namun, rakyat jelata berada dalam situasi yang lebih
menyenangkan karena mereka bebas memilih cara menanggapi perilaku membingungkan
pengayom mereka. Bagi masyarakat Slavia Selatan, kembali memaknai ajaran
leluhur adalah salah satu caranya. Agar sesuatu yang membingungkan dan
menakutkan tetap menjadi fenomena alam yang lazim terjadi dalam kehidupan
sehari-hari. (dswas)
