“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit (many a little makes a mickle)” adalah prinsip hidup orang-orang sukses macam Oprah Winfrey dan George Soros. Mereka hidup di masa ketika dunia sedang susah-susahnya dan tempat yang berbahaya untuk tumbuh dan berkembang. Kesuksesan mereka dan orang-orang seperti mereka bukan hanya menginspirasi banyak orang. Namun, juga menumbuhkan rasa iri dalam benak tidak sedikit orang, yang karena berbagai faktor tidak mempunyai privilese untuk bisa sesukses orang-orang kaya sejagat raya.
Kita boleh saja menghakimi orang-orang semacam ini dengan
berbagai sebutan, toh hidup mati seseorang urusan masing-masing. Tidak ada
kaitan antara kehidupan orang lain dan kehidupan kita beserta keluarga,
sehingga apa yang mereka rasakan terhadap perbuatan kita kepada mereka juga
bukan tanggung jawab kita. Ya atau tidak, mana jawaban yang paling berasal dari
lubuk hati terdalam?
Saya menilai sikap semacam ini sebagai sebuah kesia-siaan,
pemborosan terbesar dalam hidup. Mengapa? Tidak selalu perasaan senang hati
yang timbul dari pilihan untuk bersikap seperti ini. Sampah-sampah hati yang
bernama rasa sedih, kesal, marah, benci, malu, dan sederet perasaan negatif
lainnya lebih sering muncul sebagai hasilnya.
Di sisi lain, sampah adalah masalah terbesar yang harus
diatasi manusia saat ini. Alih-alih mengirim bom nuklir, sebuah negara dapat
menghancurkan peradaban negara lain dengan mengirim sampah. Bukan saja sampah
dalam pengertian sesuatu yang kotor dan berbau, melainkan juga ‘sampah’ dalam
bentuk hasil turunan suatu produk. Misalnya, plastik yang merupakan bentuk
turunan ke sekian daripada minyak dan gas bumi.
‘Kuras’ sampai habis
Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket,
yang tinggal di Siberia, Rusia, menggantungkan kehidupan mereka pada alam dalam
segala hal; hutan sebagai penghasil bahan bangunan untuk mendirikan rumah, laut
dan danau sebagai penghasil ikan untuk santapan keluarga. Mengambil dari alam
bukanlah sesuatu yang dilarang, tetapi penuh perhitungan agar bisa menyambut
masa depan dengan kebahagiaan dan bukan kecemasan.
Selain melakukan upacara permohonan izin sebelum berbuat
sesuatu di alam, tebang pilih dan selektif dalam berburu, ada satu prinsip
krusial yang tidak mereka tinggalkan. Yaitu, memanfaatkan segala sesuatu yang
mereka ambil dari alam semaksimal mungkin hingga tak bersisa agar tidak
menimbulkan timbunan sampah.
Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Ket,
binatang dan tumbuhan yang mereka santap atau manfaatkan adalah anugerah dari
alam. Menyia-nyiakan sisa-sisanya sama artinya dengan tidak menghargai jerih
payah mereka sendiri, apalagi bila sampai membuang sisa-sisa jeroan binatang,
atau ikan yang sudah membusuk ke sungai atau danau. Bahkan kulit dan tulang
beruang atau rusa bisa mereka ubah jadi bahan tenda. pakaian, atau gagang
pisau.
Jauh sebelum orang-orang di desa saya sibuk mengumpulkan
sampah plastik untuk ditukar uang receh di bank sampah, masyarakat penganut
Kepercayaan Asli Ket sudah menemukan cara untuk hidup minimal tanpa sampah.
Karena bagi mereka ‘nyampah’ adalah perbuatan yang sangat dibenci para leluhur.
Ironisnya, kita baru memahami alasan di balik prinsip kepercayaan ini setelah
lautan sampah menjadi bukit dan menciptakan longsor yang menelan korban
jiwa.
Sampah yang paling mudah didaur ulang
Jadi sudah paham ‘kan mengapa sampah hati adalah sampah yang paling mudah kita daur ulang? Kesulitan ekonomi membuat jutaan orang di dunia ini sangat rentan mengalami perasaan tertekan. Ada 90% kemungkinan kita akan bertemu salah satu dari mereka dalam kehidupan sehari, entah di jalan, di sekolah, tempat kerja, pasar, dll. Walaupun kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dirasakan orang lain, karena seluruh manusia itu lahir dan mati dalam keadaan sendiri dan tidak mengajak siapa pun. (dswas).
